Tradisi Berburu Patin Kualo di Pelalawan


Pangkalankerinci, Masyarakat Pelalawan, Riau khususnya yang berada di bantataran Sungai Kampar begitu sumringah ketika musim ikan Patin Kualo datang (patin khas Pelalawan-red). Pasalnya, seorang nelayan bisa mendapatkan penghasilan jutaan rupiah sehari.

Meskipun hanya dua kali dalam satu tahun. Berburu ikan tersebut menjadi langganan menarik bagi warga. Kegiatan yang penuh ritual-ritual suci dan unsur magis ini selalu tergambar saat pelaskanaan.

Tidak semua orang bisa melakukan penangkapan ikan Patin Kualo tersebut khususnnya diperaian Sungai Kampar. Terlebih lagi sungai yang berada persis dan melintasi di sepanjang perkampungan. Kondisi ini, terjadi sejak dulu kala dan sudah turun temurun. Meki ada para nelayan yang menggunakan tempat (wajan-red), yang bersangkutan harus, meminta izin pada para tetua.

Tidak itu saja, para pemakai tempat, pengguna tempat tangkapan tersebut harus mengeluar fee. Karena tempat tangkapan itu sudah dikuasai oleh kelompok-kelompok dan tidak sembarang orang melakukan penangkapan.

Akan tetapi cara penangkapan penuh dengan unsur magis dan ritual suci ini biasanya berupa jaring dengan ukuran cukup besar. Sebelum jaring itu ditebar ke sungai terlebih dulu dilakukan ritual.

Misalnya, jaring tersebut diasapi dengan kemenyan, seterusnya seluruh perlengkapan dibacakan mantra-mantra khusus. Setelah seluruh peralatan tangkapan tersebut dimantrai. Sampan sebagai alat transportasi juga penuh pantangan. Misalnya harus steril dari perempuan.

“Kaum hawa tidak boleh menaiki sampan tersebut ketika saat menebar jaring. Jika pantangan tersebut diabaikan sudah alamat hasilnya bagi seorang nelayan tidak akan berhasil,” kata salah seorang nelayan di Kecamatan Pelalawan, Ardhi (43).

Dikatakan, jangan harap mendapat ikan patin kualo dengan mudah, jika ritual turun temurun tidak dilakukan. Begitu juga apabila musim patin kualo tersebut datang. Seorang nelayan tersebut satu musim bias menghasil Rp 20-30 juta.

“Saat ini ikan tersebut di tingkat para nelayan satu kilogram dinilai Rp80 ribu. Rata-rata satu ekor terkecil 6 kilogram hingga 13 kilogram perekor,” sebut Ardi lagi.

Musim patin tersebut, hanya diketahui orang-orang pintar (dukun) saja. Patin Kualo tersebut, tidak sama dengan patin yang dijual di pasaran. Sebab patin ini hanya terjadi saat musim tiba saja. Maka dari itu yang membuat ikan ini digemari dan paling dicari.

“Patin ini hidup dan berasal dari laut. Ikan-ikan tersebut setiap tahun naik kemuara sungai guna berkembang biak. Momen ini yang dinanti oleh masyarakat,” paparnya.

Selain itu, nama Patin Kualo tersebut, tambahnya, sudah ada sejak dulu. Tidak begitu jelas, entah dari asal nama ikan patin kualo ini. “Yang jelas nama tersebut sudah ada sejak dulu,” tandasnya.

kabarindonesia.com,27/7/2010

Advertisements

One thought on “Tradisi Berburu Patin Kualo di Pelalawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s