Numberi Terpukau Ikan Bawal


Bersamaan dengan dibukanya Internasional Symposium on Ocean Science Technology and Policy oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Fredy Numberi di Gedung Manado Convention Center, (12/5), sebuah pameran kelautan juga digelar di gedung terpisah di kompleks MCC.

Pameran yang bertajuk Pameran Indonesian Aquaculture 200, menampilkan produk budi daya perikanan andalan dari 59 kota, kabupaten, dan provinsi yang ada di seluruh Indonesia. Pameran yang dibuka oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Fredi Numberi tersebut berhasil menyita perhatian para tamu undangan yang menghadiri simposium ocean sience di MCC maupun masyarakat awam.

Dari semua stan yang ada, stand yang paling sering dikunjungi adalah milik Pemerintah Kota Batam. Bahkan anggota DPR RI Siswono Yudhohusodo dan Menteri KP Fredy Numberi ikut singgah di stan yang milik Pemerintah Kota Batam.

Pemerintah Kota Batam menampilkan produk budi daya andalannya bawal bintang yang merupakan spesies baru bawal yang merupakan hasil perkawinan silang dengan indukan bawal Taiwan.

Al Kadliory, staf Balai Budi Daya Laut Batam, mengatakan berhasil membudidayakan spesies bawal jenis ikan laut ini di tahun 2007 silam. “Proyek ini sudah kami lakukan sejak 2002 yang lalu, dari sejumlah uji coba, baru di tahun 2007 kami berhasil membudidayakan varian baru ikan bawal,” tuturnya. Continue reading “Numberi Terpukau Ikan Bawal”

Menggapai Mimpi Desa Nila


MENTERI Kelautan dan Perikanan Dr Fadel Muhammad, disaksikan Gubernur Jateng Bibit Waloyo dan Bupati Klaten Sunarno SE, baru-baru ini meluncurkan Program Budidaya Ikan Nila varietas Larasati dan BEST (Bogor Enhanced Strain Tilapia) di lahan Pembenihan Budidaya Ikan Air Tawar di Desa Janti, Kecamatan Polanharjo.

Komitmen pemerintah ini diharapkan bukan sekadar perhatian sesaat, namun secara konsisten diikuti langkah-langkah konkret agar ke depannya mampu mendorong ekonomi rakyat lebih menggeliat.

Kabupaten Klaten khususnya bagian utara memiliki sumber air alam yang melimpah. Selain sebagai faktor pendukung utama pertanian dan pasokan air bersih, sumber air alam ini selanjutnya oleh para petani ikan di Kecamatan Polanharjo, Tulung,

Karanganom dan sekitarnya dimanfaatkan secara cerdas guna mengaliri kolam – kolam buatan untuk budidaya perikanan air tawar. Continue reading “Menggapai Mimpi Desa Nila”

Ikan Teri Mencegah Osteoporosis


Ikan teri, meski bentuknya kecil, tetapi efektif mencegah tulang keropos akibat kekurangan kalsium. Ikan teri mengandung protein, lemak, karbohidrat, mineral, kalsium, besi, dan fosfor. Karena bentuknya yang kecil, ikan teri dikonsumsi secara utuh. Tulangnya pun ikut dimakan.

Nah, tulang inilah yang merupakan sumber kalsium utama, karena kalsium yang dimilikinya berasal dari hewan. Kalsium hewani yang dimiliki teri lebih baik jika dibandingkan dengan kalsium non hewani, maupun kalsium sintetis yang biasanya kita temui dalam bentuk tablet. Karena kalsium hewani lebih mudah diserap oleh tubuh.

Kalsium sangat dibutuhkan oleh tubuh. Kalsium dalam tulang berfungsi memberi kekuatan terhadap benturan. Kalsium yang terdapat dalam darah, berfungsi menjaga keseimbangan asam basa pada darah. Tidak hanya di dalam tulang dan darah, kalsium juga terdapat dalam jaringan dan bagian tubuh lainnya.

Kekurangan kalsium menyebabkan tulang menjadi keropos, hingga mudah patah.

Bagi Anda yang telah berusia setengah baya, sebaiknya mengkonsumsi ikan teri yang tidak diasinkan. Karena pada umumnya orang yang telah berusia tengah baya rentan terhadap penyakit tekanan darah tinggi, yang disebabkan karena pembuluh darah kaku atau kurang elastis.
Suaramerdeka.com,04 Agustus 2008

Tujuh Spesies Ikan Langka Belum Dinamai


Para peneliti Australia dan Indonesia hingga kini belum berhasil memberi nama tujuh spesies ikan langka yang ditemukan di Pantai Pulau Nusa Penida, Bali, pada tahun 2008.

“Ada 12 spesies ikan yang kami temukan. Dari jumlah itu, lima di antaranya sudah bisa diberi nama, tapi tujuh lainnya sampai saat ini masih dalam kajian,” ujar Direktur Program Marine Conservation International Indonesia Ketut Sarjana Putra di Denpasar, Jumat (16/7/2010).

Menurut Sarjana, spesies ikan langka tersebut ditemukan para ahli ikan dunia saat melakukan penelitian di dasar laut di kedalaman 35 meter, di sekitar Pantai Toya Pakeh, Nusa Penida, Kabupaten Klungkung.

Kelima spesies yang telah dinamai itu masing-masing pseudocrhonis, prolepis, triammia SP, priolepis 1, priolepis 2, dan chromise. Penamaan ikan-ikan tersebut dengan identifikasi sangat detail, mulai dari bentuk dan besaran tubuh, jumlah sisik, duri, hingga bentuk mulutnya.

“Sesuai konvensi internasional, penamaan ikan itu merupakan hak penemunya,” ujar Sarjana, dalam program reporting trips konservasi ekosistem dan biodiversity Bali yang digelar LSM Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia atau Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar.

Ikan-ikan langka tersebut ditemukan para peneliti dan akademisi dalam Program Marine Rapid Assessment. “Spesies ikan tersebut merupakan hybrid atau percampuran ikan Pasifik dan Samudra Hindia (Indonesia),” papar dia.

Dikatakan, munculnya ikan tersebut juga merupakan percampuran telur ikan dari kedua kawasan itu yang akhirnya melahirkan spesies baru.

“Kelima spesies ikan ini sebagian besar merupakan jenis ikan karang yang berukuran kecil dengan pola warna yang unik,” sambungnya.

Dari pengamatan Sarjana, potensi perairan Nusa Penida sangat memiliki kekayaan dan keragaman bahari, mengingat kawasan tersebut berada di antara dua samudra, yaitu Hindia dan Pasifik.

Yang menarik, sambung Sarjana, kemunculan spesies ikan langka tersebut kenapa justru ditemukan di Bali, padahal spesies ini dinamai di Australia.

“Jadi, bagaimana spesies ikan itu bisa sampai di Bali sebagai tempat yang banyak dikunjungi wisatawan. Ini yang masih menjadi pertanyaan para ilmuwan,” ujarnya.

Semula kedatangan para peneliti di Nusa Penida pada bulan November 2008 guna menginventarisasi potensi keanekaragaman karang, ikan karang, moluska, ekinodermata, serta kondisi oseanografi di perairan Nusa Penida. Hanya saja, dalam penelitian tersebut mereka justru dikejutkan dengan penemuan spesies-spesies ikan baru tersebut.
kompas.com,16/7/2010

Awetkan Ikan dengan Racun Serangga


Perilaku pedagang ikan di Sumatera Barat masih mencemaskan. Mereka tidak sungkan-sungkan untuk mengawetkan ikan dengan bahan pengawet berbahaya, seperti formalin dan boraks. Bahkan, bahan pengawet seperti racun serangga untuk tanaman cabai juga ada yang menggunakan.

Peneliti perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta (UBH), Yempita Efendi, Jumat (12/9), mengatakan, ia pernah menemui seorang pedagang di kawasan Air Bangis, Pasaman Barat, yang dengan santainya menyemprotkan racun serangga untuk tanaman cabai pada ikan yang baru saja selesai dijemur.

Pedagang itu bilang, penyemprotan racun itu tidak apa-apa karena ikan tidak dikonsumsi oleh dirinya sendiri. Ini jelas sebuah bentuk kesadaran kesehatan yang sangat buruk, tutur Yempita.

Rendahnya kesadaran pedagang itu yang dinilai oleh Yempita sebagai faktor yang paling berperan atas maraknya penggunaan bahan pengawet berbahaya pada ikan, termasuk formalin dan boraks.

Dengan kondisi serupa ini, Yempita berharap pemerintah segera turun tangan untuk mencegah pengulangan pemakaian bahan pengawet berbahaya.

kompas.com,12/9/2008

Ikan Gurame Berwajah Manusia


Chongju, kota kecil yang terletak di Provinsi Chungcheong, Korea Selatan, saat ini tengah menjadi pusat perhatian dunia. Pasalnya, sebuah keajaiban dunia hewan ditemukan di tempat ini, yaitu seekor ikan berwajah manusia.

Mungkin banyak yang mengerutkan kening, tanda tidak percaya. Namun, hal ini nyata adanya. Ikan tersebut memiliki hidung, mata, dan bibir layaknya manusia. Dua garis tipis dan dua titik di bagian atas ikan mirip mata manusia. Diduga, ikan ini merupakan turunan peranakan dua spesies keluarga ikan gurame yang dikenal dengan nama ikan tangerine.

Koran-koran lokal di Korea Selatan berlomba-lomba mengambil foto terbaik ikan tersebut untuk ditampilkan di media masing-masing. Ikan ini memiliki panjang 80 cm dan lingkar badan 50 cm. Cukup besar untuk ukuran seekor ikan turunan gurame.

Ikan ini hidup dalam kolam kecil di belakang rumah seorang pria berusia 64 tahun. Ikan tersebut berada di sana sejak tahun 1986 silam. Namun, baru belakangan ini ikan berwajah manusia ini menarik perhatian khalayak.

“Ikan saya semakin mirip manusia beberapa tahun belakangan,”kata sang pria si empunya ikan yang tidak mau disebutkan namanya, seperti dikutip koran Inggris The Telegraph, Rabu (4/3).

Terdapat dua ekor ikan berwajah manusia di kolamnya. Sayang, keduanya sama-sama betina sehingga tidak mungkin mengawinkan mereka untuk mendapatkan keturunan aneh berikutnya. Toh tak semua orang percaya dengan keberadaan ikan berwajah manusia tersebut, salah satunya adalah Mike Guerin, seorang pemerhati ikan. Dalam situsnya, Deer Hunting Turkey Hunting and Recreational Fishing Wild Website, Guerin meragukan keaslian foto ikan berwajah manusia tersebut.

Menurutnya, cerita mengenai ikan berwajah manusia telah menjadi perbincangan hangat di internet beberapa waktu belakangan. Tak jarang diskusi dan berita tentang ikan tersebut disertai judul yang dicetak besar dan tebal “Ditemukan, Ikan Berwajah Manusia”.

�Ini tidak asli. Hanya utak-atik komputer semata,� bantah Guerin dalam situsnya. Guerin menjelaskan, ikan berwajah manusia sesungguhnya permainan dalam game Sega. Di Jepang, permainan Sega atau Seaman diedarkan hampir sama dengan Blair Witch Project di Amerika.

Tengkorak dan fosil Seaman dipajang di museum dan toko-toko. Sebuah buku berupa jurnal Jean-Paul Gasse baru saja diterbitkan untuk mempropagandakan cerita tersebut. “Bagi saya, ini hanya keusilan mereka yang suka menyebarkan sampah dan kegegeran melalui online,” tutur Guerin.

Ini merupakan kedua kalinya ikan menjadi berita utama di Asia. November 2008 silam, sekawanan ikan di Changsha, Provinsi Hunan, China, menjadi perbincangan selama beberapa pekan karena ulahnya. Ikan-ikan itu mengerumuni seekor angsa yang mendarat di sebuah danau untuk mencari ikan sebagai mangsa.

Sekawanan ikan yang marah menggerombol bersama dan melawan sang bebek yang hendak memangsa mereka. Ikan-ikan itu seolah menegaskan, danau tersebut merupakan kekuasaan mereka. Si bebek akhirnya kalah dan memilih terbang dari danau tersebut. Cerita ini kemudian menggegerkan.
kompas.com,11/03/2009

Wah, Ada Ikan Keramat di Situgede


Bahaya yang mengancam nyawa jika sedang berwisata di Situgede sebenarnya bisa dihindari jika pengunjung tidak lengah, terutama saat berada di atas rakit. Bentuk rakit yang agak sempit memanjang dan tanpa pelindung tepi rentan terhadap ancaman jatuh ke air.

Kuncen Situgede, Herman (42), memberi tips menikmati indahnya Situgede tanpa terancam maut. Syaratnya hanya satu, yakni berlaku tertib dan menaati peraturan yang ada.

“Saat menaiki rakit jangan melakukan gerakan yang bisa membuat pengunjung terjatuh. Apalagi, sampai bersendagurau berlebihan dengan saling dorong,” ujarnya.

Saat air telaga dalam debit yang normal, wisatawan sebenarnya bisa berenang karena jarak permukaan air dengan lumpur lebih dari 2 meter.

“Yang berenang tentu harus yang sudah bisa berenang. Itu pun masih ada syaratnya, jangan memakai pakaian. Cukup mengenakan selempak agar tidak lekas lelah,” kata Herman.

Heman pun mengeluarkan larangan-larangan di luar nalar, antara lain pengunjung dilarang bicara sembarangan.

Apalagi, pembicaraan yang bersifat menantang. Jangan pula sekali-kali mengutarakan ingin melihat ikan dan deleg (sejenis moa) besar saat berada di atas rakit.

“Di kalangan masyarakat sini ada kepercayaan terdapatnya ikan besar penghuni telaga. Konon ikan itu sesekali muncul ke permukaan. Oleh warga ikan itu dianggap keramat dan sangat tabu jika diucapkan di atas air,” tutur Herman.

Herman meminta larangan bersifat mistis itu dihargai pengunjung. “Pernah ada kejadian seorang pemuda berasal dari Pantai Cipatujah berkunjung ke sini. Oleh kami sudah dinasihati agar tidak bicara sembarangan. Merasa sudah mahir berenang di laut, ia kemudian berenang, tapi tak lama tenggelam dan akhirnya meninggal,” ungkapnya, seraya menyebutkan, peristiwa itu terjadi pada 2007. (firman suryaman)

kompas.com,8/11/2009