Wisata Bahari Taman Nasional Karimunjawa


Karimunjawa adalah sebuah eksotisme di perairan laut Jawa. Keelokan alamnya mampu menghipnotis berjuta pasang mata yang menyinggahinya. Keindahan panorama alam seperti terumbu karang, rumput laut, dan padang lamun dengan biota laut yang beraneka ragam, hutan mangrove, gunung dan sisa hutan tropis dataran rendah, semuanya dalam hamparan yang masih alami sehingga menjadikan kepulauan Karimunjawa sebagai Taman Nasional Laut. Kepulauan ini secara administratif merupakan kecamatan dari wilayah kabupaten Jepara, yang berlokasi sekitar 45 mil arah barat laut kota Jepara.

Luas wilayah teritorial Karimunjawa adalah 107.225 hektar,  sebagian besar berupa lautan (100.105 ha), luas daratannya sendiri adalah 7.120 hektar. Daerah ini beriklim tropis yang dipengaruhi oleh angin laut yang bertiup sepanjang hari dengan suhu rata-rata 26-30 derajat Celcius, dengan suhu minimum 22 derajat Celcius dan suhu maksimum 34 derajat Celcius.

Gugusan kepulauan Karimunjawa yang terletak di perairan laut Jawa ini terdiri atas 27 pulau besar dan kecil. Lima di antaranya adalah Karimunjawa (4302,5 ha). Kemujan (1501 ha), Parang (690 ha), Nyamuk (125 ha), dan Genting (135 ha). Luas kepulauan mencapai 71,2 km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 8.070 jiwa yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan.

Masyarakat Karimunjawa terdiri dari banyak suku yang ada di wilayah nusantara. Antara lain: suku Jawa, Madura, Bugis, Mandar, Bajo. Mereka menetap hampir beratus-ratus tahun sudah, secara turun temurun. Kini, meskipun tak banyak, masih bisa didapati sisa-sisa akar budaya asli yang diwarisi dari nenek moyang mereka. Seperti, dialek bahasa, adat istiadat perkawinan, kontruksi rumah adat dan sebagainya.

Hal tersebut tentunya akan turut memperkaya khazanah budaya taman nasional Karimunjawa sebagai kawasan wisata bahari di Indonesia. Di tinjau dari sisi kekayaan alamnya, Taman Nasional Karimunjawa menawarkan sejuta pesona alam laut yang tak perlu diragukan lagi, bahkan layak dipersandingkan dengan obyek wisata bahari lain seperti Bali dan Bunaken misalnya. Sebagai Taman Nasional Laut (TNL), yang ditetapkan sejak tahun 1988, Karimunjawa memiliki potensi keanekaragaman flora. Flora daratan terdiri atas hutan hujan tropis dataran rendah. Kondisi vegetasi terdiri atas jambon, rokok-rokok, bintangun, walik lor, Ingas, meranti, laban, rumpun, meniran, Sentol, Gondorio dan kepun. Disamping itu di sepanjang pesisir Karimunjawa, Kemujan, Cemara Besar, Cemara Kecil dan Pulau Sintok terdapat tumbuhan mangrove. Jenis tanaman pantai lainnya adalah ketapang, cemara laut, jati pasir, setigi, waru laut. Sedangkan tumbuhan yang menjadi ciri khas adalah dewo ndaru. Kelompok algae terdiri dari algae hijau, algae coklat dan algae merah. Di kepulauan Karimunjawa juga ditemukan 12 familia koral (karang). Ekosistem terumbu karang terdiri atas tipe terumbu karang pantai (fringing reefs) dan terumbu karang penghalang (barrier reefs) dan beberapa taka (patch reef). Kekayaan jenisnya mencapai 51 genus, lebih dari 90 karang keras. Di antara yang paling indah adalah karang merah (tubipora musica). Jenis karang ini ditengarai telah hampir punah. Di kepulauan Karimunjawa juga terdapat 242 jenis ikan hias.

Jenis ini menempatkan keragaman yang lebih kaya dibanding dengan Puerto Rico yang tersohor ikan hiasnya tetapi hanya memiliki 49 jenis, Hawaii (60 jenis), Filipina (109 jenis), Singapura (32), Thailand (45 jenis), Sri Lanka (165 jenis), Kenya (95 jenis) dan Ethiopia (112 jenis). Disamping itu juga terdapat jenis ikan pangan berkualitas unggul seperti ikan ekor kuning, pisang-pisang, kerapu, kakap merah, lencam, kakatua, baronang dan tongkol. Terdapat juga ikan karang, binatang berkulit duri (teripang, bintang laut, bulu babi, lili laut) dan aneka jenis penyu.

Biota laut lain yang dilindungi meliputi kepala kambing, triton terompet, nautilas berongga, batu laga dan 6 jenis kima.Hampir semua pulau di kawasan Karimunjawa memiliki pemandangan darat dan bawah air yang indah dan menakjubkan. Berbagai aktivitas yang bisa dilakukan meliputi scuba diving, snorkeling, trekking, biking dan fishing. Pantai di kepulauan Karimunjawa juga merupakan hamparan pasir putih yang indah.

Wisata Bahari dan Pemberdayaan Masyarakat

Kondisi alam Karimunjawa yang indah dan menawan tersebut, tentunya harus dikelola dengan baik melalui sistem pembangunan berkelanjutan. Konsep pembangunan yang nilai strategis dalam pengelolaan kawasan tersebut adalah dengan program wisata bahari yang berbasis pada ecotourism. Dengan perencanaan yang baik dan tepat, pembangunan wisata bahari yang berbasis pada  ecotourism di taman nasional Karimunjawa akan memberikan manfaat ganda sekaligus. Pertama, manfaat bagi pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat dan kedua, manfaat bagi penyelamatan ekosistem laut dari kerusakan akibat eksploitasi.
Dengan adanya program wisata bahari, maka keterlibatan masyarakat akan sangat dibutuhkan untuk menunjang kegiatan tersebut. Sehingga hal ini akan memberikan alternatif sumber daya ekonomi masyarakat. Dengan demikian pola pikir masyarakat yang sebelumnya hanya mengandalkan mencari ikan sebagai aktivitas utama dalam mata pencaharian mereka secara bertahap akan bergeser kepada sektor jasa dan industri kreatif. Di sektor jasa misalnya dibukanya usaha rumah penginapan (homestay), persewaan boat untuk wisata fishing atau sekadar plesir kawasan kepulauan, pemandu wisata (guide) dan lain-lain. Sementara itu di bidang industri kreatif adalah terbukanya peluang usaha untuk membuat aneka kerajinan souvenir khas Karimunjawa, dibukanya toko-toko souvenir,  dan seterusnya.

Semua ini apabila dikelola dan dikemas dengan baik akan memiliki nilai positif bagi pemberdayaan masyarakat setempat. Dengan adanya kegiatan yang produktif tersebut maka kesadaran akan pentingnya konservasi alam laut juga akan tumbuh sejalan dengan meningkatnya kegiatan wisata bahari yang menjadi penopang perekonomian mereka. Karena satu sama lain sesungguhnya saling menunjang dan saling berkaitan dalam sebuah simbiosa mutualisme.

Konservasi alam akan menjaga kelestarian keindahan laut dan seluruh potensi yang ada. Kemudian potensi ini akan menjadi magnit bagi para turis untuk berdatangan. Dan dari para turis ini akan menumbuhkan aktivitas ekonomi masyarakat sehingga pada gilirannya kesejahteraan masyarakat akan tercipta.  Dalam kondisi sosial ekonomi yang relatif mapan ini maka kebiasaan masyarakat yang cenderung merusak ekosistem laut seperti misalnya menangkap ikan menggunakan racun sianida dan bom ikan maupun perambahan terumbu karang illegal secara bertahap akan dapat dihilangkan.

Sebab, aktivitas masyarakat yang berdampak pada kerusakan laut tersebut pada umumnya dipicu oleh masalah ekonomi. Alasan klasik yang biasa dikemukakan oleh para nelayan adalah karena hanya dengan cara tersebut mereka dapat memperoleh hasil yang maksimal. Namun sesungguhnya alasan mendasar yang melatarbelakangi ini semua adalah karena tidak adanya sumber daya alternatif yang dapat mereka gali untuk mencari penghasilan yang memadai.

Oleh karenanya konsep wisata bahari ini seharusnya dapat dijadikan solusi alternatif untuk memberdayakan masyarakat nelayan dari sisi sosial ekonomi sekaligus dapat menghindari resiko kerusakan ekosistem laut yang lebih parah. Namun demikian upaya ini tentunya juga harus dibarengi pembangunan infrastruktur pariwisata yang cukup memadai dan memberikan bekal terhadap masyarakat lokal akan berbagai ketrampilan. Misalnya ketrampilan untuk menjadi pemandu wisata, ketrampilan membuat aneka sovenir  dan lain-lain. Intinya adalah agar masyarakat lokal mampu menjadi tuan rumah yang baik dan mengerti apa yang dibutuhkan para tamunya. Dari sini maka para turis akan merasa nyaman berkunjung dan tidak segan untuk kembali lagi.

S
ejauh ini program wisata bahari taman nasional Karimunjawa dapat dikatakan belum membuahkan hasil yang maksimal. Hal ini dapat di lihat tingkat kunjungan turis yang masih relatif rendah, dan manfaat sosial ekonomi masyarakat juga dirasakan masih kurang. Industri kreatif dan sektor jasa dari masyarakat lokal belum menjadi usaha alternatif yang menjanjikan. Sehingga masyarakat masih banyak yang berprofesi sebagai nelayan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Dalam menjalankan aktivitas ini kebiasaan yang merusak lingkungan laut masih sering di dapati, yakni penggunaaan sianida dan bom ikan yang mengancam kerusakan terumbu karang. Hal ini tentunya bukan berarti bahwa program wisata bahari Karimunjawa telah gagal. Akan tetapi hal itu belum dikelola secara maksimal. Dibutuhkan kepedulian semua pihak terutama pemerintah mulai dari pemerintah pusat sebagai penguasa Taman Nasional, pemerintah Provinsi hingga pemerintah Kabupaten untuk bekerja lebih keras lagi dan semuanya harus saling bersinergi. Selain itu yang tidak kalah penting adalah stakeholders dan pelaku usaha pariwisata dan masyarakat tentunya. Semuanya harus saling mendukung sehingga laut lestari akan menjadi kenyataan. Mengingat dewasa ini kerusakan laut kita pada umumnya telah memasuki tahap yang cukup memprihatinkan.

kabarindonesia.com,16/03/2009

One thought on “Wisata Bahari Taman Nasional Karimunjawa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s