Ikan Air Tawar, Ikon Tanah Pasundan Hilang Gaungnya


CERITA tentang perikanan budidaya air tawar di Jawa Barat tidak terlepas dari keunggulan provinsi ini di kancah nasional. Peran nenek moyang yang mengestafetkan keahliannya turun-temurun telah membawa keterkenalan warganya sebagai penghasil organisma air yang memiliki manfaat kesehatan dan kecerdasan.

Tidak heran apabila banyak peristilahan perikanan yang berbau bahasa Sunda melekat menjadi bahasa perikanan, baik skala nasional maupun mancanegara. Hal itu dimungkinkan mengingat budaya memelihara ikan di tanah Pasundan sudah tertanam sejak para petinggi Kerajaan Galuh (sekitar 300 tahun lalu) mulai menggali sebagian bantaran sungai sebagai tempat menyimpan ikan. Untuk kemudian berangsur-angsur memeliharanya di kolam atau di sawah bersama padi.

Pengalaman yang turun-menurun memelihara ikan pada akhirnya selain untuk memenuhi keperluan sendiri, kemudian berubah menjadi ladang usaha untuk memperoleh penghasilan.

Bukti empiris yang menunjang keterkenalan Jawa Barat di antaranya keberadaan buku-buku perikanan terbitan lama karangan para ahli perikanan dari luar negeri. Sebut saja Dr Alikunhi dan Dr Chauduri (India), Dr Bardach (Israel), Dr Huet (Prancis), dan Dr Vaas Van Oven (Belanda). Sekitar tahun 1950-an mereka pernah mengunjungi wilayah Priangan, di antaranya Kampung Ciseda-Cipakat-Singaparna yang dikenal sebagai daerah pembenihan ikan mas tempo dulu.

Isi bukunya banyak tersisipi istilah perikanan berbahasa Sunda seperti sebutan kereneng, buleng, oblok, kakaban, panglembangan, gomblangan, panyabetan, palet, surumbung, sistem Galunggung, sistem kantong, sistem Rancapaku, dan sebagainya. Peran dan fungsi peristilahan tersebut mereka terangkan secara rinci serta diuraikan berdasarkan kajian ilmiah.

Keduk teplok merupakan bahasa baku perikanan bagi kegiatan untuk memperbaiki pematang kolam/tambak. Caranya dengan mengeduk tanah dari dasar kolam, kemudian meneplokkannya pada bagian pematang.

Mijah maling sering dipergunakan manakala ada induk ikan betina melakukan pemijahan/perkawinan tanpa disertai pasangannya. Adapun kakaban berasal dari kata kakab-helai, berupa ijuk yang dijepit sebilah bambu sebagai alat menempel telur.

Seorang pakar perikanan dari Cina, Prof Choong Lin (alm), pernah memperkenalkan kakaban sebagai salah satu tempat menempel telur ikan mas ala Jawa Barat di forum internasional.

Dr Scott dan Dr Warner, ahli genetika ikan dari Reading University Inggris, sempat terkagum-kagum ketika memperhatikan pembenihan ikan khas Kampung Saladah-Padakembang-Tasikmalaya. Walau metode pembenihannya tradisional, kadar ilmiahnya tinggi.

Centre of Excellence
Ikan beureum panon (Barbodes orphoides) juga berasal dari Jawa Barat. Walau jenis ikan ini sekarang terkesan langka, dalam berbagai literatur dalam dan luar negeri termasuk ikan air tawar potensial. Sebutan beureum panon telah menjadi hak paten bagi ikan yang mirip-mirip dan serumpun ikan tawes.

Tidak dibenarkan dengan dalih apa pun mengubah namanya menjadi ikan merah mata manakala diinformasikan ke berbagai kalangan. Sebab, nama tersebut telah tertoreh dalam akta yang dimilikinya. Baik ciri-ciri maupun deskripsinya terpampang jelas dalam kunci determinasi dan identifikasi yang digeluti kaum ichthyolog.

Demikian pula sebutan ikan mas kumpay (Cyprinus carpio var. Kumpay) sebagai ciri Ikan bersirip ngagebay-memanjang dan ikan mas si nyonya (Cyprinus carpio var.Si Nyonya) ditujukan bagi ikan mas bermata sipit.

Induk ikan, sebelum dikawinkan, senantiasa diberok, yakni dipisahkan antara jantan dan betina beberapa hari di wadah berbeda tanpa ada perlakuan khusus—tidak diberi makan. Alasannya, guna mengoptimalkan perkawinan (dalam literatur asing dikenal dengan fasting).

Panggilan ngaramo, sebutan bagi anak ikan ukuran jari tangan, akuakulturis luar telah menjadikannya sebagai bahasa perikanan dengan sebutan fingerling. Adapun kebul, bebeas, aruy, siki bonteng, ataupun cangkiran dan kobokan adalah istilah lain untuk benih ikan disesuaikan dengan ukuran serta nama takaran yang dipergunakan. Sedangkan larva bedah adalah anak ikan yang baru menetas tapi diperoleh saat kolam/wadah dibedahkeun—dikeringkan.

Seabrek bahasa Sunda tersebut diakui banyak mengisi peristilahan perikanan budidaya. Selain telah tercatat dalam referensi, juga menjadi bahasa pergaulan sehari-hari insan perikanan di tanah air.

Kehadiran integrated farming berupa longyam (integrasi antara balong dan ayam) berikut keberadaan kolam air deras, serta budidaya pada keramba jaring apung di waduk termasuk teknologi Sariban pada era tahun 1970-an telah menambah semarak budidaya ikan di Jawa Barat, memperkuat dugaan bahwa tanah Pasundan dikenal sebagai centre of excellent di Indonesia.

Nyaris Tak Terdengar
Akhir-akhir ini gaung budidaya ikan di Tanah Pasundan seakan nyaris tak terdengar. Persoalannya kegiatan perikanan budidaya yang berlangsung selama ini, bila dikaitkan dengan perkembangan global, menuntut adanya berbagai pembenahan.

Perlu terobosan-terobosan dalam menyikapi kebutuhan pasar. Satu di antaranya aktivitas perikanan pada umumnya masih bertumpu pada tingkatan tradisional. Peran teknologi dalam budidaya ikan merupakan salah satu kunci sukses, pada sisi ini teknologi dibutuhkan untuk mempertinggi produktivitas.

Karenanya untuk membedah potensi budidaya, para pelakunya diingatkan untuk menggunakan kaidah-kaidah “scientific based”. Kita jangan selalu terjebak dalam kondisi tradisional dan primitif walau dalam hal-hal tertentu nuansa kearifan lokal tetap dipertahankan.

Israel telah berhasil mengembangkan teknologi perkolaman intensif sehingga memiliki tingkat produktivitas kolam yang cukup tinggi. Hongaria juga berhasil memanfaatkan jerami padi dan cincangan kol guna memproduksi “rotatoria” sebagai makanan utama larva.

Cina telah melesat maju menjadi negara dengan produksi perikanan budidaya nomor wahid di dunia. Vietnam, negara yang pernah belajar budidaya ikan di Jawa Barat, kini sudah mengancam kita. Dari konteks di atas, dapat diambil kesan bahwa teknologi di mana pun senantiasa mesti dikembangkan, tidak berjalan di tempat walau bukan berasal dari negerinya sendiri.

Teknologi budidaya ikan saat ini telah memperlihatkan kemajuan, seperti aplikasi teknologi pembenihan ikan dengan metode artificial propagation telah banyak diterapkan walau pemanfaatannya tidak merata di kalangan pembudidaya, teknologi manipulasi kromosom pada gino/androgenesis, maupun teknologi poliploidi, demikian pula teknologi implantasi untuk mempercepat kematangan gonada rasanya sudah tidak ada kendala. Namun, kenyataannya teknologi-teknologi tersebut masih jarang ditemukan pemakaiannya di lapangan. Sesuatu yang harus menjadi renungan bersama.
tribun jabar.com,Sabtu, 30 Mei 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s