Kenya Adopsi Teknologi Budidaya Ikan


Pemerintah Kenya sedang menjajaki transfer teknologi buatan Indonesia untuk pengolahan atau budidaya ikan sekaligus produk-produk ikannya.

Menteri Pengembangan Perikanan Kenya, Otuoma Paul Nyongesa, ditemui saat Pameran Indonesian Aquaculture, di Manado, Sulut, Rabu pagi (13/5) mengatakan, selama ini pihak pemerintah belum memiliki pengalaman budidaya ikan yang layak, sehat dan cepat.

”Selama ini, para nelayan Kenya selalu mengkonsumsi ikan langsung dari laut, namun jarang yang dibudidayakan supaya bisa berkelanjutan untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Nyongesa, yang mengenakan baju jas biru didampingi sejumlah stafnya.

Nyongesa tidak malu ingin belajar langsung kepada nelayan atau pengusaha perikanan Indonesia dalam budidaya ikan. Bahkan, kehadirannya dalam acara Konferensi Kelautan Dunia (WOC) di Manado dari tanggal 11 sampai 15 Mei nanti, dimaksudkan untuk menyerap sebanyak mungkin informasi tentang teknologi budidaya perikanan.

”Kami sangat senang belajar dari Indonesia, bagaimana mengelola produk ikan, supaya bisa dikonsumsi,” katanya.

Sejauh ini, kata Nyongesa, dalam pengelolaan ikan secara tradisional di Kenya banyak mengalami sejumlah kendala, seperti keterbatasan jumlah ikan disaat terjadi badai atau perubahan cuaca di laut. Jika tidak dilakukan pembudidayaan ikan, maka nelayan setempat tidak bisa menyimpan ikan dalam jumlah banyak untuk kebutuhan ketika terjadi perubahan cuaca yang membuat nelayan tidak bisa melaut.

Alasan Pemerintah Kenya memilih transfer teknologi budidaya ikan dari Indonesia, karena banyak kesamaan kondisi alam maupun cuaca kedua negara tersebut. Posisi kedua negara berada di garis ekuator yang sama, dan juga memiliki akses langsung ke Samudera Hindia. ”Kami sangat berharap dorongan kedua negara bisa mewujudkan kerjasama di bidang ini,” ujar Nyongesa, menambahkan.

Lebih dari itu, Nyongesa bahkan mempersilakan investor dari Indonesia untuk mengembangkan teknologi pengolahan ikan di negaranya dan siap memberikan pelayanan serta memenuhi kebutuhan dari investor, jika berkenan datang ke Kenya.

Ditemui di tempat sama, Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi, menyambut positif langkah Pemerintah Kenya. Freddy bahkan siap menugaskan Ditjen Budidaya DKP untuk mengirim sejumlah tenaga ahli pembudidayaan ikan Nila ke Kenya, guna memberikan pelatihan kepada nelayan disana.

Direktur Jenderal Budidaya Ikan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) RI, Made L Nurdjana, membenarkan bila DKP siap mengirim tim ahli budidaya ikan ke Kenya untuk mendampingi para nelayan disana, khususnya pembudidayaan ikan Nila, yang memiliki nilai tambah bagi nelayan.

”Kami akan mengirim tim budidaya ikan Nila dan memberikan pengalaman kepada mereka (nelayan Kenya),” kata Made.

Menurut sejumlah catatan, ikan Nila ini dikabarkan aslinya berasal dari afrika. Ribuan tahun ikan ini disukai oleh banyak orang sampai sekarang ini. Dahulu ikan nila hanya dimakan oleh orang-orang tertentu didalam kerajaan karena rasanya dan dagingnya berbeda dengan ikan air tawar lainya. Rasa ikan ini manis dan gurih, sedang dagingnya tidak bertulang.

”Ikan nila kebanyakan hanya bisa hidup di daerah tropis seperti Indonesia. Akan tetapi di negara empat musim juga membudidaya ikan nila dengan cara moderen. System pengairan menggunakan heater pada musim dingin,” papar Made.

republika.co.id, 13 Mei 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s