Budidaya Ikan di Lahan dan Air Terbatas


lsu kekhawatiran terhadap krisis lingkungan memang telah lama diprediksi Malthus dengan postulatnya, bahwa kemampuan penduduk untuk bertambah secara kuantitatif lebih besar dari kesanggupan sumber daya alam dalam menyediakan pangan sebagai kebutuhan pokok manusia.

MENURUT Malthus, secara matematis dapat dijelaskan bahwa pertumbuhan penduduk akan mengikuti deret ukur. Sedangkan pertumbuhan pangan mengikuti deret hitung. Pada gilirannya nanti, sumber daya alam tidak bisa lagi mendukung kebutuhan manusia.

Namun Malthus rupanya tak melihat bahwa manusia juga mempunyai akal pikiran yang dapat menciptakan teknologi untuk membantu kehidupan manusia.

Dewasa ini, perkembangan penduduk di Indonesia terus meningkat. Hal ini menyebabkan tuntutan permintaan lahan makin meningkat pula dari tahun ke tahun.

Luas lahan tidak mengalami penambahan berarti dan relatif stagnan, bahkan berkurang. Dapat dikatakan, pertambahan penduduk dan luas lahan merupakan perbandingan terbalik.

Permintaan lahan yang meningkat makin dirasakan bukan hanya di perkotaan saja, melainkan juga di daerah pedesaan, baik dipakai sebagai perluasan permukiman, pembangunan pertokoan, pabrik, serta perluasan jaringan sarana dan prasarana umum lainnya.

Akhirnya, semua itu mengakibatkan banyak lahan pertanian produktif beralih fungsi. Lahan untuk pemeliharaan ikan dan persawahan / perkebunan pun makin menyusut.

Mengingat permasalahan tersebut, kiranya perlu ada suatu pilihan teknologi yang bisa diterapkan pada lahan dan / atau sumber air terbatas. Salah satu upayanya yang bisa diterapkan adalah sistem akuaponik.
Prinsip Dasar Akuaponik adalah suatu kombinasi sistem akuakultur dan budidaya tanaman, yang mana ikan dan tanaman tumbuh dalam satu sistem yang terintegrasi, dan mampu menciptakan suatu simbiotik di antara keduanya.

Sistem akuaponik dalam prosesnya menggunakan air dari tangki ikan, kemudian disirkulasikan kembali melalui suatu pipa yang mana tanaman akan ditumbuhkan. Jika dibiarkan di dalam tangki, air justru akan menjadi racun bagi ikan-ikan di dalamnya.

Bakteri nitrifikasi merubah limbah ikan sebagai nutrien yang dapat dimanfaatkan tanaman (lihat grafis).

Kemudian tanaman ini akan berfungsi sebagai filter vegetasi, yang akan mengurai zat racun tersebut menjadi zat yang tidak berbahaya bagi ikan, dan suplai oksigen pada air yang digunakan untuk memelihara ikan. Jadi, inilah siklus yang saling menguntungkan.

Secara umum, akuaponik menggunakan sistem resirkulasi. Artinya, memanfaatkan kembali air yang telah digunakan dalam budidaya ikan dengan filter biologi dan fisika berupa tanaman dan medianya.

Resirkulasi yang digunakan berisi kompartemen pemeliharaan dan kompartemen pengolahan air. Biasanya, sistem pengolahan air tersusun atas kompartemen dekantasi, kompartemen filtrasi, kompartemen oksigenasi, dan kompartemen sterilisasi.

Penggunaan bahan-bahan filter —misal batu zeolit atau filter diam dan tanaman air— sebagai substrat bakteri yang mampu mengatasi dan mengatur kelebihan senyawa-senyawa nitrogen berbahaya untuk ikan pada sistem akuaponik.
Pemilihan Komoditas Pemilihan komoditas memegang peranan penting dalam merencanakan dan mendapatkan hasil sesuai dengan apa yang diinginkan. Komoditas yang dipilih hendaknya didasarkan atas ketersediaan dan permintaan pasar.

Jenis ikan air tawar yang dapat dibudidayakan pada sistem akuaponik antara lain nila/tilapia, mas, koi, lele, udang galah dan lain-lain. Ya, ikan-ikan seperti itu boleh dipelihara di dalam kolam, akuarium, maupun tangki.

Sedangkan untuk tanaman yang bisa dimanfaatkan sebaiknya mempunyai nilai ekonomis. Misalnya bayam hijau, bayam merah, kangkung, selada, dan sebagainya. Beberapa tanaman buah seperti tomat juga bisa dipraktikkan dalam sistem akuaponik.

Aplikasi akuaponik, baik secara teoritis, praktis dan ekonomis, tentu sangat menguntungkan pembudidaya. Sebab, lahan yang dipakai relatif tidak terlalu luas. Pembudidaya mempunyai hasil produksi ganda (ikan dan sayuran).

Bukan itu saja, sistem akuaponik juga bersifat hemat air, sehingga cocok diterapkan di daerah kritis air.

Di musim kemarau, beberapa daerah di Jawa Tengah kerap dilanda krisis air, terutama di kawasan Muria, kawasan selatan eks Karesidenan Surakarta, sebagian daerah di pantura barat, dan lain-lain.

Pembudidaya juga tidak perlu lagi mencangkul, merumput, menggemburkan tanah, serta aktifitas fisik lainnya yang sering menyiksa badan.

Sebab melalui sistem ini, Anda tidak perlu menyirami tanaman sayuran setiap hari. Anda hanya perlu memberikan makanan kepada ikan, yang menyebabkan sayuran dan ikan segar.

Yang tidak kalah penting, aplikasi sistem akuaponik mampu mengurangi penggunaan bahan kimia, mengingat sistem ini lebih bersifat organik. Ya, sistem akuaponik sama sekali tidak menggunakan pupuk dan pestisida.

Yang lebih penting lagi, hasil panen tanaman dari akuaponik memiliki nilai harga jual yang cukup tinggi di supermarket karena bersifat organik. Nah, kenapa tak mencobanya sejak sekarang?

suaramerdeka.com, 17 April 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s