Akuakultur, Solusi Mengatasi Krisis Ikan


Sebuah kajian berjudul “The Sunken Billions: the Economic Justification for Fisheries Reform” yang dilakukan oleh Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO) dan Bank Dunia yang terbit akhir tahun 2008 menyebutkan, dunia menderita kerugian sekitar USD50 miliar setiap tahun di sektor perikanan laut (perikanan tangkap) akibat keburukan manajemen, inefisiensi, dan kelebihan tangkap (over fishing).

Laporan tersebut mengingatkan, jika perikanan laut dikelola dengan benar, maka kerugian tersebut dapat dibalikkan menjadi keuntungan ekonomi bagi kelanjutan hidup jutaan nelayan dan masyarakat pesisir.

Penyebab utama kerugian adalah merosotnya stok ikan. Menurut FAO, lebih dari 75 persen stok ikan dunia sudah dieksploitasi penuh (full fishing) atau malah over exploited (over fishing). Hasil evaluasi FAO berdasarkan rasio produksi dengan potensi lestari MSY (Maximum Sustainable Yield) atau rasio produksi dengan MLTAY (Maximum Long-term Average Yield), dari 16 wilayah perairan laut,

4 wilayah perairan telah mencapai puncak pemanfaatan sumber dayanya, 8 perairan lainnya telah dimanfaatkan sekitar lebih dari 70 persen, sementara 4 perairan lainnya telah dimanfaatkan antara 10-50 persen.

Studi-studi FAO juga mengungkapkan bahwa produksi ikan dunia cenderung stabil atau meningkat dengan persentase yang sangat kecil, yaitu sekitar 1,5 persen per tahun selama lima tahun terakhir. Produksi hasil perikanan dari kegiatan penangkapan di laut justru menunjukkan gejala mulai menurun, yaitu dari 84,7 juta ton pada tahun 1994 menjadi 84,1 juta ton pada tahun 1999.

Peningkatan produksi perikanan terjadi pada awal 2000-an, namun terjadi penurunan produksi kembali pada pertengahan tahun 2000-an. Kestabilan produksi ikan dunia lebih disebabkan kontribusi positif dari kegiatan akuakultur (budi daya perairan) yang meningkat sekitar 10 persen per tahun pada tahun 1994-1999, dari sekitar 20,8 juta ton pada tahun 1994 menjadi 32,9 juta ton pada tahun 1999 dan tahun 2007 telah mencapai 52 juta ton.

Ramalan FAO dan Bank Dunia mengenai kerugian yang mencapai USD50 miliar yang hilang setiap tahun tersebut adalah ramalan konservatif. Itu belum termasuk penangkapan ikan untuk rekreasi dan pariwisata, serta kerugian akibat pencurian atau penangkapan ikan secara ilegal.

Padahal negara-negara pantai seperti Indonesia, tidak memiliki cukup armada untuk menjaga perairannya. Kondisi inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh perusahaan ikan besar untuk melakukan penangkapan ikan secara besar-besaran dan secara ilegal tanpa mengindahkan keseimbangan ekosistem.

Bagaimana Indonesia?

Hasil evaluasi FAO tahun 2000 terhadap 16 perairan dengan menggunakan indikator MSY dan MLTAY menunjukkan bahwa empat wilayah perairan telah mencapai puncak pemanfaatan sumber dayanya. Keempat wilayah perairan tersebut termasuk perairan dengan kode wilayah 71 dan 57 yakni Pasifik Barat Tengah (Western Central Pacific) dan Samudera Hindia Timur (Eastern Indian Ocean).

Wilayah dengan kode 71 dan 57 adalah wilayah perairan Indonesia, serta Pasifik Barat Daya (Southwest Pacific) dengan kode wilayah 81 dan Pasifik Barat Laut (Nortwest Pacific) dengan kode wilayah 61.
Berdasarkan evaluasi FAO ini, dapat dikatakan bahwa sumber daya ikan dunia telah cenderung dimanfaatkan secara penuh.

Khusus untuk wilayah perairan dengan kode 71 dan 57 secara agregat telah mencapai puncak pemanfaatannya. Kawasan barat dan selatan Indonesia adalah wilayah perairan dengan kode 71, sementara kawasan timur dan utara Indonesia adalah wilayah perairan dengan kode 57. Arti dari hasil evaluasi ini bagi Indonesia adalah bahwa pembangunan perikanan tangkap ke depan tidak dapat diekspansi lagi seperti tahun-tahun sebelumnya.

Gambaran tentang status pemanfaatan sumber daya ikan di tingkat global atau regional tidak berbeda dengan hasil penelitian tentang hal ini yang dilakukan di tanah air. Produksi tangkapan ikan laut Indonesia tahun 2004 telah mencapai 4 juta ton atau sekitar 63 persen dari perkiraan MSY sekitar 6,4 juta ton.

Dari data produksi agregat nasional ini, tampak bahwa produksi ikan masih berada di bawah potensi sumber daya yang dapat dimanfaatkan. Akan tetapi jika tolak ukurnya bukan MSY melainkan TAC (Total Allowable Catch) yang diperkirakan sekitar 5 juta ton, maka sebetulnya pada akhir tahun 1999 sumber daya ikan laut Indonesia telah dimanfaatkan sekitar 74 persen dari potensi yang tersedia.

Tahun 2008 produksi perikanan nasional mencapai 8,6 juta ton. Produksi akuakultur mencapai 3,5 juta ton dan perikanan tangkap sebesar 5,1 juta ton. Kontribusi perikanan tangkap sebesar 5,1 juta ton berarti sekitar 83 persen perikanan laut Indonesia telah dieksploitasi jika tolak ukurnya adalah MSY.

Namun jika menggunakan perkiraan TAC maka perikanan laut Indonesia telah mengalami kelebihan tangkap.

Kondisi bahwa sumber daya perikanan laut Indonesia telah dimanfaatkan secara penuh dapat juga dilihat dari komposisi jenis ikan yang ditangkap. Ikan yang berharga murah dan lebih rendah derajatnya dalam rantai makanan (food chain) mendominasi komposisi produksi ikan. Indikator yang paling jelas pada akhir-akhir ini adalah munculnya ubur-ubur sebagai jenis hayati laut yang tinggi produksinya.

Kemunculan ubur-ubur dalam jumlah yang sangat banyak di suatu perairan, tidak seperti biasanya, sering mengelabui nelayan sebagai suatu potensi baru yang perlu dimanfaatkan. Padahal secara biologis, booming (melimpah)-nya ubur-ubur ini adalah indikator bahwa pemangsanya,

yaitu ikan-ikan yang lebih besar dan lebih tinggi derajatnya dalam rantai makanan, telah berkurang populasinya karena menjadi sasaran dan target penangkapan nelayan. Melihat indikasi-indikasi ini, sebetulnya perairan laut Indonesia dengan sumber daya ikannya telah berada pada kondisi kritis (Nikijuluw, 2002).

Beralih ke Akuakultur

Kenyataan ini “memaksa” negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, untuk meningkatkan produksi perikanan melalui kegiatan akuakultur. Pada tahun 2007, produksi perikanan dunia mencapai 143 juta ton, yang terdiri dari 91 juta ton berasal dari kegiatan penangkapan dan 52 juta ton dari usaha akuakultur.

Ini berarti, kontribusi akuakultur untuk produksi perikanan dunia telah mencapai sekitar 36 persen. Produksi perikanan dari kegiatan akuakultur diperkirakan terus meningkat beriringan kecenderungan menurunnya produksi perikanan tangkap.

Di Indonesia, pada tahun 2008 produksi perikanan nasional mencapai 8,6 juta ton. Produksi akuakultur mencapai 3,5 juta ton dan perikanan tangkap sebesar 5,1 juta ton. Produksi akuakultur mengalami peningkatan sebesar 10,59 persen dibanding 2007 sebesar 3,19 juta ton. Dari produksi akuakultur sebesar 3,5 juta ton, produksi ikan dan udang sebesar 1,3 juta ton, sisanya berupa rumput laut sebesar 2,2 juta ton.

Dengan produksi perikanan sebesar itu, Indonesia menempati urutan kelima dunia sebagai salah satu negara produsen ikan utama. Produksi sebesar itu masih sangat rendah dibandingkan potensi produksi yang mencapai 65 juta ton/tahun, yang terdiri atas 7,3 juta ton perikanan tangkap (6,4 juta ton perikanan laut dan 0,9 juta ton perikanan perairan umum) dan 57,7 juta ton berasal dari akuakultur (budi daya laut, payau/tambak dan perairan umum/air tawar).

Dan dari potensi akuakultur yang ada (57,7 juta ton/tahun), marikultur (marine aquaculture) mempunyai potensi produksi tertinggi yang mencapai 47 juta ton/tahun, sedangkan untuk budi daya tambak atau air payau (brackishwater aquaculture) dan budi daya air tawar (freshwater aquaculture) masing-masing sebesar 5 juta ton/tahun dan 5,7 juta ton/tahun.

Selain akuakultur, salah satu cara yang perlu dilakukan adalah peningkatan stok (stock enhancement) ikan laut melalui kegiatan restoking. Di negara-negara maju seperti AS, Jepang, RRC, dan negara-negara Eropa yang teknologi akuakulturnya sudah maju, telah mengintegrasikan kegiatan akuakultur dengan perikanan tangkap, yakni kegiatan restoking ikan di suatu perairan.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan stok ikan di perairan tersebut dalam rangka menaikkan pendapatan para pelaku perikanan tangkap (nelayan) dan pelestarian ikan tersebut. Dengan cara ini stok ikan laut dapat ditingkatkan, produksi perikanan laut meningkat, habitat dan sumber daya ikan dikonservasi, sekaligus meningkatkan pendapatan nelayan dan petani ikan

metronews.com,4/12/2010

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s