Menjaga Tuna dari Konsumsi Berlebih


Sekitar 100 hingga 200 meter di bawah permukaan laut, kita bisa melihat ikan tuna hidup bergerombol. Ikan yang dapat tumbuh hingga lima meter dengan berat 500 kilogram ini banyak diburu untuk dikonsumsi. Apalagi seiring dengan kian populernya hidangan khas Jepang seperti Sushi dan Sashimi. Wajar jika permintaan akan daging tuna segar pun terus meningkat. Di Jepang, kebiasaan mengonsumsi daging tuna segar sudah berlangsung sejak 400 tahun silam.

Tengok saja kegiatan di Pelabuhan Natchikatsuura, yang sejak lama menjadi pusat pelelangan ikan tuna di Jepang. Setiap jam tiga pagi, berton-ton ikan tuna tiba di pelabuhan ini. Tuna-tuna itu langsung diproses untuk menjaga kesegarannya.

Permintaan tuna yang terus meningkat memicu kekhawatiran merosotnya populasi ikan ini di alam bebas. Oleh karena itu, pengendalian jumlah tangkapan menjadi amat penting. Sebab jika tidak, lambat laun ikan tuna bakal punah.

Guna menutup permintaaan di pasar, pembudidayaan tuna nampaknya menjadi langkah yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Adalah Universitas Kinki di Wakayama yang tertantang untuk menjajal upaya tersebut.

Setelah puluhan tahun mencoba, para peneliti di Universitas Kinki akhirnya berhasil menemukan rahasia pembudidayaan tuna. Mulai dari pemijahan, penetasan, pembesaran di kolam apung, hingga siap panen. Seluruh proses tersebut dilakukan di laboratorium.

Saat ini, sebagian tuna hasil budidaya diekspor ke berbagai negara, di samping memasok kebutuhan dalam negeri. Keberhasilan Universitas Kinki dalam membudidayakan tuna membuka pintu dalam upaya pelestarian ikan yang paling banyak diminati di seluruh dunia.

Selain tuna, di Jepang juga dilakukan upaya membudidayakan tiram. Cuma bedanya, usaha ini lebih terfokus kepada perbaikan lingkungan. Adalah Pantai Kesennuma di Prefektur Miyagi yang menyimpan makanan laut banyak dicari itu. Tiram dari pantai ini dikenal dengan nama tiram Miyagi dan sudah tersohor hingga keluar Jepang.

Reputasi Miyagi sebagai penghasil tiram tidak lepas dari tangan dingin Shigeatsu Hatakeyama. Ia mewarisi keahlian membudidayakan tiram dari orangtuanya.

Tiram Miyagi dikenal memiliki kualitas yang prima dan cita rasa yang enak, baik untuk dikonsumsi dalma bentuk olahan maupun segar. Tak hanya itu, tiram ini juga tergolong mudah dikembangbiakkan dan tahan penyakit.

Namun budidaya tiram di Miyagi bukan tanpa masalah. Pada 1970-an, budidaya tiram di Miyagi nyaris bangkrut akibat fenomena red tide, yaitu ledakan fitoplankton yang mengakibatkan tiram kekurangan oksigen dan teracuni.

Saat berkesempatan berkunjung ke Prancis, Shigeatsu Hatakeyama menemukan bahwa budidaya tiram di laut terkait erat dengan kelestarian hutan dan kebersihan sungai. Pasalnya, jika unsur hara dari daratan terbawa sungai ke laut bisa memicu ledakan pertumbuhan fitoplankton atau red tide.

Sepulang dari Prancis, Hatakeyama mulai kampanye reboisasi hutan, pembersihan sungai, dan pantai. Ia juga turut menanamkan kesadaran sejak dini dengan memperkenalkan program budidaya tiram kepada anak-anak, terutama mereka yang bermukim di kawasan pegunungan. Konservasi lingkungan yang diterapkan Hatakeyama akhirnya membuahkan hasil, bahkan kemudian diadopsi di seluruh Jepang.

liputan6.com, 15/04/2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s