budidaya ikan nila,alternatif saat resesi


Resesi ekonomi yang menghadang Indonesia pada 1997 justru menjadi penyemangat bagi Syatiri Saib. Lelaki berusia 78 tahun ini telah sebelas tahun menggeluti budidaya ikan di Kecamatan Cijambe, Subang, Jawa Barat.

Awalnya, Syatiri terobsesi menjalankan usaha budidaya ikan ketika melihat fix farming di daerah Ciputat, Tangerang, Banten. Selang beberapa saat, Syatiri pun membeli lahan dari sanak keluarganya di daerah Subang. Lahan tersebut diuntungkan dengan kondisi air yang deras dan tak pernah surut. “Hal inilah yang menjadi landasan, saya pun berniat supaya ini menjadi farming water system,” jelas Syatiri.

Semula Syatiri memulai dengan budidaya ikan emas. Namun, karena ikan air tawar tersebut memiliki antibodi yang lemah dibanding ikan nila, Syatiri mulai beralih ke budidaya ikan nila merah yg menurutnya jauh lebih menguntungkan. Saat ini, dengan ukuran kolam 2×7 meter dan bibit sebanyak 250, Syatiri bisa menghasilkan panen ikan hingga dua ton.

Untuk menjaga kualitas ikannya, Syatiri menggunakan tenaga dokter sebagai quality control. Tak heran jika kualitas ikan nila yang dihasilkan memiliki daging yang agak putih dan sangat kenyal.

Keuletan dan niat yang disertai semangat tinggi menjadi landasan bagi Syatiri dalam menjalani usaha ini. Tak heran jika dalam tempo tiga bulan, ia bisa mencapai omzet hingga Rp 600 juta. Saat ini Syatiri telah memiliki 20 kolam yang berisikan 100 ribu ekor ikan. Di wilayah Subang sendiri kini terdapat sekitar 1.200 petani ikan nila merah dengan 3.000 kolam.

Perhatian ekstra dan berbagai persyaratan harus dipenuhi untuk menghasilkan ikan nila yang berkualitas. Menurut Emma Dolly Raphen, pembina petani ikan nila dari PT. Central Proteinaprima Tbk, kawasan Cijambe paling tepat untuk budidaya ikan karena memiliki suhu yang tepat serta sumber daya air yang tersedia di sepanjang tahun.

Selain itu, lanjut Emma, jika budidaya dilakukan di kolam air mengalir, akan menghasilkan ikan dengan kandungan protein yg tinggi, mengandung Omega 3, pertumbuhannya cepat, tidak bau lumpur, tidak bau amis dan rasa dagingnya juga manis.

Untuk pembinaan, Emma mengaku memberikan bimbingan teknis tentang manajemen budidaya yang paling optimal, pencegahan dari penyakit, teknik panen yang tepat, dan memberikan informasi sejelas mungkin mengenai teknik budidaya ikan. Sejauh ini pihak swasta lebih banyak berperan dalam memberikan bimbingan teknis hingga pemasaran yang tepat kepada petani ikan nila merah.(UPI/Tim Usaha Anda)

liputan6.com, 04/01/2009

One thought on “budidaya ikan nila,alternatif saat resesi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s