Memburu Tuna di Timur Nusantara


Menempuh ribuan mil laut dan melawan arus kuat bukanlah kendala bagi kapal-kapal kayu pemburu tuna di perairan dalam Nusantara. Namun, mereka harus takluk pada kenyataan paceklik tuna. Rudi Masuswo Purwoko mengisahkan perjalannya mengikuti sebuahg kapal rawai tuna.

disadur oleh : ria & tuti

dari : suplemen national geographic indonesia edisi april 2007

[Jum’at, 9 Juni 2006]

Pelabuhan Benoa, Bali, pukul 06.00 WITA. Inilah kesempatan yang saya tunggu, pergi melaut bersama kapal rawai tuna, (tuna longline) menuju Samudra. Kapal ini menggunakan ribuan kail ( biasanya 700-2000 kail) yang dihanyutkan pada kedalaman tertentu (hingga kedalaman 300 meter) dengan senar utama (main line) yang mencapai puluhan kilometer. Biasanya mereka melaut satu sampai enam bulan dengan tuhuan utama untuk menagkap ikan tuna. Memang, perjalanan ini bukanlah kali pertama bagi saya, Namun kali ini saya akan mencoba alat untuk melepaskan penyu dari kail pancing rawai tuna. Nama alat ini adalah de-hooker. Itulah salah satu tugas saya sebagai pengamat yang mencermati interaksi para nelayan dengan satwa laut yang terancam punah dan dilindungi seperti penyu, paus, dan lumba-lumba.

Usai menaruh seluruh bekal pada anjungan kapal yang saya tumpangi, saya segera mencari kapten kapal, pemimpin perjalanan ini. Berbadan tegak dan berkulit belang akibat terbakar cahaya mentari, sang kapten menyambut kedatangan saya dengan ramah. Ia mengatakan, kapal akan berangkat pada pukul 09.00 WITA. Saya tercenung sesaat, lalu mencoba meminta kelonggaran untuk melaksanakan sembahyang Jum’at. Sang kapten akhirnya meluluskan permohonan saya.

[Sabtu, 10 Juni 2006]

Kapal rawai tuna yang saya tumpangi berbobot 94 gross ton, panjangnya 26, 11 meter dengan lebar 0,755 meter. Berdaya 750 PK, mesin kapal mampu melajukan kapal dengan kecepatan rata-rata 7 knot. Kapten kapal memiliki 14 orang Anak Buah Kapal (ABK). Agar diterima di lingkungan baru, saya menggencarkan pendekatan kepada seluruh awak kapal. Saya piker tak sulit melakukan lobi intensif bila orang satu di kapal ini telah berhasil dirangkul. Siapa ya yang harus saya lobi pada hari ini?Aha, Koki kapal kami! Pejabat penting di bagian dapur ini memang harus segera saya lobi agar ia tak keberatan menyediakan pelayanan yang memuaskan. Saya melangkahkan kaki menuju ruangannya.

Koki kapal ini terlihat telah berumur. Berpenampilan sederhana dan ramah. Saya membuka percakapan sehari-hari, dari keadaan keluarga, pengalaman melaut hingga kebiasaan yang ia lakukan selama perjalanan. Saya juga menyampaikan bahwa saya memiliki kebiasaan tak melahap berbagai olahan ikan. Saya lebih suka menyantap nasi bersama sayur dan lauk, seperti tempe, tahu, dan ayam.

Berikutnya, yang paling sulit, mengenalkan diri kepada anak buah kapal. Mereka yang berwajah gerang ini kerap membuat nyali saya menciut ketika hendak membuka percakapan. Saya mulai menjelaskan tujuan kegiatan saya di dalam kapal ini. Pada hari ini, saya praktis menghabiskan waktu untuk beramah-tamah hingga malam menyapa kami.

[Minggu, 11 Juni 2006]

Hari kedua pelayaran. Seluruh awak, termasuk Sang Kapten, terlihat giat bekerja. Mereka tengah menyiapkan tali pancing yang akan ditebar ke laut pada esok hari. Saya merasa canggung, sebab saya tak melakukan apa-apa. Seraya mendekati mereka, saya membawa sebotol minuman ringan.

Ketika suasana makin cair, saya mulai mengenalkan satu set de-hooker (alat untuk melepaskan mata kail dari penyu dan hewan-hewan laut lainnya dan juga dapat digunakan pada ikan). ” Yang ini de-hooker panjang sedangkan yang ini adalah pendek. Juga ada serok dan tang penjepit tag (penanda),” saya merinci satu per satu kepada beberapa awak yang terlihat antusias.

[Senin, 12 Juni 2006]

Pukul 00.20 WITA dilakukan setting (menebar pancing ke laut) yang pertama. Mereka menebarkan pada kedalaman 422 meter. Ada tiga umpan yang digunakan: ikan lemuru, ikan laying dan cumi-cumi yang digantungkan pada 1080 kail, terdapat 15 kail antar pelampung. Sekitar enam sampai tujuh jam kemudian biasanya pancing akan ditarik (hauling).

Pukul 12.38 WITA, di tengah terik mentari, para awak melakukan penarikan pancing, sementara saya memutuskan untuk melihat saja. Saya hanya bergumam, pantas kulit mereka legam terbakar sinar ultraviolet matahari. Tiba-tiba mata tertembuk pada sesuatu. Ada penyu yang tersangkut pada pancing kapal ini. ‘Tolong Bantu saya untuk melepaskan penyu ini, Pak” kata saya kepada beberapa awak kapal. Saya berusaha melepaskan mata kail yang tertelan penyu hingga tenggorokannya. Saya mencoba memakai de-hooker.”sial, ternyata tak mudah memakai alat ini, ” Saya memaki kepada diri sendiri,. Maklum saja saya baru pertama kali menggunakan alat ini.

Usaha keras itu akhirnya berbuah hasil penyu lekang (Lepidochelys olivacea) malang itu berhasil dilepaskan dari mata kail. Setelah mengamati dengan seksama, saya memutuskan penyu ini berada ada kondisi sehat dan harus segera dikembalikan ke laut. Usai mendokumentasikannya, dengan di bantu beberapa awak kapal, penyu dilepaskan ke habitat aslinya.

[Kamis, 29 Juni 2006]

Pukul 06.55 WITA, kegiatan setting kembali dimulai. Seluruh awakpun sibuk bekerja.tanpa terasa sudah 18 hari lamanya saya mengikuti kehidupan di tengah perairan dalam kawasan timur Nusantara, habitat ikan-ikan tuna yang menjadi target kapal ini. Sebagai pengamat, setiap hari saya lalui dengan mencatat dan mengamati kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan rawai tuna. Bila ada satwa laut, seperti penyu, burung laut dan mamalia laut (paus dan lumba-lumba), yang tertangkap pancing, saya segera membebaskannya bersama para awak. Tentu setelah dilakukan penanganan, pencatatan dan pendokumentasian. Sembari melengkapi catatan dan laporan harian, saya kembali mengingat kejadian yang lalu.

Saya sempat mengajarkan ABK bagaimana mematikan dan mengolah ikan, hasil tangkapan pada Sabtu, 17 Juni. “Pantas saja produk mereka ditolak oleh pasar Eropa, ternyata mereka mengolah ikan tangkapan dengan cara yang salah” saya berujar pada diri sendiri setelah memperhatikan kegiatan hauling.

“Boleh saya pinjam alat penusuk ikan dan pisaunya, Mas?” Saya berlagak seperti guru ketika masa sekolah dulu, mengajarkan pengolahan ikan yang benar agar mutu tangkapan tetap terjaga. Ini bukanlah hal yang sulit sebab saya pernah mendapatkan teori dan penerapannya pada praktik lapangan. Tiap kapal rawai tuna memiliki tipe alat tangkap yang berbeda-beda, begitu pula dengan tipe setting-nya.

Tanpa saya duga, ternyata Sang Kapten turut menyimak pelajaran singkat ini. Ia terlihat begitu senang, awak kapalnya mendapat pencerahan. Ucapan terima kasihpun terlontar dari bibirnya.

[Jumat, 30 Juni 2006]

Pagi itu, suara mesin kapal menderu-deru. Saya segera beranjak dari ranjang dan menghampiri Sang Kapten. Seraya bertolak pinggang, ia melihat GPS (Global Positioning System).

“Kenapa tak melakukan setting, Pak?”

“Ikannya sudah mulai nggak ada,Mas.”

Mata Sang Kapten terus menatap layar GPS. Lalu ia berujar,”Kita coba posisi fishing ground (lokasi peangkapan ikan) yang baru.”

“Oo, begitu ya. Lantas kira-kira makan waktu berapa hari?”

“Kalau kecepatannya cuma empat sampai lima knot, bisa empat hari tiba di fishing ground.”

Syukurlah. Saya dapat istirahat kembali. Tanpa berlama-lama saya menaiki ranjang dan membetulkan telak selimut. Waktu tidur saya yang kurang selama kegiatan menebar dan mengangkat pancing pada hari-hari kemaripun dapat terbayar.

[Selasa, 18 Juli 2006]

Hari ke-38, Laut Flores. Kejenuhan melanda diri. Kerinduan pada orang-orang terkasih pun meruap. Tampaknya, kedua rasa yang sangat manusiawi itu terjadi pula pada awak kapal lainnya. Maklu saja, kondisi ini muncul ketika saat “yasmi”, istilah ABK atas kekosongan pekerjaan yang biasanya hanya diisi dengan mengobrol, menonton film atau istirahat seraya memejamkan mata alias tidur. Lantaran terlampau sibuk bekerja pada hari sebelumnya, sebagian awak kapal tampaknya lebih memilih yang terakhir tadi.

Di tengah kebosanan, saya mencoba membuka kembali catatan harian saya. Ada seekor lumba-lumba yang terjerat branch line yang ditarik pada Jum`at, 7 Juli, pukul 04.15 WITA. Karena berpantang, lumba-lumba itu tak dinaikkan ke dek kapal. Ia langsung dibebaskan oleh awak kapal. Tiga hari kemudian, saya kembali membebaskan penyu. Ini penyu ketiga. Seperti biasanya, saya berusaha mengangkat penyu malang itu ke atas dek dan melepaskan kail yang termakan. Seorang ABK membantu saya. Wakil Kapten setempat membuat saya kesal. Ia tak mengurangi kecepatan kapal ketika saya hendak melepaskan penyu ke laut. Sial!

Esok harinya, giliran sang Kapten kesal. Paceklik tuna! Sudah 26 kali menarik pancing, namun hasilnya masih jauh dari kata memuaskan. “masih lumayan trip sebelumnya,´katanya. Ia pun berencana mencari fishing ground yang baru sesuai dengan informasi yang diperoleh dari kapal lainnya yang masih dalam satu perusahaan. Adanya informasi ini tentu sangat menguntungkan sang Kapten, sebab ia tak perlu bersusah payah mencari lokasi penangkapan ikan yang baru di tengah biaya operasional yang meninggi akibat kenaikan harga bahan bakar.

Setelah beberapa kali pindah, wajah Sang Kapten tetap murung. Pada Senin, 17 Juli, ia memutuskan untuk mencari fishing ground baru. Pasalnya, ikan yang tertangkap selama empat hari lalu tak dapat memenuhi target yang diharapkan. Ia membawa kapal menuju kelompok kap[al rawai tuna lainnya, yang masih satu perusahaan.

[Selasa, 8 Agustus 2006]

Inilah hari ke- 8 perjalanan laut saya. Nasib buruk nampaknya terus menyelimuti kapal ini. Paceklik tangkapan hingga target tangkapan tak terpenuhi dan masalah mesin kapal mendadak berhenti saat proses penarikan pancing menambah beban Sang Kapten. Wajah keruhnya saya catat dengan jelas. Seperti pada Rabu, 26 Juli, ia lebih banyak diam ketimbang daripada hari-hari sebelumnya. Sudah empat hari menebar dan menarik pancing, namun tetap hasilnya tak mampu menutupi biaya operasi kapal yang mencapai dua ratus juta rupiah.

Hari-hari berikutnya nyaris sama. Murung dan emosional. Malahan, Sang Kapten harus dipusingkan dengan bahan makanan yang mulai menipis. Hampir setiap hari koki memasak ikan tanpa bumbu, hanya diberi air dan digarami saja. Hanya itu saja untuk makan pagi, siang dan malam hari. Dan, ikan ini umpan bagi para predator yang menjadi buruan kami.

Pada hari ke-53, Kamis, 3 Agustus, kami hanya memiliki dua kardus mie Instant. Biasanya tiap sore hari,koki selalu membagikannya sebagai makanan selingan. Agar mencukupi, sang koki memasak tiga bungkus mie di dalam panci yang terisi penuh air. Mie direbus hingga mengembang sekali dan dibagikan untuk 14 orang saat makan malam tiba.

Emosi semakin memuncak saat mesin kapal mendadak mati saat penarikan pancing, Minggu, 5 Agustus. Sang Kapten melakukan pengecekkan. Namun mesin tak juga mau menyala. Dengan begini mesin harus dibongkar dan butuh waktu dua hari untuk melakukan itu. Nasib!

[Senin, 4 September 2006]

Hari ke-85, perairan wilayah timur Indonesia. Kondisi mesin kapal bertambah parah. Kerusakan itu membutuhkan pembongkaran menyeluruh dan penggatian packing mesi. Barangkali inilah penyebab mengapa air meresap ke dalam mesin hingga bercampur dengan oli mesin. Perbaikkan memerlukan waktu dua hari. Sang Kapten dibantu oleh kepala kelompok kapal rawai tuna yang telah memiliki pengalaman memburu tuna selama berpuluh tahun di dunia perikanan.

Saya kembali menengok catatan harian saya. Hingga kini saya telah menyelamatkan sepuluh ekor penyu yang tersangkut pancing.

Pada 11 Agustus, kami sempat memasuki kawasan perairan Kepulauan Maluku. Kami merapat di pelabuhan tersebut selama satu hari untuk mengisi perbekalan dan persediaan air tawar yang telah menipis. Saya mengikuti langkah Sang Kapten menuju kantor Syahbandar. Usai diteliti petugas Syahbandar, ternyata ada surat izin operasi penangkapan ikan yang telah habis masa berlakunya. Sang Kapten meminta perpanjangan.

Kami hanya dapat terbelalak tatkala oknum petugas tu menyodorkan angka Rp. 1.500.000 untuk keperluan pengurusan surat itu. Gila! Jelas tak masuk akal. Biasanya hanya menghabiskan biaya administrasi sebesar Rp. 80.000. Negosiasi kami lakukan. Hasilnya, kami memberikan uang sebesar Rp. 147.500 dan memberikan cumi-cumi serta hasil tangkapan yang bila dijumlahkan nilainya mencapai satu juta rupiah. Kami pun meminta izin tinggal selama satu hari. Kami baru saja menghadapi sebuah praktik pemerasan.

Senin, 14 Agustus, kami merapat di pelabuhan Tulehu, Ambon. Ini merupakan perintah dari perusahaan karena kapal akan mendapatkan tambahan suplai bahan bakar, bahan makanan dan es curah. Alasannya, waktu operasi akan ditambah satu setengah bulan. Alamak!

Kami sandar di Ambon selama empat hari. Tepat dihari ulang tahun kemerdekaan Negara ini, kami bertolak menuju lokasi penangkapan ikan. Esoknya, ketua kelompok memerintahkan Sang Kapten agar mengarahkan kapal Laut ke Laut Aru atau sekitar perairan Papua. Terdapat kabar bahwa wilayah itu sedang berada musim ikan madidihang. Yan menjafi masalah adalah wilayah ini sudah melebihi batas izin operasi penangkapam ikan yang dimiliki kapal kami.dan akan bertambah runyam bila berjumpa patroli Angkatam Laut. Uasi diskusi, Sang Kapten memutuskan pergi kea rah timur. Namun perjalanan semakin berat lantaran harus melawan arus sedangkan kecepatan kapal hanya dua sampai tiga knot saja.

Selama delapan hari, 26 Agustus – 3 September, Sang Kapten disibuki dengan perbaikan mesin kapal. Masalahnya, ya itu tadi, air yang bercampur dengan oli mesin. Kapten nyaris putus asa dan telah meminta pimpinan perusahaannya kapal diizinkan kembali ke Pelabuhan Benoa. Namun, izin tak didapatnya. Sang Bos meminta kapten berjuang hingga titik penghabisan. Dan, hari ini mesin kapal kembali dibongkar.

[Rabu, 13 September 2006]

Hari ke-49. Perjuangan memburu tuna telah berada di puncaknya. Sang kapten memutuskan mengarahkan haluan kembali ke Benoa. Setelah memakan waktu sebelas hari untuk perbaikan, mesin tak mau berkompromi. Dapur pacu ini kembali menimbulkan masalah. Sang Kapten menyerah. Ketua kelompok meminta izin pimpinan perusahaan agar kapal ini diperbolehkan pulang, karena perbaikan terakhir pun tak menolong apa-apa. Apalagi di daerah tersebut ikan tuna seperti menghilang entah ke mana, izin wilayah penangkapanpun terbatas. Sang Kapten berhasil mendapatkan tiket kembali ke rumah.

Saya hanya termangu mendengarkan keputusan itu. Betul-betul menyesakkan! Dengan kecepatan yang hanya mencapai 2 knot, Pelabuhan Benoa akan dicapai dalam tujuh hari ke depan. Biasanya perjalanan pulang hanya membutuhkan waktu lima hari saja. Tangkapan tak didapat, mesin kapal rusak pula.

4 thoughts on “Memburu Tuna di Timur Nusantara

  1. bagus artikelnya … sayang tidak ada gambar …. biar memperjelas ceritanya…satu pertanyaan ,, pekerjaannya apa ? kok hanya ikut nelayan dan membebaskan hewan seperti penyu .?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s