Irwan Sugandy, Arsitek yang Hobi Cupang


Irwan Sugandy tertarik pada ikan cupang sejak ia duduk di sekolah dasar. Ketika itu cupang yang dikenalnya adalah ikan aduan. Begitu juga dengan ikan hias lain. Namun hobi memelihara dan mempelajari seluk-beluk ikan hias sempat dilupakan ketika dia mulai sibuk mengurusi bisnisnya.
Hingga tahun 1977 ketika badai krisis menerpa ekonomi Indonesia, usaha Irwan limbung juga. Di sela-sela waktunya untuk membangun kembali bisnisnya, pada 1988 nalurinya sebagai orang pencinta ikan tergelitik saat menyaksikan sosok cupang yang amat berbeda dibanding cupang yang dikenalnya dulu.
Sejak itulah bapak tiga anak itu mulai getol berburu cupang hias, hingga ke manca negara.
Menurutnya, sifat cupang yang doyan kawin dimanfaatkan betul untuk mencetak berbagai strain baru yang cantik. Makanya tidak heran bila pria yang mempersunting putri Canada itu cukup beken sebagai penghasil cupang hias putih dan halfmoon di kalangan hobiis di Jakarta.
Rumahnya di kompleks Taman Ratu Indah, di Duri Kepa (Jakarta Barat), kini dijadikan sebagai tempat pembiakan cupang hias. Irwan bangga dengan ikannya yang cantik dan keluarga yang selalu memberi dukungan. Dari perkawinannya dengan Gene Lightle, dia dikaruniai tiga putri indo yang manis-manis.
Pria kelahiran Jakarta 1961 ini juga dikenal supel dan humoris. Angka 1961 dianggapnya sebagai angka keberuntungan. Sampai-sampai angka tersebut dipakainya untuk usaha budidaya cupang hiasnya yang diberi label ”Betta 1961.”

Ternyata usahanya tidak sia-sia, hanya dalam sekejap namanya melambung di dunia percupangan. Namun untuk menopang perekonomian keluarga, Irwan memakai keahliannya sebagai desain interior dan arsitek dalam melayani kliennya yang membutuhkan jasanya.
Pendidikan dasar hingga menengah diselesaikan di Jakarta. Sementara pendidikan tinggi banyak di jalani di negeri Paman Sam. Antara lain di Brook College (California), Woodbury University ( Los Angeles) untuk interior desain dan akhirnya ke SCI-ARC University (Santa Monica) untuk arsitektur. Karena itu tidak mengherankan jika sampai kini rumahnya masih suka diutak-atik demi tercapainya nuansa baru yang diinginkannya.

Menjanjikan
Menurutnya, budidaya ikan cupang menjanjikan keuntungan yang lumayan jika diolah dengan sungguh-sungguh. Permintaan pasar masih cukup tinggi, baik di dalam maupun luar negeri.
Sejak umur 1,5 sampai 2 bulan ikan sudah bisa dilepas ke pasar. Ada dua cara menjualnya yakni borongan atau satuan. Bila borongan atau dikenal dengan penjualan satu lubuk, harganya bervariasi antara Rp200 ribu sampai Rp1,5 juta, tergantung dari tipe serit dan warnanya. Jika satuan, harganya berkisar Rp10.000 sampai Rp150.000.
”Tetapi kalau untuk yang siap kontes, lebih mahal lagi,” tambah Irwan. Kisarannya Rp300.000 sampai Rp 1 juta/ekor. Nilainya bakal naik lagi sesuai dengan apakah tergolong langka atau tidak. Tentu saja, sambungnya lagi, harus didukung oleh kerapihan, keutuhan sirip, warna dan bentuk tubuhnya. Harga tertinggi untuk cupang hias pernah mencapai Rp14 juta.
Menurut Irwan, keberhasilan penemuan varitas baru yang unggul bisa membuka kemungkinan untuk mengekspor ikan ini ke manca negara. Tetapi dengan catatan, harus dibarengi dengan kontinuitas produksi, sehingga pasokan tidak terganggu. ”Sebab biasanya pasar ekspor permintaannya tinggi dengan frekuensi yang teratur. Mau atau tidak kita melakukan ini?” ujar Irwan. (tot)

dari : sinarharapan.co.id


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s