Waspada Formalin, Peredaran Ikan di Sumbar Diawasi


Jumat, 12 September 2008 | 15:19 WIB

PADANG, JUMAT – Balai Laboratorium Pengawasan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (BLPPMHP) Sumatera Barat mengaku terus melakukan pengawasan atas peredaran ikan di Sumatera Barat. Namun, lembaga ini tidak mengetahui kalau ikan teri yang beredar di Sumatera Barat masih diawetkan dengan formalin atau boraks.

Kepala BLPPMHP Sumatera Barat Ratna Willis, Jumat (12/9), mengatakan, pengawasan dilakukan setiap hari di semua pasar di Sumatera Barat. “Kami tidak hanya mengawasi ikan pada bulan puasa atau menjelang Lebaran, tapi setiap saat,” kata Ratna.

Dari pengawasan BLPPMHP, tidak ada ikan yang diawetkan dengan formalin atau boraks. Namun, Ratna berjanji akan mengecek ke Pasar Raya sesuai dengan informasi adanya ikan teri berpengawet formalin dan boraks dari Kota Padang yang dijual di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota.

Dia mengakui, sejauh ini pengawasan terutama dilakukan untuk ikan segar. Selain itu pengawasan juga dilakukan sesuai dengan anggaran yang tersedia.

Ikan yang diawetkan dengan formalin rupanya masih beredar di pasaran Sumatera Barat. Selain formalin, pengawetan ikan juga menggunakan bahan berbahaya seperti boraks.

Demikian hasil penelitian yang dilakukan mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta (UBH) selama beberapa tahun terakhir.

Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan UBH, Yempita Efendi, Jumat (12/9), mengatakan, penelitian terakhir yang baru saja dilakukan mahasiswa menunjukkan bahwa ikan teri yang dijual di Pasar Ibuh Kota Payakumbuh, serta Pasar Dangung-dangung dan Pasar Limbanang Kabupaten Limapuluh Kota, positif diawetkan dengan formalin. Dari pengakuan penjual, ikan tersebut diperoleh dari Kota Padang.

“Sejumlah penelitian yang pernah kami lakukan sejak tahun 2003 menunjukkan bahwa pengawetan ikan masih menggunakan formalin dan boraks. Kedua bahan ini berbahaya bagi tubuh manusia karena bisa mengendap dan akhirnya menimbulkan kanker,” tutur Yempita.

Dia menambahkan, pengawasan yang terbatas dari pemerintah menyebabkan ikan yang diawetkan dengan formalin dan boraks masih beredar di pasaran. Umumnya, pedagang yang mengambil langkah pengawetan dengan formalin dan boraks.

Agnes Rita Sulistyawaty
ART

dari : kompas.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s