Ikan Impor Terus Masuk


Laboratorium Uji Mutu Hasil Ikan Belum Lakukan Penelitian

Rabu, 25 Juni 2008 | 00:59 WIB

Medan, Kompas – Impor ikan segar yang masuk ke Sumatera Utara melalui Pelabuhan Belawan, Medan, semakin meningkat. Kantor Bea dan Cukai Belawan melaporkan, selama tahun 2006 impor ikan mencapai 2.482 ton, tahun 2007 meningkat menjadi 6.993 ton, dan hingga Mei 2008 impor ikan sudah mencapai 5.481 ton.

Kepala Seksi Pencegahan dan Penyidikan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Belawan Agustinus Joko, Selasa (24/6), mengatakan, kebanyakan ikan masuk dari Malaysia berwujud ikan segar. Sisanya, sekitar 5 persen, adalah ikan beku dari China. Impor ikan itu menghasilkan total pungutan hingga Mei 2008 sebanyak Rp 1,5 miliar. Sementara di tahun 2007 mencapai Rp 2,2 miliar dan tahun 2006 mencapai Rp 1,4 miliar.

Di sisi lain, ekspor ikan Sumatera ke Malaysia terus menurun dari tahun ke tahun. Data yang dikeluarkan Dinas Kelautan dan Perikanan Sumut menunjukkan, tahun 2004 ekspor ikan ke Malaysia mencapai 34,27 persen dari total ekspor ke negara itu. Tahun 2005 turun jadi 22,09 persen, tahun 2006 menjadi 11,68 persen, dan tahun 2007 hanya 5,46 persen.

Sebelumnya, sejumlah nelayan di Belawan menyatakan kenaikan harga BBM semakin membuat mereka tak bisa bersaing, apalagi semakin banyak ikan Malaysia yang masuk ke Belawan. Andak Ruslan (58), nelayan Warga Belawan I, Belawan, yang ditemui di Belawan mengatakan, ikan impor itu mengkhawatirkan nelayan.

Menurut Andak, semua nelayan tahu jika produksi ikan Malaysia melimpah karena kemampuan Malaysia memproduksi rumah ikan atau rumpon sehingga jarak melaut nelayan terukur sehingga tak menghabiskan BBM.

Ikan yang masuk juga sama dengan ikan yang dijaring nelayan Belawan, seperti ikan gembung dan ikan selayar. Jika nelayan Belawan menjual ikan gembung seharga sekitar Rp 10.000 per kilogram, ikan impor itu hanya dijual Rp 5.000 per kilogram. Harga ikan lokal di tingkat pedagang bisa menjadi Rp 12.000-Rp 15.000, sementara ikan impor hanya Rp 7.500 per kilogram.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kota Medan Pendi Pohan mengatakan, sebenarnya yang paling diuntungkan dari impor ikan itu adalah pedagang karena, berapa pun ikan impor yang masuk, tetap saja pedagang yang menentukan harga ikan. Ikan impor juga tidak dibongkar di pelabuhan ikan samudra karena petugas tidak memperbolehkan, tetapi dibongkar di pelabuhan kargo.

Kepala Balai Laboratorium Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sumatera Utara atau Balai LPPMHP Dwiworo Sunaringsih menyatakan, ikan impor, khususnya asal Malaysia, yang masuk ke Sumatera Utara belum pernah diuji di Laboratorium LPPMHP.

Sesuai dengan Surat Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 1975, penilaian kualitas ikan yang masuk ke Indonesia dilimpahkan dari Dirjen POM ke Dirjen Perikanan. Selain itu, dalam Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 43/Men/2002, produk ikan yang mencurigakan diuji di Balai LPPMHP. Dwiworo mengakui, selama ini koordinasi antarinstansi masih lemah. (WSI)
wsi

dari : kompas.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s