Ikan Impor agar Diawasi


Bakteri Berkembang Diduga akibat Penyimpanan Kurang Baik
Seorang pedagang menunjukkan ikan impor jenis aso-aso belu di Belawan, Senin (7/7). Belum ada keterangan resmi pemerintah tentang aspek kesehatan ikan impor yang masuk ke Belawan.

Selasa, 22 Juli 2008 | 03:00 WIB

Medan, Kompas – Ikan impor asal Malaysia yang masuk ke Pelabuhan Belawan, Kota Medan, perlu diwaspadai. Kondisi ikan itu terindikasi tidak aman. Meskipun impor ikan dibebaskan, hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari pemerintah perihal aspek kesehatan ikan impor.

Hasil pengujian mutu sampel ikan impor jenis aso-aso ukuran 16/17 Nomor 523.6/159/VII/2008 yang diajukan Kompas pada hari Selasa (8/7) ke Balai Laboratorium Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) Dinas Perikanan dan Kelautan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menunjukkan, parameter uji angka lempeng total (ALT atau TPC-total plate count) menunjukkan hasil yang tidak memenuhi standar sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang berlaku.

Artinya, sampel mengandung bakteri yang melebihi ambang batas. Satu sampel yang diambil dari ikan beku seberat 10 kilogram itu menunjukkan kandungan ALT/TPC tak terhingga, sangat tinggi dari nilai ambang batas ALT/TPC sebesar 5,0 x 10 pangkat 5.

Pada uji kandungan mikrobiologi yang lain, yaitu E coli, Coliform, Salmonella, dan Vibrio cholerae, hasil uji menunjukkan sampel dalam keadaan standar sesuai SNI yang berlaku.

Untuk hasil pengujian kimia yang meliputi parameter uji logam berat, yaitu merkuri (Hg), kadmium (Cd), plumbum (Pb), menunjukkan hasil yang memenuhi standar sebagaimana yang disyaratkan. Pada parameter uji formalin, hasil tidak memenuhi standar karena ditemukan kandungan formalin sebesar 0,4 miligram per kilogram.

Kepala Balai LPPMHP Dwiworo Sunaringsing, Senin (21/7), menduga bakteri muncul karena penyimpanan ikan yang tidak bagus atau ikan tidak dicuci lebih dahulu sebelum dikemas. Kemungkinan juga es beku tidak diganti sehingga jumlah bakteri dalam ikan membeludak.

Ditanya kemungkinan kesalahan pengambilan sampel, Dwiworo mengatakan, tidak ada kesalahan karena ikan yang diambil ikan beku.

Meskipun bakteri pada ikan bisa mati saat ikan dimasak, Dwiworo tidak merekomendasikan ikan untuk dikonsumsi, terutama karena kandungan formalin di dalamnya.

Ikan yang diuji laboratorium didapat Kompas dari pedagang ikan di Pelabuhan Belawan pada Senin (7/7) lalu. Satu kotak ikan beku jenis aso-aso dijual Rp 85.000 berisi 10 kilogram ikan.

Dalam kemasan kotak ikan tersebut tidak ada teks berbahasa Indonesia, tetapi yang ada huruf China. (WSI)
wsi

dari : kompas.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s