Tingkat Kematian Kerapu Tinggi, Produksi Ekspor Turun


Senin, 14 April 2008 | 18:35 WIB

BANDAR LAMPUNG, SENIN-Dinas Kelautan dan Perikanan Lampung memastikan, serangan virus akibat lemahnya kekebalan tubuh ikan kerapu menyebabkan produksi ikan kerapu untuk ekspor terus menurun. Hal itu didukung pula dengan pencemaran perairan Teluk Lampung oleh limbah tambak udang sehingga kualitas perairan tempat budidaya kerapu makin buruk.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Lampung Untung Sugiyatno, Senin (14/4) mengatakan, sebagai produk ekspor unggulan ikan kerapu merupakan jenis ikan yang sangat rapuh. Ikan kerapu memiliki tingkat kematian tinggi, sekitar 4050 persen.

“Tubuh ikan kerapu sangat rentan. Sehingga ketika daya tahan tubuh melemah, ikan kerapu mudah terserang virus Viral Nervous Necrosis (VNN) yang mematikan ikan kerapu. Ikan kerapu yang sudah terserang virus itu akan menularkan virus dengan cepat,” kata Untung.

Di Lampung, sentra budidaya kerapu dalam keramba jaring apung banyak ditemui di wilayah perairan Teluk Lampung. Yaitu t erutama di sekitar pulau Legundi, pantai Ringgung, Tanjung Putus, dan Ketapang di Kabupaten Pesawaran.

Sebelum 2007, perairan di wilayah tersebut sangat jernih dengan arus yang tidak terlalu deras. Sehingga cocok untuk membudidayakan kerapu dalam keramba jaring apung. Namun sejak 2007 awal wilayah pesisir daerah Padang Cermin dan Punduh Pidada Kabupaten Pesawaran dibuka secara besar-besaran untuk tambak udang intensif.

DKP Lampung menengarai, limbah tambak udang yang dibuang ke perairan telah mencemari perairan tempat budidaya kerapu dilakukan. Akibatnya, persebaran penyakit kerapu lebih banyak terjadi di wilayah tersebut.

Lebih lanjut Untung mengatakan, untuk menekan pencemaran perairan dari limbah tambak udang sangat sulit. Itu karena Undang Undang No.27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil belum diterjemahkan dalam bentuk peraturan pemerintah. “Dengan demikian kami masih sulit menindak aparat yang membolehkan pembukaan besar-besaran lahan bakau untuk tambak udang dan pengusaha udang yang mencemari perairan,” katanya.

Pencemaran itu sudah menyebabkan penurunan produksi kerapu ekspor pada 2007. Padahal permintaan pasar kerapu dari Hong Kong, Taiwan, Jepang, dan Korea sangat tinggi. Catatan DKP Lampung menyebutkan, pada 2006 produksi kerapu asal Lampung sebanyak 304,4 ton yang terbagi atas kerapu bebak 82,7 ton dan kerapu macan 221,7 ton. Nilai ekspor kerapu 2006 sebesar Rp 42,684 miliar.

Akibat tingginya kematian karena pencemaran air dan serangan penyakit, produksi kerapu pada 2007 menurun. Produksi kerapu bebek tercatat sebanyak 28,9 ton dan kerapu macan sebanyak 55,4 ton. Penurunan produksi berkorelasi pada penurunan nilai ekspor yang turun menjadi Rp 15,339 miliar. (HLN)

dari : kompas.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s