Lumba-lumba Sang Penyembuh


Bioakustik

YUNI IKAWATI

Sekoci yang memuat sejumlah penumpang dari kapal naas Senopati Nusantara akhirnya didorong ke Pulau Kangean setelah terombang-ambing selama tiga hari. Penolong mereka sekawanan lumba-lumba. Mamalia laut ini tak hanya dikenal sebagai ”dewa penyelamat” dan mahir beratraksi, tetapi juga membantu menyembuhkan penyakit.

Serangkaian penelitian di sejumlah negara menunjukkan, lumba-lumba hidung botol (Tursiops truncactus) ini memiliki beberapa kebisaan lain, di antaranya mampu membantu terapi medik untuk sejumlah penyakit, terutama gangguan fungsi saraf motorik, autisme, dan cacat mental lainnya.

Terapi stimulasi saraf pada anak cacat mental dan fisik antara lain dilakukan sekitar dua dasawarsa lalu di Australia, Amerika Serikat, Meksiko, Israel, dan Ukraina. Di Gold Coast Queensland, Australia, anak cacat mental dan fisik dapat membaik setelah 18 bulan bermain di kolam dengan tujuh lumba-lumba.

Percobaan serupa di Florida, AS, menunjukkan anak tunawicara bisa bereaksi lebih baik dan mulai belajar membaca. Terapi itu merangsang otak mereka dengan suara lumba-lumba yang berfrekuensi tinggi sehingga anak-anak cacat dapat meningkat kemampuan koordinasi dan gerakannya setelah menjalani terapi tersebut.

Pasca-Perang Dingin, Ukraina juga mulai mengembangkan pusat unggulan terapi lumba-lumba. Pusat kesehatan itu berada di Teluk Kazachya, Sevastopol. Lumba-lumba yang semula dilatih untuk keperluan militer, antara lain sebagai penjejak ranjau, pada tahun 2002 dimanfaatkan untuk membantu penyembuhan gangguan kesehatan pada anak-anak, termasuk gangguan fungsi motorik atau cerebral palsy.

Penelitian di Bali

Di Indonesia penelitian terapi lumba-lumba mulai dirintis tahun 2007 oleh Agus Cahyadi, peneliti bioakustik dari Pusat Riset Teknologi Kelautan Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan. Bioakustik adalah cabang ilmu akustik atau suara yang mempelajari gelombang suara dan perambatannya yang bersumber dari makhluk hidup dalam suatu medium.

Agus yang menamatkan S1 bidang akustik dari Jurusan Teknik Kelautan Institut Pertanian Bogor melakukan penelitian pada Tursiops aduncus dan Tursiops truncactus di Dolphin Therapy Melka, Pantai Lovina Bali, sejak Mei 2007. Agus meneliti gelombang suara hayati yang dikeluarkan dolfin saat pasien menjalani terapi di pusat terapi yang didirikan Karl Guenter Meyer itu.

Tahap awal penelitian dilakukan pada 13 anak penyandang autis dalam berbagai tingkat gangguan. Autis, menurut pakar autis Melly Budhiman, merupakan gangguan neurobiologis yang diakibatkan oleh pengaruh biokimia, lingkungan buruk, dan psikologis. Gangguan perilaku dapat terjadi karena kurangnya interaksi sosial, penghindaran kontak mata, dan kesulitan dalam berbahasa. Semua gangguan tersebut memengaruhi fungsi otak. ”Dengan memperbaiki gangguan itu, maka fungsi otak pun akan membaik,” jelas Melly.

Ada beberapa tahap yang perlu dilalui pasien sebelum menjalani terapi lumba-lumba. Tahap pertama adalah proses adaptasi dengan mamalia laut ini. Berada dalam kolam, pasien yang dilengkapi jaket pelampung akan dikelilingi dan disentuhnya.

Pada tahap berikutnya selama mengelilingi pasien, lumba-lumba akan mengeluarkan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk mendeteksi bagian-bagian yang mengalami gangguan, yaitu yang memiliki tingkat kekentalan atau masa jenis yang berbeda dengan bagian yang normal. Artinya, memantulkan frekuensi berbeda. Di bagian itu dolfin akan mengeluarkan suara tertentu dan kadang kala mematuk dengan moncongnya sebagai bagian dari terapi.

Selama proses terapi itu suara-suara yang dikeluarkan lumba-lumba lewat lubang hidungnya direkam melalui hidrofon. Dalam analisis bioakustik diperoleh spektrum akustik gelombang optimal bagi obyek yang ditanganinya.

Mamalia yang masuk ordo Cetacea ini mengeluarkan daya akustik hingga 1 kilowatt. Ia juga dapat memancarkan gelombang radio 7 kilo hertz hingga 120 kHz, dan sebaliknya menerima 150 Hz hingga 150 kHz. Ada tiga jenis suara yang dikeluarkan, yaitu siulan, klik, dan lengkingan.

Pada terapi dolfin untuk autis, kata Agus, ditetapkan 8 faktor respons yang menjadi fokus pengamatan, yaitu komunikasi, emosional, fokus/perhatian, percaya diri, kelincahan, koordinasi, kontak mata, dan ketenangan. Faktor respons ini mengacu pada Autism Research Institute. Selain itu, juga diteliti tingkah laku, karakteristik suara, dan sistem bioakustik dolfin, serta fisioterapi. ”Setelah menjalani 10 kali terapi hasilnya menunjukkan terdapat perubahan signifikan pada diri anak autis setelah diberi stimulasi spektrum akustik untuk faktor percaya diri, kontak mata, dan emosional,” urai Agus.

Selama ini terapi lumba-lumba belum masuk dalam daftar terapi yang dianjurkan karena belum ada penelitian yang terukur mengenai kegunaan terapi ini. Namun, lewat serangkaian penelitian akan dapat ditetapkan standar diagnosa dan penanganannya.

Berdasarkan Peta Jalan Riset Dolfin untuk Aplikasi Teknologi Instrumentasi bagi Kedokteran Marin, Agus antara lain akan melakukan analisis spektrum dan integrasi instrumen. Selain untuk pasien autis, terapi lumba-lumba ini penelitian awalnya menunjukkan hasil yang baik untuk terapi penderita kelumpuhan karena stroke serta kanker.

dari : kompas.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s