Mencermati Kehidupan Pekerja Kolam



 

Suara srek…, srek…, dari sapu lidi yang diayun lelaki setengah baya bergema di sepanjang kolam pemancingan Telaga Mina Taman Mini pagi itu. Meski suaranya nyaring namun ternyata enggak mengusik nyanyian burung-burung gereja yang ‘berpesta’ memakan bekas umpan yang berceceran di pinggir kolam. Burung itu baru pergi ketika umpan-umpan tersapu oleh lelaki itu.

 Ayunan sapu terhenti ketika Mancing Mania (MM) menyapa pria itu. “Mas Kirno ada,” kata MM mengagetkan pria itu. “Di sebelah sana pak lagi nyapu,” katanya sambil menunjuk Sukirno karyawan Telaga Mina. Tak lama kemudian MM segera menghampiri Sukirno yang tanpa busana sedang asik menyapu ruangan panitia. Kedatangan MM pagi itu mengagetkan dirinya, “Tumben pagi-pagi ada apa nich,” sapa Sukirno ramah. Sambil mengayunkan sapunya Sukirno terus bercerita bagaimana pekerjaan yang dijalaninya sebagai karyawan di Telaga Mina selama ini.
sukirnoDalam menjalani pekerjaan dalam satu kolam ternyata Sukirno tidak sendirian. Ia dan kawan-kawannya mulai pagi sudah bekerja menyapu dan mensterilkan kolam. Memang pagi itu banyak sampah plastik dan dedaunan di sana sini berceceran. Maklum pada hari Minggu kolam galatama Telaga Mina menjadi ajang perlombaan, jadi malam itu banyak sampah yang enggak sempat dipunguti. Baru keesokan harinya yang jatuh hari Senin, Sukirno dan kawan-kawan menyapu dengan cermat di seluruh sudut kolam.Pagi itu memang hari Senin, namun Sukirno tidak harus serta merta bangun pagi lantas ikut ke jalan raya cari angkot atau naik kendaraan berdesak-desakan. Sukirno  enggak pernah merasakan apa namanya pergi kerja terjebak macet, maklum tempat kerjanya di Telaga Mina dekat dengan rumahnya.

“Ya itulah keuntungan kerja di kolam enggak ikut terjebak macet kayak karyawan kantoran,” tandasnya tersenyum. Sambil berbincang dengan Sukirno pandangan MM pun tertuju dengan salah satu karyawan yang sedang berenang diantara blower. “Itu tugas Pak Parno lagi membersihkan pancuran blower. Ia juga memeriksa apakah ada kail yang menyangkut di blower apa enggak,” tutur Sukirno. Setelah semua sudut di sapu bersih dan disterilkan, Sukirno, Parno dan kawan-kawan beristirahat sejenak sambil menikmati secangkir teh manis sebelum dirinya mandi menunggu persiapan lainnya.Menjelang siang Sukirno dan kawan-kawanya kembali memutari kolam untuk memastikan semua tertata rapi. Ia mulai mengecek keperluan untuk perlombaan mancing. Sambil mengelilingi kolam ia juga memeriksa blower apakah jalan atau tidak sambil memeriksa kondisi ikan-ikan di kolam apakah sehat atau tidak. “Ikan adalah aset yang harus dijaga, maka prioritas utama menjadi pegawai kolam adalah menjaga keberadaan ikan jangan sampai mati,” tuturnya.Sukirno sadar betul ikan di kolam aset yang harus dijaga, maka selain menjaga kelancaran sirkulasi air, ia juga menjadi pengawas bila ada orang-orang berniat jahat dengan meracun ikan atau mencuri ikan dari kolamnya. Setelah yakin semua sudah terkontrol dan tertata rapi, kegiatan Sukirno selanjutnya menunggu mania datang ke kolam. Saat itu ia lantas duduk di kursi panitia menyambut para mania yang ikutan mancing. Saat pendaftaran itu Sukirno tidak bisa pergi kemana-mana dan ia harus stand by di meja panitia. Tidak semua pendaftaran dilakukan langsung oleh mania sendiri. Terkadang ada diwakili kedi dan lewat telepon atau handphone. “Kalo pas begitu kerjanya layak pegawai kantoran yang terima telepon dari bos-bos mancing yang mengkapling lapak,” tuturnya lagi.Menjelang perlombaan banyak mania berdatangan ke panitia yang ditunggui olehnya. “Untuk menjaga netralitas antara pemancing, saya selalu menjaga jarak dengan pemancing, artinya tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh,” katanya. Tindakan itu baginya menjaga jarak dengan pemancing untuk menghindari tuduhan kolusi atau pilih kasih dari pemancing.   “Prinsipnya dalam pengundian lapak kita harus terbuka fairplay dan tidak ada istilah lapak pesanan, meski yang mancing itu orang penting atau orang kaya, soal lapak ya harus sesuai undian. Memegang prinsip ini bukanlah mudah, karena ternyata banyak pemancing yang menginginkan lapak tertentu, namun saya tidak tanggapi” lanjutnya lagi. Setelah undian lapak dilakukan, Sukirno mengumumkan semua peserta sesuai lapak diundi. Ia tidak hanya mengumumkan undian lapak saja namun juga mengumumkan peserta yang ikut dalam perlombaan C yang tidak diikuti semua peserta.Seiring dengan berjalannya lomba, Sukirno harus stand by di meja pengamat dengan bermodalkan buku catatan peserta lomba. Ia harus siap siaga karena semua laporan hasil ikan dipancing setiap saat dilaporkan kawannya yang berprofesi sebagai tukang timbang ikan. Setelah ikan ditimbang Sukirno mengumumkan kepada peserta bahwa telah terima ikan dari lapak sekian dengan menyebutkan nama mania.Dalam bekerja Sukirno tidak sendirian namun dibantu orang lain yang masing-masing memiliki tugas. Ada yang bertugas menimbang ikan, ada yang bertugas keliling menagih uang siapa-siapa yang belum membayar lapak di depan. Saat ronde mancing selesai, Sukirno pun segera mengumumkan siapa-siapa pemenangnya. Dalam pemberian hadiah kepada pemancing, ada kawannya yang melayani namun ia harus lapor kepada Sukirno. Saat malam menjelang dan lomba selesai, pekerjaan Sukirno yang terakhir adalah menerima laporan dari bagian tukang tagih atau keuangan. Setelah pembukuan beres, ia lantas menyetor hasil untuk hari itu kepada bosnya yang juga pemilik kolam. Baru kira-kira pukul 9 malam Sukirno dan kawan-kawan bisa bernafas lega lantaran pekerjaan seharian sudah selesai dijalani. “Sebenarnya masih ada satu tugas lagi yaitu jaga kolam dan tidur di pemancingan, namun hal ini dilakukan secara bergilir dengan rekan-rekannya selama 5 hari sekali,” cerita Sukirno mengakhiri.*mrk 


 

Kotak Tip

Bentuk Terimakasih Mania Mancing

                                                                                                                              yosephJika kita perhatikan beberapa kolam pemancingan galatama di Jakarta, kita pasti akan menemukan kotak tempat memasukan uang. Bentuknya sama seperti kotak amal jariah yang sering kita lihat di jalan-jalan, namun di kolam pemancingan namanya kotak tip.Kotak yang terbuat dari papan triplek itu memang disediakan panitia pemancingan untuk menampung uang tip atau pemberian dari para pemancing, maksudnya adalah biar uang tersebut dapat dinikmati oleh seluruh panitia / karyawan pemancingan.“Kalau uang tip diterima panitia meja, mungkin saya bisa kaya sendirian. Tapi namanya kita kerja bareng, capek bareng, kita harus adil. Yang lain juga harus menikmati uang tersebut,” ujar Udin, panitia kolam Telaga Cibubur saat menjelaskan keberadaan kotak tip yang ada di sebelah mejanya.Isi kotak tersebut setiap bulan dibuka dan dibagi rata untuk seluruh karyawan. Jumlahnya sendiri tidak tetap, namun dari beberapa pengakuan panitia lomba, besarnya uang tip pada setiap bulannya berkisar antara Rp 3 juta dan Rp 5 juta. Namun tak jarang jumlah tersebut bisa lebih. Di Cibubur sendiri uang tip yang ada di dalam kotak pernah mencapai Rp 13 juta. Suatu jumlah yang lebih dari lumayan tentunya.Uang tip ini secara langsung menunjukan apreasiasi para pemancing atas kerja panitia. Mereka tahu sepenuhnya bahwa hobi mancing ini akan terasa nyaman dan menyenangkan jika dikelola secara baik. Untuk itu biasanya, seorang mania mancing galatama akan memberikan sejumlah uang untuk tip panitia saat dirinya keluar sebagai juara. den

 


 

Ramli

30 Tahun Mengabdi 

 ramliKepercayaan Yoseph (pemilik Fishing Valley, Bogor) tak luntur kepada Ramli. Selama 30 tahun Ramli tetap mengabdi dan loyal kepada pimpinannya. Sebab itulah Yoseph memberi kepercayaan untuknya mengurus galatama terbesar di Kota Bogor. Diperbantukan 6 rekannya, Ramli bekerja sungguh-sungguh. Pekerjaan yang dilakoninya dimulai sejak jam delapan pagi. Diawali bersih-bersih kolam, periksa korang, blower, periksa ikan, air kolam dan lain-lain untuk persiapan lomba di siang hari. Pekerjaan ini dilakukan selama 2 jam hingga pukul sepuluh siang. Setelah itu ia bisa istirahat, menunggu lomba yang dimulai jam 3 hingga 9 malam. Selama bekerja di Fishing Valley, Ramli merasa puas akan perilaku bosnya, yang tak pernah henti-henti memikirkan nasib Ramli dan rekan sekerja. “Makanya saya dan rekan-rekan ngga punya niatan keluar dari sini, sebab ya itu tadi kesejahteraan kami terus diperhatikan,“ ujarnya mantap.Di dalam melakukan pekerjaan pasti ada suka dan duka, justru bagi Ramli lebih banyak suka, karena ia masih bisa bekerja sambil bercanda, “Coba bandingkan dengan pegawai kantoran yang terlihat serius,” tukasnya.*rambe  


 

Tulang Punggung Kesuksesan Kolamramli Antara pekerja kolam dan mania secara tidak langsung ada keterkaitan, keterkaitannya adalah jika si pekerja kolam mengurusnya secara apik dan bersih tentunya si mania pun akan bertandang lagi. “Tulang punggung kesuksesan kolam itu ada di tangan si pekerja kolam itu sendiri,” tandas Brewok (50) Pernyataan itu keluar dari mulut Brewok yang dipercaya mengurus pemancingan galatama Lagena, Bogor. “Coba bayangkan jika pekerja kolam orangnya tidak bisa mengurus, saya yakin si mania pun enggan datang. Yang terjadi kekotoran terjadi dimana-mana, ikan yang mati, seputar kolam kotor dengan sampah, korang yang bolong, air keruh, bangku lapak banyak jebol, blower mati dan lain sebagainya,” tandasnya. Jadi tak salah lagi, seharusnya pekerja kolam harus diutamakan nasibnya baik itu dari segi penghasilan dan kesejahteraan. “Saya yakin bila penghasilannya besar, si pekerja itupun loyal akan pekerjaannya, apa sebab karena si mania datang terus yang berarti lapak penuh, tentunya setiap bulannya pemilik kolam bisa mendapat keuntungan besar dan gaji kami pun bisa terima tepat waktu,” ujarnya polos.*rambe 

 

Last Updated ( Wednesday, 05 December 2007 )

dari : mancingmania.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s