Fokus-Over Fishing


 

Penangkapan ikan secara besar-besaran atau lebih dikenal dengan nama over fishing terus saja terjadi beberapa tahun belakangan ini. Tak ada yang melarang dan memang tangkapan melimpahtak ada larangan atau Undang-undangnya, siapa pun Anda baik itu pemancing atau bukan pemancing (nelayan-red) dengan bebas bisa menangkap sesuka hati. Tapi apalah artinya jika over fishing ini terus dilakukan. Edisi fokus kali ini Mancing Mania (MM) akan menurunkan tentang over fishing.

    “Secara harfiah over fishing adalah penangkapan ikan secara besar-besaran baik ikan besar maupun kecil, sehingga ikan-ikan tersebut tidak sempat berkembang biak dan akhirnya menjadi langka. Begitu pula dengan kondisi perairan dunia yang kian hari kian mengkhawatirkan. Banyak penelitian dilakukan untuk mengetahui secara pasti apa yang terus terjadi di lautan. Hasilnya? Sungguh mencengangkan.Selama beberapa tahun terakhir, jumlah ikan yang ada di dasar lautan dunia, terlebih di Indonesia terus mengalami menyusut. Hal ini diakibatkan oleh banyak faktor, seperti pencemaran limbah yang tidak terkontrol, pemanasan global yang menaikkan suhu di dasar air, hingga penangkapan ikan secara besar-besaran tanpa memerhatikan jenis dan ukuran ikan yang ditangkap. Jika kondisinya seperti demikian, apalagi yang bisa kita –sebagai seorang mania mancing- harapkan?Ada satu cerita menarik yang dimuat salah satu media Ibu Kota beberapa waktu lalu, mengenai berkurangnya jumlah tangkapan ikan di Perairan Indonesia.

Salah satu wartawan media tersebut mengikuti proses penangkapan ikan tuna di atas kapal rawai tuna, mengarungi perairan wilayah timur Indonesia selama lebih dari seratus hari. Dan hasilnya? Ternyata nihil.Ikan tuna yang menjadi tujuan dan harapan mereka entah dimana keberadaannya. Padahal sepuluh tahun silam, di lokasi yang sama cukup mudah menemukan dan menangkap ikan tuna.Itu adalah satu gambaran nyata betapa kondisi Perairan Indonesia saat ini sangat memprihatinkan dan mengenaskan. Apalagi lokasi perairan wilayah timur Indonesia selama ini dikenal sebagai fishing ground-nya berbagai jenis ikan, terutamHiu hasil tangkapan nelayana jenis predator. Jika wilayah timur saja kondisinya sudah seperti demikian parah,  bagaimana dengan perairan di wilayah tengah dan barat yang nota bene merupakan wilayah perairan yang telah lama dieksploitasi oleh para nelayan?Kasus ini tidak hanya keprihatinan bangsa Indonesia saja sebenarnya. Dari ujung utara Laut Greenland hingga Lingkaran Antartika, manusia sedang menguras ikan dari lautnya. Bahkan sejak tahun 1900, banyak spesies berpotensi berkurang jumlahnya hingga 90 persen, dan keadaan ini menjadi semakin memperparah keadaan. Jaring-jaring merusak terumbu karang. Negara-negara menyalahi hukum dan kapal-kapal raksasa penangkap ikan yang menyedot habis udang.(baca boks : melarang kapal penghela jala)Kondisi ini memang tidak terjadi begitu saja. Teknik penangkapan berlebihan yang dilakukan para nelayan, diperparah dengan tangkapan sampingnya yang begitu tinggi dan memiliki andil yang tidak sedikit dalam menciptakan kondisi tersebut. Di samping itu, kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan sangat kurang. Kita seperti tidak peduli akan pencemaran lingkungan yang terus terjadi setiap saat. Tumpukan sampah dan limbah industri membuat laut tak lagi bisa ditinggali makhluk hidup. Berbagai bom dan jaring merusak terumbu karang yang ada di dasar lautan lepas.  Catch & Release bagi mania Meski prosentasenya tidak terlalu banyak, namun kehadiran mania mancing yang mengangkat ikan dari jenis dan ukuran apapun, sedikit banyak punya andil tersendiri. Bayangkan saja jika dalam satu minggu ada dua ratus pemancing dengan tangkapan rata-rata 10 ekor, maka dalam seminggu saja sudah ada 2000 ekor yang tidak lagi menghuni lautan. Itu artinya dalam sebulan sebanyak 8000 ekor hilang dari lautan.Cobalah kembali Anda buka tabloid MM edisi 66 di Rubrik Pojok Pemula, dan Rubrik Mania Bicara, kedua-duanya tampak tertulis tentang over fishing yang intinya peringatan untuk para mania laut. Di Rubrik Pojok Pemula bahkan diramalkan potensi ikan-ikan di laut pada 2048 bakal ludes terkena dampak over fishing. Lalu di Rubrik Mania Bicara tertera tulisan seorang pembaca memprotes habis-habisan saat MM menampilkan berbagai pose gaya pemancing laut dengan hasil tangkapan kelewat batas. Dari foto itu dengan bangganya si mania mengabadikan untuk ditunjukkan ke kawan-kawan sesama profesi. Dari kedua tulisan tersebut terkuak, bahwa over fishing tak hanya dilakukan para nelayan dan agen-agen pengimpor ikan bernilai jual tinggi yang kini banyak tumbuh, tapi juga para pemancing. Bayangkan jika peristiwa ini terus berlangsung selama beberapa tahun ke depan. Berapa ikan yang punah? Belum lagi aktifitas nelayan yang setiap harinya mengangkat lebih banyak lagi ikan.  Inilah mungkin saat yang tepat bagi kita sebagai mania mancing, turut peduli terhadap kondisi perairan kita untuk tetap menjaga keberadaan ikan di lautan lepas agar aktifitas memancing tetap bisa dilakukan untuk jangka waktu yang lama ke depannya. Dan cara yang paling sederhana dan mudah kita lakukan adalah dengan melakukan catch & release –menangkap dan melepas- terhadap ikan yang telah berhasil dipancing. Kegiatan ini sebenarnya telah dilakukan oleh beberapa mania mancing tanah air sebelumnya. Wiwied dan Aan misalnya. Kedua mania mancing ini cukup concern dalam memasyarakatkan catch & release. Beberapa waktu silam keduanya mengorganisir para mania mancing melakukan trip mancing ke Krakatau dan semua hasilnya di C&R. Apa yang dilakukan kedua mania tersebut patut ditiru. Begitu pula MM saat ikut trip mancing di Kepulauan Seribu. Saat kapal lepas jangkar dari Pelabuhan Muara Angke, sang nakhoda mengatakan untuk mencari ikan-ikan besar harus menuju Pulau Bangka. Di Kepulauan Seribu jangan harap, pasalnya antar pemancing dan nelayan saling berebut ikan sejak dulu. “Siapa yang cepat dia yang dapat” itulah kira-kira pengartian sang nakhoda kepada kami. Benar saja, tiga jam berlalu, ikan-ikan target besar yang diburu, tak satu pun nyangkut di kail, hanya ikan-ikan kecil tergaet. Karena mania yang ikut MM peduli C&R jadi hanya secukupnya saja ia bawa, itupun ukuran layak dikonsumsi. Ikan-ikan kecil yang masih butuh kembang biak ia lepas kembali. “Buat apa membawa ikan secara “membabi buta” dengan jumlah puluhan ekor, satu atau dua ikan saja cukup untuk mengisi perut bersama keluarga dan teman-teman seprofesi,” ujarnya perduli. Hal yang sama ketika MM mengekspos IFT FT 2 lalu, dari perolehan ikan yang didapat semua peserta terlihat tidak banyak terangkut, hal ini memang seperti mulai ada kesadaran dari para peserta, bahkan tim yang keluar sebagai juara pertama tak sayang melakukan C&R untuk mengangkat si jeng marlin.

“Itulah gambaran, bagaimana kiranya krisis perikanan dunia dengan pengambilan yang cukup besar terjadi di bumi ini umumnya dan Indonesia khususnya. Sebelum kehancuran ikan ini habis, ada sepenggal tulisan di sebuah media cetak yang mengatakan hampir 1/3  stok ikan dunia dieksploitasi secara berlebihan, dan Atlantik adalah menjadi korban terparah di dunia. Dan siapakah berikutnya.*mrk/rambe/den/btn   Awal Februari 2007 lalu, Mancing Mania (MM) melakukan trip ke Sulawesi Tenggara, dan menyaksikan bagaimana rusaknya terumbu karang akibat di bom oleh nelayan saat kami sedang menelusuri Pulau Buton sambil menikmati panorama Perairan Sulawesi Tenggara sembari jigging di sekitar Pulau. Awalnya suasana alam begitu teduh dan tenang. Saat jigging kami hanya menemukan beberapa perahu nelayan kecil yang mendekati dinding batu-batu karang di sekitar Pulau Buton. Keheningan tiba-tiba berubah menjadi suasana yang mengagetkan. Sungguh tiada terkira sebelumnya apa yang akan dilakukan nelayan kecil tadi.Dari jarak yang tidak begitu jauh, tiba-tiba kami dihentakkan oleh suara blumm…. duaar… byuuur. Dentuman keras itu diikuti dengan semburan setinggi kurang lebih 5 meter. Spontan teman kami yang lagi asik jigging bertanya-tanya, “ada apa,” katanya sambil bertanya-tanya. Kami semua yang di atas kapal ingin tahu apa yang sedang terjadi. Astaga…!!! Ternyata nelayan itu sedang melakukan pengeboman terumbu karang. Empat perahu nelayan itu lantas memunguti ikan-ikan yang menggelepar di atas permukaan air.  Kami yang menyaksikan kejadian itu pun berinisiatif untuk mendekat dan mengingatkan mereka agar jangan merusak terumbu karang, sayangnya kapten kapal justru mengingkatkan agar kami jangan mendekat sebab mereka bisa berbuat nekat dan melempar bom ke kapal yang membuat kita jadi sengsara.

        Dari peristiwa itu akhirnya, kami hanya melihat peristiwa perusak terumbu karang dari kejauhan, padahal saat itu hati kami merasakan sedih melihat terumbu karang sebagai ‘ladang’ di rusak sendiri. Kami tidak habis pikir mengapa mereka sampai tega  merusak mata pencaharian mereka sendiri. Padahal Pulau Buton lokasinya memang dekat dengan Taman Nasional Terumbu Karang Wakatobi. Bagaimana jika di sekitar Pulau Buton sudah habis di bom, sudah tentu lama-kelamaaan mereka pasti akan merambah taman nasional tersebut. Peristiwa yang hampir sama juga terjadi di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Saat itu kami tidak menyaksikan pengeboman, namun ketika kami melakukan trip mancing diluar hari Sabtu dan Minggu, kami bertemu dengan nelayan longline sedang “membendung” Selat Sunda dengan pancing rawai dan jaring panjang guna menangkap ikan secara berlebihan (overfishing).Di Ujung Kulon dengan Pulau Panaitan bagaikan sebuah pintu keluar masuknya ikan. Bayangkan saja jika di tempat tersebut dibentangkan jaring panjang, ikan-ikan yang keluar masuk dengan ukuran besar atau kecil akan tertangkap. Melihat hal ini kami tidak bisa berbuat apa-apa dan kami sebagai mania mancing hanya mengambil ‘sisa-sisa’ yang lolos dari jaring mereka.Pencegatan migrasi ikan secara besar-besar dan terus menerus di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon membuat daerah fishing ground hanya menjadi kenangan semata. Padahal sepuluh tahun yang lalu daerah Ujung Kulon merupakan lokasi mancing yang tiada matinya. Ikan besar sering tertangkap di sini. Lain dahulu lain sekarang, untuk mendapat ikan di daerah tersebut semakin sulit dan mania hanya berharap ikan besar dari Samudera Indonesia masuk saat mereka mancing.  Hilangnya fishing ground juga pernah terjadi di Perairan Sulawesi Utara tepatnya di Kepulauan Biaro, Pulau Sangihe.
        Pada tahun 1998 ketika The Kasal International Billfish Tournament digelar, wilayah tersebut menjadi lokasi keberadan ikan marlin biru. Populasi ikan marlin dan tuna benar-benar bagaikan gudang ikan kala itu.Siapa sangka pada lima tahun berikutnya, ikan-ikan marlin tidak banyak ditemukan, karena di sana sudah banyak di pasang rumpon dan hampir setiap saat ikan-ikan tersebut terpancing dipancing rawai sehingga populasinya semakin kecil. Cerita meruahnya ikan marlin yang sempat menggiurkan mania di seluruh dunia tiba-tiba pupus lantaran ikan tersebut terlalu banyak terpancing nelayan.
        Hilangnya ikan-ikan di daerah fishing ground menggambarkan bagaimana ekploitasi perikanan yang tiada henti membuat pehobi mancing semakin hari semakin kesulitan untuk mendapatkan ikan. Cerita mendapat ikan besar pada sepuluh tahun ternyata sudah menjadi cerita legenda yang tidak mudah diulang kembali oleh generasi sekarang dan akan datang.*mrk

fokus

Hilangnya Fishing Ground Salah Siapa? 

dari : .mancingmania.com

  Monday, 03 September 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s