TURA HIU, MUSUH BARU KANKER


Bila berjumpa hiu, siapa pun akan merinding ketakutan. Namun, binatang laut yang satu ini diam-diam diciptakan juga untuk memberi manfaat besar. Setelah kulitnya untuk tas, dompet atau sepatu, siripnya untuk sop yang nikmatnya luar biasa; kini tulang rawannya pun dijadikan “obat” kanker.


Asmino.

Prof. dr. Asmino menyarankan
melengkapi terapi medisnya
dengan tulang rawan hiu.
(Foto: Gde)

Kanker hingga kini masih masuk dalam kelompok penyakit paling ditakuti manusia. Penyebabnya, terutama gaya hidup tidak sehat. Di antaranya, kebiasaan merokok, makan menu tinggi lemak atau kurang serat, mengkonsumsi alkohol, dan pemaparan terlalu banyak pada matahari. Karena sel kanker, terutama yang ganas, hidupnya tak terkendali, penyebarannya bisa mencapai berbagai organ tubuh. Karena itu, meskipun sel kanker induk sudah dimusnahkan lewat tindakan operasi, anak sebarnya sewaktu-waktu bisa beraksi. Akibat terburuk yang bisa timbul tentu saja kematian.

Upaya pencegahannya bisa dilakukan dengan kembali pada gaya hidup sehat. Hentikan kebiasaan merokok, hindarkan makanan berlemak atau kurang serat, jauhkan alkohol, dan hindari terpapar matahari terutama pada pukul 10.00 – 15.00. Sedangkan untuk menyembuhkannya sampai sekarang masih mengandalkan tindakan operasi atau terapi lain macam kemoterapi. Upaya-upaya lain juga tetap dicari oleh para ilmuwan. Di antaranya dengan berbagai tanaman obat atau bahan alami lainnya. Salah satu bahan yang disediakan alam, yang pada sementara penelitian menunjukkan kerja yang efektif dalam mengusir kanker, adalah tulang rawan ikan hiu.

“Bebas” dari kanker otak

Prof. dr. Asmino, ketua Yayasan Kanker Wisnuwardhana Surabaya, merupakan salah seorang dokter yang menggunakan dan menganjurkan pasiennya menggunakan tulang rawan (tura) hiu. Berkat pengobatan medis dan alternatif, yang salah satu bahannya tulang rawan hiu, pria berusia 70 tahun sembuh dari kanker prostat yang diketahui pada Oktober 1988. Pasien kankernya pun mendapat manfaat dari pengalamannya itu. Mereka dianjurkan menggunakan bahan pengobatan alternatif tersebut selama proses pengobatan.

Di antara pasiennya tersebut nama Betty (nama rekaan atas permintaan yang bersangkutan). Mahasiswi berusia 19 tahun ini pada April 1996 diketahui menderita kanker otak dan diperkirakan hanya bisa bertahan hidup dua bulan. Satu-satunya jalan untuk mengusir si kanker adalah lewat operasi. “Tapi waktu operasi hendak dilakukan, dokter bilang tidak bisa dioperasi. Alasannya, letak tumornya tak memungkinkan dilakukan operasi. Tapi saya yakin, itu cuma cara Tuhan agar saya sembuh dengan cara lain,” ungkap Betty.

Ia pun mencoba berbagai pengobatan alternatif. Namun, hasilnya tidak ada. “Penyakit saya malah parah. Berat badan saya turun sampai tinggal 27 kg. Bahkan, sampai keluar darah dari hidung dan mulut,” kenangnya. Atas saran seorang dokternya, ia pun mencoba pengobatan ala Prof. Asmino.

Sejak Juli 1986, ia mulai menggunakan tulang rawan hiu untuk pengobatan bersama dengan obat-obatan medis. Dalam sehari dia meminum obat medis dan obat alternatif tiga kali. Obat tambahan tersebut sekali minum terdiri atas 35 g serbuk tulang rawan hiu, 10 g jamur hioko, madu, dan air rebusan benalu teh. Berangsur-angsur kondisinya membaik. Berat badannya pulih, bahkan lebih berat lagi. Menurut pengakuannya, dia sudah sembuh. Sayangnya, ia belum melakukan pemeriksaan medis untuk membuktikan kesembuhannya.

1.000 kali lebih kuat

Di samping zat makanan lain, dalam tulang rawan hiu terdapat lima jenis protein yang diduga memiliki kekuatan menaklukkan sel kanker. Sayangnya, protein mana yang mampu menggempur sel kanker masih belum dipublikasikan. Yang pasti, protein tersebut mesti diserap ke dalam tubuh sebelum dicerna. Sekali tercerna menjadi asam-asam amino, efektivitasnya menurun.

Tulang rawan hiu.

Tura hiu sebelum jadi serbuk.
(Foto: Gde)

Di dalam tubuh, protein tersebut menghambat pertumbuhan kapiler darah baru yang tidak normal. Konon, kemampuan tersebut mencapai 1.000 kali lebih kuat dibandingkan dengan tulang rawan sapi. Bagi tumor atau kanker, keberadaan pembuluh darah sangat penting untuk mendapatkan makanan. Dengan dihambatnya pertumbuhan jaringan pemasok makanan, tumor pun tak dapat tumbuh. Tumor yang masih ada kemudian mengkerut atau mati karena pembuluh darah mereka rusak dan tak tergantikan. Dibandingkan dengan pembuluh darah normal yang kuat dan bisa bertahan bertahun-tahun, pembuluh darah tumor tergolong rentan sehingga mudah dirusak.

Para pakar patologi anatomi telah lama menemukan bahwa tumor padat dalam masa hidupnya dilayani oleh banyak pembuluh darah. Diketahui pula tumor yang sedang tumbuh itu menarik pembuluh kapiler baru dari tubuh induk semangnya (pengidap tumor). Proses ini dinamakan tumor angiogenesis (TA).

Adalah Judah Folkman yang pertama menyadari, tanpa adanya pembentukan pembuluh darah, tumor padat dihambat pertumbuhannya. Pada tahun 1980-an, ia berhasil mengisolasi suatu bahan dari tumor manusia yang disebut tumor angiogenesis faktor (TAF), yang bila diimplantasikan pada binatang, bisa merangsang pembentukan kapiler baru. Kapiler baru ini bergerak ke arah tumor. Bila segumpal sel ganas dialiri pembuluh darah, dia akan tumbuh tak terkendali.

Kebetulan, bagian tubuh makhluk hidup yang tak memiliki pembuluh darah adalah tulang rawan. Karena itu, tulang rawan diduga memiliki bahan penghambat angiogenesis. Dugaan ini ternyata terbukti dari penelitian Henry Brem dan Judah Folkman (1975). Pembentukan pembuluh darah baru pada tumor dapat dihambat tulang rawan neonatus (makhluk yang baru dilahirkan).

Tulang rawan hiu pun dilirik untuk diteliti lebih lanjut. Pada 1987 para peneliti di Jules Bordet Institute di Brussel, melakukan penelitian serbuk tulang rawan hiu pada tikus. Hewan percobaan itu disuntik subcutan (di bawah kulit) sel MEXF-14 human melanoma (tumor yang terbentuk dari sel berpigmen melanin) sambil diberi tulang rawan hiu secara oral. Hasilnya, terjadi hambatan pertumbuhan tumor secara total.

Pada penelitian-penelitian lain ternyata penggunaan tura hiu tidak menimbulkan efek sampingan. Karenanya, peluang penggunaannya pada manusia terbuka lebar.

Penelitian pun dilanjutkan pada manusia. Dalam buku Sharks Don’t Get Cancer, Dr. I. William Lane dan Linda Comac menyatakan berhasil menjalin kerjasama untuk melakukan penelitian penggunaan tulang rawan hiu pada pasien Ernesto Contreras Hospital di Tijuana, Meksiko, pada 1991. Ernesto Contreras Jr. M.D., salah seorang dokter spesialis kanker di rumah sakit itu, melibatkan delapan pasien kanker yang sudah mencapai tahap terminal. Jenis kanker yang mereka idap meliputi kanker mulut rahim, vaginal hemangioma, sarkoma jaringan lunak stadium III di punggung, peritonial carcinoma stadium IV, dan kanker payudara.

Kedelapan pasien ini diterapi hanya dengan tulang rawan hiu melalui rektum (dubur). Pada minggu ke-7 respons positif telihat pada 7 dari 8 pasien tersebut. Pada mereka terjadi penurunan ukuran tumornya 40 – 80% (5 orang), perbaikan kondisi penyakitnya (1 orang), atau bebas gejala nyeri kanker (1 orang). Seorang tak menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Setelah itu seorang dari mereka berhenti menjalani terapi dan pada minggu ke-11 tumornya ditemukan menyebar. Pada minggu ke-9, seorang pasien terpaksa dioperasi meskipun kondisinya membaik. Pada minggu ke-11 diketahui tiga orang pasien bebas tumor dan ukuran tumor dua orang lainnya mengecil dibandingkan dengan pada minggu ke-7.

Hasil penelitian Roscoe L. Van Zandt, M.D., yang dikutip Lane, juga menunjukkan hasil positif. Ginekolog di Arlington, Texas, yang bekerja paruh waktu di Hoxsey Clinic, Tijuana, Meksiko ini memberi 30 – 60 g tulang rawan hiu setiap hari secara oral pada 8 wanita penderita kanker payudara lanjut. Setelah 6 dan 8 minggu, ukuran tumor kedelapan pasien mengecil. Berdasarkan pengujian terhadap beberapa tumor itu ditemukan bahwa jaringannya telah berubah warna dari merah muda menjadi abu-abu, pertanda adanya kematian sel. Hasil penelitian awal ini memang tidak pasti dan memerlukan penelitian lebih lanjut.

Muncul kontroversi

Meski hasil-hasil penelitian di atas cukup menggembirakan, khasiat tura hiu ini sempat menimbulkan kontroversi. Folkman, pionir teori tumor angiogenesis, menyatakan percobaan di Meksiko itu tak bisa disamakan dengan penelitian Anne Lee dan Robert Langer. Dalam penelitian, kedua mitra kerja Folkman ini mengimplantasikan sel tumor ke dalam kornea mata kelinci bersama pelet tura hiu. Normalnya, sel tumor akan menyebabkan jaringan pembuluh darah tumbuh ke arahnya dari kornea. Namun, dengan adanya pelet tura hiu, pembuluh darah yang terbentuk sedikit. Hasil penelitian yang kemudian dipublikasikan di Science 1983 itulah yang membawa Lane untuk bekerjasama melakukan penelitian dan menyimpulkan bahwa tulang rawan hiu bisa menghambat dan mengusir sel kanker. Kontroversi pun merebak.

“Tulang rawan itu memang menunjukkan aktivitas dalam kornea kelinci, namun ini sangat berbeda penggunaannya secara oral dan katanya dapat menghentikan pertumbuhan tumor,” ujar Langer. Penelitian yang dilakukan di Meksiko tidak bisa dibandingkan, tekan Folkman, dan hasilnya tak dapat dipercaya.

Pendapat tersebut dikuatkan oleh hasil penelitian di Brussels yang tidak memberikan hasil seperti yang dilaporkan Lane. Ghanem Atassi, yang memimpin penelitian itu menyatakan penurunan 40% dalam volume tumor memang terlihat dalam satu kelompok binatang yang diteliti, namun cuma sesaat. “Ada tumor yang tumbuh kembali dalam binatang itu,” katanya.

“Di dalam tulang rawan juga terdapat stimulator pertumbuhan pembuluh darah. Tapi untunglah asam lambung merusak stimulator maupun penghambat pertumbuhan pembuluh darah tersebut. Kalaupun keduanya selamat dari terkaman asam lambung, protein terlalu besar untuk masuk pembuluh darah. Dan protein tersebut jumlahnya sangat kecil, yang jika dapat bertahan dan masuk pembuluh darah, Anda mesti makan cukup banyak dalam sehari untuk merasakan khasiatnya,” ujar Folkman.

Awas, tura hiu palsu!

Tura hiu ini sekarang sudah sangat banyak tersebar di pasaran sebagai food supplement. Tak kurang dari 10 merek dagang tulang rawan hiu dari Jepang, Amerika Serikat, Australia, Kanada, dan Indonesia telah dipasarkan di Indonesia. Wujudnya, serbuk atau kapsul dengan harga bervariasi, dari Rp 200,- – Rp 2.000,- per kapsul atau dari Rp 170.000,- per kg serbuk hingga hampir Rp 3.000.000,- per kg serbuk. “Dosis sekitar 10 g sebaiknya menggunakan kapsul. Tapi kalau dosisnya sudah mencapai 60 g, sebaiknya menggunakan serbuk, sebab sangat tidak logis bila harus menelan 100 kapsul per hari,” jelas Asmino.

Menurut guru besar Emeritus, Universitas Airlangga ini, tulang rawan hiu bukan pengganti terapi kedokteran tapi sebagai pelengkap. Dia bisa dipakai sejalan dengan pengobatan kedokteran. Saat ini diperkirakan 25.000 – 100.000 orang memanfaatkan satu dari belasan merek tulang rawan hiu dari penjual tulang rawan hiu toko makanan sehat, atau Internet.

Bila diperhatikan sosoknya, tulang rawan hiu yang berupa serbuk tak berbeda dengan tepung. Warnanya putih dan butirannya halus. Partikelnya berukuran sekitar 60 – 200 mesh. Kabarnya, makin halus partikel serbuknya, makin baik karena makin mudah diserap usus halus.

Karena harga tulang rawan hiu umumnya sangat mahal dan permintaannya banyak, kabarnya pemalsuan merajalela. Menurut Asmino, tulang rawan hiu yang murni berwarna putih dan rasanya sedikit amis. Tulang rawan hiu murni tidak menggumpal dan bila diberi larutan kalium iodida (KI) warnanya akan mengikuti warna coklat KI. Bila ditaburkan ke dalam air, serbuk ini akan mengendap.

Cara mengkonsumsinya dapat melalui mulut (oral) atau dubur. Di antara kedua cara itu, melalui dubur terbukti dalam percobaan klinik memberikan hasil lebih baik. Dalam penelitian juga pernah dicobakan melalui vagina.

Melalui mulut pemberiannya bisa berupa serbuk, kapsul, kaplet, atau ekstrak. Diminum ketika perut dalam keadaan kosong, umpamanya 30 menit sebelum makan, supaya serbuk dapat langsung masuk ke dalam usus kecil dan penyerapannya optimal. Sebagai pengiringnya bisa berupa air, air jeruk, jus buah atau jus sayur. Pencampuran tersebut dianjurkan segera sebelum diminum agar tidak bereaksi yang berakibat menurunnya khasiat.

Melalui dubur, serbuk diberi cairan, dimasukkan ke dalam dubur, dan ditahan sekitar 25 menit untuk diserap usus besar. Untuk meningkatkan penyerapannya, sebaiknya sebelum pemasukan serbuk dilakukan pembersihan permukaan usus besar dari sisa-sisa faeses dengan menggunakan bahan peluntur.

Namun, karena sifatnya yang menghambat pertumbuhan pembuluh darah abnormal, wanita hamil, anak di bawah usia 12 tahun, mereka yang habis menjalani operasi, dan yang baru saja mendapat serangan jantung, disarankan tidak mengkonsumsi tulang rawan hiu. Dikhawatirkan, pembuluh darah normal ikut terserang. Padahal, pertumbuhan pembuluh darah mereka masih diperlukan untuk perkembangan janin, pertumbuhan dan perkembangan otak, serta penyembuhan luka. “Semua itu memang belum ada buktinya, masih berupa dasar pemikiran,” ungkap Asmino.

Asmino mengakui, sulit mengetahui sampai berapa lama seseorang bisa sembuh dari kanker setelah mengkonsumsi tura hiu sebagai pendamping obat-obatan medis. Bisa jadi kanker itu telah memiliki anak sebar. Setelah kanker induknya diredam, bisa saja beberapa tahun berikutnya kanker muncul di tempat lain. Nah, supaya anak sebar tidak “bangkit dari kubur” sebaiknya tulang rawan hiu dimakan terus. “Tura hiu juga bisa menghambat tumbuhnya anak sebar setelah sel tumor induk diangkat,” tambahnya.

Mau mencoba? Boleh saja. Namun, sebaiknya berkonsultasi dahulu dengan dokter. (I Gede Agung Yudana)

dari : indomedia.com/intisari/1997/november

rumah

3 thoughts on “TURA HIU, MUSUH BARU KANKER

  1. MMhh, penggunaan bubuk tura lebih baik lewat dubur?
    mmmh, I´m simply speechless…

    Mari kita hidup sehat temen2, ga susah kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s