Kiat Manggarai Menjaga Kebersihan Air Tawar


Saat memandang air, ingatlah pada arwah gadis-gadis sahaja yang meninggal lantaran kehausan ribuan tahun silam. Setidaknya, begitulah kepercayaan warga di wilayah Kabupaten Manggarai, Flores, NTT. Bila kemurnian air bisa dipertahankan, ia akan menyelamatkan kehidupan. Sebaliknya, bila dinodai, bakal berperan bak rivalnya Arnold Schwarzenegger di film The Terminator, alias sang pembasmi. Buat masyarakat Manggarai, air memang sesuatu yang sakral dan memiliki nilai magis. Hal ini sudah berkembang sejak zaman nenek moyang, dan masih bertahan hingga sekarang. Itu sebabnya, Anda masih dapat menyaksikan air sungai yang bening, nyaris tanpa cela. Mulus dan seksi, ibarat tubuh wanita. Sulit menemukan kotoran atau sampah nyangkut di pinggir sungai, yang arusnya mengalir teduh dari lereng-lereng gunung ke laut lepas.

Bahkan di pesisir pantai yang dihuni ribuan penduduk sekalipun, dijamin Anda masih bisa menemukan air bersih. Padahal, di banyak tempat di Indonesia, daerah pantai biasanya pusat krisis air tawar. Inilah dampak kepercayaan tadi, yang membuat warga tak berani buang hajat, sampah, dan kotoran lainnya di pinggir, apalagi di tengah sungai. Penduduk setempat benar-benar mempertahankan kebersihan cairan lambang kehidupan itu dengan berbagai cara.

Untuk memelihara kebiasaan positif ini, pada awal musim menanam, para tetua adat di Manggarai mempersembahkan sesaji di setiap mata air yang mereka manfaatkan sehari-hari. Tujuannya, agar mata air itu tidak kering selama proses menanam. Jangan heran, saat musim kemarau panjang datang, mata air tiba-tiba meluap deras dari lereng-lereng gunung, lalu mengalir lembut di lahan-lahan pertanian mereka.

Meski berlimpah, air yang mengalir deras di lereng gunung, lembah-lembah, ngarai, dan sungai-sungai tidak boleh dipergunakan sesuka hati. Hampir di setiap tempat di Manggarai, ada aturan tegas dalam mempergunakan air. Misalnya, air yang meluap di lereng-lereng gunung hanya dipergunakan untuk minum, sedangkan air sungai dipakai untuk “M+C-K” (maksudnya, mandi dan cuci, minus kakus).

Itu pun tidak semua pakaian bisa dicuci di sini. Pakaian yang kotor kena berak, kencing, dan haid, dilarang nyemplung. Bahkan setiap wanita yang sedang haid dilarang mandi di sungai. Demikian juga para ibu yang baru melahirkan. Mengapa? Masih menurut kepercayaan mereka, semua kotoran yang keluar dari wanita dan terbawa air sungai, suatu saat akan menjelma dalam bentuk banjir, hama tikus, dan belalang.

Buang air besar (BAB) dan kencing di sungai juga ditabukan. Bahkan setelah BAB atau kencing (di tempat lain), tetap tidak boleh mencuci “anunya” di sungai. Itu sebabnya, orang Manggarai yang tidak memiliki WC terpaksa BAB atau kencing di semak-semak, hutan, atau batu besar, dilanjutkan membersihkan diri dengan daun kayu, tongkol jagung, atau serabut kelapa.

Bagaimana jika ada warga yang membandel? Siapa saja yang buang sampah atau kotoran lainnya di sungai, akan mendapat dua hukuman berat. Pertama, didenda oleh tetua adat. Biasanya berbentuk uang, hewan (ayam, babi, kambing, kuda, atau kerbau), tergantung tingkat kesalahannya. Kedua, orang itu harus mempersembahkan sesaji di tempat ia membuang sampah dan kotoran. Ujud sesaji itu dianggap sebagai permohonan maaf kepada pemilik air, para arwah yang meninggal jutaan tahun lalu.

Sesaji yang dipersembahkan biasanya berupa ayam, kambing atau babi, tergantung jenis pelanggaran. Bahkan di kampung Genang, Kecamatan Macang Pacar, mulai diterapkan peraturan baru yang mungkin bisa diikuti di daerah lain. Yakni dilarang mencuci pakaian di sungai menggunakan deterjen, apa pun mereknya.

Sayangnya, tradisi yang sangat baik ini mulai ditinggalkan penduduk ibukota Kabupaten Manggarai. Orang-orang Ruteng kini sering BAB, kencing, membuang sampah atau limbah industri dan kotoran lainnya di sungai. Makanya, jangan protes kalau kemudian mereka juga menerima balasan yang setimpal. (Timo Teweng, anak tetua adat di Manggarai)

dari : indomedia.com/intisari/2001/Me

Categories AIR

One thought on “Kiat Manggarai Menjaga Kebersihan Air Tawar

  1. wow, aku suka sekali sama artikelnya ini kae. sebaiknya di usahakan tuk di berikan pelajaran tentang adat atau budya manggarai sejak dari sekolah dasar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s