Kerja Keras Demi Air Bersih


Menipisnya cadangan air tanah dan menurunnya pasokan bahan baku air bersih di perkotaan belum kunjung menyadarkan orang untuk berhemat dalam pemakaian air. Apakah kita hanya bisa menunggu munculnya para “juru selamat” yang upayanya membuahkan aneka penghargaan lingkungan, sementara kita tak berbuat apa-apa untuk Bumi yang segala isinya serba terbatas?Ini pengalaman Ny. Maria Bekker, seorang aktivis sosial dan kesehatan di Jakarta saat berkunjung ke penampungan pengungsi Timor Timur di Atambua, NTT, tahun lalu. Ia membawa sangat banyak sumbangan berupa pakaian, makanan, dan obat-obatan dalam pesawat Hercules TNI-AU. Sayang, usaha keras organisasinya tak membuahkan hasil maksimal. Beras tak bisa ditanak, mi instan tak bisa langsung dimasak, demikian pula susu bubuk. Masalahnya, tak ada air bersih di sana. “Akibat terdesak rasa lapar, para pengungsi makan dalam keadaan mentah. Yang kasihan anak-anak. Karena tak ada air untuk mengencerkannya, susu bubuk langsung saja disuapkan oleh orang tua mereka. Akibatnya banyak anak yang menderita, bahkan jatuh sakit karena ususnya lengket,” cerita Ny. Bekker.

Aktivis penyadaran HIV/AIDS Baby Jim Aditya punya pengalaman berbeda namun berpangkal pada soal yang sama. Suatu ketika ia mengunjungi para pekerja seks komersial di Merauke, Irian Jaya, dan mendapati betapa mudahnya wabah penyakit menular seksual, termasuk jenis yang mematikan, karena tiadanya air bersih. “Setelah berhubungan, mereka hanya mencuci vagina dengan air rawa atau air laut. Demikian pula kaum pria pemakai jasa. Jangankan pakai kondom; tanpa pakai apa-apa pun sering tidak dicuci sama sekali,” kata Baby.

Ironi di perkotaan

Di kawasan terpencil nan kering, air bersih menjadi barang yang amat berharga. Orang bahkan rela mempertaruhkan segalanya demi air. Sering kita mendengar cerita, seseorang atau beberapa kelompok masyarakat baku bunuh karena berebut air bersih.

Tapi air sering pula menyajikan ironi. Sebuah survei di Jakarta tahun 1993 menyebutkan, 60% penggunaan air tanah Jakarta adalah untuk mencuci mobil. Kalau dilihat perilaku masyarakat di kota lain tidak jauh beda dengan Jakarta, barangkali fenomena yang terjadi juga sama. Ketika musim kemarau di Bandung, misalnya, di saat air ledeng hanya mengalir perlahan secara bergiliran, dan ketika sumur-sumur mengering, bengkel cuci mobil tetap tenang-tenang beroperasi karena menggunakan pompa penyedot air berkekuatan tinggi.

Di perkotaan pula air bagai tak mendapat perhatian. Kelangsungannya diabaikan. Umpamanya, kebiasaan membuang sampah di selokan atau sungai. Selain mengancam kelangsungan bahan baku air PAM, saat hujan turun pun sampah mengalangi alur air. Akibatnya, air meluap menjadi banjir. Celakanya, ketika jadi banjir air tak cepat meresap ke dalam tanah karena permukaan tanah banyak yang ditutup semen. Hanya sedikit yang meresap, pun bercampur dengan aneka limbah industri dan limbah pribadi.

Mau menggalakkan pembuatan sumur resapan? Rasanya amat sulit karena permukiman telah sibuk dengan kepadatannya sendiri akibat harga tanah yang tinggi. Pemilik rumah lebih mementingkan perluasan tempat tinggal daripada menyisakannya untuk halaman – itu pun kalau masih ada. Makanya batasan koefisien dasar bangunan (KDB), yang idealnya untuk menyisakan tanah agar air bisa meresap, lebih banyak dilanggar daripada ditaati.

Ada pula ironi lain. Umpamanya, sudah jamak terjadi camp pekerja perusahaan HPH atau rig pengeboran minyak di tempat terpencil, setiap hari membutuhkan bergalon-galon air mineral yang sebagian dipakai untuk mandi para pekerja. Tak sedikit pula warga di perumahan mewah waterfront city alias pinggir pantai melanggan air mineral untuk minum atau gosok gigi. Sebabnya, selain jaringan air PAM belum merata, air tanah tercemari aneka kotoran. Memang ada air kalengan yang dijajakan pedagang keliling, namun tak diyakini kebersihannya sehingga paling-paling dipakai untuk mandi atau cuci pakaian.

Menampung air

Tak terbayangkan betapa kerasnya usaha orang untuk memperoleh air di tempat terpencil nan tandus. Masih untung negara ini memiliki curah hujan relatif tinggi. Namun upaya paling sederhana seperti menampung air hujan rupanya tetap memerlukan semangat dan ketekunan agar membuahkan hasil.

Penerima penghargaan Kalpataru kategori Pengabdi Lingkungan 1996, Warsono, misalnya. Ia yang sehari-hari bertugas sebagai penyuluh kehutanan di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, mengajak warga di wilayah kerjanya, Desa Songbayu dan Semugih, untuk memiliki bak penampung air hujan. Selain itu ia juga mengajak warga menghijaukan hutan rakyat, pemakaman umum, dan membangun kandang ternak yang lebih sehat. Kerja keras selama bertahun-tahun terbukti dengan makin hijaunya hutan, sehingga meningkat pula produktivitas sarang burung walet yang hasilnya bisa meningkatkan taraf hidup warga. Di musim kemarau pun mereka tak khawatir lagi kekeringan karena hampir setiap rumah telah memiliki bak penampungan air.

Kalau Inacio Chaves, warga Dusun Borawei, Desa Vatuvao, Liquica, Timor Timur, mengalami proses lebih panjang sebelum menerima anugerah Kalpataru Perintis Lingkungan pada tahun yang sama, ketika propinsi itu masih menjadi bagian RI. Ia menghijaukan dusunnya yang semula tandus, berada di ketinggian 500 m di atas permukaan laut. Ia juga menanam pohon sengon pelindung tanaman kopi, juga menanam tanaman produktif seperti vanili, kemiri, pisang, ubi kayu, jeruk, avokad, mangga, nangka, dan nanas. Ia juga menganjurkan warga anggota kelompok taninya untuk menanami pekarangan dengan sayur-mayur.

Kerja keras itu membuahkan hasil ketika debit air yang dihasilkan mata air di pegunungan, makin lama makin besar. Dari tempat itu kemudian air dialirkan ke dalam bak penampungan untuk dimanfaatkan lebih lanjut.

“Menciptakan” sumber air

Air tanah bisa “diciptakan”. Caranya adalah “menangkap” air hujan di dalam tanah yang sudah dihijaukan. Ini dibuktikan oleh Kelompok Tani Sumber Makmur di Desa Pagerukir, Ponorogo, Jawa Timur, yang diketuai Sunu. Kelompok tani yang didirikan tahun 1970 ini pada 1996 meraih penghargaan Kalpataru karena kerja keras para anggota. Selama bertahun-tahun mereka membangun teras-teras di seluruh wilayah desa di ketinggian 500 – 600 m di atas permukaan laut. Teras-teras itu kemudian ditanami dengan pengairan dari mata air tunggal yang ada di sana, serta mengandalkan hujan. Lama-kelamaan kawasan tandus pun menghijau. Sumur pun digali dan mengeluarkan air. Dari semula satu sumber air, tahun itu sudah terdapat 15 sumur air. Maka lahan yang semula kritis pun belakangan menghasilkan padi, jagung, ketela, kacang tanah, kedelai, pisang, juga tanaman tahunan seperti kelapa, mangga, jambu mete, dan jati.

Tahun 1987, Pramudi Prawirowijoyo memimpin Kelompok Tani Sri Rejeki di Desa Sambongrejo, Sambong, Blora, Jawa Tengah. Ia mempelopori pembuatan tanggul sederhana dari aliran air sungai yang ada di desanya, sebagai ganti ketiadaan irigasi. Tanggul itu dibuat dari susunan balok kayu yang diurug tanah. Upaya itu menghasilkan sebuah “bendungan” yang mampu mengairi 15 ha lahan pertanian.

Rekan-rekan sedesanya rupanya juga bersemangat memperbesar bendungan itu. Ketika Pramugi memperoleh Kalpataru Perintis Lingkungan tahun 1997, seperti dilaporkan Kompas 6 Juni 1997, lahan pertanian yang dialiri air mencapai 40 ha. Dalam setahun pun masa tanam tak lagi hanya sekali seperti dulu, melainkan dua kali. Seiring dengan itu, kawasan Desa Sambongrejo pun menghijau, menghasilkan aneka tanaman hingga memakmurkan warga.

Upaya Pramugi rupanya mendatangkan gagasan bagi orang lain. Di Desa Sukorejo, Kecamatan Mojo Tengah, Wonosobo, Jawa Tengah, H.M. Mashuri, B.A. berhasil merehabilitasi lahan kritis menjadi hutan rakyat dengan pembuatan terassering.

Di Desa Bontobuddung, Kecamatan Tampobulu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, H. Manning membuat terassering di lahan terjal dan tandus di sisi S. Kelara, juga membuat dam serta saluran air sederhana. Hasilnya, kawasan itu berubah menjadi hijau subur.

Di Desa Sungaiupih, Kecamatan Kualakampar, Kabupaten Kampar, Riau, penyuluh pertanian lapangan Sumarni berhasil mengajak warga desa membangun bendungan pencegah masuknya air laut sepanjang 2 km dan saluran irigasi sepanjang 20 km. Atas prakarsanya, desa itu berubah menjadi kawasan pertanian produktif.

Jerih payah Mashuri, Manning, dan Sumarni diakui pemerintah dengan penghargaan Kalpataru tahun 1999.

Memanfaatkan air gua

Dari Gunungkidul muncul lagi cerita sukses seorang tokoh yang menemukan sumber air, kemudian mengelolanya secara kreatif. Pengabdi lingkungan peraih Kalpataru 1997 itu bernama Sudijono, karyawan Proyek Pengembangan Air Tanah Kabupaten Gunungkidul.

Sadar bahwa wilayah kerjanya setiap saat kekurangan air bersih, kendati proyek pengadaannya telah ada selama bertahun-tahun, Sudijono mulai mencari cara untuk mengalirkan air dari sumber-sumber air di dalam gua-gua kapur (luweng). Ia masuk – keluar luweng untuk menengok adakah sumber air di sana. Menurut catatan Kompas, 5 Juni 1997, Sudijono menghabiskan waktu 14 tahun bekerja sampai bisa menemukan 380 luweng yang 30 di antaranya memiliki sumber air bawah tanah.

Dari 30 luweng itu yang potensinya dimanfaatkan masyarakat baru lima buah. Salah satunya luweng Seropan di Kecamatan Ponjong yang debit airnya 1.500 l air/detik dan baru dimanfaatkan 90 l/detik untuk kebutuhan empat kecamatan yang berpenduduk 238.316 jiwa. Atas upaya Sudijono mata air bawah tanah itu belakangan bisa dialirkan untuk mengairi lahan pertanian. Hasilnya, sebagian besar wilayah Ponjong dikenal sebagai salah satu kawasan paling subur di Gunungkidul.

Membersihkan limbah rumah tangga

Usaha yang dilakukan Anak Agung Gede Rai, peraih Kalpataru 1999 juga menarik diperbincangkan. Warga Desa Benoa, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali, itu mengolah limbah cair dari hotel dan restoran menjadi air irigasi. Selain itu ia juga giat dalam penanggulangan abrasi pantai, serta mengembangkan habitat burung di kawasan Nusa Dua (Kompas, 5 Juni 1999).

Beberapa tahun sebelumnya, staf Dinas Kebersihan Kodya Malang, Agus Gunarto E.P. melakukan kegiatan yang lebih monumental. Ia merintis dan merancang pembuatan pengolahan limbah rumah tangga sederhana.

Tinja, air bekas cucian, air bekas mandi, dan limbah lain rumah tangga yang berasal dari rumah penduduk dialirkan ke septic tank melalui pipa PVC. Dari septic tank, air dialirkan lagi ke kolam penampungan pertama yang ditanami enceng gondok. Dari situ cairan masih dialirkan lagi, dengan cara gravitasi, ke kolam penampungan kedua. Setelah melalui satu kolam penampungan lagi, air menjadi lebih bersih untuk siap dialirkan ke Kali Brantas, yang sebagian menjadi bahan baku PDAM. Sedangkan lumpur yang mengendap di kolam itu dikeringkan dan dimanfaatkan untuk pupuk. Akhirnya, tanaman juga yang diuntungkan. Tanaman menyerap air dan akar-akarnya menyimpan serta mempertahankan keberadaan air tanah. Begitulah siklus terus berjalan.

Kreativitas Agus rupanya mendapat pengakuan dari banyak orang, termasuk pihak yang kemudian memberinya penghargaan. Kini bahkan banyak warga di lain desa yang mencontoh pekerjaan itu.

Apakah cukup banyak orang yang tergerak untuk meniru? Syukur sekali kalau ya. Begitu pula jika upaya yang dilakukan para tokoh yang keberhasilannya sudah terbukti lewat aneka penghargaan di atas, juga mengilhami kita untuk berbuat lebih baik demi Bumi yang sejak diciptakan pun sudah terbatas, sementara perkembangan manusia tidak ada batasnya. (SL)

dari : .indomedia.com/intisari/2001/Mei

Categories AIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s