ASPEK PEMASARAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

PERMINTAAN HASIL RUMPUT LAUT

Rumput laut pada waktu ini menjadi salah satu komoditas pertanian penting yang makin banyak dibudidayakan karena permintaan terhadapnya makin meningkat. Disamping karena kandungan agarnya juga ada kandungan karagenan (Carrageenan) yang penggunaannya makin meluas. Rumput laut dengan kandungan bahan untuk agar terutama didapatkan dari spesies Gracilaria dan Gelidium, sedangkan untuk kandungan karagenan banyak dibudidayakan spesies Eucheuma, ialah Eucheuma Cottoni dan Eucheuma Spinosum.

Sebagai karagenan, rumput laut kering diolah menjadi bentuk tepung untuk diekspor dan sebagian untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kebutuhan pasar lokal mencapai 22.000 ton per tahun (Ekon. Neraca 2 Juni 1999). Karagenan merupakan bahan yang unik untuk berbagai industri makanan seperti kemampuan dengan konsentrasi rendah mengikat cokelat ke dalam susu cokelat. Sari karegenan juga dipergunakan untuk pembuatan “dessertgel” semacam agar untuk hidangan penutup makan. Karagenan memiliki derajat panas pencairan yang tinggi, sehingga mudah dipasarkan di daerah tropis atau di tempat yang tidak tersedia lemari pendingin (Refrigerator). Agar karagenan juga banyak dipergunakan sebagai bahan penambah (additive) pada berbagai makanan Eropa.

Fungsi karagenan sebagai perekat pasta gigi menyaingi penggunaan sodium carboxymethylcellulose (SCMC), karena keunggulan kualitasnya dan penampilan karagenan dalam pasta gigi. Karagenan juga sangat penting di dalam industri makanan binatang piaraan (Pet Food), penyegar udara (Air Freshener) dan dalam daging hamburger sebagai subsitusi lemak. Penggunaan karagenan rumput laut akan bertambah makin luas dan makin banyak di masa yang akan datang, sehingga permintaan terhadap produksi rumput laut ini akan terus meningkat di masa mendatang.

Perkembangan industri pengolahan rumput laut di Indonesia juga terlihat makin pesat. Diantara industri agar yang ada kemudian sekarang juga memproduksi karagenan, serta adanya industri baru yang sengaja dikembangkan untuk produksi karegenan di beberapa kota seperti Surabaya, Ujung Pandang, Jakarta dan Bali. Industri-industri ini menyerap produksi rumput laut yang dibudidayakan oleh para nelayan di berbagai perairan pantai/kepulauan melalui para perantara yang berfungsi sebagai pengumput. Untuk mendapatkan rumput laut yang berkualitas bagi produksi karagenan, sekarang ini mulai berkembang langkah-langkah pendekatan yang dilakukan oleh para pengusaha pengolahan rumput laut, untuk memberikan pembinaan fasilitas budidaya dan melakukan pembelian produksi rumput laut dari petani/nelayan yang bersangkutan.

Pada tahun 1994 sudah ada sebanyak 11 pabrik agar yang tersebar di Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Setiap pabrik memperkerjakan sekitar 70 orang dengan kapasitas produksi antara 100 s/d 180 ton per tahun (Tabel 1)

Tabel 1.
Jumlah dan Keadaan Pabrik Pengolahan Rumput Laut di Indonesia (1994)

Lokasi

Jumlah Pabrik

Jumlah Pekerja

Produk Agar (ton/tahun)

Kapasitas Produksi (ton/tahun)

Keperluan Bahan Mentah (ton/tahun)

Jawa

9

630

800

900

6,000

Sumatra

1

70

60

180

450

Sulawesi

1

70

120

120

728

Total

11

770

980

1,200

7,170

Source : ADP Working Paper No 4 Agribusiness Development Project, Jakarta 1994.

 

KONSUMSI RUMPUT LAUT

Kebutuhan rumput laut di dalam negeri terutama untuk pabrik agar-agar jelly food dan biskuit. Kebutuhan produk rumput laut olahan untuk keperluan industri makanan ini semua banyak dipenuhi dari impor, dan sekarang sebagian menggunakan hasil olahan rumput laut dari dalam negeri sendiri. Begitu besar dan terus meningkatnya kebutuhan ini di dalam negeri, bisa ditunjukkan dari adanya trend impor yang terus meningkat dalam 3 tahun terakhir ini (Harian Ekonomi Neraca, 2 Juni 1999). Jika pada 1996 impor komoditis rumput laut olahan in baru mencapai 30,9 ton, maka pada pada 1997 telah naik menjadi 131 ton. Sedangkan dalam tujuh bulan pertama tahun 1998 impor ini telah mencapai 434 ton dengan nilai US $ 491.000.

PERKEMBANGAN EKSPOR RUMPUT LAUT

Data mengenai ekspor rumput laut dari Indonesia yang tercatat pada Biro Pusat Statistik menunjukkan keadaan semenjak tahun 1990 seperti pada tabel 2. Terlihat bahwa permintaan luar negeri, terhadap rumput laut Indonesia pada tahun 1990 sebesar 10.779 ton dengan total nilai (FOB) US $ 7,16 juta yang terus meningkat hingga pernah mencapai 28.104 ton pada tahun 1995 dengan total nilai (FOB) US $ 21,30 juta. Jumlah ekspor ini tercatat turun kembali pada tahun 1996 dan berikutnya yang mungkin diakibatkan adanya perubahan pola perdagangan rumput laut di Indonesia dimana rumput laut kemudian diolah dan diekspor dalam bentuk tepung karagenan. Ekspor karagenan pada waktu ini menurut sejumlah produsen di Indonesia akan dapat terus meningkat mengingat makin, meluasnya kegunaan dan permintaan dana

Tabel 2.
Perkembangan Total dan Nilai Ekspor Rumput Laut

Tahun

Total Ekspor (Kg)

Nilai(FOB US$)

1990

10,779,204

7,162,610

1991

10,772,486

5,288,124

1992

11,331,261

4,927,382

1993

16,132,086

8,092,333

1994

16,818,820

8,177,952

1995

28,104,654

21,307,593

1996

17,526,321

13,431,278

1997

11,494,432

6,907,405

1998

4,425,798

2,911,996

Source: Statiktik Perdagangan Luar Negeri Indonesia, Ekspor, Biro Pusat Statistik Dikumpulkan dari Buku Tahun 1990-1998

Luas permintaan luar negeri terhadap rumput laut Indonesia ini bisa dilihat pada Tabel 3 yang menjangkau berbagai negara dari Kawasan Asia, Eropa, Amerika Utara sampai wilayah Amerika Latin. Ekspor terbesar ditujukan ke Denmark, Hongkong, Amerika Serikat dan Filipina.

Tabel 3.
Ekspor Rumput Laut 1997 Menurut Negara Tujuan

Negara Tujuan

Total Ekspor(Kg)

Nilai (FOB US$)

Japan

384,416

1,020,696

Hong Kong

2,548,466

1,407,048

Korea

43,150

174,325

Taiwan

210,170

141,445

China

135,400

11,740

Philippines

1,073,880

305,926

Pakistan

50,240

27,194

USA

2,207,482

1,113,651

Argentina

20,000

96,400

Brazil

190,000

85,500

United Kingdom

38,000

125,400

Netherlands

41,890

29,323

France

470,510

214,557

Switzerland

40,000

4,000

Denmark

3,113,310

1,760,658

Sweden

103,010

75,155

Spain

723,800

314,387

Source: Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia Ekspor, BPS 1997

PEMASARAN HASIL BUDIDAYA RUMPUT LAUT

Hasil panen budidaya oleh para petani/nelayan, dijual dalam bentuk rumput laut kering, setelah dijemur selama 3 sampai 4 hari. Rumput Laut Kering dimasukkan ke dalam karung-karung plastik untuk dijual kepada para pedagang pengumpul atau kepada Koperasi yang kemudian menjualnya kepada pengusaha/pabrik pengolahan rumput laut di beberapa kota.

Para pengumpul membeli rumput laut kering dari nelayan dengan harga sekitar Rp. 3.500 – Rp. 5.000 per kilogram, tergantung pada jenis rumput laut ataupun jarak lokasi budidaya ke perusahaan pengelola. Pemasaran seperti ini bagi petani nelayan memang tidak bisa menentu dari segi harga tergantung pada sikap para pengumpul. Melalui penjualan kepada Koperasi, sebenarnya akan bisa diatur lebih menguntung bagi para petani nelayan, akan tetapi masih juga tergantung bagaimana peran yang dilakukan oleh Manager Koperasi. Dalam model kelayakan ini harga jual rumput laut kering diperhitungkan Rp. 4.000 per kg.

Karena pada umumnya para petani nelayan memulai usaha budidaya rumput laut ini kekurangan modal, dalam prakteknya para petani nelayan ini banyak kemudian yang terikat kepada pedagang pengumpul yang bersedia memberikan modal dan keperluan keluarga sehari-hari sebelum panen. Hal ini bisa berakibat menjadi lemahnya posisi tawar bagi para petani nelayan, yang bisa merugikannya.

Melalui Pola Kemitraan Terpadu, pemasaran produksi rumput laut nelayan dilakukan dengan langsung menjualnya kepada perusahaan mitra melalui Koperasi para petani/nelayan . Harga beli rumput laut ini oleh Perusahaan Mitra bisa ditetapkan sesuai dengan harga yang terbesar memberi keuntungan bagi para petani/nelayan menurut kesepakatan dengan ketentuan apabila harga jual rumput laut yang terjadi di pasar setempat lebih tinggi, akan menggunakan harga tersebut.

 

@

 

Taken from :bi.go.id

9 thoughts on “ASPEK PEMASARAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT

  1. bagus informasinya, kalau ada info baru tentang komoditas ikan yang baru dan berpeluang ekspor atau punya nilai jual bagus tolong dong infokan ke saya. Trims

  2. mohon infonya bagaimana cara pengolahan rumput laut untuk dijadikan bahan olahan yang laku di pasar, tentunya dengan modal yang tidak terlalu besar. saya penggemar rumput laut tetapi belum punya pengalaman pengolahannya,
    unik mumpuni jember jatim, 08124978440
    terimakasih

  3. ada ga yang jual tepung carrageenan yang dijual eceran? Merk nya apa ya klo di pasaran? apa di jual di swalayan atau pasar tradisional?

    Kebanyakan para penjual tepung carrageenan menjual Per-sak (25kg).
    Bagaimana nasib industri kecil yang ingin membeli tepung karageenan di bawah 25 kg.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s