ASPEK LINGKUNGAN & KESIMPULAN BUDIDAYA BANDENG


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

Tambak bandeng bukanlah usaha yang banyak menyerap tenaga kerja. Dalam 5 ha tambak hanya diperlukan 2 orang penjaga dan 5-10 orang untuk melakukan panen. Namun demikian tambak setidaknya menjadi sumber penghidupan bagi ribuan keluarga Indonesia, tahun 2000, 186.485 keluarga hidup dari tambak. Angka ini merupakan 14,73% dari seluruh keluarga perikanan (lihat tabel 6.1). Jumlah petambak dari tahun ke tahun terus meningkat demikian juga dengan perannya terhadap total rumah tangga perikanan. Dengan melihat rata-rata luas tambak per keluarga dapat dilihat bahwa peningkatan rumah tangga petambak tidak menyebabkan terpecahnya pemilikan tambak. Pada periode 1995-2000 rata-rata pemikilan tambak berkisar pada angka 2 ha.

Tabel 6.1.
Jumlah Rumah Tangga Tambak dan Luas Penguasaan Tambak per Rumah Tangga, 1995-2000

Tahun

Jumlah Rumah Tangga

Persentase dari Keluarga Perikanan

Luas Tambak per Keluarga (Ha)

1995

1996

1997

1998

1999

2000

125.705

131.910

127.534

144.411

183.173

186.485

10.14

10.50

10.08

13.58

15.41

14.73

2.11

1.81

1.74

2.29

2.22

2.29

Sumber : BPS, 1997 dan 2002

Di Kabupaten Sidoarjo budidaya tambak merupakan usaha yang telah dijalani sebagian masyarakat secara turun menurun. Secara ekonomis mengusahakan tambak untuk bandeng cukup menguntungkan, dengan demikian pada dasarnya tambak bandeng merupakan alternatif pekerjaan yang cukup baik. Namun demikian keberadaan tambak Sidoarjo saat ini mengalami ancaman yang bersumber dari beberapa masalah, antara lain:

  1. Anak-anak petambak yang secara turun temurun mengusahakan tambak mulai tidak tertarik mengelola tambak. Anak-anak petambak yang telah berhasil menempuh pendidikan tinggi dengan bidang studi yang umumnya jauh dari masalah tambak sehingga enggan meneruskan usaha tambak.
  2. Bagi petambak baru membeli tambak atau membuat tambak baru memerlukan investasi besar, padahal sumber pembiayan semacam bank pada umumnya tidak bersedia mendanai usaha pertanian termasuk tambak karena resiko usaha yang dianggap masih sangat tinggi.
  3. Tambak berlokasi di pantai, perkembangan kota telah membuat beberapa wilayah pantai mengalami reklamasi dan dijadikan areal pabrik. Hal ini menimbulkan dampak penciutan lahan tambak dan pencemaran air dan tanah serta tidak teraturnya ketinggian pasang surut air laut.
  4. Sistim pertanian intensif yang terus menerus menggunakan pupuk dan pembasmi hama telah membuat lahan semakin miskin kesuburan alami. Akibatnya residu pupuk dan pembasami hama akan meresap ke dalam tanah atau terbawa air, hal ini menyebabkan pencemaran pada lahan tambak sebab kedua kegiatan ini saling berdampingan dan menggunakan sumber air yang sama.
ASPEK DAMPAK LINGKUNGAN

Tambak, baik bandeng maupun udang tidak menimbulkan pencemaran lingkungan sebab::

  1. Air yang digunakan hanya dialirkan ke tambak kemudian dikeluarkan lagi tanpa ditambah / dicampur bahan kimia.
  2. Pemupukan tambak dilakukan dalam jumlah yang realtif rendah dibandingkan dengan pemupukan di lahan sawah, sehingga kemungkinan terjadinya pencemaran relatif rendah.
  3. Obat pembasmi hama diberikan dengan sangat hati-hati agar tidak mematikan bandeng sehingga pemberian obat pembasmi hama dapat dipastikan dalam dosis aman.
  4. Tambak mensyaratkan air bersih yang terus mengalir walaupun dalam jumlah hanya 10% sehigga tambak bebas dari bau amis yang berlebihan.

KESIMPULAN

  1. Potensi pengembangan tambak cukup besar, hampir semua pantai di Indonesia potensial untuk pengembangan tambak. Sampai saat ini pola pengelolaan tambak umumnya baru pada taraf semi intensif yang masih dekat dengan pola tradisional sehingga produktivitas masih relatif rendah. Hal ini disebabkan untuk mencapai pola yang lebih intensif diperlukan biaya yang besar untuk pembelian pakan yang harganya relatif mahal.
  2. Di Wilayah penelitian (Sidoarjo) ada 1 bank yang memberikan kredit untuk usaha tambak bandeng yakni Bank BRI cabang Sidoarjo. Namun demikian pemberian kredit tersebut masih belum sepenuhnya kredit berdasarkan usaha tambak bandeng tetapi kredit umum, yakni kredit yang mensyaratkan sertifikat atau deposito sebagai jaminannya dan usaha lain diluar tambak serta catatan reputasi dan karakter yang baik sebagai penguatnya.
  3. Potensi pasar bandeng cukup besar. Selama sepuluh tahun terakhir pertumbuhan permintaan mencapai 6,33% rata-rata per tahun sementara pertumbuhan produksi adalah 3,82% per tahun. Kesenjangan permintaan dan produksi ini masih ditambah dengan beberapa potensi permintaan antara lain :
    • Bandeng dikonsumsi semua golongan masyarakat
    • Tingkat konsumsi protein masyarakat masih perlu ditingkatkan. Tingkat konsumsi protein tahun 2003 adalah 11 gram per capita per hari sementara standar minimal yang seharusnya dipenuhi adalah 15 gram per capita perhari.
    • Bandeng adalah sumber protein yang sehat (non kolesterol) sehingga masyarakat yang telah jenuh dengan lemakpun masih dapat mengkonsumsi bandeng dengan aman.
    • Harga bandeng relatif stabil dan pemasarannya pun yang relatif mudah.
  4. Ada dua masalah terkait dengan pemasaran bandeng yakni :
    • Lemahnya posisi petambak berhadapan dengan pembeli (Agen/ pedagang besar). Agen membeli bandeng dari petambak dengan cara kredit, tetapi tidak dipastikan kapan pembayaran dilakukan dan petambak tidak memiliki kekuatan untuk memaksa agen memenuhi kewajibannya.
    • Duri bandeng menghalangi masyarakat untuk menyukainya.
  5. Teknis pemeliharaan bandeng tidak sulit. Secara tadisional bandeng hanya dilepas begitu saja di tambak tanpa perlu perawatan maupun pemberian pakan. Produktivitas pemeliharaan sistim tradisional ini rendah. Jika produktivitas ingin ditingkatkan maka pemeliharaan harus semakin intensif. Salah satu ciri penting dari pemeliharaan intensif adalah pemberian pakan buatan. Pemeliharaan dikatakan intensif penuh jika pemberian pakan diatur sedemikian rupa sehingga kebutuhan pakan bandeng tercukupi secara teknis. Pemeliharaan dikatakan semi intensif jika dilakukan pemberian pakan tetapi tingkat pemberian dan teknis pemberiannya tidak sebanyak dan serumit pemeliharaan intensif.
  6. Berdasarkan analisis kelayakan finansial budidaya bandeng layak untuk diusahakan. Dengan masa proyek 4 tahun dan tingkat discount rate sebesar 20% usaha bandeng memberikan NPV sebesar Rp 17.661.201, Net B/C ratio sebesar 1,68 dan IRR sebesar 53,02% serta PBP 5 bulan. Artinya budidaya bandeng secara finansial layak dilaksanakan sampai tingkat suku bunga 53,02 % dengan tingkat pengembalian modal kurang dari 1 tahun.
  7. Analisis sensitivitas terhadap perubahan penerimaan menunjukkan bahwa dengan penurunan penerimaan sebesar 7% dengan asumsi biaya operasional konstan membuat usaha bandeng tidak lagi layak untuk dilakukan, berdasarkan penilaian kelayakan kriteria investasi.
  8. Analisis sensitivitas terhadap perubahan biaya menunjukkan bahwa dengan peningkatan biaya sebesar 8% dengan asumsi penerimaan tidak berubah membuat usaha bandeng tidak lagi layak untuk dilakukan, berdasarkan penilaian kelayakan kriteria investasi.
  9. Analisis sensitivitas terhadap perubahan penerimaan dan biaya menunjukkan bahwa dengan penurunan penerimaan dan peningkatan biaya sebesar 4% membuat usaha bandeng tidak layak untuk diusahakan, berdasarkan penilaian kelayakan kriteria investasi
  10. Masalah yang terkait dengan usaha bandeng adalah semakin sempitnya tambak akibat dari semakin berkembangnya pembangunan kota. Disamping itu pencemaran dari pabrik dan pertanian intensif juga menjadikan keberadaan tambak terancam. Secara sosial tambak juga terancam oleh kurang tertariknya lagi generasi muda untuk mengelola tambak.

SARAN

  1. Untuk meningkatkan mutu produk maka rasionalitas petambak perlu ditingkatkan. Pada dasarnya petambak juga pengusaha yang rasional namun demikian seringkali pengambilan keputusannya didasarkan pada ruang pengambilan keputusan yang sempit. Untuk itu maka selain pembekalan pengetahuan terhadap aspek teknis produksi dan teknologi pasca panen juga perlu dilakukan pemberian pengertian yang terus menerus pentingnya menghasilkan mutu produk yang lebih baik dan meningkatkan daya tawar.
  2. Peningkatan daya tawar petambak dalam pemasaran bandeng dapat dilakukan dengan membuat aturan lelang menjadi lebih jelas, dalam hal ini yang diperlukan adalah ketepatan tentang waktu pembayaran. Hal ini terkait dengan kebutuhan likuiditas petambak untuk biaya hidup dan pembayaran kredit serta biaya operasional tambak.
  3. Untuk meningkatkan permintaan (konsumsi) bandeng setidaknya diperlukan dua kegiatan, yakni:
    • Melakukan promosi keunggulan bandeng dibandingkan sumber protein lain dan membuat produk bandeng lebih dekat dengan konsumen.
    • Untuk menghilangkan hambatan duri seharusnya lembaga penelitian pangan mampu mengembangkan teknologi pengolahan bandeng sehingga dihasilkan produk bandeng yang lebih bervariasi tanpa menghilangkan rasa bandengnya dengan harga yang terjangkau.
  4. Secara makro pembangunan wilayah harus memperhatikan aspek lingkungan termasuk keberadaan tambak yang secara tradisional terletak di tepi pantai. Hal ini terkait dengan pencemaran yang ditimbulkan oleh pembangunan itu, misalkan pencemaran pabrik, rumah tangga maupun sistim pertanian yang intensif. Karena itu maka tambak yang baik dan sehat adalah tambak yang terletak jauh dari berbagai sumber pencemaran tersebut.
  5. Secara sosial diperlukan upaya yang sungguh-sunguh dan terpadu agar tambak tidak ditinggalkan oleh generasi muda. Insentif adalah salah satu variabel yang mungkin menarik generasi muda untuk menekuni bidang tambak, utamanya tambak bandeng. Secara bisnis insentif dapat diberikan melalui berbagai kemudahan untuk mendapatkan modal untuk usaha tambak misalnya. Secara sosial nilai tambak dapat ditingkatkan dengan aplikasi teknologi tepat guna sehingga tambak tidak identik dengan gengsi yang rendah.

@

 

Taken from :bi.go.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s