Mengapa Ikan Mati Mengambang di Air?


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

IKAN hanya bisa hidup dalam habitat air. Ini semua karena sistem pernapasan ikan yang berbeda dengan manusia atau makhluk hidup lain. Jika manusia menggunakan paru-paru, ikan menggunakan alat khusus bernama insang untuk mendapatkan oksigen. Insang hanya bisa bekerja di dalam air. Jika ikan diangkat dari air, insang tak mendapatkan oksigen, dan ikan pun mati. Meski demikian, terdapat beberapa jenis ikan yang memiliki dua alat pernapasan sekaligus.

Pertanyaan lainnya adalah, jika selama hidupnya ikan selalu berada di dalam air dan hanya sekali-kali muncul di permukaan, mengapa ketika mati, tubuh ikan mengambang di atas permukaan air?

Untuk menjawab pertanyaan ini, hukum fisika bisa menjelaskannya. Saat berenang, tubuh ikan yang ramping memiliki berat jenis yang lebih besar daripada air. Meski demikian, saat mengapung, perbedaan berat jenis antara keduanya nol alias netral. Artinya, gaya yang ditimbulkan air untuk melawan ikan sehingga menjadikannya tenggelam sebanding dengan gaya dari dalam tubuh ikan yang memungkinkan dirinya mengapung. Itu juga berarti, ikan tidak perlu bersusah payah bekerja demi mempertahankan dirinya agar bisa mengapung atau tenggelam.

Di dalam air, tekanan akan meningkat seiring bertambahnya kedalaman. Sebagian besar spesies ikan menetralkan fluktuasi atau perubahan tersebut dengan cara menggunakan satu kantong pada tubuhnya yang disebut sebagai swim bladder atau biasa disebut juga dengan gas bladder (kantung udara atau gelembung udara). Air masuk ke dalam mulut ikan dan melewati insang, oksigen diekstraksi, dan dibawa oleh hemoglobin melalui aliran darah. Hemoglobin melepaskan sebagian oksigen tersebut ke dalam kantung udara.

Sejumlah oksigen di dalam kantung udara tadi itulah yang akan menentukan daya apung ikan. Jika ikan mulai dicelupkan ke air, oksigen diabsorpsi ke dalam kantung udara. Jika ikan terlalu mengambang, gas akan berdifusi atau mengalir ke dalam darah dan keluar lewat insang.

Menurut Mark Boriek, seorang ahli biologi dari New Jersey Departement of Fish and Wildlife, AS, seperti dimuat livescience.com, proses tersebut bukanlah usaha yang sungguh-sungguh dilakukan ikan, melainkan tak lebih dari respons kimia terhadap adanya tekanan di sekitar tubuh ikan.

Oksigen tetap berada di dalam kantung udara setelah ikan mati. Gas-gas tambahan dilepaskan selama proses dekomposisi. “Ikan itu ibarat kontainer yang tertutup,” kata Boriek. “Selama proses dekomposisi ikan, gas-gas mengisi rongga tubuhnya.”

Akibatnya, perut ikan mati pun seperti balon yang terisi udara dan ikan mengambang ke permukaan air. Sebagian massa ikan adalah tulang dan otot pada bagian belakang sehingga ketika balon perutnya naik mengapung di atas permukaan air, posisinya cenderung sungsang, perut berada di bagian atas.

Ikan-ikan yang mati tidak selalu langsung mengambang di permukaan air. Mereka bisa saja tinggal sebentar di dasar permukaan sungai atau kolam dan baru akan mengambang setelah gas-gas sebagai hasil proses dekomposisi terbentuk.(Syarifah, S.P.)***

@

 

Taken from :HU PR-Kamis, 17 Januari 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s