Stop Ekspansi Industri Pertambakan Udang Global


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

Jakarta, 1 September 2007- Sejak beralihnya kepemilikan PT Dipasena Citra Darmaja kepada Central Proteinaprima International Holding (CP Prima) akhir Mei 2007 lalu, laju ekspansi global industri perikanan tambak skala besar semakin merajalela. Hal ini merupakan ancaman terbesar bagi hutan mangrove dan ekosistem. Terlebih, ADB (Asian Development Bank) telah menyepakati pinjaman senilai US$ 33,3 juta untuk ‘mempromosikan’ industri perikanan tambak skala besar di Indonesia.

M. Riza Damanik, manajer kampanye pesisir dan laut WALHI, sekaligus koordinator ASIA (Asia Solidarity Againts Industrial Aquaculture) menyebut, “selang dua dekade terakhir, jutaan hektar hutan mangrove dikonversi menjadi industri perikanan tambak skala besar. Ironisya, selain berdampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar, mega proyek ini tidak ditujukan pada pemenuhan kebutuhan produk perikanan lokal, melainkan diekspor ke negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Cina, dan Jepang.”

Ditinjau dari perspektif ekologi, konversi hutan mangrove dan ekosistem ke pertambakan udang, menyebabkan: (1) Lumatnya ekosistem hutan mangrove; (2) menurunnya kualitas perairan dan lahan, yang telah menyebabkan menurunnya kualitas hidup warga sekitar, mulai kebutuhan dasariah (sandang, pangan, dan papan) hingga kesehatan; dan (3) Terjadinya bencana abrasi, sedimentasi, dan penggaraman air tanah di sekitar lokasi indsutri pertambakan udang skala besar.

Lebih dari itu, “industrialisasi tambak berpotensi menghilangkan pundi-pundi penghidupan masyarakat lokal. Juga pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia, seperti mempekerjakan anak di bawah umur dan intimidasi”. Bahkan, pengalaman negara-negara di dunia seperti negar-negara di Amerika Latin, Bangladesh, India, Malaysia, termasuk Indonesia mengarah kepada konflik antara korporasi dan komunitas lokal, dan tidak sedikit diantaranya yang berakhir pada intimidasi dan berbagia bentuk kekerasan” ujar Riza Damanik menambahkan.

Deskripsi di atas, memberi kekokohan argumentasi bagi WALHI, ASIA (Asia Solidarity Againts Industrial Aquaculture), dan MAP (Mangrove Action Project) bersama sekitar 35 LSM dari berbagai negara, untuk menggelar “South – North Consultation”, yang akan dilangsungkan di Lampung, pada 2 – 7 September 2007 mendatang. Urgensi pertemuan ini dilatari oleh lima asas pokok:

  1. Ekspansi industri pertambakan tambak skala besar menandai ketimpangan global. Hal ini didasarkan pada ketimpangan pemenuhan kebutuhan ikan di negara-negara berkembang. Sebab itu, efektivitas kampanye global STOP EKSPANSI INDUSTRI PERTAMBAKAN UDANG GLOBAL terhadap konsumen, distributor, dan sebagainya, di negara-negara konsumen terbesar dunia, seperti Amerika Serikat, Cina, dan Jepang, menjadi hal yang  niscaya.
  2. Tak pelak, Konsultasi Selatan – Utara amat diperlukan, sebagai media bertukar informasi menyangkut common enemy menentang ekspansi industri pertambakan skala besar.
  3. Membangun kesalingpercayaan satu sama lain untuk memperluas ruang politik, sebagai ranah memperjuangan kebijakan global yang berkelanjutan.
  4. Meningkatkan pemahaman kolektif terkait kondisi riil yang dihadapi oleh masyarakat global, menyangkut keberlanjutan lingkungan hidup dan pemenuhan kebutuhan pangan, baik di tingkat lokal, nasional, maupun regional.
  5. Mengimplementasikan cita-cita kolektif memberdayakan masyarakat yang berkesanggupan memenuhi hak-hak dasariahnya (sandang, pangan, papan).

Sejalan dengan itu, WALHI mendesak kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk turut pro-aktif dalam usaha menghentikan laju ekspansi global industri pertambakan skala besar di Indonesia khususnya, dan di tingkat global, melalui kampanye STOP EKSPANSI INDUSTRI PERTAMBAKAN UDANG GLOBAL.

Pada akhirnya, rakyat menanti pemimpinnya bekerja tanpa pamrih dan berani mendekatkan impian “menciptakan kesejahteraan umum, bukan kesengsaraan kolektif sebagai bangsa. Tak sekadar ‘mengobral’ citra diri, tapi citra bangsa di mata masyarakat global, khususnya kedaulatan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia,” tutup Riza Damanik.

@

 

Taken from :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s