Pertambakan Udang Skala Besar Inti Plasma: Gambaran Konflik Sosial dan Pelanggaran HAM


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

Tambak Intensif Skala Menengah
Tambak Intensif Skala Menengah


 

Pendahuluan

Beberapa studi yang dilakukan di beberapa negara produsen udang (Studi Cost Benefit Analysis) telah menunjukkan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk pemulihan lingkungan dan biaya sosial jauh lebih besar daripada yang diperoleh dari pertambakan udang. Pertambakan udang  telah menghilangkan ekosistem mangrove dan fungsinya, kehilangan keanekaragaman hayati, sumber ekonomi sub-systence, pencemaran air tanah dan perairan sekitarnya dan menimbulkan ketegangan sosial.

Masyarakat setempat adalah pihak yang paling dirugikan dalam bisnis ini, sementara pengusaha mendapatkan keuntungan yang paling besar. Selama ini kebijakan pertambakan udang difokuskan pada bagaimana meningkatkan produksi semata, dan melupakan aspek sosial dan lingkungan sebagai implikasinya.

Pertambakan Udang di Indonesia

Kecenderungan kini di Indonesia, pertambakan udang dijalankan dalam bentuk Inti-Plasma. Ada beberapa pertambakan udang skala besar yang dijalankan dalam bentuk Inti Plasma, yakni di Banggai, Aceh Timur, dan pesisir timur Sumatera (Propinsi Lampung dan Sumatera Selatan) dengan luas beberapa ribu hektar.

Hubungan antara petani Plasma dan perusahaan, sebagaimana yang juga terjadi di negara-negara produsen udang lainnya di Asia dan Amerika Latin seringkali diliputi konflik. Secara mendasar, permasalahan yang muncul sebagaimana dikeluhkan oleh petani Plasma berkisar pada 2 hal yakni mengenai posisi petani Plasma dalam hubungan kemiteraan dan mengenai perjanjian kredit yang tidak. Proses perjanjian kredit, prosedural kredit, penguasaan atas petak tambak sepenuhnya dalam pengaturan perusahaan. Sekilas bahwa permasalahan tersebut merupakan sebuah  kesalahan manajemen yang diterapkan perusahaan namun kenyataannya secara konseptual telah cacat.

Pada pertambakan skala besar, tercipta suatu ketergantungan dari  plasma kepada perusahaan. Kondisi ini menciptakan posisi perusahaan sangat kuat untuk mengendalikan petani plasma dalam berbagai aspek.  Kontrol perusahaan yang sangat ketat dan berlebihan dalam kehidupan pribadi dan sosial petani Plasma telah menempatkan plasma tidak sebagai mitra namun lebih sebagai buruh.

Konsep Inti Plasma

Konsep Inti Plasma dalam pertambakan atau disebut juga Tambak Inti Rakyat di Indonesia mulai diperkenalkan (tepatnya diadopsi) )  pada awal 90-an.  SK Menteri Pertanian No.509 /tahun 1995 tentang Pedoman Kemitraan Usaha Perikanan mensyaratkan pertambakan yang melebihi 100 hektar  di luar Pulau jawa dijalankan dalam bentuk hubungan Inti-Plasma.  Bagi pemerintah, pertambakan udang skala besar lebih memberikan kepastian dan kemudahan untuk mendapatkan devisa  secara langsung.

Ada perbedaan besar antara konsep Inti-Plasma yang umum dengan konsep Inti-Plasma yang kemudian berkembang pada pertambakan udang skala besar di Indonesia. Pada konsep Inti Plasma umum, petani Plasma menyepakati bekerjasama dalam pemasaran hasil panen.  Perusahaan mendapat jaminan penjualan hasil panen dari petani dan sebagai imbalannya perusahaan berperan memberikan bimbingan teknis operasional dan dukungan finansial.  Dengan konsep ini perusahaan tidak perlu membuka lahan tambak untuk budi aya udang udang oleh karena petani Plasma bekerja pada lahannya masing-masing. Perusahaan mendapatkan keuntungan dari  pemasaran hasil panen dan terbebaskan dari berbagai resiko kegagalan budidaya.  Hubungan Inti-Plasma di Indonesia terlebih dahulu diterapkan dalam perkebunan kelapa sawit dan penangkapan ikan.

Mengapa konsep ini disenangi pemilik modal?

Bagi pemilik modal, konsep ini mampu mengurangi biaya dan risiko perusahaan dalam hal investasi, yang kemudian beralih menjadi beban petani Plasma secara kolektif. Pemilik modal (perusahaan) memperoleh keuntungan dari penerapan hubungan Inti- dalam tiga konteks yakni pertanahan, tenaga kerja,  proses produksi  dan resiko usaha.

Kirk, C (dalam Contracting Out: Plantations, Smallholders, and Multinasional Enterprises, 1987) menyebutkan bahwa konsep Inti Plasma diharapkan mengatasi masalah kebutuhan tanah yang luas. Perusahaan berskala besar seringkali menghadapi masalah pertanahan untuk menginvestasikan modalnya. Dengan konsep ini (konsep awal) perusahaan tidak perlu lagi khawatir dengan masalah pertanahan oleh karena perusahaan hanya sebagai penampung hasil panen dan memberikan bimbingan teknis produksi sehingga petani bekerja pada lahannya masing-masing. Perusahaan tidak berhubungan sama sekali dengan lahan yang diolah oleh petani Plasma.

Kedua, konsep ini membebaskan perusahaan dari  masalah tenaga kerja. Pada konsep awal, petani “dikontrak untuk menjual hasilnya, bukan tenaganya’.  Petani dipekerjakan secara tidak langsung. Oleh karena petani mempunyai keterikatan untuk menjual hasilnya, dan bukan tenaganya, maka perusahaan terbebaskan dari semua masalah yang menyangkut pengerahan tenaga kerja maupun kesejahteraannya secara langsung.   Implikasi lebih lanjut dari pola ‘inti-plasma’ yang menguntungkan perusahaan adalah ‘penyertaan tenaga kerja dalam keluarga’ tanpa perlu dibayar perusahaan.

Ketiga, pihak inti mengendalikan sepenuhnya tahapan usaha: penyediaan kredit, benur, pakan dan bahkan sangat menentukan dalam kegiatan pengoperasian dan pemasaran. Dengan pola perusahaan sebagai Inti berbagi biaya dan resiko dengan petani tambak, namun bukan berbagi keuntungan.

Pada tambak yang terintegrasi dan tertutup, petani Plasma secara konsisten menyerap setiap produk yang disodorkan oleh perusahaan.  Keuntungan besar diperoleh perusahaan dari penjualan benur, pakan, obat-obatan perikanan yang harus dibeli petani plasma dalam bentuk kredit.

Hubungan Inti Plasma dalam Pertambakan Skala Besar

Kemudian konsep Inti Plasma ini dikembangkan dalam pertambakan udang skala besar.  Yang sangat membedakan antara hubungan Inti Plasma yang umum dengan hubungan Inti Plasma dalam pertambakan skala besar adalah kepemilikan lahan tambak menjadi tidak jelas. Petani Plasma tidak bekerja pada lahan sendiri namun pada lahan yang dikreditkan oleh perusahaan.  Petani Plasma harus membayar cicilan kreditnya dengan hasil panen kepada perusahaan. Konsep ini lebih menguntungkan perusuhaan oleh karena identik dengan penguasaan lahan dan setiap tahapan produksi oleh perusahaan (sebagai Inti).

Sepintas konsep ini menunjukkan pendekatan kebersamaan (sosialis), sehingga seringkali digunakan untuk mendapatkan publikasi yang baik dari pemerintah. Namun pada prakteknya para petani tambak tak lebih sebagai bagian dari mesin produksi dan kepentingan pemodal menjadi sangat menentukan kebijaksanaan.  Disini secara transparan terjadi praktek akumulasi dan pengkonsentrasion modal, penguasaan lahan tambak, penguasaan sarana produksi dan manajemen oleh pihak modal (perusahaan).

Pada tambak yang terintegrasi dan tertutup, petani Plasma secara konsisten menyerap setiap produk yang disodorkan oleh perusahaan.  Keuntungan besar diperoleh perusahaan dari penjualan benur, pakan, obat-obatan perikanan yang harus dibeli petani plasma dalam bentuk kredit.

Perjanjian Kredit

Petani mulai bergabung sebagai Plasma dengan menandatangani perjanjian terlebih dahulu, yakni kesepakatan kredit dan hubungan kemiteraan.  Kesepakatan kredit menyebutkan petani Plasma mengajukan kredit kepada Bank melalui perusahaan untuk membeli petak-petak tambak dan rumah yang telah disiapkan perusahaan. Petak tambak, rumah dan sarana tambak lainnya dijadikan oleh Perusahaan sebagai jaminan kepada Bank untuk mendapatkan kredit.  Ini berarti perusahaan telah mendapatkan keuntungan dari penjualan petak tambak dan rumah sebelumnya.  Peluang perusahaan melakukan mark up harga tambak dan rumah sangat terbuka. Dalam perjanjian dikatakan bahwa petani dapat memiliki petak tambak, rumah dan sarana tambak apabila dalam beberapa tahun (6-8 tahun) telah melunasi kreditnya. Secara sederhana, hal proses kredit ini  tidak jauh berbeda dengan bentuk kredit lainnya (kredit motor, mobil).

Proses Pelunasan Kredit

Perjanjian kredit menyebutkan bahwa petani Plasma membayar angsuran kredit  setelah musim panen udang. Dalam praktek yang terjadi pada pertambakan skala besar,  perusahaan hanya mengumpulkan hasil panen petani dan menetapkan harga yang sepihak. Perusahaan tidak menyerahkan uang hasil panen. sehingga petani Plasma tidak  dapat membayar angsuran kredit kepada Bank secara langsung. Angsuran kredit petani Plasma dilakukan oleh Perusahaan kepada Bank tanpa mengetahui rincian pembayaran.

Oleh karena petani plasma tidak memiliki uang tunai, setelah masa panen petani plasma mendapatkan lagi sejumlah sarana produksi dan biaya hidup untuk melanjutkan kegiatan budidaya udang selanjutnya.  Keseluruhan sarana produksi dan biaya hidup tersebut dihitung sebagai kredit  operasi. Ini dapat berarti petani Plasma harus meminjam kepada perusahaan uangnya sendiri dengan dibebankan bunga.  Adanya variasi perhitungan kredit berikut bunga dan tidak transparannya perusahaan dalam menjelaskan rincian-rincian, membuat perhitungan menjadi rumit.  Setelah berusaha beberapa tahun, petani Plasma tidak pernah mengetahui apakah kreditnya telah lunas atau berapa kredit yang telah dibayar.

Perjanjian Hubungan Kemitraan

Juga disodorkan kepada petani Plasma Perjanjian Hubungan Kemiteraan yang sebagian besar isinya adalah ketentuan / peraturan yang harus diikuti oleh plasma.  Isi perjanjian antara lain menyangkut tata tertib petani Plasma dalam pertambakan dan pengaturan perilaku Plasma, izin keluar masuk lokasi berikut sangsi-sangsi.  Perjanjian juga menyebutkan bahwa perusahaan berhak mengeluarkan petani Plasma dari lokasi tambak apabila dinilai telah melanggar ketentuan yang ditetapkan. Perjanjian hubungan kemiteraan Inti-Plasma inilah yang juga merupakan persoalan yang diprotes petani Plasma. Petani Plasma tidak lagi sebagai mitra namun sebagai buruh.

Umumnya, tambak skala besar berada pada lokasi yang terisolir dan tertutup dari dunia luar.  Petani plasma sangat dibatasi dalam aktivitas sosial baik di dalam tambak maupun berhubungan dengan pihak luar.  Hanya beberapa hari dalam setahun petani  Plasma mendapatkan izin keluar dari lokasi atau cuti.  Petani Plasma harus menempuh beberapa tahapan prosedural izin dari pihak manajemen.  Seringkali apabila ada musibah atau kematian anggota keluarga petani Plasma di luar lokasi tambak, terlambat untuk mengunjungi karena prosedural tersebut.  Juga diterapkan sangsi bagi petani plasma yang terlambat masuk kembali. Perjanjian Kemiteraan lebih banyak mengatur apa dan bagaimana Plasma seharusnya bertindak. Terlihat bahwa kesepakatan hubungan kemiteraan sejak awal hubungan kemiteraan tidak dalam posisi yang sejajar.

Konflik Pertanahan dan Status Kepemilikan Tambak

Dalam praktek yang terjadi pada pertambakan udang skala besar di Indonesia, perusahaan sangat menguasai petak tambak dan dapat melakukan pengusiran terhadap Plasma dengan beberapa alasan. Perusahaan kemudian menngkreditkan kembali dari awal petak tambak yang ditinggalkan oleh petani Plasma tersebut. Ini menunjukkan bahwa tidak adanya acuan baku mengenai kelembagaan dan mekanisme hubungan Inti-Plasma dalam konteks kredit.

Tambak Skala Besar dalam Konteks Ekonomi Kerakyatan

Kecenderungan kini petani tradisional  diarahkan untuk bergabung sebagai Plasma seperti yang terjadi di Sumatera Selatan, Aceh, Banggai, Sumbawa, Kalimantan Timur dan Maluku. Pemerintah meninggalkan tugasnya untuk membina dan melindungi kepentingan petani tradisional serta mempertahankan  kualitas lingkungan.  Kebijakan pertambakan skala besar menutup kesempatan petani tradisonal untuk mengembangkan usahanya.  Dalam sejarah ekonomi Indonesia, dkungan perbankan sebagian besar diberikan kepada perusahaan skala besar.

Kesimpulan

Pembukaan pertambakan skala besar sejak awal telah memarginalkan masyarakat setempat, menghancurkan tatanan sosial dan budaya lokal, memunculkan ketegangan sosial.

Posisi petani plasma sangat lemah dalam hubungan Inti-Plasma. Petani Plasma kehilangan kemerdekaan untuk melakukan aktivitas pribadi maupun sosial didalam dan luar tambak.  Perusahaan membebankan semua resiko dan kewajiban kepada Petani Plasma.

Kebijakan Inti Plasma dalam pertambakan udang skala besar ternyata tidak memiliki format yang pasti dalam hal yang prinsipal yakni; bentuk kelembagaan, mekanisme penyelesaian konflik dan status kepemilikan tambak, dan pengawasan. Akibatnya perusahaan menerapkan sendiri  format kelembagaan, pengaturan hubungan kerjasama, dan menyelesaikan konflik menurut kepentingannya.

@

 

Taken from :

One thought on “Pertambakan Udang Skala Besar Inti Plasma: Gambaran Konflik Sosial dan Pelanggaran HAM

  1. Pertambakan Udang Skala Besar Inti Plasma: Gambaran Konflik Sosial dan Pelanggaran HAM,

    menyikapi artikel diatas, saya benar2 terkejut. sangat jelas bahwa tulisan tersebut mendiskreditkan perusahaan dan investor. saya sangat yakin bahwa penulis belum pernah bekerja atau bergaul bersama plasma.

    pada kenyataannya plasma dalam perusahaan tambak inti rakyat terpadu bermental preman, bahkan moralnya kebanyakan sudah tidak termasuk tipikal pekerja. sebenarnya terlalu banyak kebobrokan plasma dalam tambak inti rakyat terpadu, namun bukan wewenang saya untuk menghakimi mereka. belum lagi sekelompok orang yang mengambil kesempatan (plasma itu sendiri) yang mengambil keuntungan dari teman – teman mereka.

    seharusnya kita memandang permasalan ini tidak dari satu sisi. alangkah baiknya jika kita melihatnya seperti melihat 2 mata pisau. Sehingga kita dapat mengambil suatu kesimpulan yang objektif terhadap permasalahan yang terjadi dalam sistem tambak inti rakyat terpadu.

    beberapa kasus yang terjadi justru karena ulah stakeholder yang terlibat dalam penyusunan kerja sama dan operasional. Stakeholder ini umumnya mereka yang mampu memobilisasi masa, memprovokasi bahkan melakukan agitasi dan propaganda yang menyesatkan. Posisi tawar mereka yang terletak pada kekuatan masa bukan hanya akan menghancurkan perusahaan tapi juga akan menghancurkan diri mereka sendiri.
    pada kenyataannya plasma adalah orang2 yang lemah, lemah secara edukasi dan materi.

    Mau tidak mau mereka tetap membutuhkan supply edukasi dan materi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s