Hutan Bakau Indonesia Kritis


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

Lampung- Indonesia masyhur sebagai negeri kepulauan. Sebagai negara kepulauan (± 17.000 pulau), sudah seharusnya Indonesia menjaga keberlanjutan hutan bakau. Jika fakta ini diacuhkan, maka bencana ekologis, seperti abrasi pantai dan banjir, menjadi hal yang tak terelakkan. Bahkan, tak jarang memakan korban jiwa dan kerugian materiil teramat besar. Lebih dari itu, hancurnya tata hidup ekosistem.

“Tak kurang dari 30% hutan bakau dunia berpusat di Indonesia. Hutan bakau merupakan tempat bertelur dan berkembangbiaknya satwa laut, seperti udang, ikan, serta kepiting. Di samping itu, hutan bakau mampu membentengi pantai dari erosi dan melindungi rumah nelayan serta sampan mereka dari terpaan badai dan ombak besar yang ganas,” ujar Riza Damanik,  Manajer Kampanye Pesisir dan Kelautan WALHI, di sela-sela kegiatan South – North Consultation di Lampung, Senin (3/09).

Ironisnya, hal ini tak disadari oleh pemerintah. “Hingga tahun 2003, sekitar 13.200 ha lahan tambak beralih fungsi menjadi kawasan industri. Karenanya, dapat disebut, hutan bakau Indonesia sedang berada di ambang kritis,” tambah Riza. Jika dibiarkan, ancaman abrasi pantai yang telah terjadi di lebih dari 750 desa di sepanjang pesisir Indonesia selama 1996 – 1999 makin bertambah.

Mengacu pada perluasan industri pertambakan skala besar di Indonesia sebesar 14% per tahun, luas hutan bakau di Indonesia juga mengalami penyusutan. Pada tahun 1982, misalnya, luas areal hutan bakau Indonesia adalah 4,2 juta hektar. Namun, seiring ekspansi industri pertambakan, luas areal hutan bakau Indonesia tersisa 1,9 juta hektar di tahun 2007. Penyusutan ini meninggalkan dampak buruk bagi ekosistem dan keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir.

“Di Lampung, misalnya, dari 160.000 hektar lahan hutan bakau, sekitar 136.000 hektar (80%) rusak akibat perluasan tambak. Potret ini dapat dilihat dari luas areal tambak yang dimiliki oleh Dipasena dan Bratasena, yakni masing-masing seluas 16.250 hektar dan 10.500 hektar,” tambah Mukri Friatna, Direktur Eksekutif Daerah WALHI Lampung.

Kepemilikan lahan industri pertambakan menimbulkan persoalan tersendiri. Di samping kerusakan lingkungan, mulai dari musnahnya ekosistem hutan bakau, abrasi, sedimentasi, dan penggaraman air tanah baik di dalam maupun di luar perusahaan, menurunnya kualitas perairan dan lahan, juga telah menyebabkan turunnya kualitas hidup petambak plasma (mulai dari menurunnya tangkapan ikan, pemenuhan kebutuhan dasar, hingga akses kesehatan yang memadai), dengan jumlah petambak plasma berkisar 9.033 petambak. Hal ini dipicu oleh buangan air tambak perusahaan ke sungai hingga laut yang selama ini menjadi sandaran penghidupan warga di wilayah pesisir.

Lebih jauh, berkurangnya areal hutan bakau berdampak pada bencana banjir yang terjadi hingga tahun 1999. Potret ini menjadi fakta dilupakannya fungsi hutan bakau dalam menjaga keberlanjutan ekosistem dan kelestarian hidup warga pesisir. Betapa tidak, tak kurang dari 7.000 desa terendam banjir. Bahkan, jumlahnya berlipat menjadi 12.000 desa pada tahun 2003. Berdasar pengamatan WALHI, sekitar 90% di antaranya adalah desa yang telah kehilangan ekosistem hutan bakaunya. Lebih parah lagi, jumlah penduduk miskin di kawasan pesisir meningkat: dari 33,914,300 orang (tahun 2001) menjadi 35, 391,900 orang (tahun 2002).

Padahal, jika dimanfaatkan, hutan bakau memberi kemanfaatan ekologis dan keuntungan ekonomi sebesar Rp90 juta per hektar per tahun bagi kehidupan masyarakat pesisir di sekitarnya. Sebagai contoh, pohon Api-api (Avicennia spp.) merupakan tempat bersarangnya lebah madu. Dari pohon ini, madu dapat dipanen langsung dan dibudidayakan. Pun demikian dengan ranting pohon bakau yang digunakan sebagai bahan bakar, arang, dan cuka kayu, serta nira dari pohon nipah yang dapat dijadikan sebagai minuman segar, cuka, gula merah, madu, dan obat-obatan tradisional.
@

 

Taken from :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s