Hutan Bakau Hancur, Negara Rugi Sebesar US$ 28 Miliar


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

Lampung, 5 September 2007- Pertambahan luas areal lahan bakau yang dikonversi menjadi tambak skala besar mencapai 14% per tahun. Perambahan hutan bakau oleh ekspansi industri pertambakan skala besar ini cukup mengkhawatirkan. Kekhawatiran ini dipicu oleh kerusakan tata ekosistem hutan bakau yang berdampak pada timbulnya konflik sosial, menurunnya kualitas hidup masyarakat, juga kualitas perairan dan lahan masyarakat sekitar tambak, akibat aktivitas industri pertambakan.

Merujuk pada data dari Departemen Kelautan dan Perikanan (2005) tentang perkembangan industri pertambakan, dapat disebut, “Negara menderita kerugian sebesar US$ 28 miliar  per tahun akibat hancurnya hutan bakau . Nominal kerugian ini akan terus bertambah, jika pemerintah Indonesia tidak memberlakukan jeda ekspansi industri pertambakan dan melakukan upaya rehabilitasi terhadap kerusakan hutan bakau,” tukas Riza Damanik, Manajer Kampanye Pesisir dan Kelautan WALHI.

Besarnya kerugian yang diderita oleh Pemerintah Indonesia sebesar US$ 28 miliar pada tahun 2004, jeda industrialiasi pertambakan adalah kewajiban mendesak. Terlebih, dari produksi udang yang dihasilkan sebesar 143 (1000 MT), sebanyak 127 (1000 MT) di antaranya diekspor ke Jepang (48%), Amerika (14%), Malaysia (6%), Singapura dan Hongkong (5%), Inggris, Luksemburg, dan Belgia (4%). Amat ironis. Betapa tidak, hampir 90% produk udang nasional diperuntukkan untuk konsumsi global ketimbang pemenuhan kebutuhan nasional. Dari ekspor udang, negara memeroleh laba sebesar US$ 862 juta (2005). Tentu, hal ini tak sebanding dengan kerusakan ekologis (abrasi, sedimentasi, dan penggaraman air tanah) yang ditimbulkan. Juga konflik sosial, retaknya bangunan ekonomi, dan rumah budaya masyarakat sekitar tambak.  

Olehnya, Pemerintah Indonesia harus melakukan: pertama, penghentian sementara industrialisasi pertambakan di Indonesia, melihat dampak kerusakan ekologis yang melebihi ambang batas; kedua, mengacu pada ketidaksebandingan nilai ekonomi dan nilai ekologis yang didapat, pemerintah harus memprioritaskan pemulihan ekologis wilayah pesisir. Dalam hal ini, pemerintah harus mendesak industri pertambakan agar melakukan rehabilitasi hutan bakau; dan ketiga, rentannya ketahanan pangan bangsa, ditandai oleh meningkatnya jumlah kaum miskin di kawasan pesisir dan fakta menyusutnya produksi perikanan nasional, harus direspons secara konkret melalui penghentian ekspor produksi udang demi menjamin ketahanan pangan bagi seluruh warga negara Indonesia, serta melakukan upaya-upaya pemberdayaan dan pembangunan pranata ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat pesisir.

“Rapuhnya ketahanan pangan Indonesia bukanlah fenomena perubahan iklim dan sebab alam lainnya semata, tetapi cermin pemerintah yang lemah dan demoralisasi birokrasi akibat cara berpikir dangkal. Mendahulukan kebutuhan pasar ketimbang pemenuhan kebutuhan pangan nasional. Yang diharapkan warga adalah terpenuhinya kebutuhan dasar. Tak lebih dari itu,” tambah Riza.

Dengan demikian, bencana kelaparan akibat rapuhnya manajemen ketahanan pangan bangsa takkan terulang, jika pemerintah serius dan bertindak efektif, disertai integritas moral dalam menjalankan amanat ± 220 juta penduduk Indonesia, yakni menciptakan kesejahteraan pangan tanpa terkecuali.
@

 

Taken from :WALHI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s