Mengganti pancing, Menyelamatkan Penyu


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

30 Mei 2007

Meski pun sebagian besar nelayan menganggap penyu laut sebagai dewa yang harus dihormati dan juga percaya tabu bahwa jika ada penyu di atas kapal rawai kapal penangkap tuna- longline vessel)dapat mengurangi hasil tangkapan, hidup sebagian penyu kerap berakhir di ujung kail pancing yang digunakan untuk menangkap tuna.

Perbedaan antara kait melingkar besar dengan kait konvensional© WWF-Indonesia, 2007

Data yang terkumpul sejak bulan April-Desember 2006, menunjukkan dari 10 kapal rawai yang menggunakan 539 setting,, dengan jumlah pancing kait sebanyak 832.208, terdapat 85 ekor penyu laut yang tertangkap secara tidak sengaja, satu paus, dua lumba-lumba, dua burung laut dan 507 hiu.

“Penyu yang tertangkap kapal rawai ini kita sebut bycatch atau hasil tangkapan ikutan, juga merupakan salah satu ancaman bagi menurunnya populasi penyu laut yang harus segera dicarikan jalan keluarnya,” jelas Imam Musthofa Zainudin, Senior Fisheries Officer WWF-Indonesia.

Seringnya penyu tertangkap oleh kapal rawai disebabkan oleh kecilnya kait yang digunakan, dan penempatan alat di kedalaman kurang dari 40 meter. Penggunaan cumi-cumi sebagai umpan juga memperburuk kondisi penyu yang tersangkut di kail karena cumi-cumi menempel dikail sangat kuat dan cenderung ditelan masuk oleh penyu.

Kait melingkar besar

Salah satu pemecahan untuk mencegah penyu yang tertangkap secara tidak sengaja dan menghindari kematian penyu, adalah penggunaan kait melingkar besar. Tetapi, di tengah situasi perikanan yang semakin sulit mendapatkan tangkapan, dan pendekatan pengelolaan perikanan secara berkelanjutan berdasarkan ekosistem tidaklah mudah untuk memperkenalkan metode ini.

© WWF-Indonesia

“Meski pun semakin banyak bukti yang bermunculan tentang potensi kait melingkar besar yang dapat mengurangi jumlah penyu yang tertangkap secara tidak sengaja, terdapat sejumlah faktor yang perlu dipertimbangkan demi efektivitasnya diantaranya ukuran dan bentuk, tipe umpan dan lainnya,” jelas Imam lagi.

Bahkan awalnya sulit sekali untuk mencari kapal yang mau berpartisipasi dalam uji coba pancing kait melingkar.” Banyak nelayan yang meragukan kemampuan kait melingkar untuk menangkap tuna, karena ukurannya lebih besar dibandingkan umpan mereka. Akhirnya ada satu kapten kapal yang mau bersedia mencoba kait melingkar ini,” cerita Imam.

Pada Desember 2006, kapten dan kapal rawainya berlayar untuk mencoba efektivitas kait lingkar. Mereka langsung melakukan perbandingan dengan kait konvensional yang biasa mereka gunakan. Dibekali dengan 1000 kait melingkar besar dan 1000 kait tuna konvensional. Pada 10 setting pertama, kapten kapal menunjukkan bahwa tangkapan di kait lingkar lebih baik dibandingkan kait konvensional. Terdapat 10 tangkapan tuna di kait melingkat dan 7 tuna di kait konvensional. Pada akhir pelayarannya, total tangkapan kait melingkar 55%, dan tidak ada penyu laut yang tertangkap. Sementara kait konvensional, hanya 45%, dengan satu penyu terjerat secara tidak sengaja.

“Sejak saat itu, dia semangat mengkomunikasikan hal tersebut melalui radio kepada kapal rawai lainnya, bahkan akhirnya empat kapal lain bersedia mencoba kait melingkar.” Kini sudah mencoba 3500 jaring lingkar dan sejumlah kapal ingin bergabung, sayangnya belum dapat dilakukan karena keterbatasan jumlah kait melingkar yang ada.

Belajar bersama

“Memang menjadi penting untuk mencari dan memperkenalkan teknik baru yang dapat menurunkan tingkat kematian penyu serta tidak dianggap mengurangi tangkapan tuna para nelayan agar mereka bersedia menjaga penyu bahkan juga persediaan tuna yang semakin menipis,” papar Imam lagi.

© WWF-Indonesia

Proses ini dimulai pada 2005, saat melakukan kegiatan observasi di atas kapal rawai, untuk mengenal kehidupan sehari-hari di kapal rawai, serta membuat metode dan protokol sederhana untuk pelaksanaan kegiatan penyelamatan penyu yang tertangkap secara tidak sengaja. Mahasiswa dari Akademi Kelautan Sorong, menjadi relawan pertama yang mengumpulkan informasi dari atas rawai. Dilanjutkan pada tahun berikutnya, dengan tiga orang observer melakukan pengamatan di tiga pelabuhan tuna utama, yaitu Benoa-Bali, Bitung-Sulawesi Utara dan Pelabuhan Ratu-Jawa Barat). Kegiatan ini dilakukan bekerja sama dengan Departemen Kelautan dan Perikanan.

Keberadaan para observer ini sangat penting. Selain memastikan agar penyu laut yang tertangkap secara tidak sengaja dilepaskan secara benar, untuk menghindari penyu mati dilaut, komunikasi yang terjadi antara observer dan kru selama tiga bulan pelayaran merupakan cara efektif untuk melakukan penyadaran dan pengembangan kapasitas tentang konservasi penyu laut. “Kegiatan yang dilakukan oleh observer ternyata dapat menimbulkan rasa ingin tahu dari kru, tentang kenapa jadi penting menyelamatkan penyu,” paparnya.

Imam berharap, upaya ini dapat menjadi langkah positif untuk menjaga kelangsungan hidup penyu di masa depan, juga terlebih lagi penerapan perikanan yang berkelanjutan

@

 

Taken from :WWF.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s