Beronang: Kendala Itu Mulai Sirna


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

Masyarakat pesisir Indonesia Timur kini boleh tersenyum. Sejak 2006 Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau (BRPBAP) Maros, Sulawesi Selatan, berhasil meningkatkan SR pemijahan ikan beronang dari 4% menjadi 90%. Kelangkaan bibit yang terjadi selama 29 tahun akan teratasi.

Beronang salah satu ikan andalan masyarakat pesisir Indonesia bagian timur. Permintaan ikan laut itu melimpah dari restoran dan hotel-hotel di kota-kota besar. Di salah satu restoran yang terletak di Jalan Sulawesi, beronang menjadi menu favorit. Begitu pula di seputaran Panakkukang, beronang ditawarkan dengan berbagai menu.

Pantas bila pembesaran beronang sebagai usaha utama penduduk. Sayang ketersediaan bibit sangat terbatas, sehingga menghambat usaha pembesaran beronang. Musababnya tingkat kelulusan hidup larva sangat kecil, hanya 4%.

Oleh karena itu keberhasilan itu sebuah prestasi besar. Penelitian-penelitian terdahulu, sejak 1978, yang dirintis Sub Balai Penelitian Budidaya Pantai (SBPBP) Bojonegoro-kini dilebur menjadi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Serang-tak sampai mencetak sukses besar. Beronang sepanjang 20 cm dengan fekunditas sekitar 419.000 telur hanya menghasilkan 16.760 bibit.

Bantuan ahli-ahli dari Japan Agency Cooperation Agency (JICA) untuk meningkatkan SR tak banyak menolong. ‘Kita menduga ada ketidakcocokan suhu dan pakan yang menyebabkan SR itu tetap kecil,’ ujar Basyori Achmad, MSc, anggota peneliti Siganus guttatus saat itu-kini koordinator Program BPTP. Hipotesis itu diambil setelah penelitian bersama JICA berjalan selama 7 tahun. Ternyata memang betul, setelah diberi pakan rotifera dan tiram, tingkat hidup burayak naik hingga 90%.

RotiferaMenurut Dr Ir Rachman Syah, MS, kepala BRPBAP Maros, institusinya tertarik meneliti ulang beronang karena anggota famili Singanidae itu memiliki potensi dikembangkan di Sulawesi Selatan. ‘Ikan beronang terkenal lezat. Apalagi di sini banyak tambak-tambak udang windu yang memiliki pakan alami melimpah untuk beronang,’ kata doktor sumber daya pesisir dari IPB itu.

Penelitian yang dimulai awal 2006 itu memanfaatkan rotifera Branchionus plicatilis ukuran kecil dan tiram trichopor tiram untuk pakan bibit beronang. Rotifera yang dikembangkan dengan pakan chlorella Nannochloropsis occulata, itu digunakan untuk larva yang memasuki tahap eksogenus feeding, sekitar umur 16 hari. ‘Pada eksogenus mulut larva berukuran 125 ?m. Saat itu tiram cocok diberikan karena ukurannya lebih kecil dari mulut larva,’ ujar Rachman.

Selepas umur 25 hari larva diberi rotifera dan pakan tambahan nauplii Artemia salina. Itu berlangsung hingga larva menjadi beronang remaja berumur 115 hari. Kombinasi itu memberi keuntungan ganda, selain SR tinggi juga pertumbuhan lebih cepat. Pada umur 115 hari bobot beronang 50 g/ekor dengan panjang tubuh 12 cm. Dengan pakan biasa hanya 5 g/ekor dan panjang 10 cm.

Penelitian SBPBP 29 tahun silam yang dipimpin oleh Dr Edward Danakusuma, MSc, sebenarnya sudah memanfaatkan rotifera dengan pakan tambahan cocepoda, artemia, dan tepung pelet. ‘Larva dipelihara sampai berumur 31 hari dengan SR mencapai 68%,’ ujar mantan Pembantu Dekan 1 Universitas Satya Negara Indonesia. Itu lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan pakan nauplii artemia yang memberikan SR sebesar 58,8%.

Menurut Edward, pemberian rotifera tak perlu tunggal. Rotifera yang dicampur dengan nauplii artemia, dan minyak hiu dapat menaikkan SR hingga 40%. Campuran rotifera dan tepung pelet memberi hasil lebih tingga lagi: 48%. Namun, ‘Setelah umur 31 hari larva menolak campuran pakan itu,’ kata Edward. Padahal, saat itu rotifera tidak bisa diberikan tunggal karena larva sudah besar. Sampai sekarang Edward dan kawan-kawan tengah mencari bahan campuran yang cocok.

Untuk indukUntuk menghasilkan bibit berkualitas, pakan induk perlu diperhatikan. Berikan pakan dengan komposisi protein 46%. Pakan diberikan 3 kali sehari dengan dosis 3-5% dari bobot tubuh. Sebagai pakan tambahan boleh digunakan rumput laut segar sebanyak 20-25% dari total pakan yang diberikan setiap 3 kali seminggu. Agar pematangan telur lebih cepat, induk disuntik hormon LHRH-a dosis 10 ?m/kg dari bobot tubuh.

Induk berkualitas menghasilkan jumlah dan ukuran telur lebih besar. Saat dikawinkan induk jantan dan betina minimal berbobot 300 g dengan rasio 1:2. Kepadatan tebar sebanyak 30 ekor/2,5 ton air. Agar kualitas air terjaga, bak dilengkapi aerator untuk meningkatkan pasokan oksigen terlarut. ‘Jangan lupa mengganti air 150-200% setiap hari,’ kata Rachman.

Sebelum dipijahkan pastikan induk-induk itu sudah matang gonad. Untuk menghitung tingkat kematangan gonad (TKG) bisa dilakukan kanulasi-memasukkan selang ke dalam kelamin, lalu telur disedot. Telur matang berdiameter di atas 450 mikron. Semakin besar ukuran telur, tingkat keberhasilan penetasan lebih tinggi. Sebagai contoh, bila diameter telur antara 546-550 ?m, kemampuan hidup 80-90%. Nilai itu terbukti dalam penelitian yang dilakukan oleh BRPBAP di Maros. Itu berkat pakan tepat yang membuat nilai TGK tinggi dan berdampak pada kemampuan kelulusan hidup bibit hingga 90%. (Lastioro Anmi Tambunan)

@

 

Taken from :trubuson-Rabu, 31 Oktober 2007 20:42:31

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s