FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONVERSI LAHAN TAMBAK DI JAWA TIMUR


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

Tajerin

 

Structural transformation in non fisheries sectors could increase the conversion of brackish land for non fisheries. This article discusses factors affecting conversion of brackish land in East Java province from macro perspective using spatial approach. The 2001 census data were used and analyzed using Box-Cox non- linier regression model. Result showed that from spatial (areas) approach. Factors affected the conversion of brackish land in East Java include development of city areas that significantly influenced proportion of fisheries sector employment on total of employment, rate of urbanization and rate of population growth. The results show that economic growth tend to centralize along certain areas and sectors outside fisheries sectors. Special policy provided incentives is needed to retain the brackish farmer in hitterland to retain in fisheries sector.

 

Key words: brackish land, conversion, spatial

 

Perkembangan suatu wilayah akan sangat terkait dengan perubahan yang terjadi pada komponen utama dari suatu wilayah. Perubahan salah satu komponen dari wilayah akan mempengaruhi komponen lainnya, dan perubahan itu dapat menunjukkan adanya suatu proses pertumbuhan, stagnasi atau kemunduran wilayah. Pemahaman terhadap perubahan di suatu wilayah akan berarti sama halnya dengan pemahaman mengenai faktor yang mempengaruhi perubahan suatu wilayah sebagai suatu proses yang melibatkan suatu interaksi yang kompleks antara aktivitas-aktivitas yang ada di suatu wilayah (Winoto, 1995). Hal lain yang perlu dilihat dalam menilai perubahan suatu wilayah adalah transformasi struktural yang terjadi di wilayah tersebut, baik yang berkaitan dengan transformasi ekonomi, ketenagakerjaan, demografi, sosial dan budaya masyarakat (Winoto, 1996).

Transformasi struktural, dalam prosesnya akan memberi tekanan kepada permintaan lahan di luar sektor perikanan, khususnya lahan tambak yang berdekatan dengan kawasan perkotaan. Menurut Anwar (1994) kebanyakan kota besar di Indonesia mempunyai hitterland lahan pertanian (termasuk perikanan) yang mempunyai akses lebih baik ke kawasan perkotaan. Seperti diketahui proses perubahan struktural yang tercermin dari pertumbuhan sektor-sektor strategis seperti industri, jasa maupun perdagangan, umumnya dari kawasan kota (Sandy, 1989), sehingga terjadinya proses perubahan struktural akan memperbesar proses konversi lahan tambak menjadi lahan non perikanan.

Ketersediaan lahan secara total bersifat tetap di suatu wilayah, sedangkan permintaan terus bertambah dengan cepat terutama di sekitar kawasan perkotaan. Hal ini didorong oleh pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan, kegiatan ekonomi dan migrasi dari wilayah lain maupun wilayah hitterland kota di wilayah yang bersangkutan (urbanisasi) (Nasoetion dan Wagner, 1985). Desakan peningkatan kebutuhan akan lahan tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong terjadinya konversi lahan perikanan karena di satu sisi kondisi kegiatan usaha perikanan yang tengah mengalami kelesuan karena berbagai penyebab, di sisi lain kebutuhan ekonomi yang terus menekan para pemilik lahan baik untuk keperluan hidup sehari-hari maupun untuk menutupi kerugian usaha yang dialaminya. Salah satu lahan perikanan yang mendapatkan tekanan terhadap peningkatan kebutuhan lahan untuk penggunaan non sektor perikanan adalah lahan pertambakan.

Fenomena seperti di atas banyak terjadi di daerah dengan pertumbuhan ekonomi tergolong pesat seperti daerah Propinsi Jawa Timur dengan Kota Surabaya sebagai Central Business District (BCD) dan daerah-daerah sekitarnya sebagai hitterland-nya seperti Gresik, Sidoarjo, dan Pasuruan. Luasan lahan tambak di Jawa Timur selama kurun waktu tujuh tahun terakhir (1995-2000) terus mengalami penurunan sebesar 40,0% (Tabel 1). Penurunan luasan lahan tambak tersebut mengindikasikan terjadi konversi lahan tambak untuk penggunaan non perikanan yang terus bertambah dalam jumlah yang cukup besar.

Lahan, termasuk di dalamnya lahan tambak dalam kegiatan produksi merupakan salah satu faktor produksi tetap. Dari sudut pandang teori lokasi atau pengembangan wilayah, suatu bidang lahan terkait dengan landrent yang merupakan cerminan mekanisme pasar mencakup Ricardian rent (menyangkut fungsi dan kualitas lahan) dan location rent (menyangkut fungsi aksesibilitas lahan) (Anwar, 1990; Nasoetion dan Rustandi, 1990).

Secara teoritis alokasi pemanfaatan lahan yang dilaksanakan melalui mekanisme pasar cenderung mengakibatkan missalocation sumberdaya lahan. Hal ini karena struktur pasar sumberdaya lahan tidak sempurna dan tidak mencakup penilaian eksternalitas. Kegagalan mekanisme pasar, khususnya pasar lahan, sangat merugikan pembangunan terutama ditinjau dari perspektif jangka panjang karena opportunitas penggunaan lahan relatif sangat besar (Pierce dan Turner, 1990). 

 

Tabel 1. Perkembangan Luas Lahan Tambak dan Perubahannya di Propinsi Jawa Timur (1995-2000)

Kabupaten 

Luas Lahan (ha)

 Perubahan

1995

1996

1997

1998

1999

2000

ha

%

Tuban

423

423

423

423

423

340

-83

-0.20

Lamongan

130

100

133

133

193

125

-5

-0.04

Gresik

5,428

5,442

5,443

5,443

5,450

3,292

-2,136

-0.39

Surabaya

1,621

1,651

1,651

1,651

722

355

-1,266

-0.78

Bangkalan

1,719

1,719

1,593

1,567

1,567

1,447

-272

-0.16

Sampang

1,938

1,938

1,942

1,942

1,942

1,253

-685

-0.35

Pamekasan

346

263

268

329

329

280

-66

-0.19

Sumenep

607

643

646

646

653

490

-117

-0.19

Sidoarjo

2,911

1,297

1,242

1,242

1,242

1,100

-1,811

-0.62

Pasuruan

1,243

1,243

1,381

1,381

1,381

1,030

-213

-0.17

Kota Pasuruan

450

421

393

363

393

350

-100

-0.22

Probolinggo

494

530

536

536

538

280

-214

-0.43

Kota Probolinggo

121

121

80

80

80

97

-24

-0.20

Situbondo

187

187

187

187

187

127

-60

-0.32

Banyuwangi

40

36

36

36

32

26

-14

-0.35

Muncar

78

72

72

72

72

52

-26

-0.33

Jember

8

8

7

7

7

5

-3

-0.38

Lumajang

3

3

3

3

5

2

-1

-0.33

Malang

14

14

14

14

12

11

-3

-0.21

Blitar

2

3

3

3

3

1

-1

-0.50

Tulungagung

2

2

2

3

3

1

-1

-0.50

Jumlah (ha)

17,765

16,116

16,055

16,061

15,234

10,664

-7,101

-0.40

Sumber: Buku tahunan Statistik Perikanan Propinsi Jawa Timur Periode 1995-2000

 

Lahan, khususnya lahan tambak tipologi penggunaannya sangat strategis bagi Indonesia, hal ini didasarkan oleh: (a) tambak merupakan salah satu rekayasa teknologi sumberdaya lahan dengan investasi yang besar, (b) tambak yang produktif dapat dijadikan sebagai alternatif menekan kecenderungan migrasi ke kota, namun tambak yang tidak produktif justru turut menyokong kecenderungan migrasi ke kota yang sulit dihindari, dan (c) konflik pemanfaatan sumberdaya lahan khususnya lahan tambak yang akan dikonversi untuk penggunaan non perikanan seperti industri dan perumahan membutuhkan strategi antar sektor.

Pendekatan makro (spasial) mengasumsikan bahwa perencana pembangunan wilayah sebagai pengambil keputusan terhadap penggunaan lahan di suatu lokasi, namun dalam prosesnya secara makro konversi suatu lahan seperti lahan tambak di Jawa Timur untuk penggunaan non perikanan akan dipengaruhi oleh banyak faktor, tidak saja yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah namun dipengaruhi pula faktor lainnya yang berkaitan dengan kondisi pertumbuhan ekonomi, kepadatan penduduk, urbanisasi, tingkat upah dan ketenaga kerjaan serta masih banyak faktor lagi.  Faktor-faktor tersebut dari sudut pandang perwilayahan (spasial) bagi daearah Jawa Timur akan menentukan seberapa cepat proses konversi lahan tambak ke penggunaan lainnya di luar sektor perikanan, seperti sektor industri, jasa, sarana dan prasarana.

Oleh karena itu, penyusunan suatu rencana penggunaan suatu lahan untuk penggunaan pada banyak sektor sangat memerlukan kecermatan dan kehati-hatian agar terhindar dari konflik kepentingan dan kerugian sosial, ekonomi maupun lingkungan pada masa mendatang.

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi konversi lahan tambak secara makro dengan pendekatan spasial dipandang sangat diperlukan terutama dikaitkan dengan upaya menselaraskan kepentingan beberapa sektor serta mensinergiskannya demi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan menggunakan kasus kajian di Daerah Jawa Timur, diharapkan dari hasil penelitian dapat diperoleh masukan-masukan yang dapat diberikan sebagai bahan pertimbangan khususnya untuk mengefektifkan kebijakan antisipatif meningkatnya konversi lahan tambak di beberapa daerah di Indonesia. 

 

LANDASAN TEORITIS

 

Secara teoritis konversi lahan tambak ke penggunaan lain di luar perikanan tidak terlepas dari pengaruh berbagai faktor baik faktor ekonomis secara keseluruhan maupun faktor demografis. Berdasarkan asumsi bahwa persediaan lahan (supply) adalah tetap maka pertumbuhan ekonomi yang dicerminkan oleh tumbuhnya beberapa sektor ekonomi akan membutuhkan lahan-lahan baru. Apabila lahan tambak tersebut berada di dekat pusat pertumbuhan ekonomi terutama di kawasan perkotaan maka secara langsung atau tidak langsung akan menekan lahan tambak ke penggunaan lain seperti pemukiman, industri maupun sarana prasarana. Hal ini disebabkan oleh karena rent per satuan luas lahan yang diperoleh dari ektivitas baru lebih tinggi dari sektor perikanan. Hal tersebut secara logika berimplikasi terjadinya relokasi lahan yang semakin cepat dan meluas. Sebaliknya bila secara agregat nilai proporsi sektor perikanan tambak menunjukkan kecenderungan yang tinggi maka proses konversi lahan tambak tersebut akan cenderung lebih lambat.

Mengingat produktivitas sektor perikanan yang semakin menurun dan di lain pihak nilai tukar sektor perikanan (di-proxi dari sektor pertanian) terhadap sektor lain seperti sektor industri yang semakin menurun juga maka jumlah pekerja di sektor perikanan cenderung terjadi penganguran tak kentara berindikasi kuat pada proses terjadinya konversi lahan tambak tersebut.  Akibatnya secara teoritis proporsi tenaga kerja sektor perikanan terhadap total pekerja diduga berkorelasi dengan konversi lahan tambak secara negatif, artinya semakin besar proporsi pekerja perikanan tersebut justru akan mengurangi proposri lahan tambak secara keseluruhan.

Di Propinsi Jawa Timur sebagai daerah penelitian kondisi mobilitas barang dan jasanya relatif tinggi, implikasinya adalah orientasi kebijaksanaan pengembangan perikanan khususnya dari perikanan tambak akan bersifat lebih relatif, bukan bersifat absolut. Hal ini berpengaruh terhadap kebijaksanaan proporsi tambak yang diperlulkan oleh wilayah. Secara empirik kebijaksanaan ini diperlukan dalam rangka menghadapi perluasan kota-kota di Propinsi Jawa Timur serta kuatnya pengaruh kota besar (seperti Surabaya, Malang, Kediri dan Jember). Implikasinya justru terhadap tingkat urbanisasi lewat proses reklasifikasi wilayah yang akan lebih menekan lahan-lahan perikanan seperti lahan tambak di sekitarnya. Dalam pengertian ini mempunyai implikasi bahwa tidak setiap wilayah yang padat penduduknya berpotensi mempunyai efektif yang besar terhadap lahan sekitarnya.

Dengan demikian hanya kawasan padat di sekitar kota yang berpotensi mempunyai permintaan efektif kuat terhadap lahan. Faktor tersebut diduga mempengaruhi terjadinya proses konversi lahan tambak secara agregat (wilayah).  Di samping itu dapat diduga pula bahwa hanya pertumbuhan penduduk perkotaan saja yang mempunyai peranan dalam proses konversi lahan tambak di sekitarnya. 

Berdasarkan pemikiran di atas, secara ringkas konversi lahan tambak diduga ditentukan oleh proporsi PDRB perikanan (sebagai proxi dari PDRB yang berasal dari usaha terkait dengan perikanan tambak) terhadap PDRB wilayah, proporsi pekerja perikanan terhadap total, tingkat urbanisasi, pertumbuhan penduduk perkotaan dan total luas wilayah.

 

METODOLOGI PENELITIAN

 

Penentuan Wilayah Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Propinsi Jawa Timur dengan pertimbangan: (a)  daerah tersebut merupakan salah satu penghasil udang atau ikan hasil budidaya di lahan tambak dalam jumlah yang tergolong besar di Indonesia, (b) Propinsi Jawa Timur juga mempunyai jumlah penduduk terbesar kedua setelah Jawa Barat, dan (3) proses urbanisasi di daerah Jawa Timur merupakan tertinggi di Jawa.

Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan spasial (makro) yang dilakukan menggunakan tiga jenis agregasi data (Nasoetion, 1982; Richardson, 1977), yaitu: pertama, agregasi lintas wilayah (space), dengan alasan karena tidak mungkin mengumpulkan data pada setiap titik dalam kawasan. Proses ini disebut dengan perwilayah (regionalisation).  Kedua, agregasi data lintas waktu (time) yang dikenal dengan istilah periodisasi. Hal ini juga merupakan keharusan karena ketidakmungkinan untuk mengumpulkan data pada setiap titik waktu.  Ketiga, agregasi antar jenis dan aktivitas ekonomi ke dalam bentuk yang lebih besar.  Aktivitas ini disebut dengan sektorisasi (sectorisation).

Pendekatan spasial (wilayah) tersebut merupakan salah satu alternatif selain pendekatan mikro (petani), dimana wilayah digunakan sebagai unit analisis yaitu wilayah satuan administratif kabupaten atau kota. Periodisasi data yang digunakan adalah data tahunan, sebagai contoh data demografis menggunakan sensus penduduk, demikian juga data lahan menggunakan data yang bersumber dari BPS.  Untuk mengestimasi pendapatan per kapita dan kesenjangannya diambil dari PDRB dan pendapatan per kapita diambil data tentang desa dan penduduk miskin di Jawa Timur yang bersumber dari BPS. 

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder menyangkut peubah-peubah yang digunakan dalam model analisis yang terdiri dari 21 buah daerah di seluruh daerah kota dan kabupaten di Propinsi Jawa Timur (Tabel 1). Adapun data tersebut bersumber dari BPS hasil SENSUS 2001 maupun instansi lain seperti Laporan atau Publikasi dari Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Jawa Timur dan Badan Pertanahan Nasional Propinsi Jawa Timur.

 

Pendekatan Model dan Analisis Data

 

Metoda Analisis

Untuk menguji faktor yang mempengaruhi konversi lahan tambak secara spasial (wilayah) dilakukan dengan menggunakan model Box-Cox (Pindyck dan Rubinfeld, 1991).   Secara umum model regresi non linier dari Box-Cox adalah sebagai berikut:

   ……………………………….. (1)

Jika l = 1 diperoleh sebuah model linier biasa, sehingga:

………………………………….…..(2)

dimana:

Yi – 1 adalah  peubah terikat (dependent variable)

Xi – 1 adalah peubah bebas (independent variable)

 

Jika l = 0 maka analisisnya akan lebih kompleks sebab (Yil – 1) / l menjadi tak tentu, dan nilai Yi adalah:

Yi = exp (log Yi) = 1 + log Yi + (1/2) (log Yi)2 +     …………………..(3)

Sehingga:   ……………………………………………(4)

Hasil akhir transformasi model Box-Cox merupakan model log linier sebagai berikut:

Log Yi = a + b log Xi + eI

Dengan mempergunakan Maximum Likelihood Estimation (MLE) melalui program Statistic Analysis System (SAS) dapat dilakukan pendugaan nilai parameter dan menguji model tersebut apakah termasuk model linier atau model log linier. Rumusan Maximum Likelihood Estimatin (MLE) untuk model Boc-Cox (L) adalah sebagai berikut:

…..(5)  

Dengan membandingkan nilai L dari persamaan (5) tersebut, jika l = 0 dan l = 1 dapat diperoleh sebuah model yang relevan. Secara empirik dugaan modelnya adalah sebagai berikut:

 …………(6)

dimana:

Ctam =  proporsi luas lahan tambak konversi per total luas wilayah

Pden =  kepadatan penduduk per km2 suatu wilayah

Lspt   =  total luas wilayah

Ifss   =  proporsi PDRB perikanan suatu wilayah

Itot   =  PDRB total suatu wilayah

Errt  =  tingkat urbanisasi penduduk suatu wilayah

Epsp =  proporsi tenaga kerja sektor perikanan suatu wilayah terhadap total pekerja

Epkt =  tingkat pertumbuhan penduduk perkotaan

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Gambaran Umum Konversi Lahan Tambak di Jawa Timur

Secara teoritis lahan mempunyai kemungkinan penggunaan yang bermacam-macam, sehingga dalam suatu waktu pilihan penggunaan lahan dianggap sebagai cerminan penggunaan lahan yang optimal. Optimalisasi penggunaan suatu lahan akan berubah bila terdapat pergeseran nilai rent ekonomi dari lahan tersebut atau manfaat marjinal dari peubahan alokasi penggunaan lahan tersebut lebih besar dari ongkos marjinal yang diakibatkan oleh perubahan tersebut sehingga menyebabkan terjadinya realokasi lahan ke penggunaan lainnya (Pakpahan & Anwar, 1989).

Selama tahun 2000 di Jawa Timur berbagai aktivitas pembangunan mengakibatkan terjadinya perubahan tata guna lahan tambak. Perubahan luasan lahan tambak dan perkembangan lahan untuk industri dan pemukiman diduga sangat erat kaitannya dengan konversi lahan tambak ke penggunaan non perikanan melalui berbagai parameter yang mempengaruhinya. Dari Tabel 1 terlihat bahwa selama kurun waktu tujuh tahun terakhir (1995-2000) luasan lahan tambak di Jawa Timur berkurang rata-rata sebesar 40,0% per tahun, dimana perubahan terbesar terjadi di kawasan strategis seperti Surabaya dan kawasan hitterland-nya.

Terdapat dugaan bahwa kawasan pertumbuhan seperti kota-kota besar beserta kawasan hitterland di sekitarnya mempunyai kecenderungan meningkatkan realokasi lahan. Hal ini berkaitan dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya, selain pertumbuhan ekonomi juga tekanan penduduk akibat konsentrasi migrasi dari daerah lain di sekitarnya. Dua faktor ini menjadi penyebab langsung maupun tidak langsung dari pergeseran rent lahan tanpa kecuali lahan tambak yang berada di sekitarnya. Akibatnya terjadi penggunaan lahan yang produktif ke arah penggunaan non perikanan seperti industri, perumahan dan sarana prasarana. Perubahan ini mengikuti sistem ekonomi pedesaan ke sisitem ekonomi urban.

Arah pergeseran proporsi luasan lahan sawah untuk setiap kawasan dan proporsi luas pemukiman terhadap total luas lahan tambak, sedikit banyak menggambarkan pergeseran sistem urban tersebut. Secara umum pergeseran tersebut selain mengikuti perkembangan kota dimana semakin besar kota semakin besar pula pergeserannya, juga mengikuti pola jalur alteri mulai Surabaya beergerak ke timur dan ke barat. Surabaya sebagai pusat urban dan sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur mewarnai arah dan corak pergeseran tersebut. Di samping mampu mempengaruhi kawasan pinggiran juga hitterland di sekitarnya yaitu Mojokerto, Gersik dan Siodarjo. Tampak bahwa sekitar Surabaya tersebut terjadi perubahan proporsi luas lahan tambak terhadap total luas lahan yang cenderung menyusut.

 

Pendugaan Faktor Penentu Konversi Lahan Tambak Secara Spasial

Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi konversi lahan tambak secara spasial (wilayah) digunakan data SENSUS 2001 dengan memakai model regresi Box-Cox, agregasi data dilakukan hingga tingkat kabupaten atau kota di Propinsi Jawa Timur. Berdasarkan hasil analisis (Tabel 2) diketahui bahwa dari tujuh peubah yang secara nyata berpengaruh terhadap proporsi luas lahan tambak dengan total luas wilayah (sebagai proxi dari luas konversi lahan tambak adalah (a) proporsi pekerja perikanan terhadap total pekerja, (b) tingkat urbanisasi dan (c) tingkat pertumbuhan penduduk perkotaan.

Proporsi tenaga kerja di sektor perikanan yang berpengaruh nyata dengan arah yang negatif terhadap proporsi luas lahan tambak dengan nilai elastisitas sebesar -1,4267, artinya setiap 1% penurunan proporsi pekerja perikanan terhadap total pekerjaan ceteris paribus maka proporsi lahan tambak terhadap total wilayah (konversi lahan tambak) meningkat sebesar 0,79%. Dengan perkataan lain proses konversi lahan tambak untuk penggunaan non perikanan meningkat sebesar 0,79% apabila proporsi pekerjaan di sektor perikanan menjadi rendah sebesar 1% terhadap total kesempatan bekerja.  Hal ini dapat terjadi karena produktivitas tenaga kerja di sektor perikanan yang rendah dan adanya pengangguran tak kentara di sektor tersebut. Dikaitkan dengan kecenderungan tingkat upah di sektor perikanan yang semakin tinggi untuk kawasan di dekat pusat pertumbuhan, bukan karena tingginya produktivitas tenaga kerja tetapi semata-mata disebabkan oleh terjadinya kelangkaan tenaga kerja di sektor tenaga kerja (khususnya yang muda) cenderung lebih memilih bekerja di sektor lainnya khususnya sektor industri, jasa, bahkan di sektor informal. Fenomena konversi lahan tambak di kawasan pinggiran semakin tinggi karena produktivitas lahan tambak tersebut rendah apabila tingkat upah pekerja di tambak cenderung tinggi.

Perkembangan kawasan perkotaan berpengaruh kuat terhadap proses konversi lahan tambak. Hal ini dibuktikan dengan peranan urbanisasi yang berkorelasi negatif dan menunjukkan nilai elastisitas sebesar –0,7869. Setiap 1% peningkatan urbanisasi masyarakat desa ke perkotaan ceteris paribus maka proporsi luas lahan tambak terhadap total luas wilayah akan berkurang sebesar 0,78%. Dengan pengertian bahwa konversi lahan meningkat sebesar 0,78% apabila tingkat urbanisasi meningkat sebesar 1%. Demikian juga dengan faktor tingkat pertumbuhan penduduk kawasan perkotaan yang menunjukkan pengaruh yang nyata dengan arah nyang negatif terhadap proporsi luas lahan tambak  terhadap  total  luas  wilayah   dengan   nilai   elastisitas   sebesar

–03925, artinya setiap 1% peningkatan pertumbuhan penduduk kawasan perkotaan ceteris paribus akan menyebabkan penurunan proporsi luas lahan tambak terhadap total luas wilayah sebesar 0,39%. Dengan pengertian bahwa konversi lahan tambak akan bertambah sebesar 0,39% bila pertumbuhan penduduk kawasan perkotaan meningkat sebesar 1%.

 

Tabel 2. Pengujian Faktor-Faktor Penentu Konversi Lahan Tambak untuk Penggunaan Luar Perikanan di Jawa Timur

 

Peubah

 

 

Koefisien

 

Simpangan Baku

 

t-hitung

 

Elastisitas

 

1.  Pden

2.  Lspt

3.  Ifss

4.  Itot

5.  Errt

6.  Epsp

7.  Epkt

Konstanta

R2

LLF

 

 0,1225

-0,8473

 0,4177

 0,2578

-0,4107

-1,0536

-0,2176

-0,8673

   0,74312

23,6451

 

 

0,5947

0,2135

0,7544

0,1875

0,1364

0,2125

0,1369

0,2208

 

 

 

  1,6202

 -0,5461

  0,6736

  1,5426

 -2,6193***

 -2,8305***

 -2,2744**

 -4,0038***

 

 

 0,2164

-0,1318

 0,0762

 0,3238

-0,7869

-1,4267

-0,3925

-2,6571

Keterangan:  ***)  berbeda nyata pada taraf a = 1%

         **)   berbeda nyata pada taraf a = 5%

 *)   berbeda nyata pada taraf a = 1%

 

Pengaruh faktor urbanisasi dan perkembangan penduduk kawasan perkotaan terhadap proporsi luas lahan tambak terhadap total luas wilayah berarti bahwa semakin berkembang kawasan perkotaan semakin mempercepat peluang konversi lahan tambak. Urbanisasi kuat pengaruhnya terhadap konversi lahan tambak dan berkorelasi negatif, artinya semakin besar proporsi penduduk perkotaan cenderung memperbesar proses konversi lahan tambak khususnya di sekitar perkotaan tersebut atau di tempat lain yang dianggap potensial dalam hal aksesibilitas. Dengan demikian konversi lahan tambak secara spasial (wilayah) tidak ditentukan oleh kepadatan penduduk semata tetapi juga oleh kepadatan penduduk yang disertai kekuatan daya beli yang umumnya berada di sekitar kawasan perkotaan.

Peubah bebas lain walaupun tidak berpengaruh nyata tetapi memiliki arah korelasi yang konsisten terhadap peluang konversi lahan tambak secara spasial (wilayah). Hal ini dapat disebabkan karena faktor penentu tersebut bersifat kompleks sehingga pengaruh faktor di luar wilayah yang justru akan mempengaruhi proses konversi lahan tambak di suatu wilayah. Kemudian ketidaknyataan pengaruh dari peubah bebas tersebut dapat dimungkinkan karena agregasi data sekunder yang cenderung bias.

Secara teoritis peubah pertumbuhan ekonomi (PDRB sektor perikanan) yang tidak berpengaruh nyata terhadap konversi lahan tambak adalah tidak konsisten, tetapi secara empirik dapat dimungkinkan karena pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur masih memusat di perkotaan saja dan tidak menetes ke bawah atau wilayah hitterland. Bagi hitterland pertumbuhan ekonomi tersebut tidak akan mempengaruhi realokasi lahan secara merata dan hanya berpengaruh di wilayah pinggiran kota atau tempat-tempat yang aksesnya baik seperti dekat kawasan pelabuhan, jalan arteri ataupun dekat pusat pelayanan dan kawasan pertumbuhan.

 

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

 

Kesimpulan

Secara spasial (wilayah) proses konversi lahan tambak di Jawa Timur dipengaruhi oleh perkembangan kawasan perkotaan yang pesat. Hal ini dicerminkan oleh pengaruh yang nyata dari faktor proporsi tenaga kerja sektor perikanan terhadap total tenaga kerja, tingkat urbanisasi dan tingkat pertumbuhan penduduk perkotaan, masing-masing menunjukkan elastisitas peluang bernilai negatif terhadap proporsi luas lahan tambak terhadap total luas wilayah. Pengaruh yang nyata dari ketiga faktor tersebut terhadap konversi lahan tambak menunjukkan bahwa besarnya pengaruh pembangunan kawasan terhadap konversi lahan tambak. Sebaliknya faktor pertumbuhan PDRB wilayah maupun PDRB sektor perikanan tidak memiliki pola yang nyata terhadap peluang konversi lahan tambak tersebut. Secara implisit terungkap bahwa pertumbuhan ekonomi hanya memusat pada wilayah dan sektor tertentu di luar perikanan, yaitu pada kawasan pusat pertumbuhan dan sector yang memiliki komersial tinggi (seperti sektor industri, jasa, perumahan dan sarana prasarana).

 

Implikasi Kebijakan

Hasil pengujian secara statistik membuktikan bahwa pertumbuhan kota-lah yang menentukan konversi lahan tambak, karena konversi tersebut lebih banyak ditentukan oleh faktor proporsi tenaga kerja sektor perikanan, tingkat urbanisasi dan pertumbuhan penduduk kawasan perkotaan. Sedangkan dugaan bahwa konversi lahan tambak ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi ternyata ditolak. Kuatnya peranan kota dan pertumbuhan ekonomi yang cenderung memusat berimplikasi perlunya kebijakan khusus bagi petani tambak di kawasan pinggiran perkotaan. Mengingat bahwa rendahnya produktivitas dan kurangnya insentif di sektor perikanan akan memperbesar peluang konversi lahan tambak, maka para petani ikan di kawasan pertambakan yang jauh dari pusat pertumbuhan dan relatif aman dari tekanan konversi lahan tambak, seyogyanya dapat diberikan insentif sebagai perangsang untuk tetap bekerja di sektor perikanan, di samping hal ini penting untuk menjaga produksi hasil perikanan khususnya yang berasal dari budidaya tambak. 

Selain itu kuatnya peranan pertumbuhan kawasan terhadap peluang konversi lahan tambak namun pola pertumbuhan kawasan yang ada tersebut cenderung memusat. Hal ini berarti bahwa kawasan yang padat tersebut tidak selalu mempunyai peluang yang kuat terhadap konversi lahan tambak, tetapi hanya terbatas pada kawasan perkotaan atau pinggiran karena besarnya potensi permintaan efektif terhadap lahan. Untuk itu hendaknya dalam pembangunan kawasan lebih memperhatikan keterkaitan dengan usaha mengurangi pengangguran tersembunyi di sektor perikanan sehingga kemungkinan terjadi konflik dalam pemanafaatan lahan dapat dikurangi.

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Anwar, A. (1990). Beberapa konsepsi alokasi sumberdaya alam untuk penentuan kebijaksanaan ke arah pembangunan yang berkelanjutan. Makalah disampaikan pada Seminar Ilmu Tanah Indonesia. Tanggal 9-10 Oktober 1990. Ujung Pandang. 

Anwar, A. (1994).  Masalah pembangunan di kawasan perkotaan. Mata Ajaran Sistem Ekonomi Perkotaan dan Pembangunan Regional, Jurusan PWD Program Pascasarjana IPB, Februari 1994.

Nasoetion, L.I. (1982). Analisis lokasi. Diktat Bahan Kuliah Jurusan Pengembangan Wilayah dan Pedesaan (PWD), IPB, Bogor.

Nasoetion, L.I. dan Wagner, M. (1985). Struktur tata ruang wilayah yang memusat: Penyebab dan pengaruhnya pada daerah belakang. Studi Kasus Kodya Tebing Tinggi Sumatera Utara. Tesis. Bogor: Fakultas Pascasarjana, IPB.

Nasoetion, L.I. dan Rustandi, E. (1990). Masalah konversi lahan sawah ke penggunaan non sawah fokus Jawa-Bali. Makalah Disampaikan pada Pertemuan Ilmiah “Pembangunan Pedesaan dan Masalah Pertanian” Tanggal 13 – 15 Februari 1990. Yogyakarta: PAU Studi Sosial – UGM.

Pakpahan, A. dan Anwar, A. (1989). Faktor-faktor yang mempengaruhi konversi lahan sawah. Jurnal Agro Ekonomi Vol. 8 No. 1, Mei 1989. Bogor: Pusat Penelitian Agro Ekonomi, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Pierce, D.W. and Turner, R.K. (1990). Economics at natural resource and the enviroment. New York, London, Toronto, Sidney, Tokyo: Harvesten Wheatbeaf.

Pindyck, R.S. and Rubinfeld, D.C. (1991). Econometric Models And Economics Forecast. Third Edition. New York: McGraw-Hill.

Richardson, H.W. (1977). Dasar-dasar ilmu ekonomi regional. Terjemahan Program Perencanaan Nasional. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Sandy, J.M. (1989). Esensi pembangunan wilayah dan penggunaan tanah berencana. Jakarta: Penerbit Geo-MIPA, Universitas Indonesia.

Winoto, J. (1995). Kriteria proyek-proyek dan program-program pembangunan yang seharusnya diprioritaskan pendanaannya dalam pembangunan nasional. Bogor: Bahan Kuliah Studi PWD Pascasarjana IPB.

Winoto, J. (1996). Transformasi struktur perekonomian dan ketenagakerjaan nasional: Tinjauan teoritis dan aplikasinya terhadap transformasi perekonomian dan ketenagakerjaan nasional yang telah terjadi dan proyeksinya sampai akhir PJP II. Bogor: Program Studi PWD Pascasarjana IPB.

@

 

Source :PustakaUT-Jounal Studi Indonesia

One thought on “FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONVERSI LAHAN TAMBAK DI JAWA TIMUR

  1. Hasil Penelitian anda bagus, mohon info lain tentang pertambakan yaa

    Selamat Berjuang

    Purbo Santosa
    Mahasis s2 Teknik Perencanaan Pendidikan Unibraw Malang
    Sedang menyusun tesis

    SMK Perikanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s