Laut Indonesia, laksana Intan Tak Terasah


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net


Jumat, 26 Januari 2007

Jika rindu laut, penduduk Jakarta tak punya pilihan lagi selain pergi ke Ancol. Mereka bisa menikmati tiupan angin laut di tepi pantai Ancol yang saat itu, masih bisa dibilang nyaman. Tapi kini tidak lagi. Wilayah Ancol Timur diberi nama pasir putih kini pasirnya tidak lagi putih, melainkan abu-abu kecokelatan. Tidak heran, laut di belahan utara Jakarta itu sekarang sudah terpolusi berbagai macam limbah buangan kapal dan pabrik. Kini, daripada pergi ke pantai Ancol, orang lebih suka menikmati serunya permainan di Dunia Fantasi (Dufan). Atau suguhan musik di kafe-kafe sekitarnya.

Menurut data yang dihimpun Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PPO-LIPI), kandungan merkuri (Hg) pada beberapa jenis biota dan tambak di Teluk Jakarta sudah mencapai tingkat mengkhawatirkan. Dari hasil penelitian, tingkat pencemaran air Teluk Jakarta tergolong kritis. Sebagian besar pencemaran berasal dari hasil buangan limbah zat organik industri. Jenis pencemaran oleh industri tersebut dinilai sangat berbahaya bagi kesehatan manusia karena mengandung limbah B3 (bahan beracun berbahaya), yang terdiri dari berbagai jenis zat organik toksik dan logam berat. Industri pestisida adalah salah satu yang membuang B3. Sungguhpun industri itu telah memiliki instalasi pengolah air limbah, tapi sisa pembuangan akhir dari residu pestisida hasil pembersihan air limbah tetap mengkhawatirkan.

Pengetahuan mengenai parahnya kondisi Teluk Jakarta ini mau tak mau menggugah ilmuwan LIPI untuk menerapkan teknologi antisipasi. Sebab jika dibiarkan maka bukan tak mungkin air laut di Teluk Jakarta bisa meracuni seluruh penduduk Jakarta di kemudian hari.

“Dari hasil penelitian bertahun-tahun, kami bersama teman-teman dari LIPI lainnya telah memiliki bahan untuk ilmu terapan. Dari ilmu terapan ini maka kita sudah semakin dekat dengan action. Penelitian dasar ini memerlukan biaya cukup besar. Namun jika ditilik, keuntungannya jauh lebih banyak di masa mendatang. Inilah yang kurang disadari pemerintah,” ujar Yan Sophaheluakan, peneliti oseanologi dan metalurgi dari PPO-LIPI kepada SH akhir pekan silam di Jakarta.

Penelitian yang dilakukan tidak hanya terbatas pada laut Teluk Jakarta, tapi juga seluruh laut di Indonesia. Dengan mengetahui kondisi laut kita yang sesungguhnya, maka bisa ditemukan solusinya. Menurut Dr. Malikusworo Hutomo, ahli peneliti utama di PPO-LIPI, ada tiga masalah mendasar dalam perlindungan lingkungan dan ekosistem laut, yaitu pencemaran, kerusakan habitat fisik dan eksploitasi berlebihan.

“Untuk melakukan riset kita menghadapi terlalu banyak masalah dan tantangan. Akhirnya kita melakukan riset tidak hanya pada bidang biogeofisik tetapi juga mengenai sosioekonomis,” ujar Melikusworo. Ia juga menyebut bahwa kerusakan fisik habitat pesisir laut meliputi penebangan pohon mangrove, kerusakan terumbu karang, erosi dan sedimentasi atau pendangkalan. Padahal wilayah pesisir laut merupakan tempat di mana kegiatan ekonomi paling sering dilakukan manusia. Jadi ada jutaan penduduk berprofesi sebagai nelayan yang terancam mata pencariannya apabila perusakan wilayah pesisir tidak segera dihentikan.

Data dari PPO-LIPI menyatakan, hanya tujuh persen dari batuan karang masih dalam keadaan baik sedangkan 70 persen rusak parah. Data resmi lainnya menyatakan bahwa dari total luas batuan karang di Indonesia yang mencapai 60.000 meter persegi, hanya enam persen dalam keadaan baik. Saat ini PPO-LIPI sendiri tengah melakukan kegiatan konservasi terumbu karang pada 15 persen wilayah laut dangkal Indonesia. Area tersebut meliputi Kepulauan Seribu, Taman Nasional Komodo, taman Wisata Alam Pulau Banyak, Aceh Selatan, Taman Laut Tujuhbelas Pulau, Flores dan banyak lagi.

Baku Mutu

Sebenarnya mutu air laut Teluk Jakarta sendiri sudah demikian memprihatinkan. Hasil pemantauan kualitas air laut di Teluk Jakarta menunjukkan kondisi perairan di pesisir utara Jakarta sudah tidak memenuhi baku mutu air laut bagi perikanan atau biota air terutama di daerah muara sungai. Selain itu, secara fisik pantai Teluk Jakarta mengalami perubahan garis pantai akibat proses abrasi dan akresi sebagai salah satu akibat pembangunan di wilayah pantai maupun daratan.

“Baku mutu air laut merupakan suatu peraturan perundangan mengenai pembatasan perubahan kualitas air yang didasarkan pada kriteria mutu air. Kriteria ini ditetapkan secara ilmiah dengan mempertimbangkan perubahan kondisi spesifik lokasi dan kendala sosio-ekonomis,” jelas Malikusworo. Jadi apabila air laut di suatu tempat tidak lagi memenuhi baku mutu, itu berarti laut tersebut sudah tidak ideal lagi bagi ekosistem biotanya.

Untuk mendapatkan gambaran perairan Teluk Jakarta, tim peneliti PPO-LIPI telah melakukan pemantauan dari Tanjung Kait disebelah barat hingga ke Tanjung Krawang di sebelah timur meliputi 23 lokasi pemantauan.

Hasil pemantauan itu bila dibandingkan dengan baku mutu bagi budidaya biota laut atau perikanan menunjukkan persentase tertinggi kadar logam berat yang telah melebihi baku mutu yang diinginkan adalah tembaga, sedangkan yang melebihi baku mutu yang diperbolehkan persentase tertingginya adalah timah hitam.

Baku mutu yang diinginkan untuk tembaga ditentukan di bawah 0,001 mg/l, sedangkan baku mutu yang diperbolehkan untuk timah hitam di bawah 0,01 mg.l. Sementara itu hasil pemantauan kualitas kimiawi (COD) di Teluk Jakarta masih memenuhi baku mutu yang diperbolehkan tapi tidak memenuhi baku mutu yang diinginkan. COD yang diperkenankan di bawah 80 mg/l dan yang diinginkan di bawah 40 mg/l. Sedangkan COD yang terpantau di beberapa lokasi berkisar antara 44,39 hingga 66,08 mg/l.

Bukan hanya masalah air laut yang kian jauh dari standar baku mutu. Berbagai penelitian dan hasil survei hidro-oseanografi di teluk itu menunjukkan di beberapa tempat juga terjadi perubahan garis pantai akibat abrasi dan akresi. Tingkat abrasi yang teramati di pantai Cilincing, yaitu pada kurun waktu 25 tahun berubah dari satu meter per tahun menjadi 25 meter per tahun.

Hal ini antara lain akibat pengambilan pasir laut dan berkurangnya vegetasi pantai sebagai penahan abrasi. Selain abrasi, terjadi pula proses akresi, yaitu pendangkalan lumpur di pantai. Kondisi tersebut bisa terlihat di muara Kali Bekasi yang selama 25 tahun mengalami peningkatan dari 15 meter menjadi 50 meter per tahun. Proses pendangkalan akan berpengaruh terhadap alur lalulintas kapal.

Menurut Yan, semua permasalahan yang berhubungan dengan laut di Indonesia membutuhkan penelitian lebih jauh agar bisa mengetahui tindak lanjut yang harus dilakukan.

“Biayanya tidak sedikit, tapi kalau dibandingkan dengan investasinya, hasilnya akan jauh lebih besar dari yang diperkirakan,” ujar Yan.PPO-LIPI sendiri kini sudah dilengkapi dengan laboratorium uji toksisitas atau ekotoksikologi sebagai pelengkap laboratorium kimia lingkungan. Idealnya, laboratorium seperti ini tersebar di setiap provinsi di Indonesia. Dengan begitu maka setiap daerah bisa mengontrol baku mutu air lautnya masing-masing. Di samping itu masih diperlukan pula peralatan laboratorium yang lebih handal dan mutakhir. Tidak heran jika produk kerang-kerangan kita sudah diboikot oleh negara Uni Eropa karena kita tidak memiliki pemantauan pencemaran di lokasi kerang-kerangan tersebut diambil, yaitu Perairan Riau.

Memang bidang kelautan selama ini sedikit terabaikan oleh pemerintah. Padahal dua per tiga wilayah negara kita adalah laut. Sayang beribu sayang, kesadaran mengenai pentingnya laut baru lahir setelah kondisinya sedemikian rusak. Itu pun masih terbentur dengan masalah dana.(SH/merry magdalena)

Sumber : Sinar Harapan (8 Desember 2006)

@

 

Source :lipi.go.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s