22/02/07 – Lain-lain: Artikel-dkp.go.id

1. SITUASI DAN KONDISI LAUT INDONESIA

Secara geografis, berada di antara 2 benua, 2 samudera dan tempat pertemuan lempengan benua, menjadikan posisi Indonesia sangat strategis. Tak pelak lagi, kurang lebih 95 % jalur pelayaran perdagangan Asia Pasifik melewati perairan kita.

Angka panjang pantai yang cukup fantastik, 95.181 km, menempati posisi ke_4 setelah Canada, Amerika dan Rusia, menawarkan beragam keindahan pantai yang bernilai jual tinggi untuk kegiatan pariwisata dan olah raga kebaharian. Bali, Lombok, Manado, Pulau Derawan, Gugus kepulauan Wakatobi, Raja Ampat merupakan nama-nama yang tidak asing lagi bagi wisatawan domestik maupun manca negara dan selalu berada dalam katalog tour agent di seluruh dunia.

Bertemunya lempengan benua, memberi bentuk indah di dasar laut. Palung, laguna, gunung berapi, slope, reef wall bertebaran di seluruh perairan laut Indonesia. Suatu ancaman dan keuntungan.

Tak hanya di dasar, di atas permukaan untaian pulau-pulau dari Sabang hingga Merauke mewarnai wilayah Nusantara. Sebanyak 17.504 pulau dari berbagai ukuran menyimpan beragam potensi tak hanya bernilai ekonomi, namun juga bernilai politis. Dari ribuan pulau tersebut, 92 pulau kecil terluar diantaranya merupakan pagar batas wilayah kedaulatan negara kita.

2. POTENSI LAUT INDONESIA

Megabiodiversity. Demikian para ahli menyebut keragaman potensi sumberdaya laut Indonesia. Cukup banyak landasan pemberian ‘gelar’ tersebut kepada negara bahari ini, diantaranya luas terumbu karang Indonesia adalah 51.020 km2 atau 17,95 % persentase luasan dari terumbu karang dunia, 37 % species laut, 30 % hutan mangrove.

Perairan yang berada di bawah garis khatulistiwa merupakan daerah tujuan ruaya berbagai jenis ikan dan organisme laut yang bernilai ekonomis penting baik untuk mencari makan, membesarkan anak maupun untuk memijah. Bahkan ikan paus yang berada di kutub selatan, bermigrasi secara teratur ke wilyah Indonesia bagian timur untuk mencari makan dan berkembang biak.

Adanya pergerakan arus yang melewati perairan Indonesia, membawa plankton,organisme penting dalam rantai makanan, masuk ke wilayah laut secara luas di belahan bumi. Selain membawa bahan makanan, arus yang melintas laut di khatulistiwa , juga membawa air hangat yang berasal dari penyerapan sinar matahari dan mempengaruhi udara serta iklim di perairan yang dilewatinya. Peran penting ini, menjadikan laut kita sebagai sumber penggerak berputarnya rantai makanan dan iklim secara global.

Posisi geotechtonic, dimana secara geologi, Indonesia berada dalam pertemuan berbagai lempengan benua yang menyebabkannya kaya akan morfologi dasar laut sehingga potensi deep sea sangat beragam, mulai dari potensi organismenya maupun potensi sumberdaya non hayati, seperti Ocean Thermal, Current energy, Minyak dan Gas.

Keindahan dibawah perairan Indonesia sering digambarkan sebagai surga bawah laut. Wilayah Kepulauan Raja Ampat merupakan kawasan taman laut terbaik didunia karena menyimpan keanekaragaman hayati dan keindahan surga bawah laut yang tidak ternilai harganya, sehingga Pemerintah Indonesia mengusulkan sebagai World Heritage Sites bersama dengan beberapa lokasi lainnya.

Urusan seafood stocks, Indonesia berperan penting. Meskipun baru 80 % dari total potensi lestari laut kita atau 6,4 juta ton per tahun, Indonesia memiliki peluang untuk mendominasi pangsa pasar dunia. Ekspor tuna Indonesia ke negara Jepang kurang lebih 36,84 %, Amerika 20,45 %, Uni Eropa 12,69 % dari total seluruh ekspor tuna Indonesia berjumlah 94.221 ton pada tahun 2004. Peningkatan ekspor tuna kurang lebih 1,28 % per tahunnya ke Jepang dan 20,18 % per tahun ke Amerika Serikat. Indonesia memenuhi kurang lebih 30 % kebutuhan seafood negara Jepang.

3. KETIKA ANCAMAN TIBA

Strategisnya wilayah pesisir dan laut bagi perputaran roda perekonomian serta ditunjang oleh tingginya keanekaragaman hayati, menjadikan daerah ini merupakan tempat segala macam kegiatan manusia. Pemukiman, pabrik berbagai macam jenis, pelabuhan, supermarket, jalan raya tumpah ruah di area pesisir. Tidak hanya di darat, di laut kita jumpai pula berbagai aktivitas, seperti perikanan, pengeboran minyak dan gas bumi, pelayaran baik untuk olah raga, rekreasi maupun untuk niaga, pertambangan di pulau-pulau kecil, maupun untuk ekplorasi untuk kebutuhan pemasokan energi, obat-obatan dan kosmetika.

Intensitas pembangunan yang tinggi, ternyata memberikan dampak dan tekanan yang besar terhadap kelestarian sumber daya pesisir dan laut. Kegiatan perikanan destruktif seperti penggunaan bahan peledak, racun sianida, penambangan karang, dan penebangan mangrove untuk pengalihan lahan pesisir merusak ekosistem pesisir dan laut, seperti ekosistem mangrove dan terumbu karang.

Ekosistem terumbu karang adalah tumpuan bagi sektor perikanan, karena banyak ikan-ikan ekonomis penting berasal dari ekosistem ini. Ekosistem ini memiliki fungsrfungsi ekologi (tempat berlindung, mencari makan dan memijah) penting bagi kehidupan organisme laut. Namun ekosistem yang kaya fungsi ini sangat rentan terhadap gangguan baik alami maupun ulah manusia langsung atau tidak langsung. Diperkirakan 11% terumbu karang dunia telah terdegradasi, 16 % tidak dapat berfungsi, 14% dalam kondisi kritis dan akan mati dalam 2-10 tahun, 18 % kondisinya terancam dan akan hancur dalam 10-30 tahun. Dapat dibayangkan negara seperti Filipina, Indonesia, dan Malaysia yang 60 -70 % protein hewani diambil dari organisme laut terancam mengalami defisiensi gizi dalam tahun-tahun ke depan. Indonesia yang diklaim oleh para ahli sebagai center of coral reef biodiversity , memiliki kondisi terumbu karang yang sangat baik hanya 6,2%, kondisi baik 23,7%, kondisi sedang 28,3% dan kondisi rusak 41,8%. Kondisi yang menyedihkan akan berdampak pada menurunnya pariwisata bahari Indonesia yang diestimasi bernilai USD 2 milyar dan sumbangan dari sektor kelautan dan perikanan bagi pe’mulihan ekonomi sebesar USD 82 milyar serta meninggalkan permasalahan pengangguran beserta turunannya. Negara se-Asia Tenggara juga akan mengalami runtuhnya sektor kelautan dan perikanan bila terumbu karang di Indonesia mengalami kehancuran.

4. BERGESERNYA SUATU PARADIGMA

Begitu besarnya peran laut dalam kehidupan manusia telah disadari oleh para pemimpin dunia dalam beberapa dekade abad terakhir, bahkan seakarrakan berlomba bangsa-bangsa di dunia menciptakan pola pengelolaan laut yang terbaik. Ajang ‘perlombaan’ ini tidak hanya diikuti oleh negara yang memiliki garis pantai yang panjang, namun juga negara dengan wilyah pesisir yang sempit. Tidak hanya itu, negara-negara yang tidak berhadapan dengan lautpun ikut menyumbangkan pemikirannya secara tidak langsung karena sadar betul akan fungsi laut untuk kesejahteraan rakyatnya, setidaknya untuk pemenuhan gizi. Mereka mulai menyadari keterbatasan sumber daya darat beserta nilai ekonominya yang selama ini menjadi andalan dalam perekonomiannya.

Perubahan paradigma dilakukan dan nampak pada regulasi baik bidang politik, pertahanan keamanan, pendidikan maupun perekonomian. Cara pandang terhadap laut mulai berubah. Demikian juga pola hidup sebagian besar masyarakat dunia mulai beralih ke pola hidup yang mempriorit’askan protein hewani dan kelestarian laut. Tata cara pengelolaan wilayah pesisir dan lautpun bergeser, dari yang bersifat sektoral bergeser ke arah multisector dengan nafas keterpaduan sebagai kunci utamanya. Hal ini dilandasi kompleksitas permasalahan yang ada disana. Pendekatan pengelolaan juga mendapatkan perhatian dan semakin berkembang tidak hanya pada satu sisi namun multi-dimensional, mulai pendekatan politik, ekonomi, pendidikan, agama, hingga pendekatan budaya bergantung pada kondisi keragaman masyarakat.

Indonesia sebagai negara kepulauan perlahan tapi pasti mengubah paradigmanya ke pembangunan berbasiskan kelautan dan perikanan ditandai dengan berdirinya sebuah institusi pemerintah yang bertanggung jawab mengurusi pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan. Kebijakan dan peraturan kelautan dan perikanan segera dirangkai, diantaranya peraturan mengenai Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu disusun bersama-sama pemangku kepentingan lain.

5. KAWASAN YANG MENJADI TUMPUAN

Salah satu upaya penting yang mulai banyak diterapkan dalam mengurangi dampak degradasi sumberdaya kelautan adalah pengembangan program konservasi laut melalui pembentukan dan pengelolaan Kawasan Konservasi Laut. Langkah ini dipandang sebagai cara paling efektif untuk melindungi keanekaragaman hayati laut beserta nilai ekonomi yang terkandung di dalamnya.
Kawasan Konservasi Laut (KKL) dibentuk dalam suatu wilayah pesisir dan laut dengan batas geografis yang tegas dan jelas, ditetapkan untuk dilindungi melalui perangkat hukum atau aturan mengikat lainnya, dengan tujuan konservasi sumberdaya hayati dan kegiatan perikanan yang berkelanjutan di sekitar (luar) wilayah KKL. Secara hakiki, maksud ditetapkannya KKL adalah untuk dapat melestarikan fungsi dan pelayanan dari ekosistem {ecosystem services) tersebut bagi keseimbangan ekologis dan kesejahteraan manusia.

Pengertian konservasi disini tidaklah sempit, dimana sering disalahartikan bahwa bila suatu kawasan ditetapkan sebagai KKL maka berlaku ‘no take zone’. Konservasi secara luas mengandung makna upaya perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan secara arif imtuk keberlanjutan.

Upaya pengelolaan dan konservasi sumberdaya laut di Indonesia masih relatif baru jika dibandingkan dengan upaya-upaya yang sama di wilayah darat. Pada tahun 2006, kawasan konservasi telah memiliki luas 7,2 juta hektar dan ditargetkan pada tahun 2010, seluas 10 juta hektar dan tahun 2020 seluas 20 juta hektar.

Perangkat kebijakan berkaitan dengan konservasi antara lain UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Hayati, UU No. 1994 tentang Konvensi PBB mengenai Keanekaragaman Hayati, UU No. 31 tahun 2004 tentang Perikanan, UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, PP No.69 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam, PP No.7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, PP no. 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar, serta peraturan-peraturan yang diterbitkan oleh beberapa Pemerintah Daerah.

6. KONSERVASI LAUT INDONESIA : MEWUJUDKAN MISI PENYELAMATAN BUMI

Peran laut sebagai sumber kehidupan telah disadari oleh semua pihak dan solusi yang tepat dalam mengurangi degradasi sumberdaya laut serta menurunnya fungsi dan pelayanan ekosistem laut bagi kesejahteraan masyarakat adalah dengan membangun kawasan konservasi.

Langkah Indonesia dalam membentuk KKL sangatlah realistis, mengingat peran penting yang diemban perairan laut Indonesia dalam penentuan kondisi lingkungan serta menjawab isu global, menyelamatkan bumi.

Food security sebagai salah satu isu global dapat diselesaikan melalui KKL. Dari hasil kajian, KKL memberikan manfaat positif bagi pengelolaan perikanan, karena dapat meningkatkan kepadatan biota laut sebesar 3 kali lipat serta ukuran organisme yang meningkat 1,8 kali, tidak hanya bagi jenis ikan, tetapi juga tanaman dan invertebrate. Selain itu KKL merupakan ‘eksportir’ jenis organisme ekonomis dewasa dan juvenile ke area penangkapan serta peningkatan stabilitas perikanan {enhanced fisheries stability). Dengan KKL Indonesia, maka ketersediaan makanan dari laut di Asia Tenggara dapat terjamin.

Perubahan iklim global {Climate change), yang disoroti sebagai isu global paling penting di era sekarang ini, dapat dikendalikan dengan pembentukan KKL dimana laut merupakan unsur dominant dalam pembentukan iklim. Dengan KKL, maka tumbuhan seperti mangrove dapat tumbuh lebih baik dan lebat sehingga dapat mengurangi intensitas sinar matahari dan meredam perubahan suhu di permukaan laut. Selain itu, mangrove dapat juga berfungsi sebagai barrier dari pollutants yang dapat meningkatkan suhu air laut.

Melalui KKL, Indonesia menyatakan komitmennya secara nyata dalam mendukung kesepakatan-kesepakatan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa didunia seperti Convention on Biological Diversity (CBD) 1993 yang memandatkan setiap Negara untuk mengalokasikan sumberdaya bagi konservasi keanekaragaman hayati, Millennium Development Goals (MDGs) 2000 yang tersirat perlunya prinsip pembangunan berkelanjutan dan recovery sumberdaya yang hilang, serta World Summit on Sustainable Development (WSSD) 2002 yang menyatakan perlunya global network untuk kawasan konservasi laut serta mengelola dan mengembalikan menurunnya ketersediaan ikan pada level produksi maximum sustainable yield.

FAKTA KELAUTAN DAN PERIKANAN INDONESIA

• Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dengan dua pertiga wilayahnya merupakan lautan dan memiliki lebih dari 17.504 pulau, besar dan kecil yang menyimpan kekayaan alam yang melimpah, 12.000 pulau diantaranya berpenghuni, 9.634 pulau belum bernama.

• Sumberdaya kelautan dan perikanan diperkirakan bernilai USD 136,5 milyar, meliputi perikanan USD 31,9 milyar, pesisir lestari USD 56 milyar, bioteknologi laut USD 40 milyar, wisata bahari USD 2 milyar dan minyak bumi USD 6,6 milyar.

• Potensi ekonomi untuk pemulihan ekonomi sebesar USD 82 milyar per tahun meliputi perikanan tangkap USD 15,1 milyar, budidaya laut USD 46,7 milyar, perairan umum USD 1,1 milyar, budidaya tambak USD 10 milyar, budidaya air tawar USD 5,2 milyar, bioteknologi kelautan USD 4 milyar.

• Panjang garis pantai 95.181 km, terpanjang ke empat setelah Canada, Amerika dan Rusia, serta memiliki luasan terumbu karang yang meliputi 17,59 % dari luasan terumbu karang dunia, 37 % species laut, 30 % hutan mangrove.

• Jumlah desa pesisir 8.090 desa, 3,91 juta Kepala Keluarga dan 16, 42 juta jiwa dengan Poverty Headcount Index 0,3214 (Diolah dari Yayasan SMERU dan BPS 2002)

• Sekitar 25% dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia dihasilkan dari sumberdaya dan aktivitas di wilayah pesisir dan laut

• Terdapat 12 juta Ha lahan pesisir {coastal land) yang sesuai untuk usaha budidaya ikan, dengan perkiraan potensi produksi 5 juta ton/tahun

• Kehidupan biota laut yang mencapai sekitar ± 80 genera dan 450 spesies terumbu karang, 2.500 spesies molluska, 1512 spesies krustacea, 850 species sponges, 2334 spesies ikan laut, 30 spesies mamalia laut, dan 38 species reptilia (Moosa dan Noontji, 2000), merupakan potensi yang terbesar di dunia yang perlu dijaga kelestariannya.

• Dari luas total terumbu karang yang ada di Indonesia atau seluas 51.020 km2, hanya 6,2 % yang berada dalam kondisi sangat baik.

• Tahun 2006 telah ditetapkan 7,2 hektar Kawasan Konservasi Laut (KKL). Target KKL pada tahun 2010 adalah 10 juta Ha dan 20 juta Ha pada tahun 2020, sebagaimana ditegaskan oleh Presiden Republik Indonesia pada konferensi Convention on Biological Diversity pada bulan Maret 2006 di Brazilia.

Sumber: Draft Buku Laut Nusantara: Sebuah Kolam Megabiodiversity untuk Misi Penyelamatan Bumi

About these ads