24/02/06 – Lain-lain: Jurnal/Buletin-dkp.go.id

Tanah sulfat masam adalah nama umum yang diberikan kepada tanah yang mengandung besi sulfida atau pirit (Sammut & Rebecca, 2000). Pirit ini terbentuk karena adanya besi dan bahan organik dari tanah serta adanya sulfat dari air laut yang diubah menjadi sulfida oleh mikroba. Oleh karena itu, tanah sulfat masam umumnya dijumpai di kawasan pesisir.

Di Indonesia, tanah sulfat masam dapat mencapai luas 6,7 juta hektar dan diperkirakan 2,4 juta hektar di antaranya berasosiasi dengan tanah salin di kawasan pesisir. Di Sulawesi Selatan, tanah sulfat masam banyak dijumpai di Pantai Timur yang meliputi Kabupaten Sinjai, Bone, Wajo, Luwu, Luwu Utara, dan Luwu Timur, serta Kota Palopo (Mustafa ef al., 2004). Tanah sulfat masam banyak dikonversi menjadi tambak. karena keberadaannya di kawasan pesisir yang memiliki sumber daya air untuk usaha budi daya tambak. Khusus di Kabupaten Luwu, tambak tanah sulfat masam diperkirakan mencapai luas 9.000 ha.

Tambak tanah sulfat masam yang baru atau belum dikelola tanahnya secara tepat memiliki kandungan unsur-unsur toksik tinggi dan ketersediaan fosfat rendah yang menyebabkan pertumbuhan udang dan ikan menjadi lambat dan sintasan menjadi rendah, sehingga tambak tanah sulfat masam tidak dapat berproduksi atau produktivitasnya rendah dan lebih lanjut menjadi tambak terlantar.

Rumput laut (Gracilaria verrucosa) adalah salah satu komoditas unggulan perikanan Provinsi Sulawesi Selatan yang mempunyai nilai ekonomis penting dan telah dibudidayakan di tambak. Telah dilaporkan oleh Daud ef al. (1994) bahwa kualitas rumput laut dipengaruhi oleh kualitas tanah tambak. Tambak yang tidak lagi produktif untuk udang dan ikan dapat digunakan bagi usaha budi daya rumput laut, akan tetapi harus memenuhi persyaratan teknis dan biologis (Mubarak era/., 1990). Produktivitas tambak rumput laut masih dapat ditingkatkan melalui perbaikan teknik pengelolaan dalam budi daya maupun sarana ingasinya (Retnowati ef a/., 1995). Rumput laut juga telah dibudidayakan di tambak tanah sulfat masam. Namun demikian, belum banyak informasi yang diperoleh mengenai faktor pengelolaan dalam budi daya rumput laut di tambak tanah sulfat masam. Perbaikan tanah sulfat masam melalui teknik remediasi dapat meningkatkan produksi rumput laut sebanyak 250% dibanding tambak yang tidak diremediasi (Pantjara ef al., 2003; Mustafa ef a/., 2004). Produksi rumput laut di tambak tanah sulfat masam dengan kedalaman air 50 cm lebih tinggi daripada kedalaman 25, 75, dan 100 cm setelah dipelihara selama 45 hari (Hendrajat, 2004).

Faktor lain yang juga dianggap berpengaruh selam faktor kondisi tambak dan faktor teknik budi daya adalah status petambak. Rata-rata petambak rumput laut di tanah sulfat masam berumur 42 tahun, dengan masa pengalaman bertambak 19 tahun, dan tingkat pendidikan petambak rata-rata hanya tamat sekolah dasar. Walaupun tingkat pendidikan petambak relatif rendah, namun dengan pengalaman yang banyak memungkinkan dapat mengelola tambaknya secara lebih baik.

Kabupaten Luwu merupakan sentra pengem-bangan budi daya rumput laut di Provinsi Sulawesi Selatan (Anonim, 2003a). Kuantitas dan kualitas rumput laut yang dibudidayakan di tambak tanah sulfat masam di Kabupaten Luwu tergolong tinggi Kualitas rumput laut dari Kabupaten Luwu merupakan salah satu yang terbaik di Indonesia (Anonim, 2003b). Teknik pengelolaan yang dilakukan petambak rumput laut di tambak tanah sulfat masam di Kabupaten Luwu bervariasi. Teknik pengelolaan yang berbeda dalam budi daya rumput laut berpengaruh terhadap produksi (Rasjid ef al., 1993). Namun sejauh ini belum diketahui pengaruh teknik pengelolaan yang berbeda terhadap tingkat produksi yang dapat dicapai. Oleh karena itu. dilakukan studi untuk mengetahui pengaruh teknik pengelolaan yang diterapkan petambak dan faktor pengelolaan terhadap produksi rumput laut di tambak tanah sulfat masam.

BAHAN DAN METODE
Data diperoleh dari responden petambak rumput laut di Desa Lamasi Pantai, Kecamatan Walenrang. Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan. Sebanyak 30 responden petambak dipilih secara acak dari 200 petambak rumput laut di lahan sulfat masam di Desa Lamasi Pantai, diwawancarai secara langsung dengan menggunakan daftar kuisioner. Pengumpulan data dilakukan pada bulan April 2002 dan November 2003.

Sebagai variabel tergantung (dependent variable) atau variabel respon dalam studi ini adalah produksi rumput laut. Variabel bebas (independent variable) atau variabel prediktor dikelompokkan atas: (a) faktor status petambak yang meliputi variabel umur petambak, pendidikan petambak, dan pengalaman petambak, (b) faktor kondisi tambak yang meliputi variabel luas tambak dan umur tambak; dan (c) faktor teknik budi daya yang meliputi variabel padat penebaran rumput laut, padat penebaran nener bandeng, dosis pupuk urea, dosis pupuk KCI, dosis kapur, dan frekuensi panen rumput laut. Model persamaan regresi berganda yang diajukan adalah:
Y = a + b1X1+b2X2+b3X3+ ……… +bnXn

Statistik deskriptif digunakan untuk mendapatkan informasi umum dari data yang ada. Regresi berganda dengan variabel boneka (dummy variable) digunakan untuk menganalisis data dalam memprediksi besar variabel tergantung. Sebagai variabel boneka dari variabel bebas adalah pendidikan petambak. Dalam memilih persamaan regresi berganda “terbaik” maka digunakan prosedur eleminasi langkah mundur (the backward elemination procedure) (Draper & Smith, 1992) dengan bantuan program SPSS (Statistical Product and Service Solution), di mana digunakan uji F untuk menguji signifikansi model regresi dan uji t untuk menguji signifikansi koefisien regresi dari variabel bebas pada taraf signifikansi (a) sebesar 0,05.

HASIL DAN BAHASAN
Tambak tanah sulfat masam yang digunakan untuk budi daya rumput laut di Desa Lamasi Pantai, Kecamatan Walenrang, Kabupaten Luwu semuanya berasal dari lahan bekas hutan mangrove. Pada umumnya tambak hanya memiliki satu pintu air yang terbuat dari kayu. Walaupun telah tersedia saluran, namun belum jelas antara saluran pemasukan dan saluran pengeluaran air.

Sistem budidaya rumput laut yang dilakukan petambak adalah secara monokultur dan sebagian besar secara polikultur bersama dengan bandeng (Chanos chanos). Metode yang digunakan dalam budi daya rumput laut di tambak adalah metode tebar (broadcast method). Sumber air laut untuk budi daya tambak berasal dari Teluk Bone melalui Sungai Labonro-Bonro, sedangkan sumber air tawar dari Sungai Lamasi Pantai. Adanya sumber air tawar merupakan salah satu faktor yang mendukung keberhasilan budidaya rumput laut di Desa Lamasi Pantai. Menurut Sadhori (1989), rumput laut dalam pertumbuhannya memerlukan adanya sumber air tawar untuk menurunkan salinitas.

Di tambak tanah sulfat masam di Desa Lamasi Pantai, dengan rata-rata padat tebar rumput laut 1.499 kg basah/ha/th dapat diperoleh produksi rata-rata 11.275 kg kering/ha/th (standar deviasi 4.756 kg kering/ha/th) dengan rata-rata frekuensi panen rumput laut mencapai 9 kali/th (Tabel 1). Produksi rumput laut ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan produksi rumput laut petambak yang hanya mencapai 3.097 kg kering/ha/musim (Retnowati et al., 1995) di Kabupaten Takalar. yang juga merupakan sentra produksi rumput laut di Sulawesi Selatan selain Kabupaten Luwu. Rumput laut dibudidayakan ditambak tanah sulfat masam di Desa Lamasi Pantai melalui polikultur dengan bandeng. Padat penebaran nener bandeng yang diaplikasikan petambak rata-rata 4.465 ekor/ha/th. Nilai ini merupakan jumlah kumulatif nener bandeng yang ditebar selama satu tahun, karena petambak dapat menebar nener bandeng sampai 2 kali selama budidaya rumput laut. Petambak memanen bandengnya setelah mencapai ukuran 2-3 ekor/kg untuk mengurangi kemungkinan bandeng memakan rumput laut, dan selanjutnya ditebari lagi nener bandeng. Kehadiran bandeng dalam polikultur dengan rumput laut diharapkan dapat membersihkan rumput laut yang ditempeli oleh kelekap dan lumut. Dalam budidaya rumput laut biasanya ditebarkan bandeng dan udang yang dimaksudkan untuk mengurangi lumut di dalam tambak, karena keberadaan lumut akan menurunkan kualitas rumput laut kering (Retnowati et al., 1995). Bandeng akan memakan epifit yang menempel pada rumput laut dan akan meningkatkan kualitas rumput laut (Sammut et al., 2003). Selain itu, ikan bandeng diharapkan juga dapat menimbulkan gerakan air sehingga lumpur yang menempel pada rumput laut dapat terlepas. Akibat lebih lanjut adalah proses difusi unsur hara ke dalam rumput laut lebih meningkat, sehingga pertumbuhan rumput laut dapat lebih baik.

Dalam budi daya rumput laut di tambak tanah sulfat masam, sarana produksi tambak yang diaplikasikan petambak berupa pupuk urea, pupuk KCI, dan kapur. Rata-rata dosis pupuk urea, pupuk KCI, dan kapur yang digunakan berturut-turut 40. 14, dan 32 kg/ha/th (Tabel 1) Dosis sarana produksi tambak yang diaplikasikan ini termasuk rendah. Pupuk yang digunakan dalam budidaya rumput laut di tambak adalah campuran urea, TSR dan ZA dengan perbandingan 1:1:1 dan jumlahnya 20 kg/ha setiap pemupukan (Mubarak et al.. 1990). Jika berdasar pada pendapat Mubarak et al. (1990) bahwa pemupukan rumput laut di tambak dilakukan setiap 15 hari maka diperlukan total pupuk urea 160 kg/ha/th. Selain itu. hanya 10% petambak yang mengaplikasikan pupuk yang merupakan sumber P seperti TSP di Desa Lamasi Pantai. Padahal P merupakan unsur yang sangat rendah kandungannya dalam tanah sulfat masam, di samping ketersediaannya yang juga rendah karena terikat oleh Fe dan Al tanah. Sebaliknya P merupakan unsur penting bagi semua aspek kehidupan terutama dalam transformasi energi metabolik (Kuhl, 1974). Unsur P juga merupakan penyusun ikatan pirofosfat dari ATP (adenosine trifosfat) yang kaya energi dan merupakan bahan bakar untuk semua kegiatan biokimia di dalam sel hidup serta merupakan penyusun sel yang penting (Noggle & Fritz, 1986).

Gambaran petambak secara umum di Sulawesi Selatan, seperti dilaporkan oleh Pada (1986) bahwa petambak di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan memiliki pengalaman rata-rata 19 tahun dengan pendidikan minimal tamat Sekolah Dasar dan telah berumur rata-rata 53 tahun. Sebanyak 81,28% petambak di Kabupaten Bulukumba, Takalar, dan Maros (Sulawesi Selatan) hanya tamat dan Sekolah Dasar (Hanafi, 1990).

Tabel 1. Rata-rata dan standar deviasi berbagai variabel dalam budi daya rumput laut di tambak tanah sulfat masam (n=30)
Table 1. Mean and standard deviation of some variables in seaweed culture in acid sulfate soils affected ponds (n=30)

Variabel Variables
Rata-rata Mean
Standar deviasi
Standard deviation

Walaupun produksi rumput laut di tambak tanah sulfat masam relatif tinggi, namun masih ada peluang untuk meningkatkan produksi tersebut dengan mengetahui faktor pengelolaan (status petambak, kondisi tambak, dan teknik budidaya) dalam budidaya rumput laut yang dominan mempengaruhi produksi rumput laut Diantara 11 variabel yang dikaji, temyata variabel pendidikan petambak adalah variabel pertama yang tereliminasi (dikeluarkan) dari model regresi yang berarti pendidikan petambak merupakan faktor yang paling kecil pengaruhnya dalam menentukan produksi rumput laut di tambak tanah sulfat masam. Satu lagi faktor status petambak yang juga tereliminasi dari model regresi adalah variabel umur petambak yang tereliminasi setelah variabel pendidikan petambak, padat penebaran rumput laut, dan frekuensi panen rumput laut (Tabel 2). Dalam hal ini, dari faktor status petambak, hanya variabel pengalaman petambak yang mempengaruhi produksi rumput laut di tambak tanah sulfat masam Pada umumnya, petambak tradisional melakukan perubahan pengelolaan dalam budi daya tambak hanya didasarkan pada pengalaman sebelumnya. Oleh karena itu, semakin banyak pengalaman petambak semakin baik teknik pengelolaan yang dilakukan dan pada akhirnya dapat meningkatkan produksi rumput laut.

Pada Tabel 2 terlihat bahwa padat penebaran rumput laut merupakan variabel kedua dari semua variabel atau variabel pertama dari faktor teknik budidaya yang tereliminasi dari model regresi. Hal ini menunjukkan bahwa padat penebaran rumput laut yang dilakukan petambak tidak lagi mempengaruhi produksi rumput laut di tambak tanah sulfat masam. Hal ini diduga karena padat penebaran rumput laut yang diterapkan petambak tidak terlalu jauh berbeda dengan penebaran yang telah dianjurkan. Seperti dikatakan oleh Mubarak ef a/. (1990) bahwa padat penebaran rumput laut yang optimal di tambak adalah 800-1.000 kg basah/ha Demikian juga halnya variabel frekuensi panen yang tereliminasi dari model regresi. Hal ini menunjukkan bahwa frekuensi panen rumput laut yang dilakukan petambak (9 kali/th) tidak mempengaruhi produksi rumput laut di tambak tanah sulfat masam. Panen rumput laut di tambak yang baik adalah 4 bulan pertama dan selanjutnya setiap 40-45 hari untuk mendapatkan kuantitas dan kualitas rumput laut yang tinggi (Mubarak era/., 1990). Dengan berdasar pada acuan tersebut, maka frekuensi panen rumput dapat dilakukan sampai 8 kali/th untuk mendapatkan kuantitas dan kualitas rumput laut yang tinggi, frekuensi panen ini tidak berbeda jauh dengan yang dilakukan petambak tanah sulfat masam. Juga telah dilaporkan oleh Retnowati ef al. (1995) bahwa petambak rumput laut di Kabupaten Takalar. Sulawesi Selatan melakukan panen dengan frekuensi 6-7 kali/ha/musim.

Tabel 2. Variabel yang dimasukkan dan variabel yang dikeluarkan dalam penentuan faktor pengelolaan budidaya rumput laut di tambak tanah sulfat masam
Table 2. Variables entered and variables removed to determine of management factors in seaweed culture in acid sulfate soils affected ponds’

Model
Variabel yang dimasukkan
Variables entered
Variabel yang dikeluarkan
Variables removed
1

Umur petambak (fish famier age), pendidikan petambak (fish farmer education), pengalaman petambak (fish farmer experience), luas tambak (pond size), umur tambak (pond age), padat penebaran rumput laut (seaweedstocking density), padat penebaran nener bandeng (milkfish fry stocking density), dosis pupuk urea (oosage of urea fertilizer), dosis pupuk KCI (dosage of KCI fertilizer), dosis kapur (dosage of lime), frekuensi panen rumput laut (seaweed harvest frequency)

 
2
-
Pendidikan petambak Fish farmer education
3
-
Penebaran rumput laut Seaweed stocking density
4
-
Frekuensi panen rumput laut Seaweed harvest frequency
5
-
Umur petambak Fish farmer age

Keterangan (Note):
Variabel tergantung (dependent variable): produksi rumput laut (seaweed production)

Pada Lampiran 1 terlihat bahwa R2 yang dise-suaikan (adjusted R2) tertinggi (0,537) didapat pada model terakhir (Model 5), berarti akan semakin baik bagi model regresi, karena variabel bebas dapat menjelaskan variabel tergantung lebih besar. Dalam hal ini 53,7% produksi rumput laut di tambak tanah sulfat masam dapat dijelaskan oleh variabel dosis pupuk urea, luas tambak, pengalaman petambak, dosis pupuk KCI, umur tambak, padat penebaran nener bandeng, dan dosis kapur, sedangkan sisanya (46,3%) dijelaskan oleh faktor lain. Dari Lampiran 1 juga terlihat bahwa standar galat estimasi (standard error of estimate) terendah (3.236,27 kg/ha/th) dijumpai pada Model 5. Selain itu, karena standar galat estimasi lebih kecil dari standar deviasi produksi rumput laut yang besarnya 4.756,07 kg/ha/th (Tabel 1), maka model regresi lebih baik dalam bertindak sebagai prediktor produksi rumput laut danpada rata-rata produksi rumput laut itu sendin. Selanjutnya dari hasil analisis ragam atau Uji F (Lampiran 2) menunjukkan Model 5 memiliki F hitung sebesar 5,805 dan nilai P sebesar 0,001, maka model regresi dari Model 5 dapat digunakan untuk memprediksi produksi rumput laut di tambak tanah sulfat masam.

Pada Model 5 dari Lampiran 3 dapat dilihat kons-tanta dan koefisien regresi dari persamaan regresi yang terpilih dan selanjutnya akan digunakan untuk mempradiksi produksi rumput laut di tambak tanah sulfat masam. Variabel yang dominan berperan dalam menentukan produksi rumput laut di tambak tanah sulfat masam digambarkan dalam persamaan regresi sebagai berikut: di mana:

Y=14.293,13+109153X1-1.839.80X2+218,26X3+87,31X4-275.98X5-0.49X6+20.45X7

Y =produksi rumput laut
X1 = dosis pupuk urea (P = 0.000)
X2 = luas tambak (P = 0,001)
X3 = pengalaman petambak (P = 0,001)
X4 = dosis pupuk KCI (P = 0,005)
X5 = umur tambak (P = 0,012)
X6= padat penebaran nener bandeng (P = 0,040)
X7 = dosis kapur (P = 0,046)

Konstanta sebesar 14.293,13 yang berarti produksi rumput laut dapat diprediksi mencapai 14.293,13 kg kering/ha/th walaupun tidak ada kontribusi dari faktor pengelolaan. Dari 11 variabel yang dikaji dalam studi ini, ternyata pupuk urea merupakan variabel yang paling berpengaruh dalam meningkatkan produksi rumput laut di tambak tanah sulfat masam. Koefisien regresi dari variabel dosis pupuk urea sebesar +109,53 yang berarti setiap penambahan dosis pupuk urea 1 kg/ha/th dapat meningkatkan (tanda +) produksi rumput laut sebesar 109,53 kg kering/ha/th di tambak tanah sulfat masam. Pupuk urea adalah sumber N dan telah diketahui bahwa N merupakan unsur hara makro bagi rumput laut yang berarti N dibutuhkan dalam jumlah besar bagi rumput laut. Nitrogen diperlukan untuk pertumbuhan dan produksi tanaman serta memainkan peranan penting dalam perkembangan dan fungsi protoplasma.

Variabel kedua yang berpengaruh terhadap produksi rumput laut adalah variabel luas tambak. Namun berbeda dengan pupuk urea yang apabila ditambahkan dapat meningkatkan produksi rumput laut, sebaliknya penambahan luas tambak justru menurunkan produktivitas tambak tanah sulfat masam untuk budi daya rumput laut. Hal ini dapat dimengerti bahwa semakin luas tambak yang dikelola oleh seorang petambak, maka semakin berkurang tingkat pengelolaan yang dilakukan karena petambak dibatasi oleh tenaga dan waktu serta kemungkinan dana. Dengan ukuran tambak yang lebih kecil cenderung petambak memaksimalkan penggunaan sumber daya tersebut untuk memperoleh hasil yang lebih baik dibandingkan dengan tambak yang lebih luas.

Satu-satunya faktor status petambak yang berpengaruh terhadap produksi rumput laut di tambak tanah sulfat masam adalah variabel pengalaman petambak. Hal ini jelas terlihat pada koefisien regresi dan variabel pengalaman petambak yang bernilai +218,16 yang berarti setiap penambahan pengalaman 1 tahun dari petambak dapat meningkatkan produksi rumput laut 218,16 kg kering/ha/th. Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa petambak pada umumnya melakukan perubahan pengelolaan berdasarkan pengalaman yang diperoleh sebelumnya. Oleh karena itu, semakin banyak pengalaman petambak maka produksi rumput laut dapat ditingkatkan. Pengalaman bertambak bukan hanya didapat selama melaksanakan pengelolaan tambak, tetapi juga dapat diperbanyak melalui pendidikan informal. Walaupun pendidikan formal petambak relatif rendah. tetapi dengan sarana dan prasarana yang tersedia berupa jalan maupun listrik (dapat menonton televisi dan mendengar radio) memungkinkan petambak dapat menerima informasi baru ataupun menenma inovasi terbaru. Pengalaman petambak juga dapat diperbanyak dengan mengikuti berbagai pelatihan atau sarasehan serta banyak mendapat penyuluhan terutama informasi mengenani budi daya rumput laut.

Seperti halnya pupuk urea, maka sarana produksi tambak lainnya seperti pupuk KCI dan kapur juga nyata dapat meningkatkan produksi rumput laut di tambak tanah sulfat masam sampai pada batas tertentu. Penambahan dosis pupuk KCI 1 kg/ha/th dapat meningkatkan produksi rumput laut sebanyak 87,31 kg kering/ha/th. Pupuk KCI merupakan sumber unsur hara K dan CI. Unsur hara K merupakan unsur hara makro yaitu unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah banyak oleh tanaman sedangkan CI adalah unsur hara mikro yang dibutuhkan oleh sistem kehidupan tanaman dalam jumlah sedikit. Khlor sangat dibutuhkan tanaman untuk proses fotosintesis. Namun demikian, kalium tidak banyak diberikan dalam budi daya tambak karena sudah ada suplai dari air laut yang mengandung K sebesar 420 mg/L pada salinitas 35 ppt (Riley & Chester, 1971).

Telah disebutkan sebelumnya bahwa salah satu ciri tanah sulfat masam adalah pH tanah yang rendah dan kandungan unsur toksik seperti Fe dan Al yang tinggi. Untuk meningkatkan pH tanah dan mengurangi senyawa toksik dapat dilakukan upaya remediasi dan pengapuran. Oleh karena petambak budi daya rumput laut di tanah sulfat masam tidak melakukan upaya remediasi sebelum persiapan tambaknya, menyebabkan kualitas tanah tambak tanah sulfat masam tergolong rendah. Sebagai akibatnya, pengapuran yang diterapkan petambak tanah sulfat masam nyata dapat meningkatkan produksi rumput laut. Setiap penambahan dosis kapur 1 kg/ha/th dapat meningkatkan produksi rumput laut sebesar 20,45 kg/ ha/th. Selain mangandung Ca ada juga kapur yang mengandung Mg seperti dolomit. Magnesium sangat dibutuhkan oleh khlorofil tanaman termasuk rumput laut.

Faktor kondisi tambak yaitu luas tambak dan umur tambak memiliki pengaruh yang sama terhadap produksi rumput, yaitu apabila ada peningkatan luas tambak dan umur tambak akan menurunkan produksi rumput laut di tambak tanah sulfat masam. Dan koefisien regresi bagi variabel umur tambak adalah 275,98 yang menunjukkan bahwa pertambahan umur tambak dapat menyebakan penurunan produksi rumput laut. Hal ini menunjukkan bahwa semakin bertambah umur tambak berdampak pada penurunan daya dukung lahan. Seperti terlihat pada Tabel 2 bahwa rata-rata umur tambak yang digunakan untuk budidaya rumput laut di Desa Lamasi Pantai adalah 25 tahun dan sarana produksi yang digunakan sangat rendah yang tentunya berimplikasi pada penurunan kualitas tanah. Sebagai akibatnya produksi rumput laut juga dapat menurun. Karena umur tambak tidak bisa ditahan dan akan bertambah seiring dengan waktu yang terus berjalan, maka upaya pemulihan kondisi tambak merupakan alternatif yang dapat dilakukan untuk mempertahankan atau meningkatkan kondisi tambak. Pemulihan tambak dapat dilakukan melalui persiapan tambak yang baik sebelum penebaran atau membiarkan tambak istirahat untuk waktu tertentu setelah beberapa siklus produksi. Upaya lain adalah penambahan penggunaan sarana produksi tambak agar suplai unsur hara yang diperlukan oleh rumput laut dapat lebih terjamin.

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa keberadaan bandeng dalam budidaya rumput laut diharapkan dapat meningkatkan produksi rumput laut, apabila jumlah bandeng yang ditebar tidak bersaing dengan rumput laut dalam hal pemanfaatan relung ekologis. Studi ini menunjukkan bahwa penambahan padat penebaran bandeng yang ada akan menyebabkan penurunan produksi rumput laut. Apabila makanan alami seperti kelekap, lumut maupun epifit sudah tidak tersedia dalam tambak, maka bandeng akan memakan rumput laut terutama talus yang masih muda. Telah banyak dilaporkan bahwa bandeng yang dipolikultur dengan rumput laut sering berbau rumput laut pada saat dikonsumsi. Dalam hal ini, perlu diketahui kombinasi kepadatan yang optimal antara rumput laut dan bandeng dalam sistem polikultur di tambak tanah sulfat masam. Untuk tambak bukan tanah sulfat masam seperti di Kabupaten Takalar. Kahar (2001) merekomendasikan kepadatan rumput laut 1.000 kg basah/ha dan padat penebaran bandeng 2.000 ekor/ha dalam polikultur rumput laut dan bandeng.

Sumber: Jurnal Penelitian P. Indoensia,
BRKP Vol. 11 No. 7 Tahun 2005

About these ads