You are currently browsing the category archive for the ‘tekno ikan’ category.
Pemerintah Kenya sedang menjajaki transfer teknologi buatan Indonesia untuk pengolahan atau budidaya ikan sekaligus produk-produk ikannya.
Menteri Pengembangan Perikanan Kenya, Otuoma Paul Nyongesa, ditemui saat Pameran Indonesian Aquaculture, di Manado, Sulut, Rabu pagi (13/5) mengatakan, selama ini pihak pemerintah belum memiliki pengalaman budidaya ikan yang layak, sehat dan cepat.
”Selama ini, para nelayan Kenya selalu mengkonsumsi ikan langsung dari laut, namun jarang yang dibudidayakan supaya bisa berkelanjutan untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Nyongesa, yang mengenakan baju jas biru didampingi sejumlah stafnya.
Nyongesa tidak malu ingin belajar langsung kepada nelayan atau pengusaha perikanan Indonesia dalam budidaya ikan. Bahkan, kehadirannya dalam acara Konferensi Kelautan Dunia (WOC) di Manado dari tanggal 11 sampai 15 Mei nanti, dimaksudkan untuk menyerap sebanyak mungkin informasi tentang teknologi budidaya perikanan.
”Kami sangat senang belajar dari Indonesia, bagaimana mengelola produk ikan, supaya bisa dikonsumsi,” katanya.
Sejauh ini, kata Nyongesa, dalam pengelolaan ikan secara tradisional di Kenya banyak mengalami sejumlah kendala, seperti keterbatasan jumlah ikan disaat terjadi badai atau perubahan cuaca di laut. Jika tidak dilakukan pembudidayaan ikan, maka nelayan setempat tidak bisa menyimpan ikan dalam jumlah banyak untuk kebutuhan ketika terjadi perubahan cuaca yang membuat nelayan tidak bisa melaut.
Alasan Pemerintah Kenya memilih transfer teknologi budidaya ikan dari Indonesia, karena banyak kesamaan kondisi alam maupun cuaca kedua negara tersebut. Posisi kedua negara berada di garis ekuator yang sama, dan juga memiliki akses langsung ke Samudera Hindia. ”Kami sangat berharap dorongan kedua negara bisa mewujudkan kerjasama di bidang ini,” ujar Nyongesa, menambahkan.
Lebih dari itu, Nyongesa bahkan mempersilakan investor dari Indonesia untuk mengembangkan teknologi pengolahan ikan di negaranya dan siap memberikan pelayanan serta memenuhi kebutuhan dari investor, jika berkenan datang ke Kenya.
Ditemui di tempat sama, Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi, menyambut positif langkah Pemerintah Kenya. Freddy bahkan siap menugaskan Ditjen Budidaya DKP untuk mengirim sejumlah tenaga ahli pembudidayaan ikan Nila ke Kenya, guna memberikan pelatihan kepada nelayan disana.
Direktur Jenderal Budidaya Ikan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) RI, Made L Nurdjana, membenarkan bila DKP siap mengirim tim ahli budidaya ikan ke Kenya untuk mendampingi para nelayan disana, khususnya pembudidayaan ikan Nila, yang memiliki nilai tambah bagi nelayan.
”Kami akan mengirim tim budidaya ikan Nila dan memberikan pengalaman kepada mereka (nelayan Kenya),” kata Made.
Menurut sejumlah catatan, ikan Nila ini dikabarkan aslinya berasal dari afrika. Ribuan tahun ikan ini disukai oleh banyak orang sampai sekarang ini. Dahulu ikan nila hanya dimakan oleh orang-orang tertentu didalam kerajaan karena rasanya dan dagingnya berbeda dengan ikan air tawar lainya. Rasa ikan ini manis dan gurih, sedang dagingnya tidak bertulang.
”Ikan nila kebanyakan hanya bisa hidup di daerah tropis seperti Indonesia. Akan tetapi di negara empat musim juga membudidaya ikan nila dengan cara moderen. System pengairan menggunakan heater pada musim dingin,” papar Made.
republika.co.id, 13 Mei 2009
DI MUSIM Penghujan, nelayan kerap mengalami kesulitan jika menjemur ikan tangkapannya. Selain proses pengeringan masih mengunakan alat tradisional, pada musim itu nelayan sulit mendapat sinar matahari.
Kesulitan semacam itu bakal dihadapi sebagian besar nelayan di pesisir pantai utara, seperti Juwana dan daerah lain di Pati.
Jika kemarau kendala yang dihadapi petani minimnya tangkapan ikan di laut, tetapi di musim penghujan nelayan kesulitan mengeringkan ikan meski pendapatan ikan lebih banyak.
Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pati, jumlah nelayan hingga 2002 adalah 15.374 orang dengan jumlah produksi pendapatan ikan laut 37.574.056 kg/tahun. Sementara itu, pendapatan para nelayan pada tahun itu Rp 101.449.950.
Untuk meningkatkan pendapatan, Yayasan Anugerah Yasa (YAY) memberikan kesempatan bagi nelayan untuk mengikuti pelatihan cara mengeringkan ikan asin dengan teknologi tata surya. Baca entri selengkapnya »
Kolam ikan di rumah diyakini memberikan kesejukan di rumah. Apalagi suara gemericik air bisa mengurangi kepenatan pikiran. Untuk membuat kolam ikan, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan agar keindahan dan fungsinya tetap terlihat.
Hal utama yang diperhatikan adalah bentuk dan lokasi kolam. Bentuk kolam sebaiknya mengikuti lahan yang tersedia. Ada dua bentuk dasar kolam ikan, bentuk teratur dan tidak teratur. Bentuk teratur adakah bentuk kolam yang mengikuti pola simetris dan geometris seperti persegi atau bundar. Sedangkan bentuk tidak teratur adalah bentuk kolam yang fleksibel mengikuti lahan atau bentuknya tidak kaku.
Lokasi kolam juga perlu diperhatikan agar keindahan kolam bisa dipandangi setiap saat dan tidak terhalang. Selain itu, lokasi harus ditentukan dengan cermat agar perawatan kolam lebih mudah. Sebaiknya, pilih lokasi kolam yang dekat dengan sumber air atau kran sehingga tidak perlu memasang pipa terlalu panjang.
Memilih Isi Kolam
Pada umumnya, kolam ikan di rumah diisi juga dengan tanaman. Untuk memilih tanaman dan ikan apa yang cocok di kolam itu, Anda harus memperhatikan terlebih dahulu dimensi dan lokasi kolam.
Tanaman yang cocok untuk kolam ikan adalah tanaman air. Pilihlah tanaman air sesuai lokasi kolam terhadap arah sinar matahari. Sebagai contoh, teratai dan lotus adalah tanaman air yang tidak menyukai matahari siang secara langsung. Karenanya, jika kolam menggahadap langsung matahari, sebaiknya jangan menggunakan kedua jenis tanaman ini. Sebagai informasi, tanaman di kolam ikan salah satunya berfungsi untuk meningkatkan kandungan oksigen di dalam air.
Sedangkan ikan yang diletakkan di dalam kolam harus menyesuaikan dengan ukuran kolam. Beberapa jenis ikan tidak bisa dipelihara di dalam kolam yang terlalu dalam. Ikan Koi contohnya. Kedalaman kolam untuk memelihara ikan koi tidak lebih dari 1m.
INFO:
Jika Anda ingin mengetahui seluk beluk tentang kolam ikan, baca Serial TAMAN yang berjudul Kolam Ikan Hias. Di dalamnya juga berisi mengenai tip dan solusi untuk mengatasi permasalahan kolam dan isinya. Serial ini bisa Anda dapatkan di toko-toko buku seperti Gramedia dan agen terdekat di kota Anda.
Kompas.com, 14 Februari 2008
TERCETUSNYA ide pembuatan robot ikan bukan hanya dari keinginan meniru pola perilaku hewan seperti yang dilakukan robot lain seperti robot anjing, laba-laba, belalang, atau ular. Tetapi juga merupakan bagian dari proyek kendaraan bawah air (underwater vehicle) yang bertujuan mencari pengganti pendorong baling-baling yang bising dengan pendorong alternatif berupa sirip ekor ikan yang relatif tidak bising.
Perkembangan kendaraan bawah air berpendorong sirip ikan ini merupakan topik menarik. Bukan hanya bagi dunia pendidikan tetapi juga bagi kepentingan militer seperti untuk eksplorasi kekayaan bawah laut dan pemantauan wilayah lautan dengan wahana tanpa awak (unmanned).
Penelitian robot ikan merupakan projek pengembangan robot ikan pertama di Institut Teknologi Bandung (ITB). Penelitian pertama ini dilakukan Yeffry Handoko Putra, promovendus yang juga staf pengajar Unikom yang mendapatkan beasiswa Sandwitch DIKTI untuk studi Banding ke Universitas Essex, Colchester UK selama tiga tahun di bidang sensor robot ikan. Hasilnya, berupa disertasi yang berjudul “Pengembangan Robot Ikan dengan Kemampuan Mengenali Kerumunan Ikan Lain”. Tulisan berikut semacam ringkasan disertasi yang disampaikan pada sidang doktor di ITB Bandung beberapa waktu lalu. Baca entri selengkapnya »
KAWASAN Greenland hingga saat ini, masih menjadi habitat terbesar bagi sejumlah spesies ikan hiu yang ada di bumi. Akan tetapi, populasi ikan hiu tersebut menjadi masalah tersendiri bagi pulau tersebut. Banyaknya jumlah ikan hiu yang ada di kawasan itu, tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh nelayan, bahkan dinilai sangat menggangu. Untuk dikonsumsi sebagai bahan makanan pun, hanya bagian tertentu saja yang bisa dimanfaatkan. “Hiu adalah predator terbesar yang memakan hampir semua komunitas di laut, bahkan tak jarang ikan hiu merusak jaring nelayan,” kata Ketua Asosiasi Nelayan Greenland, Leif Fontaine yang mengeluhkan keberadaan ikan hiu di wilayahnya. Namun, ilmuwan mencoba untuk mengembangkan terobosan baru untuk memanfaatkan potensi ikan hiu yang ada di Greenland. Salah satunya, adalah pengembangan bahan bakar (biofuel) dari bahan ikan hiu. Para Ilmuwan di Arctic Technology Centre (ARTEK) di Sisimiut, sebelah barat Greenland sedang melakukan uji coba pembuatan biofuel yang berasal dari minyak yang terdapat pada ikan hiu. Minyak yang dihasilkan dari daging hiu akan diproses menjadi biogas. Menurut Marianne Willemoes Joergensen, projek pengembangan itu akan dikembangkan bekerja sama dengan Fakultas Teknik University of Denmark dan akan dipusatkan di wilayah Uummannaq, barat laut Greenland. “Potongan daging ikan hiu yang sering terbuang akan dicampur bersama alga dan air sisa-sisa pencucian ikan untuk dijadikan biofuel,” katanya. Nantinya, biofuel yang berasal dari hiu itu diharapkan mampu menyokong tiga belas persen kebutuhan energi di desa Uummannaq yang dihuni sekitar 2.450 orang.
Pikiran Rakyat, 06 Agustus 2009
Berdasarkan asalnya, bahan obat dibagi dalam dua golongan besar yaitu berasal dari alam dan hasil sintesis reaksi, baik melalui kimia ataupun enzimatis. Sejak diekposnya hasil penelitian yang menunjukkan obat-obatan berbahan kimia sintesis banyak menimbulkan ekses negatif, maka penggunaan bahan kimia yang bersumber dari bahan alam sebagai bahan obat meningkat sangat pesat, dan menjadi alternatif pilihan.
Adapun tahapan proses yang harus dilalui dalam penggunaan bahan alam sebagai sediaan obat adalah proses isolasi, proses pemurnian (purification), identifikasi, uji khasiat, uji preklinis dan klinis serta formulasi sediaan. Salah satu senyawa kimia yang bersumber dari bahan alam yang mulai banyak digunakan adalah glukosamina. Glukosamina atau juga dinamakan kitosan oligosakarida merupakan senyawa turunan dari kitosan. Sedangkan kitosan merupakan turunan senyawa kitin yang diisolasi dari kulit udang, rajungan, dan kepiting melalui reaksi kimia atau enzimatis.
Kitosan dan kitin merupakan senyawa polimer dengan jumlah terbesar kedua di alam setelah selulosa. Glukosamina Glukosamina sebagai senyawa turunan kitosan didapatkan dengan proses degradasi pemutusan molekul besar kitosan melalui proses enzimatis atau kimiawi. Pemutusan molekul secara enzimatis dilakukan dengan bantuan enzim Chitonase sedangkan proses kimiawi dilakukan secara hidrolisis menggunakan asam kuat. Glukosamina juga merupakan suatu senyawa gula yang mempunyai gugus amino dengan berat molekul yang rendah dan bersifat tidak beracun. Baca entri selengkapnya »
Sejenis ikan tropis yang memancarkan cahaya merah akan menjadi binatang peliharaan pertama yang direkayasa, demikian diungkapkan para ilmuwan. Ikan jenis zebra ini sesungguhnya dirancang sebagai detektor adanya racun-racun yang ada di alam.
Ikan bercahaya hasil rekayasa genetik“Ikan ini semula dikembangkan untuk membantu menanggulangi polusi lingkungan,” kata Alan Blake dan rekan-rekannya dari Yorktown Technologies, perusahaan yang mendaftarkan ikan tersebut sebagai ikan peliharaan. “Mereka direkayasa agar memancarkan cahaya bila berada di lingkungan yang beracun atau tidak sehat.”
Ikan zebra (Brachydanio rerio) biasanya berwarna perak dengan garis-garis hitam keunguan. Dengan rekayasa genetis, ikan ini dapat memendarkan warna hijau atau merah dari tubuhnya. Warna merah atau hijau yang bersinar itu diambil dari warna ubur-ubur yang disuntikkan ke telur-telur ikan zebra.
Dengan gen ubur-ubur itu, tubuh ikan zebra dapat memancarkan cahaya. Nah, agar bisa digunakan sebagai indikator polusi, maka para peneliti memasukkan gen pemicu yang akan mengaktifkan pancaran cahaya pada ikan bila ikan berada dalam lingkungan yang mengandung zat tertentu. Baca entri selengkapnya »
Lazimnya, orang mengangkut ikan hidup itu dengan air. Tetapi kini ada cara baru. Tanpa air. Hanya dengan sekam padi.Ikan yang diangkut (biasanya ikan air tawar) diberok dulu. Yaitu disuruh berpuasa, mensucikan diri (baik lahir maupun batin) dalam bak air mengalir. Jadi biar mengeluarkan isi perut dulu sebanyak-banyaknya, sehingga kalau diangkut nanti tidak akan minta permisi untuk pergi ke belakang lagi di tengah jalan. Kalau tidak ada air mengalir, ya pakai air berhenti juga boleh, asal dialiri udara dengan aerator seperti yang biasa dipakai untuk memelihara ikan hias akuarium itu, agar mereka tidak megap-megap sesak napas.
Suruh pingsan Baca entri selengkapnya »
karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |
| tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain |
| MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN |
022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net
Ikan asin adalah bahan makanan yang terbuat dari daging ikan yang diawetkan dengan menambahkan banyak garam. Dengan metode pengawetan ini daging ikan yang biasanya membusuk dalam waktu singkat dapat disimpan di suhu kamar untuk jangka waktu berbulan-bulan, walaupun biasanya harus ditutup rapat.
Prosesnya
Ikan layang tengah direndam dan ditaburi garam. Muara Angke
Beraneka jenis ikan yang biasa diasinkan, baik ikan darat maupun ikan laut. Ikan-ikan ini dikumpulkan dalam suatu wadah dan lalu ditaburi atau direndam dalam larutan garam pekat. Ikan-ikan yang besar biasanya dibelah atau dipotong-potong lebih dulu agar garam mudah meresap ke dalam daging. Baca entri selengkapnya »
karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |
| tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain |
| MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN |
022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net
Kecap ikan (fish sauce) adalah cairan yang diperoleh dari fermentasi ikan dengan garam. Kecap ikan biasanya digunakan sebagai bumbu untuk memasak, pencelupan seafood, dan makanan orang timur, dibuat oleh nelayan sepanjang negara Asean. Nama kecap ikan di negara-negara Asean juga berbeda (Indonesia : petis; Thailand : nam pla, Filipina : patis; Jepang : shottsuru, dan Vietnam : nước mắm). Keunikan karakteristik kecap ikan adalah rasanya yang asin dan berbau ikan.
Kecap Ikan di Beberapa Negara
Di Vietnam kecap ikan (nouc mam) dibuat dengan menggarami ikan kecil-kecil yang telah dihaluskan dengan tangan dan disimpan di dalam wadah dari tanah, kemudian ditanam dalam tanah selama 3 hingga beberapa bulan. Satu liter nouc mam kualitas baik mengandung 15,85 gram total nitrogen (11,15 gram nitrogen organik dan 5 gram nitrogen amino), 270 gram sodium klorida, 0,5 gram CaO. Selain itu, nauc mam mengandung metil keton tinggi yang menyebabkan beraroma seperti keju, asam amino, basa dan asam volatil, serta histamin.
Di Filipina kecap ikan dibuat dengan menggunakan ikan kecil-kecil dan ikan shrimp (Atya sp). Proses pembuatannya sama dengan nouc mam, walaupun kurang komplet dan tanpa memerlukan pertimbangan waktu. Patis ini dibuat dengan mengeringkan sebagian kandungan air dalam fermentasi dengan merebusnya.
Di Thailand kecap ikan (nam pla) dibuat dari ikan-ikan Clupeidae dan dapat pula dari ikan kecil-kecil. Proses pembuatannya sama dengan nouc-mam tetapi biasanya lebih sederhana dengan waktu pemeraman 6 bulan, bahkan 2-3 tahun dianjurkan untuk menghasilkan produk yang lebih baik. Pendekatannya, 1 kg ikan akan menghasilkan 1 liter nam-pla. Di beberapa daerah Thailand, nam-pla juga terkadang dibuat dari ikan air tawar.
Di Jepang, shottsuru dipersiapkan dari sarden, hering atau sisa-sisa limbah pengolahan ikan. Pembuatannya hampir sama dengan pembuatan kecap ikan lainnya. Penambahan antioksidan juga telah direkomendasikan dalam produk tersebut untuk mencegah ketengikan. Sedangkan petis di Indonesia dibuat dengan memasak dan mengkonsentratkan cairan fermentasi ikan yang telah digarami tadi dengan menambahkan sedikit tepung. Produk ini biasanya bermutu rendah dibanding dengan produk kecap ikan negara-negara Asia Tenggara lainnya karena perbandingan nitrogen dan garamnya agak rendah.[1]
Proses Pengolahan
Selama proses fermentasi terjadi hidrolisis jaringan ikan oleh enzim-enzim yang dihasilkan oleh mikroorganisme. Peran enzim-enzim ini adalah sebagai pemecah ikatan polipeptida-polipeptida menjadi ikatan yang lebih sederhana. Mikroorganisme yang berkembang selama fermentasi ikan tidak diketahui sepenuhnya. Walaupun demikian diperkirakan jenis-jenis bakteri asam laktat seperti Laucosotic mesenterides, Pediococccus cerevisiae dan Lactobacillus plantarum berkembang. Beberapa jenis khamir juga diperkirakan ikut berkembang dalam fermentasi.[2]
Proses penggaraman pada pengolahan ikan secara tradisional akan menyebabkan hilangnya protein ikan sebesar 5% tergantung pada kadar garam dan lama penggaraman, untuk itu dianjurkan garam yang ditambahkan tidak melebihi 40 bagian dari berat ikan.
Pemasakan pada 95-100℃ dapat mereduksi kecernaan protein dan asam amino. Selain itu, protein terlarut, peptida dengan berat molekul rendah, dan asam amino bebas dapat larut dalam air perebus, sehingga perebusan sebaiknya dilakukan di bawah 100℃. Pemanasan yang berlebihan (di atas 90℃ secara berulang-ulang) dapat menyebabkan pembentukan H2S yang merusak aroma dan mereduksi ketersediaan sistein dalam produk. Selain itu, pemanasan juga menyebabkan terjadinya reaksi Maillard antara senyawa amino dengan gula pereduksi yang membentuk melanoidin, suatu polimer berwarna coklat yang menurunkan nilai kenampakan produk. Pencoklatan juga terjadi karena reaksi antara protein, peptida, dan asam amino dengan hasil dekomposisi lemak. Reaksi ini dapat menurunkan nilai gizi protein ikan dengan menurunkan nilai cerna dan ketersediaan asam amino, terutama lisin.
Secara umum proses pengolahan kecap ikan adalah dengan menggarami ikan yang telah dihaluskan, kemudian disimpan dalam wadah yang tertutup rapat selama 3 sampai beberapa bulan. Selanjutnya cairan yang dihasilkan disaring untuk mendapatkan kecap ikan bebas ampas, lalu dikemas dalam botol steril dan dipasteurisasi.
Alternartif Lain Pembuatan Kecap Ikan
Pembuatan kecap ikan secara tradisional relatif memerlukan waktu yang panjang. Mikroorganisme penghasil enzim protease memerlukan waktu adaptasi yang cukup lama untuk dapat hidup dalam keadaan lingkungan berkadar garam tinggi dan kondisi abnormal lainnya.
Rekayasa penambahan enzim proteolitik sebelum fermentasi dapat mempersingkat waktu pembuatan kecap ikan. Dalam hal ini tidak diperlukan lagi waktu adaptasi mikroorganisme untuk menghasilkan enzim yang dapat menghidrolisis protein.
Mahalnya harga enzim proteolitik yang murni menjadi kendala untuk menghasilkan kecap ikan yang cepat, mudah dan murah. Namun dengan memanfaatkan getah pepaya dan ekstrak buah nenas sudah dapat menggantikan peran enzim proteolitik yang murni tadi.
Dalam getah buah pepaya terdapat enzim proteolitik yang sering disebut papain. Papain ini memiliki kapasitas yang tinggi untuk menghidrolisis protein. Dalam industri makanan, papain sudah cukup banyak digunakan antara lain untuk mempertahankan kesegaran bir, pelunakan daging dan menghilangkan protein pada makanan. sedangkan buah nenas, khususnya nenas muda juga terdapat enzim proteolitik lain yaitu bromelin. Kemampuannya dalam menghidrolisis protein juga tidak jauh berbeda dari papain.
Namun masalahnya, kecap ikan yang dihasilkan memiliki aroma dan warna yang jauh berbeda dari kecap ikan yang dibuat secara tradisional, walaupun kandungan gizinya tidak jauh berbeda.
Catatan kaki
@
Taken from :wikipedia.org
karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |
| tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain |
| MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN |
022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net
Orasi Ilmiah
dalam rangka Dies Natalis XXXIX Universitas Brawijaya
Ir. Sukoso, M.Sc., Ph.D.
Pidato ini mengambil judul “Peran Bioteknologi Molekuler dalam Pembangunan Industri Perikanan dan Kelautan Indonesia”. Judul ini saya pilih dengan dasar:
1. Dua per tiga wilayah Indonesia merupakan wilayah laut yang memiliki kekayaan sumberdaya alam yang melimpah baik dari sumberdaya hayati yang mampu diperbaharui, maupun sumberdaya nonhayati, energi kelautan dan jasa-jasa kelautan yang sampai sekarang belum secara optimal dimanfaatkan.
2. Menyadari sepenuhnya akan keberadaan sumberdaya alam tersebut, melalui kesadaran politik, bangsa Indonesia telah mengimplementasikan keinginan untuk memanfaatkan sumberdaya kelautan dan perikanan tersebut dengan berdirinya Departemen Kelautan dan Perikanan pada tahun 1999 di mana bidang perikanan diharapkan menjadi tulang punggung penggerak pembangunan kelautan Indonesia dalam upaya menjadikan laut sebagai pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia
3. Bidang perikanan sebagai aktivitas pemanfaatan sumberdaya hayati perairan yang meliputi usaha penangkapan, pemeliharaan (budidaya) dan pengolahan hasil sumberdaya hayati perairan, sampai saat ini masih mengandalkan sepenuhnya terhadap tersedianya bahan baku dari alam dalam kegiatan pemanfaatannya melalui kegiatan penangkapan ikan, sementara bidang budidaya perairan (mariculture) belum menampakkan kekuatannya dalam memanfaatkan teknologi khususnya dalam bidang pemuliaan, breeding, reproduksi, pakan dan penyakit
Melalui pendekatan Bioteknologi Molekuler diharapkan pemanfaatan sumberdaya hayati perairan yang tersedia akan dapat dimanfaatkan secara optimal.
PENGARANG : Nida Sopiah dan Joko Prayitno Susanto
Abstract
This research was conducted to isolate a bacteria which is used to produce chitin from a row material of shell crab waste.The research had been done to isolate a proteolytic bacteria from shell crab waste decay. The isolation got 2 (two) types of bacteria isolates which its have a proteolytic activity. One of the bacteria has a stick shape (bacillus) which it has a negative gram character and the other has a round shape (coccus) which has a positive gram character. The result of testing on deproteination ability and proteolytic activity show that the bacteria isolates had capability to decrease level of protein (deproteination) abaut 64,03-86,07% with enzyme activity around 0,01 (unit/ml/minute).
Katakunci : chitin, shell crab waste, protease activity
SUMBER :
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia, Vol.4, No.4 (Juli 2002), hal. 9-14 /HUMAS-BPPT/ANY
PENDAHULUAN
Sebagai negara maritim, Indonesia mempunyai potensi hasil perikanan laut yang sangat berlimpah, namun potensi ini masih belum bisa dimanfaatkan secara optimal. Menurut data Dirjen perikanan, total potensi ini diperkirakan sebesar 7,2 juta ton/tahun, dan yang bisa dimanfaatkan baru sekitar 40% atau 2,7 juta ton/tahun (1) . Baca entri selengkapnya »
PENGARANG : Danny M. Gandana dan Agus Krisnowo
Abstract Dryer is making its way into the consumer market; dryers have expanded their uses beyond just drying clothes but also to any material contained fluid. Dryers have also expanded in capacity, features, and styles, and come equipped with energy- and time-saving features, automatic settings, and myriad cycle and temperature options. Because dryers are long-lasting uses, it’s important to carefully consider -care needs as well as product durability, warranty, and service before making drier. The technology of fish drying that is designed in Lampung has been made. The system dimension is 1200mm x 1200mm x 2400mm and has capacity between 100-120 kg of fish. The dryer is designed to have drying rate to be than that of samples dried on open air drying around 3 times faster. and the rate of reducing moisture content of whole fish in the dryer much more faster than traditional drying (open air drying) and fish fillet faster than traditional one.
Kata kunci: fish dryer
Sumber :
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol.3, No.9, (Desember 2001), hal. 86-88 Humas-BPPT/ANY
PENDAHULUAN
Indonesia dikenal sebagai benua maritim yang mempunyai sumber daya alam laut yang berlimpah-limpah. Jutaan ikan lalu-lalang di perairan Indonesia. Dengan potensi yang sedemikian melimpah, nelayan akan dapat dengan mudah menangkap banyak ikan tetapi mendapatkan kendala kesulitan pemasaran terutama untuk usaha pengasinan ikan. Kendala usaha pengasinan ikan ini, terutama pada pengusaha pengasinan ikan bersekala kecil, adalah pada pengering ikan. Baca entri selengkapnya »
19/04/07 – Lain-lain: Artikel-dkp.go.id

oleh :
Mita Wahyuni & Rosmawaty Peranginangin
Gelatin merupakan protein hasil hidrolisis kolagen tulang dan kulit yang banyak digunakan untuk berbagai keperluan industri, baik industri pangan maupun non-pangan karena memiliki sifat yang khas, yaitu dapat berubah secara reversibel dari bentuk sol ke gel, mengembang dalam air dingin, dapat membentuk film, mempengaruhi viskositas suatu bahan, dan dapat melindungi sistem koloid. Pada suhu 71°C gelatin mudah larut dalam air dan membentuk gel pada suhu 49°C. Gelatin memiliki sifat larut air sehingga dapat diaplikasikan untuk keperluan berbagai industri.
Industri yang paling banyak memanfaatkan gelatin adalah industri pangan. Dalam industri pangan, gelatin digunakan sebagai pembentuk busa (whipping agent), pengikat (binder agent), penstabil (stabilizer), pembentuk gel (gelling agent), perekat (adhesive), peningkat viskositas (viscosity agent), pengemulsi (emulsifier), finning agent, crystal modifier, thickener. Dalam bidang farmasi, gelatin dapat digunakan dalam bahan pembuat kapsul, pengikat tablet dan pastilles, gelatin dressing, gelatin sponge, surgical powder, suppositories, medical research, plasma expander, dan mikroenkapsulasi. Dalam industri fotografi, gelatin digunakan sebagai pengikat bahan peka cahaya. Dalam industri kertas, gelatin digunakan sebagai sizing paper. Dengan kegunaan tersebut penggunaan gelatin sangat meluas hingga untuk produk-produk keperluan sehari-hari. Baca entri selengkapnya »
07/03/05 – Lain-lain: Artikel-dkp.go.id
Produksi perikanan laut Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat dan berkembang. Disamping kekayaan ikan di kawasan Indonesia yang berlimpah serta usaha untuk meningkatkan hasil tangkapnya yang terus menerus dilaksanakan, ternyata baru mencapai nilai 35% saja yang dapat dicapai.
Dari data yang dapat dikumpulkan, setiap musim masih terdapat antara 25 – 30% hasil tangkapan Ikan Laut yang akhirnya harus menjadi ikan sisa atau ikan buangan yang disebabkan karena berbagai hal.
-
Keterbatasan pengetahuan dan sarana para nelayan di dalam cara pengolahan ikan. Misalnya, hasil tangkapan tersebut masih terbatas sebagai produk untuk dipasarkan langsung (ikan segar), atau diolah menjadi ikan asin, pindang, terasi serta hasil-hasil olahannya.
-
Tertangkapnya jenis-jenis ikan lain yang kurang berharga ataupun sama sekali belum mempunyai nilai di pasaran, yang akibatnya ikan tersebut harus dibuang kembali.
Diantara bahan alami, ikan tercatat sebagai bahan yang sangat cepat membusuk. Karenanya begitu ikan tertangkap, maka proses pengolahan dalam bentuk pengawetan dan pengolahan harus segera dilakukan. Juga selama pengolahan ikan, masih banyak bagian-bagian dari ikan, baik kepala, ekor, maupun bagian-bagian yang ditermanfaatkan akan dibuang. Tidak mengherankan kalau sisa ikan dalam bentuk buangan dan bentuk-bentuk lainnya berjumlah cukup banyak, apalagi kalau ditambah dengan jenis-jenis ikan lainnya yang tertangkap tetapi tidak mempunyai nilai ekonomi. Ditambah lagi, ikan-ikan sisa dan yang terbuang tersebut secara langsung maupun tidak langsung banyak membawa problema lingkungan di kawasan pesisir, minimal dalam bentuk gangguan terhadap kebersihan, sanitasi dan kesehatan lingkungan. Baca entri selengkapnya »



















Komentar Terakhir