You are currently browsing the category archive for the ‘penyakit’ category.
29/07/04 – Lain-lain: Artikel-dkp.go.id
Keganasan penyakit bercak putih bakterial (WSSV, White Spot Syndrome Virus) tidak hanya berdampak pada udang windu (Penaeus monodon) saja, tetapi juga dapat berdampak pada spesies krustase lainnya. Karena itu wabah penyakit dan penyebarannya harus dicegah.
Tanda serangan :
- Terdapat tanda seperti bercak pada kulit udang berdiameter 0,5-2 mm.
- Udang dalam keadaan lemah, berenang ke permukaan, kemudian mendekat ke pematang dan mati.
- Tanda bercak sering tidak terdapat, tetapi pola kematian yang terjadi dalam skala logaritmis, yaitu kematian pada hari berikutnya mencapai 10 kali lipat, dan biasanya hanya dalam waktu antara 3-5 hari sejak gejala kematian pertama teramati kematian sudah mencapai 100%.
Faktor Pemicu Timbulnya Penyakit
Beberapa faktor pemicu timbulnya penyakit adalah :
- Blooming fitoplankton kemudian mengalami kematian secara mendadak.
- Kadar oksigen rendah.
- Terjadi fluktuasi pH harian yang besar.
- Rendahnya temperatur air.
- Turun hujan secara mendadak.
- Pengelolaan pakan yang kurang baik. Baca entri selengkapnya »
27/04/04 – Lain-lain: Artikel-dkp.go.id
Penyakit secara umum didefinisikan sebagai ketidaknormalan terhadap fungsi sebagian atau seluruh organ tubuh dikarenakan adanya gangguan faktor-faktor abiotik / non-infectious disease (kualitas air, makanan dan lainnya) dan faktor biotik / infectoius disease (organisme penyebab penyakit atau patogen).
Beberapa penyakit udang yang sering ditemukan di lapangan dapat disebabkan oleh patogen virus, bakteri, parasit ataupun jamur. Berikut dijelaskan secara ringkas beberapa penyakit potensial yang akhir-akhir ini sering menimbulkan kerugian pada budidaya udang di tambak, gejala klinis, serta upaya penanggulangannya.
1. Penyakit udang gripis/penyakit bercak coklat putih pada cangkang
Penyebab : Jenis bakteri Vibrio sp., Pseudomonas sp., Myxobacterium sp., dan Flavobacterium sp.
Gejala Klinis : Warna tubuh putih kecoklatan, karapas, kaki jalan, kaki renang dan ekor udang mengalami kerontokan, lemah dan nafsu makan berkurang. Baca entri selengkapnya »
24/03/04 – Lain-lain: Artikel-dkp.go.id
Keberhasilan suatu usaha budidaya ikan tidak terlepas dari masalah penyakit dan parasit ikan. Meskipun jarang terjadi pada kolam-kolam yang terawat dengan baik, wabah penyakit dan parasit yang menyerang ikan dapat menimbulkan kerugian besar bagi petani ikan karena sering menyebabkan kematian ikan secara massal.
Adapun organisme penyebab penyakit dan parasit yang biasa menyerang ikan umumnya berasal dari golongan jamur, bakteri, virus dan hewan invertebrata.
Sebenarnya kerugian yang timbul karena adanya serangan penyakit dan parasit dapat dihindari dengan pengeiolaan koiam secara baik. Apabila kebersihan kolam, kualitas dan kuantitas air terpefihara dengan baik, kemungkinan terjadinya serangan penyakit atau parasit pada ikan yang dibudidayakan dapat diperkecil. Baca entri selengkapnya »
28/01/04 – Lain-lain: Artikel-dkp.go.id
Definisi penyakit dalam patologi ikan
Penyakit didefinisikan sebagai suatu keadaan fisik, morfologi, dan atau fungsi yang mengalami perubahan dari kondisi normal karena beberapa penyebab, dan terbagi atas dua kelompok yaitu penyebab dari dalam (internal) dan luar (eksternal). Penyakit ikan umumnya adalah eksternal. Penyakit internal : genetik, sekresi internal, imunodefisiensi, saraf dan metabolik. Penyakit eksternal :
1). Non patogen
- Penyakit lingkungan :suhu dan kualitas air lainnya (pH, kelarutan gas, zat beracun).
- Penyakit nutrisi : kekurangan nutrisi, gejala keracunan bahan pakan.
2). Patogen; bersifat parasit dan terdiri atas empat kelompok yaitu :
- Penyakit viral
- Penyakit jamur
- Penyakit bakterial Baca entri selengkapnya »
02/11/06 – Informasi: Karantina-dkp.go.id
Tindakan Karantina meliputi:
-
PEMERIKSAAN DOKUMEN DAN PERSYARATAN KARANTINA
-
Memeriksa kelengkapan, keabsahan, dan kebenaran dokumen usaha pengguna jasa;
-
Memeriksa kelengkapan, keabsahan, dan kebenaran dokumen lalu lintas komoditi perikanan;
-
Memeriksa persyaratan karantina, antara lain: Baca entri selengkapnya »
-
05/10/06 – Informasi: Karantina-dkp.go.id
Kegiatan impor:
Selama kegiatan impor, jenis-jenis HPI/HPIK yang dominan ditemukan pada media pembawa antara lain adalah Gyrodacfylus sp dan Dactylogyrus sp untuk golongan parasit. Plesiomonas sp dan Pseudomonas sp untuk golongan bakteri. Jenis-jenis HPI/HPIK tersebut banyak ditemukan pada media pembawa berupa ikan hias dan induk udang Vannamei. Baca entri selengkapnya »
27/09/06 – Informasi: Karantina

Tuberculosis atau mycobacteriosis pada ikan merupakan jenis penyakit yang bersifat sub-akut dan penyakit ini dapat ditemukan pada jenis ikan air tawar, payau maupun ikan air laut.
Tuberculosis pada ikan (piscine tuberculosis) pertama kali ditemukan pada ikan-ikan mas (Cyprinus carpio) yang hidup di sebuah danau kecil di Perancis pada tahun 1987 dimana danau tersebut banyak menerima polutan yang berasal dari pusat perawatan pasien tuberculosis (sanatorium) disekitarnya.
Etiologi
Penyebab timbulnya penyakit dari piscine tuberculosis ini adalah jenis bakteri Mycobacterium marinum pada ikan-ikan air laut dan Mycobacterium fortuitum pada ikan-ikan air tawar dan payau.
M. marinum dan M. fortuitum memiliki bentuk batang dengan lebar 0,3 – 0,7 mikrometer dan panjang 1 – 4 mikrometer, bersifat Gram positif, tidak membentuk spora, non motil dan acid-fast. Bakteri ini relatif fastidious, dapat tumbuh pada media tertentu, dan pertumbuhannya sangat lambat bahkan pada media yang sesuai.
Mycobacterium tidak memiliki pigmen kecuali apabila ditumbuhkan paa media telur (egg medium) yang dipertebal dan terkena sinar matahari akan menghasilkan koloni bewarna kuning. Koloni berbentuk bulat, cembung di tengah dan rata pada bagian pinggirnya. Suhu optimum pertumbuhannya adalah sekitar 25 – 35 °C, tetapi masih dapat tumbuh dengan baik pada suhu 18 -20 °C. Bakteri ini tidak dapat tumbuh pada suhu di lebih dari 37 °C. Baca entri selengkapnya »
13/08/04 – Informasi: Karantina
Hama dan penyakit ikan karantina golongan bakteri yailtu Aeromonas salmonicida, Renibacterium salmoninarum, Nocardia spp., Edwardsiella ictaluri, Pasteurella piscicida, Aerococcus viridans (var) homari, Mycobacterium spp., Edwardsiella tarda, Streptococus spp. dan Yersinia ruckeri.
Beberapa jenis bakteri tersebut dilaporkan telah terdapat di Indonesia namun belum tersebar luas, yaitu Aeromonas salmonicida di Jawa, Mycobacterium sp. di Jawa dan Sumatera, Edwardsiella tarda di Jawa serta Streptococcus sp. di Sulawesi.
Upaya pencegahan melalui tindakan karantina terhadap ikan-ikan yang diimpor dari luar negeri maupun yang dilalulintaskan di dalam wilayah Indonesia harus dilakukan untuk mencegah masuknya jenis-jenis bakteri yang belum terdapat atau sudah terdapat di Indonesia tetapi belum tersebar luas. Baca entri selengkapnya »
28/06/06 – Informasi: Teknologi-dkp.go.id
Dalam budidaya kerapu ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti serangan penyakit oleh virus. Seperti infeksi oleh Viral Nervous Necrosis (VNN) dan Iridovirus. Sesekali terjadi serangan penyakit, akan terjadi mortalitas yang tinggi. Untuk mencegah penyakit ini, perlu dilakukan upaya secara berkesinambungan untuk mencegah terjadinya stress pada ikan yang dibudidayakan. Untuk itu ada beberapa cara hal penting yang harus diperhatikan yaitu siapkan fasilitas di lokasi terpilih, pilihlah benih yang sehat , berikan pakan berkualitas, dan kontrol penyakit (parasit dan bakteri)
1. Pemilihan Lokasi
Lokasi budidaya harus terlindung dari gelombang besar dari laut dan angin kencang. Kerapu di dalam jaring biasa berada pada dasar jaring kecuali pada saat pemberian pakan. Oleh karena itu, bila jaring selalu tergantung oleh gelombang besar, maka ikan akan mengalami stres berat. Selain itu perubahan salinitas dan air kotor juga akan memberikan efek yang membahayakan pada ikan kerapu. Air tawar dari sungai atau air hujan dan air limbah budidaya tambak udang atau pabrik juga harus dihindari agar tidak mengalir ke lokasi budidaya. Baca entri selengkapnya »


















Komentar Terakhir