You are currently browsing the category archive for the ‘konservasi’ category.


Sebagai salah satu negara kepulauan terbesar, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam hayati yang sangat potensial. Salah satu kekayaan tersebut yakni terumbu karang. Sebagai ekosistem yang khas dan terletak di daerah tropis, ekosistem terumbu karang memiliki produktivitas yang cukup tinggi sehingga keanekaragaman biota yang ada di dalamnya cukup besar. Misalnya, karang batu (scleractinian coral) sebagai komponen utama penyusun terumbu memiliki distribusi spesies tertinggi. Sekurang-kurangnya ada 590 spesies (sembilan di antaranya spesies baru) dari 793 spesies yang diketahui di dunia.

Beberapa peran penting ekosistem terumbu karang dapat dilihat dari segi estetika, sebagai pelindung fisik dan sebagai produk yang menghasilkan nilai ekonomi. Dari segi estetika, tidak dapat dimungkiri ekosistem terumbu karang menampilkan pemandangan yang sangat indah, sehingga sering juga disebut oleh para wisatawan sebagai surga bawah laut. Sebagai pelindung fisik terhadap pantai. Kerusakan terumbu karang akan mengurangi kemampuan karang untuk berperan dalam memberikan perlindungan terhadap pantai dari ancaman ombak besar.

Sebagai sumber ekonomi, ekositem tersebut menghasilkan berbagai jenis ikan karang, udang karang, alga, tripang, kerang mutiara, dan memberikan tempat perlindungan dan tempat berkembang biak bagi berbagai ekosistem karang. Terumbu karang memiliki peran utama sebagai habitat (tempat tinggal), tempat mencari makan (feeding ground), tempat asuhan dan pembesaran (nursery ground), dan tempat pemijahan (spawning ground) bagi berbagai jenis biota laut yang hidup di terumbu karang. Dengan demikian ekositem ini secara tidak langsung berhubungan dengan tingkat mata pencaharian masyarakat nelayan. Baca entri selengkapnya »


Dana pembuatannya berasal dari pinjaman luar negeri senilai US$ 7 juta.
Selasa, 13 Januari 2009, 17:00 WIB

Hadi Suprapto

(www.jakarta.go.id)

VIVAnews - Departemen Kelautan dan Perikanan berencana menambah empat hingga lima kapal patroli. Kapal-kapal tersebut digunakan untuk menjaga perairan indonesia dari pencurian ikan. Diprediksi, pembangunan kapal selesai pada 2011.

Direktur Jenderal Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Aji Sularso mengatakan, kapal berukuran berukuran 60 meter itu akan digunakan untuk mengawasi perairan Indonesia dari penangkapan ilegal.

Dana pembuatannya berasal dari pinjaman luar negeri senilai US$ 7 juta. Dia menjelaskan, DPR dan Bappenas sudah menyetujui rencana tersebut. “Tinggal menunggu persetujuan menteri Keuangan agar dimasukkan dalam daftar isian pelaksanaan anggaran tambahan 2009,” ujar dia.
Baca entri selengkapnya »


ADB dituduh telah merusak sistem perikanan di Indonesia.
Senin, 16 Maret 2009, 11:39 WIB

Umi Kalsum, Agus Dwi Darmawan

 

Ikan dan cumi di pasar tradisional (brebeskab.go.id)

VIVAnews – Kelompok Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) menuding Asian Development Bank telah memperparah krisis sektor perikanan di Indonesia.

Tudingan ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Kiara M Riza Damanik dalam demonstransi yang digelar di Departemen Keuangan, Jalan Wahidin nomor 1, Senin 16 Maret 2009.

Riza mengatakan, karena ADB, sistem perikanan di Indonesia kini telah rusak. “Dulu banyak tambak-tambak kita yang dimiliki oleh masyarakat tradisional, kini berubah dimiliki oleh korporasi,” katanya dalam orasi.

Politik pinjaman yang dilakukan lembaga keungan internasional itu, kata dia, telah meningkatkan  kemiskinan di Indonesia. Ia menyontohkan wilayah Lampung. Di daerah ini, model pengembangan intensifikasi usaha tambak telah membuat 60 persen lahan tambak dikuasai oleh korporasi. Padahal sebelumnya, lahan-lahan yang ada mayoritas dimiliki oleh masyarakat tradisional. Baca entri selengkapnya »


Untuk menunjang program ini, pemerintah akan menambah dua kapal patroli.
Selasa, 13 Januari 2009, 16:48 WIB

Hadi Suprapto, Anda Nurlaila

Kapal Hiu Macan (Dokumentasi Kedubes Australia)

VIVAnews - Pemerintah akan meningkatkan penjagaan ketat bagi kapal penangkap ikan secara ilegal.

Rencananya, pemerintah akan meningkatkan hasil tangkapan pemburu ikan ilegal dengan nilai Rp 700 miiar. Penangkapan ini lebih besar dari penangkapan 2008, sebesar Rp 650 miliar. Untuk menunjang program ini, pemerintah akan menambah dua kapal patroli.

Direktur Jenderal Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan, Aji Sularso mengatakan dua kapal patroli berukuran masing masing Hiu Macan Tutul 001 42 meter dan Hiu Macan 009 berukuran 36 meter. Kedua kapal tersebut beroperasi di dua perairan utama Indonesia.

“Kedua kapal patroli ini untuk menjaga zona ekonomi ekslusif,” ujar Aji dalam jumpa pers di Departemen Kelautan dan Perikanan, di Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Selasa 13 Januari 2008. Kapal Hiu Macan 009 akan beroperasi di perairan Indonesia Barat dan Hiu Macan Tutul 001 di perairan Indonesia Timur.

Kapal Hiu Macan Tutul 001 yang terbuat dari besi dengan anggaran Rp 28,5 miliar. Kapal ini beroperasi diperairan dengan gelombang laut yang lebih besar daripada di perairan barat. Sedangkan Hiu Macan 009 dengan ukuran 36 meter terbuat dari besi dengan anggaran Rp 17,5 miliar. “Kedua kapal itu dapat beroperasi satu minggu penuh di laut,” ujar Aji.

Dengan penambahan ini, jumlah kapal patroli di Indonesia 23 kapal. Paling tidak, satu kapal patroli bisa menangkap 10 kapal penangkap ikan ilegal. “Pada 2008, jumlah kapal patroli 21 kapal dapat menangkap 242 kapal penangkap ikan ilegal. Jadi tahun ini diperkirakan sekitar 200-an kapal berhasil ditangkap,” kata Aji.
Baca entri selengkapnya »


Paus mengeluarkan feses kaya zat besi secara alami menyuburkan permukaan air.
Jum’at, 23 April 2010, 21:14 WIB

Arry Anggadha, Harriska Farida Adiati

Paus biru (Corbis)

VIVAnews – Para peneliti Australia menemukan bahwa kotoran paus memiliki kegunaan untuk membantu memerangi pemanasan global. Feses hewan mamalia tersebut, menurut para ilmuwan Australia, merupakan pupuk alami bagi tumbuhan laut yang memungkinkan laut menyerap lebih banyak karbondioksida.

Penelitian teranyar dari Australian Antarctic Division mengatakan bahwa paus mengeluarkan feses kaya zat besi secara alami menyuburkan permukaan air. Ini menyebabkan keseluruhan ekosistem mengirimkan lebih banyak karbon ke perairan dalam.
Baca entri selengkapnya »


Hutan Mangrove itu ada di kedalaman 50 meter dari permukaan laut.
Senin, 27 Desember 2010, 12:12 WIB

Arry Anggadha, Dedy Priatmojo

Mangrove (dok. Corbis)

VIVAnews – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan bahwa terjadi peningkatan air laut di daerah Kalimantan Selatan hingga sekitar 50 meter.

“Kami menemukan adanya magrove atau hutan bakau di 50 meter di bawah permukaan laut,” kata Peneliti Oceanografi LIPI, Hasanuddin, di Jakarta, Senin 27 Desember 2010.

Seperti diketahui, hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai.

Meski demikian, Hasanuddin tidak mau terburu-buru menyimpulkan apakah kenaikan air laut ini disebabkan karena adanya perubahan iklim atau tidak. “Kami masih menduga apakah mangrove ini memang sudah tumbuh di situ sejak lama atau memang terbawa arus laut dan kemudian tumbuh di situ,” ujarnya. “Kami masih mencari bukti pendukungnya.”
Baca entri selengkapnya »


“Ikan ini memang besar sekali. Kami sangat terkejut dengan harga penjualan ini.”
Rabu, 5 Januari 2011, 15:16 WIB
Renne R.A Kawilarang, Denny Armandhanu

Ikan super mahal, tuna sirip biru, di pasar Tsukiji, Jepang (AP Photo/Kyodo News)

VIVAnews – Seekor tuna sirip biru raksasa di Jepang hari ini berpredikat sebagai ikan termahal di dunia. Melalui proses lelang di pasar Tsukiji, Tokyo, ikan itu laku dijual seharga 32,49 juta yen, atau sekitar Rp3,5 miliar.

Hasil lelang ikan seberat 342 kilogram ini berhasil mengalahkan sesama tuna sirip biru seberat 202 kilogram, yang dijual seharga 20,2 juta yen pada 2001 di tempat yang sama.

“Ikan ini memang besar sekali. Kami sangat terkejut dengan harga penjualan ini,” ujar juru bicara pasar ikan Tsukiji seperti dilansir kantor berita Associated Press, Rabu 5 Januari 2011.

Ikan ini dibeli secara patungan oleh perwakilan dua restoran sushi terkemuka, yaitu rumah makan Kyubey di Tokyo dan Itame di Hong Kong. Mereka lalu membagi dua ikan besar itu untuk disajikan kepada para pelanggan masing-masing.
Baca entri selengkapnya »


Ungaran, Taman wisata Rawa Pening berada di 4 kecamatan, yakni Ambarawa, Tuntang, Bawen dan Banyubiru. Untuk dapat masuk ke obyek wisata ini, pengunjung dapat masuk melalui jalan Raya Semarang Salatiga, maupun jalan raya Salatiga-Ambarawa Kabupaten Semarang.

Keindahan Rawa Pening ini dapat dinikmati pada saat pagi hari, karena tempat wisata Rawa Pening ini menawarkan keindahan danau pada waktu pagi.

Loket yang dibuka mulai pukul 8.30 hingga pukul 21.00 tersebut, memberikan kesempatan untuk pengunjung dapat berekreasi bersama keluarga di taman Rawa Pening, karena memang desain taman yang asri di taman Rawa Pening sangat cocok untuk rekreasi bersama keluarga, yang dilengkapi dengan penginapan yang ada di sekitar Rawa Pening, selain menikmati keindahan danau di Rawa Pening. Pengunjung dapat menyewa perahu yang telah disediakan di dermaga danau, pengunjung bisa berkeliling danau dan melihat banyaknya eceng gondok dan kehidupan nelayan dirawa pening tersebut.

Untuk menyewa perahu yang berkapasitas 10 sd 15 orang ini, pengunjung dapat menyewanya seharga Rp 25.000/jam, jadi untuk menghemat lebih baik menunggu orang lagi yang ingin menaiki perahu tersebut.

Pada malam hari banyak orang yang datang ke wisata rawa Pening ini untuk menikmati sajian ikan bakar, karena diareal luar taman banyak terdapat kedai dan rumah makan tradisional yang banyak menyediakan ikan gurame bakar.

Sementara bagi pengunjung yang hobi memotret/fotografi, keindahan Rawa Pening ini sangatlah unik. Terutama di pagi hari pada saat sunrise, sangat disarankan pengunjung datang ke taman Rawa Pening pada jam 5.00 pagi pada saat sunrise. Dan menunggu di dermaga tepi danau untuk memotret keindahan panorama danau Rawa Pening, konon suasana pagi dirawa pening sangat misterius dan mistis. Dan sangat indah untuk diabadikan lewat sebuah kamera. Baca entri selengkapnya »


Keindahan panorama di bawah laut di perairan seluruh Indonesia kini tampaknya sudah cukup memprihatinkan. Tidak terkecuali di perairan pantai di sekitar pinggiran Sletereng, yang sudah sekian lama mengalami kerusakan. Hal itu tampaknya banyak oknum pengusaha yang memanfaatkan keuntungan secara pribadi tanpa memikirkan pelestarian dan kelestarian panorama keindahan alam bawah laut.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Redaksi KabarIndonesia menyebutkan bahwa salah satu oknum pengusaha yang diduga meng-eksploitasi (memeras kekayaan alam) kekayaan alam bawah laut di Desa Sletreng tersebut yakni berinisial Arw (34), pemilik perahu garden yang juga warga Desa Sletreng tersebut selalu memanfaatkan kekayaan alam bawah laut demi keuntungan bisnis pribadinya, dengan cara menjual karang-karang dan terumbu karang ke Banyuwangi, dan di Banyuwangi ada seorang pengusaha yang mengekspornya ke luar negeri. Baca entri selengkapnya »


Pemerintah Daerah Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung tampaknya serius menjadikan daerah ini sebagai sentra perikanan darat unggulan di Provinsi Lampung. Baca entri selengkapnya »


Mungkin kita tak asing lagi mendengar nama ini, “Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW)”. Sebuah kawasan konservasi yang orang Sultra menyebutnya sebagai daerah perlindungan Rusa.

Sejak dulu, kawasan ini terkenal dengan polulasi Rusa dan Maleonya.   Secara administrasi, kawasan ini masuk dalam empat wilayah kabupaten. Yaitu, Konawe, Konawe Selatan, Kolaka, dan Bombana. Sebelumnya, kawasan ini merupakan kawasan hutan Taman Buru Dataran Rumbia dan Suaka Margasatwa Rawa Aopa – Gunung watumohai. Kawasan ini merupakan kesatuan kawasan yang memiliki empat tipe ekosistem di Sulawesi. Yaitu, ekosistem hutan seluas 64.569 hektar, ekosistem rawa 11.488 hektar, ekosistem savana 22.964 hektar dan ekosistem mangrove 6.173 hektar. Keempat ekosistem itu saling bertergantungan. Satu eksosistem rusak, maka akan mempengaruhi ekosistem lainnya. Karena satu-satunya daerah konservasi Sulawesi dengan ekosistem lengkap ada di kawasan ini, maka pada tahun 1990, daerah ini ditetapkan menjadi kawasan Taman Nasional Rawaopa Watumohai (TNRAW) berdasarkan surat keputusan Mentri Kehutanan nomor 756.

Berdasarkan hasil survei petugas balai TNRAW tahun 2002, tercatat, sejumlah 501 jenis tumbuhan dari 110 famili. Diantaranya terdapat beberapa jenis tumbuhan yang dilindungi antara lain Damar (Agathis Hiomii) dan Kasumeeto (Dyospyros Malabarica). Selain itu, kawasan yang teletak di empat wilayah kabupaten ini, memiliki populasi 28 jenis mamalia diantaranya 13 jenis endemik sulawesi), 4 jenis Amphibia dengan 1 jenis endemik sulawesi, 7 jenis reptilia, 8 jenis pisces, 207 jenis Aves diantaranya 38 endemik sulawesi dan 9 endemik indonesia).

Rawa berfungsi sebagai tempat cadangan (reservoir) air dan mengatur air, baik dari daerah tangkapan hujan maupun air limpasan (run-off) sehingga kesatuan ekosistem ini merupakan contoh yang baik dari habitat limpasan banjir dan sumber cadangan air tawar. Sementara pada bagian tengah dan Selatan, daerah tangkapan hujan di G. Watumohai dan G. Mendoke merupakan sumber air bagi sungai-sungai yang mengalir ke daerah pantai. Baca entri selengkapnya »


Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.504 pulau dan baru setengahnya yang identifikasi (Data dari Ekspedisi Garis Depan Nusantara 2008 yang merupakan insiatif oganisasi pecinta lingkungan Wanadri dan komunitas budaya Rumah Nusantara. Kegiatan ini didukung Departemen Kelautan dan Perikanan, Departemen Perhubungan, TNI AL, Bakosurtanal, Medco Energi, KOMPAS, TransTV, dan Trans-7) Jumlah yang besar ini mengindikasikan pula kekayaan flora dan fauna yang dipunyai Indonesia.

Dalam buku yang dikeluarkan Conservation International: “Megadiversity : Earth’s Biologically Wealthiest Nations” (1998) disebutkan bahwa Indonesia berada di urutan kedua dalam hal keanekaragaman hayati. Namun eksploitasi berlebihan pada sumberdaya hayati sekarang ini menjadi isu kritis, dan menjadi masalah besar dalam manajemen keanekaragaman hayati khususnya keanekaragaman biota laut. Isu terakhir yang banyak menyita perhatian adalah kerusakan terumbu karang (coral reef), karena perannya yang sentral dalam ekosistem laut.

Dengan panjang pantai 81.000 km Indonesia bisa dikatakan negara yang memiliki paling banyak ragam terumbu karang di kawasan Asia Pasifik. Luas terumbu karang Indonesia mencapai 51.000 km2 atau setara 18% terumbu karang di dunia. Namun kini keberadaannya terancam, dan diperkirakan tinggal enam persen saja yang masih baik dan utuh. Dari hasil penelitian P3O-LIPI sudah berhasil diidentifikasi 354 tipe dan 75 famili terumbu karang. Terumbu karang mempunyai banyak peran penting. Dengan keberadaannya, terumbu karang dapat mencegah abrasi, karena pantai dan desa-desa yang terletak di dekat pantai terlindungi dari hantaman ombak. Terumbu karang juga merupakan pemasok penting untuk bermacam-macam kegiatan industri, seperti industri farmasi, kesehatan dan industri pangan.

Terumbu karang juga berguna untuk meningkatkan animo masyarakat pada kegiatan diving, karena variasi terumbu karang yang berwarna-warni dan dalam bentuk yang memikat merupakan atraksi tersendiri untuk orang-orang asing maupun turis domestik, sebagaimana misalnya di Maluku, Papua dan Sulawesi Utara. Dan yang jarang diketahui orang adalah kemampuan terumbu karang dalam memproduksi oksigen sebagaimana hutan di daratan, sehingga pesisir laut dapat menjadi habitat yang nyaman bagi bermacam-macam biota laut.

Selama berabad-abad penduduk yang tinggal di dekat pantai “berhubungan” dengan terumbu karang dalam kondisi yang harmonis. Namun dalam beberapa waktu terakhir ini, melalui introduksi teknologi baru dan naiknya permintaan terhadap produksi laut menyebabkan terumbu karang menjadi obyek dari perusakan yang serius. Banyak ilmuwan melihat bahwa penyebab utama kerusakan terumbu karang adalah manusia (anthropogenic impact), misalnya melalui kegiatan tangkap lebih (over-exploitation) terhadap hasil laut, penggunaan teknologi yang merusak (seperti potassium cyanide, bom ikan, muro ami dan lain-lain), erosi, polusi industri dan mismanajemen dari kegiatan pertambangan telah merusak terumbu karang baik secara langsung maupun tidak langsung.

Selama ini nelayan selalu dianggap oleh berbagai pihak lain sebagai perusak lingkungan, khususnya terumbu karang. Beberapa jenis teknologi yang mereka gunakan untuk menangkap ikan itu tidak ramah lingkungan atau merusak lingkungan (unfriendly technology), contohnya adalah penggunaan bom ikan, potassium sianida dan lain-lain. Fenomena yang banyak menarik perhatian banyak pihak adalah nelayan pengguna potassium cyanide (KCN atau potas atau sianida) karena dua alasan. Pertama, tingkat kerusakan yang ditimbulkan senyawa kimia ini terhadap terumbu karang sangat signifikan, dan kedua adalah meningkatnya jumlah nelayan pengguna potassium cyanide ini seiring dengan masa krisis BBM di Indonesia.

Menurut M Imran Amin, dari Telapak dalam bukunya yang berjudul Semprotan Maut di Nusantara, dijelaskan bahwa penggunaan potassium cyanide sudah begitu meluas karena 60 persen nelayan Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka mengandalkan hidupnya dari mencari ikan. Supaya dapat ikan banyak tanpa perlu melaut (karena harga BBM yang mahal), mereka menyemprotkan potassium cyanide di sela-sela terumbu karang di tepi pantai.

Tanpa perlu melaut, mereka akan mendapat ikan dalam jumlah yang cukup banyak.  Apa sebabnya?  Karena racun Potassium cyanide sangat mudah ditemukan di pasaran dengan harga rata-rata antara Rp40 ribu- 50 ribu per kilogramnya.  Satu kali semprotan sianida atau sekitar 20 cc dapat mematikan terumbu karang seluas setengah lapangan sepak bola (5×5 m2) dalam waktu 3-6 bulan.  Dalam waktu tidak lama terumbu karang berubah warna menjadi putih dan hancur. Masa regenerasi terumbu karang untuk kembali ke kondisi semula membutuhkan waktu sampai ratusan tahun.   Baca entri selengkapnya »


Duri tak selamanya harus dibuang. Nyatanya dari hasil penelitian, duri ikan yang mengandung banyak gizi itu dapat diolah menjadi abon yang gurih rasanya. Ide ini lahir  setahun lalu di SMK Negeri 3 Pati.  Seperti apa pembuatan abon dari duri ikan bandeng ini? Pewarta HOKI telah mewawancarai penggagasnya, seorang guru Kewirausahaan SMK Negeri 3 Pati, yaitu Ibu Sri Puji Haryati SPd.

Pewarta HOKI:
Kalau pembuatannya dari awal seperti apa?

Sri Puji Haryati:
Pertama duri itu setelah dicuci bersih, dipresto dengan menggunakan panci bertekanan tinggi, sehingga untuk memasak bahan keras seperti duri jadi cepat lunak. Setelah itu diberi bumbu dan digoreng sampai kering.  Setelah berwarna kuning dan kering, kemudian dipres untuk mengeluarkan minyaknya, dengan tujuan agar mampu bertahan lama. Tidak diperas pun juga bisa tapi cepat (tengik), namanya abon basah.
Kemudian diblender agar hasilnya lebih halus teksturnya, karena kalau kasar kurang nikmat dimakan. Baca entri selengkapnya »


Perairan Sulawesi Utara (Sulut) layak dijadikan konservasi ikan purba Coelacanth, sejalan dengan cukup seringnya ikan jenis itu ditemukan di wilayah tersebut.

“Beberapa tahun terakhir di perairan Sulut ditemukan ikan purba Coelacanth, makanya perlu diberi perhatian serius sehingga ikan tersebut tidak punah,” kata Heard Runtuwene, peneliti dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Sam Ratulangi, Manado, Kamis (24/9).

Coelacanth adalah ikan yang berasal dari sebuah cabang evolusi tertua yang masih hidup dari ikan berahang. Sebelumnya, ikan tersebut sempat diperkirakan sudah punah sejak akhir masa Cretaceous 65 juta tahun lalu, sampai sebuah spesimen kemudian ditemukan di Timur Afrika Selatan, di perairan Sungai Chalumna tahun 1938.

Di Indonesia, khususnya di sekitar perairan Manado dan Minahasa Utara, spesies ini oleh masyarakat lokal dinamai ikan raja laut. Coelacanth terdiri atas sekitar 120 spesies yang diketahui berdasarkan penemuan fosil. Baca entri selengkapnya »


Kalau ditanya hewan apa yang paling banyak hidup di lautan, tentu jawabnya adalah ikan. Menurut para ilmuwan ternyata ikan pula yang menentukan baik tidaknya kualitas air laut. Kotorannya ternyata mengendalikan siklus karbon di air laut sehingga tahan terhadap perubahan iklim.

Pemodelan komputer menunjukkan bahwa populasi ikan menghasilkan kotoran yang mengandung karbon anorganik kalsium karbonat dalam kadar tinggi yang bermanfaat untuk mengendalikan keasaman air laut. Selain mengendalikan keasaman, kalsium karbonat yang berwujud putih seperti kapur juga berguna untuk mendukung ekosistem laut dan pembentukan terumbu karang.

“Senyawa tersebut membantu pengendalian jumlah karbon dioksida yang diserap lautan dari atmosfer pada masa depan,” ujar Villy Christensen dari University British Columbia yang melaporkan penelitiannya dalam jurnal Science teranyar seperti dilansir Reuters.

Selama ini, sumber kalsium karbonat hanya diketahui berasal dari organisme renik plankton. Namun, ternyata kotoran ikan menyumbang 3-15 persen kalsium karbonat di laut atau sekitar 110 juta ton per tahun. Itu pun baru populasi bony fish, sekelompok ikan yang tubuhnya bertulang keras saja. Bony fish mewakili 90 persen populasi ikan di samudera. Hiu dan pari tidak masuk dalam kelompok ini.

“Populasi bony fish yang diperkirakan antara 812 juta hingga 2 miliar ekor menekan dampak perubahan iklim melalui siklus karbonnya,” ujar Christensen. Karena dampak perubahan iklim terus meningkat, peranan ikan akan semakain besar dalam mengendalikan siklus kimia lautan di masa depan.

kompas.com, 16 Januari 2009

RAIH SARJANA NEGERI 3 TAHUN - TANPA SKRIPSI - ABSENSI HADIR KULIAH BEBAS - COCOK BUAT ANDA KARYAWAN SIBUK
http://www.sarjana3tahunlul.us/

since dec27'07, thanks to

  • 3,415,276 visitors
Potensi perikanan di republik ini sungguh sangat berlimpah di perairan darat maupun di lautan, namun sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan rakyat. Karena kebokbrokan mental aparatur negara hasil perikanan laut kita terkuras oleh 'ilegal fishing' -nyaris sama seperti hutan kita yang gundul oleh 'ilegal logging', semuanya hanya dinikmati sekelompok rakus yang tidak memikirkan kemajuan bangsa bersama. Bundel kliping info perikanan ini semoga dapat menghimpun segala informasi untuk menggugah masyarakat luas akan urgensi penyelamatan potensi perikanan nasional khususnya perikanan laut agar tetap lestari bagi kemakmuran anak cucu kita.

a





Recent Readers

View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile



pranatamangsa

Mei 2013
S S R K J S M
« Agu    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
apakah anda memerlukan bea siswa ke PTN ? anda lulusan SLTA 2007,2008 dan rangking 9 besar di kelas ?
beasiswa klik disini

Tulisan Terkini

Flickr Photos

yellow

Vanessa bikini girl -small

tits31rr

Tiff n Dana

suzfishing

suekat_cobia

sr-015

shelly

shelly 039_1

sharkchick

More Photos

www.bukansarjanabi.asia

Halaman

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 104 pengikut lainnya.