You are currently browsing the category archive for the ‘ikan patin’ category.
Pangkalankerinci, Masyarakat Pelalawan, Riau khususnya yang berada di bantataran Sungai Kampar begitu sumringah ketika musim ikan Patin Kualo datang (patin khas Pelalawan-red). Pasalnya, seorang nelayan bisa mendapatkan penghasilan jutaan rupiah sehari.
Meskipun hanya dua kali dalam satu tahun. Berburu ikan tersebut menjadi langganan menarik bagi warga. Kegiatan yang penuh ritual-ritual suci dan unsur magis ini selalu tergambar saat pelaskanaan.
Tidak semua orang bisa melakukan penangkapan ikan Patin Kualo tersebut khususnnya diperaian Sungai Kampar. Terlebih lagi sungai yang berada persis dan melintasi di sepanjang perkampungan. Kondisi ini, terjadi sejak dulu kala dan sudah turun temurun. Meki ada para nelayan yang menggunakan tempat (wajan-red), yang bersangkutan harus, meminta izin pada para tetua.
Tidak itu saja, para pemakai tempat, pengguna tempat tangkapan tersebut harus mengeluar fee. Karena tempat tangkapan itu sudah dikuasai oleh kelompok-kelompok dan tidak sembarang orang melakukan penangkapan.
Akan tetapi cara penangkapan penuh dengan unsur magis dan ritual suci ini biasanya berupa jaring dengan ukuran cukup besar. Sebelum jaring itu ditebar ke sungai terlebih dulu dilakukan ritual. Baca entri selengkapnya »
Keberangkatan Mancing Mania (MM) beberapa waktu lalu ke Bangkok, Thailand, dipicu cerita tentang ikan bobot besar yang menghuni pemancingan di Negara Gajah Putih tersebut. MM pun akhirnya memutuskan untuk trip ke Bangkok atas ajakan Lisa Sanjaya (pemilik pemancingan Lembah Desa, Imogiri, Yogyakarta) dengan tujuan Bungsamran sebagai lokasi mancing terbaik.
Patut diketahui, Bungsamran merupakan tempat mancing terkenal di dunia sebagai bermukimnya ikan-ikan air tawar terbesar di dunia, seperti mekong raksasa lele (mekong giant cat fish), gurame siam raksasa, alligator gar dan arapaima yang tumbuh lebih dari 100 kg.
Seminggu menjelang keberangkatan kami mempersiapkan segala sesuatunya seperti kamera, handycam dan piranti pancing andalan. Selain saya (Rambe) dan Lisa Sanjaya ada 2 rekan lain, Sri Rahayu atau Ayu dari Yogya dan Deni pemancing asal Solo. Untuk piranti kami gunakan joran Maguro Napoleon dipadu ril Okuma Eclipz EC-90 dan joran Shino Doogtooth S 572 S-6 dengan ril Shino Saltwater Game 6000 PG plus senar Relix Quick Sink 60 lbs 300 meter.
Kedua joran itulah kami bawa ke Thailand untuk merasakan sensasi tarikan ikan bobot besar di Bungsamran dari jenis giant mekong cat fish (asal Sungai Mekong, Thailand), giant carp, giant catfish dan striped catfish (asal Sungai Chao Phraya, Thailand) giant snake (asal Srinakarin Dam) dan alligator gar serta arapaima gigas (asal Sungai Amazon, Amerika Selatan). Menurut informasi, bobot ikan terbesar mencapai 120 kg dengan jumlah spesies di dalamnya 50 jenis ikan.
Menuju Bangkok
Minggu, 9 Agustus kami berkumpul di Bandara Soekarno Hatta. Setelah proses imigrasi usai, pukul 4 sore pesawat take off menuju Bandara Suvarnabhumi, Bangkok yang ditempuh selama 3,5 jam. Pukul 8.00 malam (tidak ada perbedaan waktu dengan Jakarta) pesawat landing di International Airport Suvarnabhumi (30 km dari Kota Bangkok). Pengambilan barang beres kami menuju Hotel Novotel di Siam Square Soi 6, Pathumwan, Bangkok untuk menginap.
Keesokan harinya kami menuju Bungsamran atau disingkat BSR, di Jalan Soi Navamin 42 Navamin Rd, Bungkum Bangkapi, Bangkok. BSR ditempuh 1,5 jam dari Kota Bangkok (normalnya 45 menit tanpa macet). Jam 10 pagi kami tiba BSR. Setibanya di BSR para maniak mancing asal Jepang, Myanmar, Vietnam, Malaysia, Australia, Korea Selatan dan Jerman pun datang kesini.
Saat melangkahkan kaki ke dalam BSR tampak hamparan luas pemancingan yang luasnya 98.000 meter. BSR begitu lengkap mulai dari toko pancing, sewa alat pancing, mini bar, billiard, bungalow, restoran dan mini market. Untuk sewa alat pancing, ibarat kata, tidak bawa piranti pun bisa mancing, tentunya dengan sewa tidak murah. Setelah membayar fishing license 1000 Baht/joran/12 jam (1 Baht Rp 325), umpan (Lam bahasa Thai) 500 Baht, jaring besar (Bignet) 60 Baht plus deposit 200 Baht dan kedi 1000 Baht, kami langsung menuju toko pancing 7 Seas Pro Shop —masih di area BSR— untuk membeli mata kail dan pelampung. Baca entri selengkapnya »
Meski petani tambak (petambak) di Kota Pekalongan mampu mengembangkan budi daya ikan patin ekspor dengan baik, tapi mereka terkendala pemasaran.
Karena itu sebagian besar petambak lebih memilih mengembangkan budi daya ikan lele lantaran lebih mudah dijual ke pasaran.
Hal tersebut kemarin terungkap dalam inspeksi mendadak (sidak) Komisi III DPRD Kota Pekalongan di lahan tambak ikan lele dan patin binaan Dinas Pertanian Peternakan dan Kelautan (DPPK).
Pranoto, petambak ikan patin dan lele di Kelurahan Soko menyebutkan, sebenarnya pembudidayaan ikan patin dapat mudah dilakukan seperti budi daya ikan lele. Namun dia sekarang ini terkendala masalah pemasaran.
”Kalau ikan lele sudah banyak yang mengambil, begitu panen semua bisa langsung terjual. Untuk ikan patin, kami masih kesulitan, sebab belum banyak peminatnya,” kata dia.
Ekspor Kendati demikian, ikan patin sangat diminati hotel berbintang seperti Hotel Nirwana Pekalongan yang sering membeli ikan dari hasil panen petambak karena pangsa pasar ikan sejenis lele tersebut adalah ekspor.
Selain masalah kendala pemasaran, petambak juga menginginkan agar Pemkot melalui DPPK memberikan bantuan alat pembuatan pakan agar petambak dapat efisien dan ekonomis melakukan kegiatan pembudidayaan. Baca entri selengkapnya »
Para ahli dari Conservation International Indonesia menemukan lima spesies ikan baru di perairan sekitar Pulau Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali.
Kelima spesies itu adalah Chromis sp, Priolepis 33 sp, Priolepis 11 sp, Pseudochromis sp, dan Trimma sp. Penemuan ini memperkaya sekitar 550 spesies ikan karang yang telah teridentifikasi sebelumnya, termasuk spesies campuran dari Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.
Direktur Marine Program Conservation International Indonesia Ketut Sarjana Putra mengatakan, pihaknya yakin kelima ikan itu termasuk spesies baru. Namun, pihaknya tetap menghubungi museum internasional dan beberapa organisasi internasional untuk memastikan.
”Kami berharap pemerintah daerah menjaga dan mengajak masyarakat untuk memelihara perairan di sekitar Nusa Penida, apalagi potensinya sangat besar untuk biota kelautan,” kata Ketut di Denpasar, Senin (1/12).
Chromis sp yang ditemukan memiliki warna oranye dengan ekor putih, panjang sekitar 12 cm, dan berasal dari famili demsel. Ikan tersebut pemakan plankton dan hidup secara berkelompok di kedalaman 20-50 meter.
Tiga jenis ikan lain, Priolepis 33 sp, Priolepis 11 sp, dan Trimma sp, masuk kelompok gobi dengan ukuran sekitar 3,5 cm. Ikan ini hidup di kedalaman mulai dari 50 meter. Ikan Pseudochromis sp termasuk dalam famili dottyback. Habitatnya di perairan arus kuat kedalaman 25-60 meter. Warna badannya coklat kemerahan serta ada garis kuning dan biru di bawah kelopak mata.
Temuan itu dihasilkan dari penelitian Nusa Penida Marine Rapid Assessement Program selama 10 hari, 20-30 November. Penelitian melibatkan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Kementerian Negara Riset dan Teknologi, SEACORM, Yayasan Bahtera Nusantara, Universitas Udayana, dan Universitas Warmadewa.
Gerry Allen yang dikenal sebagai ahli ikan kelas dunia juga terlibat dalam penelitian itu. Rapid menyimpulkan, 60 persen terumbu karang Nusa Penida masih tumbuh dengan baik. Saat ini tercatat ada 260 spesies dari 800 spesies di dunia.
kompas.com,2/12/2008
Sebagai tambahan dari ribuan anggota satuan kepolisian dan tentara, enam ikan emas digunakan sebagai “satuan pengamanan” di pertemuan G-20 di Korea Selatan.
Enam ikan emas itu digunakan satpam pemeriksa kemurnian air (ada tidaknya kontaminasi) yang dialirkan ke kamar kecil di Convention and Exhibition Center South Korea, tempat diadakannya pertemuan tersebut. Oh Su-Young, Public Relation Manager yang bertugas mengatakan, ikan emas itu hanya salah satu bagian dari proses inspeksi.
Menanggapi penggunanan ikan emas tersebut, para aktivis hak hewan mengkritisi. Mereka mengatakan, dengan menaruh ikan emas sebagai bagian dari proses pemeriksaan, Korea Selatan telah menaruh ikan-ikan tersebut dalam kondisi bahaya. People for Ethical Treatment of Animals (PETA) mengklaim bahwa ikan emas bisa merasakan rasa sakit yang sama dengan manusia, anjing dan kucing.
“Melindungi para pemimpin dunia memang merupakan hal serius. Tetapi, melindungi ikan yang akan merasakan rasa sakit yang sama dengan manusia juga sama seriusnya,” kata presiden eksekutif PETA, Tracy Reiman. Ia menulis surat pada pihak pemerintah Korea selatan yang mengurus hal tersebut dan mengatakan bahwa ada banyak cara untuk melindungi pemimpin tanpa mengorbankan ikan emas yang mungkin mati akibat air yang mungkin terkontaminasi.
Air yang dialirkan ke toilet Convention and Exhibition Center South Korea adalah air daur ulang. Pengelola gedung tersebut bekerjasama dengan pusat perbelanjaan yang ada di kompleks yang sama untuk melakukan proses daur ulang air. Mereka telah berhasil mendaur ulang 150.000 ton air dalam setahun dan mampu menghemat pengeluaran sebesar hampir 333 ribu dollar AS.
Su Young mengatakan bahwa penggunaan ikan emas adalah “simbolisasi kebijakan air ramah lingkungan”.
kompas.com,15/1/2010
karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |
| tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain |
| MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN |
022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net
ASPEK DAMPAK LINGKUNGAN
Dari sisi lingkungan, usaha ini tidak menimbulkan limbah yang berbahaya dan mencemari lingkungan karena seluruh masukan tidak menggunakan bahan-bahan berbahaya dan hasil produknya adalah ikan yang aman dikonsumsi masyarakat. Bahkan sebaliknya usaha ini rentan terhadap limbah yang ditimbulkan oleh usaha industri dan usaha pertanian yang menggunakan insektisida. Sampai saat ini belum ada keluhan dari masyarakat terhadap budidaya ikan patin yang dilaksanakan di kolam, keramba maupun sistem fence, baik dampak dari sisa pakan terhadap kualitas air sungai maupun dampak terhadap lalu lintas transportasi sungai.
Dalam pembuatan pelet yang menggunakan ikan asin BS, bekatul/dedak, ampas singkong dan ampas kedele tidak menyebabkan limbah, namun menimbulkan polusi bau tak sedap yang dapat tercium sampai dengan radius 20-30 meter. Untuk mengurangi dampak tersebut, dapur pembuatan pakan sebaiknya tidak berlokasi di perkampungan penduduk.
KESIMPULAN Baca entri selengkapnya »
karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |
| tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain |
| MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN |
022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net
PEMILIHAN POLA USAHA
Sebagaimana telah dijelaskan dimuka, peluang investasi budidaya pembesaran ikan patin masih cukup besar. Namun, belum diperoleh informasi baik dari hasil survey di kabupaten OKI maupun dari hasil penelitian sebelumnya mengenai skala usaha yang optimum untuk budidaya pembesaran ikan patin.
Dari hasil wawancara dengan pengusaha dan pengamatan di lapangan, hanya diperoleh informasi bahwa di daerah kabupaten OKI terdapat tiga sistem budidaya ikan patin yaitu sistem kolam, karamba (sangkar dan jaring apung) dan fence. Dari ketiga sistem tersebut, dua sistem yang potensial dapat dikembangkan adalah budidaya pembesaran ikan patin sistem karamba dan fence yang dilaksanakan secara semi intensif. Budidaya pembesaran ikan patin sistem kolam tidak berkembang dan jumlahnya relatif kecil. Berdasarkan hal-hal tersebut maka analisis keuangan akan dilakukan terhadap 2 pola pembesaran, yaitu :
- Analisis pola pembesaran ikan patin dengan sistem karamba.
- Analisis pola pembesaran ikan patin dengan sistem fence.
Ciri-ciri pola (a) adalah sebagai berikut : Baca entri selengkapnya »
karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |
| tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain |
| MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN |
022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net
PERSYARATAN LOKASI
Dalam budidaya ikan patin baik sistem karamba maupun fence terdapat 3 sub sistem pemeliharaan, yaitu pembenihan, pendederan dan pembesaran. Pembenihan adalah kegiatan pemeliharaan induk untuk menghasilkan telur sampai dengan larva. Pendederan adalah kegiatan pemeliharaan ikan patin ukuran tertentu dari hasil pembenihan sebagai transito sebelum dipelihara di tempat pembesaran. Pembesaran adalah pemeliharaan ikan patin ukuran tertentu dari hasil pendederan sampai menghasilkan ikan ukuran konsumsi.
Dalam usaha budidaya ikan patin persyaratan lokasi yang harus dipenuhi untuk mencapai produksi yang menguntungkan meliputi sumber air, kualitas air dan tanah serta kuantitas air. Kriteria persyaratan tersebut berbeda tergantung daripada sistem budidaya yang digunakan. Sebelum menetapkan lokasi usaha, selain harus memenuhi persyaratan tersebut perlu pula dipastikan kelayakan lokasi budidaya ditinjau dari segi gangguan alam, gangguan pencemaran, gangguan predator, gangguan keamanan dan gangguan lalu lintas angkutan air. Uraian berikut adalah persyaratan lokasi yang perlu diperhatikan menurut Khairuman, Amd dan Ir. Dodi Sudenda (Budidaya Patin Secara Intensif, 2002)
a. Persyaratan lokasi budidaya di kolam
Sumber air :
Sumber air dapat berasal dari saluran irigasi teknis, sungai atau air tanah yang berasal dari sumur biasa atau pompa. Pembesaran ikan patin tidak memerlukan sumber air yang senantiasa mengalir sepanjang waktu, namun untuk pembenihan kondisi airnya harus bersih. Baca entri selengkapnya »
karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |
| tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain |
| MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN |
022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net
PERMINTAAN
Secara nasional tidak diperoleh data mengenai besarnya permintaan konsumsi ikan patin. Namun, dari pengembangan budidaya ikan patin yang semakin meluas diduga bahwa permintaan ikan patin cenderung meningkat meskipun masih bersifat lokal dan belum merata di seluruh Indonesia. Permintaan ikan patin meningkat khususnya pada bulan-bulan tertentu yaitu pada hari raya keagamaan (Idul Fitri, Natal, dll). Hal lain yang menyebabkan permintaan ikan patin meningkat adalah karena ikan patin tergolong menu khusus atau istimewa menurut adat dan atau budaya lokal.
Besarnya permintaan pasar, ditandai dengan penjualan ikan patin oleh pedagang pengumpul/agen di kabupaten OKI ke kabupaten lain seperti Lahat, Prabumulih, Pagar Alam, Muara Enim, Palembang dan ke provinsi lain seperti Lampung, Bengkulu dan Jambi. Penjualan ikan patin ke luar kabupaten OKI rata-rata 40 ton per bulan. Di kabupaten OKI ada 5 pedagang pengumpul/agen, sehingga perdagangan ikan patin mencapai 200 ton setiap bulan atau 2.400 ton (77%) dari produksi budidaya ikan patin dalam setahun.
PENAWARAN
Produksi ikan patin semula hanya ikan patin lokal tangkapan yang berasal dari perairan umum di beberapa provinsi di Sumatera dan Kalimantan. Namun, saat ini produksi ikan patin sebagian besar adalah hasil budidaya, terutama sejak diperkenalkannya ikan patin jenis siam dari Thailand. Wilayah produksi budidaya ikan patin terdapat pada daerah tertentu, seperti di Sumatera Selatan, Lampung, Jambi, Riau Kalimantan Selatan dan Jawa. Dari segi sumber daya yang tersedia, wilayah tersebut cukup potensial untuk pengembangan budidaya ikan patin. Tidak diperoleh informasi mengenai produksi ikan patin dari budidaya dan perairan umum di Indonesia, namun dari hasil wawancara dengan peneliti di beberapa Balai Riset Perikanan Air tawar diperoleh kesan bahwa produksi ikan patin di Indonesia masih tergolong sedikit. Baca entri selengkapnya »
karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |
| tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain |
| MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN |
022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net
PENDAHULUAN
Dengan luas perairan umum yang terdiri dari sungai, rawa, danau alam dan buatan yang hampir mendekati 13 juta ha, Indonesia mempunyai potensi alam yang sangat baik bagi pengembangan usaha budidaya perikanan air tawar. Ikan patin adalah salah satu ikan air tawar yang termasuk dalam famili pangasidae dan dikenal dengan nama lokal patin, jambal atau pangasius. Ikan patin merupakan ikan konsumsi, berbadan panjang berwarna putih perak dengan punggung berwarna kebiru-biruan. Daging ikan patin memiliki kandungan kalori dan protein yang cukup tinggi, rasa dagingnya khas, enak, lezat dan gurih. Ikan patin dinilai lebih aman untuk kesehatan karena kadar kolesterolnya rendah dibandingkan dengan daging ternak.
Ikan yang biasanya ditemukan di sungai-sungai besar ini jenisnya relatif banyak dan sampai saat ini dikenal sekitar 13 jenis. Dalam bahasa Inggris ikan patin populer sebagai catfish alias ikan kucing lantaran mempunyai “kumis”. Jenis-jenis ikan patin menurut Khairuman, Amd dan Ir. Dodi Sudenda (Budi Daya Patin Secara Intensif, 2002) antara lain :
-
Patin lokal dengan nama ilmiah Pangasius spp. Salah satu jenis populer yang berpeluang menjadi komoditas ekspor adalah patin jambal (Pangasius djambal Bleeker) yang hidup di sungai-sungai besar di Indonesia. Jenis lain adalah patin kunyit yang hidup di sungai-sungai besar di Riau.
-
Pangasius polyuranodo (ikan juaro), Pangasius macronema (ikan rios, riu, lancang), Pangasius micronemus (wakal, rius caring), Pangasius nasutus (pedado) dan Pangasius nieuwenbuissii (ikan lawang) yang penyebarannya hanya di Kalimantan Timur.
-
Patin bocourti yang terdapat di perairan umum di Vietnam dan merupakan komoditas ekspor ke Amerika Serikat, Eropa dan beberapa negara Asia.
-
Patin siam dengan nama latin Pangasius hypopthalmus adalah patin bangkok atau lele bangkok lantaran asalnya dari Bangkok (Thailand)
Budidaya ikan patin lokal di Indonesia sudah mulai dirintis sejak tahun 1985, setelah Balai Penelitian Perikanan Air Tawar berhasil mengembangkan belum disebarluaskan kepada masyarakat. Baca entri selengkapnya »


















Komentar Terakhir