You are currently browsing the category archive for the ‘aturan’ category.


Sebanyak 85 persen dari 535.000 hektar luas terumbu karang di kawasan Taman Laut Nasional Takabonerate Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan dilaporkan telah rusak akibat tingginya kegiatan illegal fishing dengan bahan peledak dan bius. Baca entri selengkapnya »


Di awal konferensi Komisi Perlindungan Ikan Paus Internasional (IWC), di Anchorage Alaska, Jepang kembali mengajukan usulan untuk menghentikan moratorium perburuan komersial ikan paus. Tapi larangan tersebut hanya dapat dibatalkan dengan tiga perempat suara mayoritas.

Di masa lalu dalam komisi penangkapan ikan paus internasional IWC, Jepang berusaha menolak moratorium perburuan komersial ikan paus yang berasal dari blok  pro perlindungan ikan paus seperti Australia dan Jerman, serta membina kerja sama dengan negara berkembang yang mendukung untuk memburunya seperti Maroko dan Grenada. Sejauh ini lobby itu berhasil, dimana selain Jepang, Norwegia dan Islandia blok pendukung penangkapan ikan paus di IWC adalah negara miskin dan sangat miskin di Afrika, Asia dan Karibia. Pendapat mereka tentang politik larangan penangkapan ikan paus, disampaikan Anthony Liverpool wakil delegasi Antigua dan Barbuda di Karibia

“Itu tidak fair, ikan paus adalah bahan pangan di mana manusia memiliki hak untuk itu. Kami dapat bergantung padanya dan menikmati makanan kami. Dan mereka melarang orang yang ingin memanfaatkan ikan paus sebagai makanannya. Itu tidak benar, itu tidak akan pernah benar.” Baca entri selengkapnya »


Meskipun penggunaan racun potasium dan bom ikan sudah dilarang, kenyataannya masih saja digunakan sebagian kecil nelayan di perairan Kepulauan Seribu. Akibatnya, ada sekitar 10 jenis ikan yang nyaris punah. Ditambah lagi, rusaknya beberapa jenis ekosistem laut seperti terumbu karang.

Diakui Liliek Litasari Kepala Suku Dinas Perikanan dan Kelautan Kep Seribu, saat ini masih ada segelintir nelayan yang menggunakan racun potasium dan bom ikan dalam aktivitasnya. “Ada sekitar 30 persen nelayan yang masih gunakan racun potasium,” katanya Senin (3/3) siang.

Jumlah tersebut, lanjutnya, menurun drastis sejak dua tahun belakangan ini. “Sebelumnya, pihaknya gencar mensosialisasikan bahayanya penggunaan racun potasium oleh nelayan,” katanya. Dalam sosialisasi tersebut, ada sekitar 70 persen nelayan yang berkomitmen tidak lagi menggunakan bahan berbahaya tersebut. Baca entri selengkapnya »


Ukuran tubuh koi dewasa relatif besar. Warna-warni pada tubuhnya membuat kolam ikan semarak. Tak heran, makin banyak orang yang jatuh cinta memelihara ikan koi.

Jika Anda juga tertarik memelihara ikan koi, maka beberapa persiapan mesti dilakukan. Persiapan ini perlu dilakukan agar ikan koi yang harganya ratusan hingga jutaan rupiah per ekor itu dapat hidup sehat. Kira-kira begini persiapan yang mesti dilakukan:

Mempersiapkan dimensi kolam. Ketika memutuskan untuk memelihara koi, perhatikan dimensi kolamnya. Volume air sangat memengaruhi kesehatan ikan koi. Jika ikan tidak terlalu besar, maka buatlah kolam ikan yang tidak terlalu dalam, begitu pula sebaliknya. Kemudian, perhatikan pula jumlah populasinya di dalam kolam. Seimbangkan luasnya kolam dengan jumlah koi yang akan dipelihara. Kolam yang terlalu besar bisa menyulitkan koi untuk mencari makan.

Pasang aerator di dalam kolam. Selain berfungsi untuk mengalirkan oksigen ke dalam kolam, aerator juga berguna untuk menciptakan arus. Gelembung arus yang ditimbulkan aerator membuat koi sering bergerak. Hal itu bagus untuk koi sebab, makin besar ototnya, makin gendut pula tubuhnya.

Haluskan dinding kolam. Sifat koi yang gemar menggesekkan tubuhnya ke dinding kolam perlu diwaspadai. Dinding kolam yang bertekstur kasar bisa membuat sirip ikan koi terluka. Oleh karena itu, pilih jenis material yang halus untuk dinding kolam ikan. Keramik, misalnya.

Penyinaran. Sinar matahari berperan penting pada kesehatan ikan koi. Dalam sehari, koi membutuhkan hangatnya sinar matahari minimal tiga jam, apalagi untuk jenis koi hikari atau bersisik mengilap. Kekurangan cahaya matahari membuat warna pada tubuh koi memudar. Maka dari itu, ciptakan kolam yang cukup terang. Bila kolam ikan berada di dalam ruangan, maka Anda bisa menyinarinya dengan lampu pijar.

kompas.com, 26 Oktober 2010


Manusia membuat obat nyamuk, alat setrum nyamuk, hingga krim anti-nyamuk untuk bertahan terhadap aksi serangga penghisap darah dan pengganggu tidur itu. Di dalam air ternyata ada juga penghisap darah yang menyerang ikan atau sering disebut “nyamuk laut”. Namun, ikan jenis tertentu memiliki cara yang berbeda untuk mempertahankan dirinya dari “nyamuk laut”, yaitu dengan mensekresikan lendir atau mukus.

Ikan yang memiliki cara adaptasi tersebut adalah ikan kakatua (Chlorurus sordidus). Mukus produksi ikan ini dikeluarkan dari mulutnya dan melindungi seluruh tubuhnya. Mukus ini digunakan untuk melindungi diri dari serangan Gnothii isopods, semacam udang penghisap darah atau yang sebelumnya disebut “nyamuk laut” itu. Ini merupakan jenis parasit ikan.

Ilmuwan yang menemukan adaptasi tersebut adalah Alexandra Grutter, seorang ahli biologi kelautan dari University of Queensland, Australia. Ia mengetahuinya setelah melakukan penelitian yang dimulai dengan mengumpulkan sampel ikan kakatua dengan jaring besar berukuran 1,8 meter x 13,7 meter.

Di laboratorium, Grutter meletakkan ikan yang tak memproduksi lendir dan ikan kakatua dalam suatu wadah terpisah. Ia kemudian menaruh si nyamuk laut dalam wadah berisi kedua jenis ikan tersebut dan meninggalkannya selama 4,5 jam. Kemudian, ia membandingkan persentase ikan yang terserang “si nyamuk laut”.

Hasilnya, sebanyak 95 persen ikan yang tak memproduksi mukus terserang oleh “nyamuk laut”. Sementara itu, hanya 10 persen ikan yang memproduksi mukus terserang. Persentase itu membuktikan bahwa mukus benar-benar mampu melindungi ikan kakatua dan membuktikan secara ilmiah tentang fungsi mukus bagi pertahanan ikan kakatua.

“Lendir ini diproduksi sesaat setelah ikan mulai tidur. Lendir dikeluarkan dari mulut ikan dan mengalir ke bagian belakang tubuhnya hingga menutupi seluruh tubuh,” kata Grutter menerangkan produksi lendir pada ikan tersebut. Ia mengatakan, lendir ini sangat membantu ikan kakatua agar bisa tidur nyenyak.

Produksi lendir ini memakan 2,5 persen dari energi harian ikan kakatua. “Besarnya energi yang dikerahkan untuk membuat lendir ini mengharuskan ikan kakatua memiliki kelenjar yang cukup besar mendukung kerjanya. Parasit pun juga harus mengerahkan banyak energi untuk bisa menjebol pertahanan ikan ini,” urai Grutter.

Meski fungsinya telah diketahui, cara kerja lendir itu belum bisa dijelaskan. Masih belum jelas pula apakah lendir merupakan perlindungan fisik atau kimia. “Penelitian di lapangan akan sangat menarik. Namun, penelitian itu juga sangat berisiko karena harus bekerja dalam air dan kegelapan serta mengantisipasi predator seperti hiu,” kata Grutter.

Hasil penelitian tentang ikan kakatua ini dipublikasikan di jurnal Biology Letters yang terbit tanggal 17 November 2010. Ikan kakatua sendiri, sesuai namanya, memiliki mulut yang menyerupai paruh burung kakatua. Tubuh ikan ini sangat licin, sementara mulutnya yang menyerupai paruh burung mengharuskan manusia berhati-hati menangkapnya.

kompas.com, 18 November 2010


19/03/08 – Siaran Pers: Utama
dkp.go.id

No. 16/PDSI/III/2008

Perkembangan teknologi penangkapan ikan didunia menunjukan bahwa alat tangkap trawl merupakan alat penangkap ikan yang paling efektif dalam peningkatan produksi dan produktifitas hasil tangkapan. Alat tangkap trawl mulai dikembangkan di Indonesia sejak tahun 1960-an, baik pada nelayan skala kecil maupun skala industri. Akibat belum adanya sistem pengelolaan trawl yang baik, alat tangkap tersebut telah memberikan tekanan besar terhadap kelestarian sumberdaya ikan. Disamping itu keberadaan trawl juga di Indonesia ternyata menganggu keadaan nelayan tradisional yang merasa dirugikan sehingga menyulut protes yang keras pada masa itu. Pemerintah selanjutnya menerbitkan Keppres RI No. 39 tahun 1980 tentang Pelarangan Alat Tangkap Trawl di Perairan Indonesia. Demikian disampaikan menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi saat membuka workshop “Pengurangan Dampak Lingkungan melalui Introduksi Teknologi Alat Pereduksi Hasil Tangkapan Sampingan dan Perubahan Pengelolaan Trawl di Indonesia” di Hotel Mercuri, Ancol Jakarta (18/3).

Namun demikian, pelaksanaan Keppres tersebut tidak berjalan secara efektif, dan keberadaan trawl tetap eksis dan justru berkembang dengan cepat, baik pada skala kecil maupun industri. perkembangan selanjutnya cenderung memanipulasi nomen-klatur nama alat tangkap yang secara teknis termasuk dalam kategori trawl misalnya dengan menggunakan istilah “ pukat ikan”, “ pukat hela”’ dan sebagainya. Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk memperoleh legalitas formal. Tidak jelasnya pelaksanaan peraturan mengakibatkan terjadinya illegal fishing, dan bila terus dibiarkan diyakini dapat merusak kelestarian sumberdaya ikan dan menimbulakan konflik horizontal di tingkat nelayan. Baca entri selengkapnya »


01/04/08 – Info Aktual: IUU Fishing

Kapal Pengawas Perikanan Hiu Macan 004 milik Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) baru-baru ini berhasil menangkap 24 Kapal Penangkap Ikan di sekitar perairan laut Timika, Papua. Dari jumlah tersebut, sebanyak 22 buah kapal penangkap ikan berbobot rata-rata 100 – 300 GT. Dua lainnya merupakan kapal pengangkut ikan, masing-masing berbobot 900 GT dan 2600 GT. Dari seluruh kapal yang tertangkap, berhasil diidentifikasi sejumlah ABK asing masing-masing sebanyak 209 ABK berkewarganegaraan Taiwan, China dan Vietnam. Selebihnya yang 309 ABK berkewarganegaraan Indonesia. Dari data yang diperoleh, dari 24 kapal ikan yang tertangkap, berhasil ditemukan sebanyak kurang lebih 1200 ton ikan dari berbagai jenis. Dari jumlah tersebut, diperkirakan Negara dirugikan sekitar 1,5 milyar rupiah

Masih di seputar perairan Papua, tepatnya di Merauke, Kapal Pengawas Hiu Macan 001 juga berhasil menangkap 5 Kapal Ikan berbendera asing dan berbendera Indonesia denga rata-rata berbobot 116 GT hingga 330 GT. Dari kelima kapal yang tertangkap, 2(dua) kapal berbendera Indonesia tertangkap di wilayah ZEEI, dengan pelanggaran alat tangkap yang tidak sesuai dengan ijin. Sedangkan 3 kapal ikan lainnya merupakan kapal asing (China) tetapi tidak dilengkapi dokumen resmi, tertangkap di perairan pedalaman Yos Sudarso, dengan pelanggaran tidak memiliki SIPI dan SIUP. Dari 5(lima) kapal tangkapan ini berhasil ditemukan sebanyak 235 ton ikan dari berbagai jenis. Kelima kapal perikanan tersdebut kini telah di ad-hock di pelabuhan perikanan setempat. Dengan demikian, pada akhir Maret 2008 saja, DKP berhasil menangkap 29 Kapal Ikan di perairan Papua. Baca entri selengkapnya »


Pemerintah membolehkan kembali penggunaan jaring trawl untuk daerah tertentu saja
Adi Wikanto

posted by kontan on 03/19/08

JAKARTA. Pemerintah akhirnya kembali mengizinkan nelayan menggunakan jaring trawl atau pukat hela. Sebelumnya, melalui Keputusan Presiden (Keppres) RI Nomor 39/1980 pemerintah melarang jaring trawl karena bisa membahayakan ekosistem laut. Walau kini diizinkan, jaring trawl hanya boleh digunakan di kawasan tertentu.
Jaring trawl atau pukat hela bisa menangkap berbagai jenis ikan laut, termasuk ikan yang tidak mempunyai nilai alias tidak ekonomis. Jaring ini juga bisa merusak terumbu karang. Karena merusak lingkungan itulah, trawl pernah dilarang.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi menegaskan, pemerintah telah membolehkan kembali penggunaan jaring trawl dengan alasan negara-negara lain tak ada yang melarang penggunaan jaring itu. “Kalau negara lain menggunakan, kenapa kita tidak?” tanya Freddy, di Jakarta, Selasa (18/3). Untuk itu, pemerintah akan merevisi Keppres pelarangannya.
Menurut Freddy, pemerintah telah mengeluarkan peraturan baru yang membolehkan penggunaan trawl, yakni Peraturan Menteri (Permen) Nomor 06/Men/2008 tentang penggunaan alat penangkapan ikan pukat hela di Perairan Kalimantan Timur Bagian Utara, 26 Februari 2008 lalu. “Jadi jaring trawl boleh digunakan, tapi hanya di daerah tertentu,” kata Freddy.
Freddy menjelaskan, daerah yang diberi izin tersebut hanya daerah yang berbatasan dengan Malaysia. “Bila tidak diperbolehkan, kita yang akan rugi sendiri,” kata Freddy. Soalnya, banyak nelayan Malaysia menangkap ikan di daerah perbatasan menggunakan jaring trawl. Maklum, kawasan itu memang kaya akan udang.

Penggunaannya terbatas

Namun, kata Freddy, pemerintah tidak membuka lebar-lebar penggunaan jaring trawl. Baca entri selengkapnya »

RAIH SARJANA NEGERI 3 TAHUN - TANPA SKRIPSI - ABSENSI HADIR KULIAH BEBAS - COCOK BUAT ANDA KARYAWAN SIBUK
http://www.sarjana3tahunlul.us/

since dec27'07, thanks to

  • 3,415,467 visitors
Potensi perikanan di republik ini sungguh sangat berlimpah di perairan darat maupun di lautan, namun sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan rakyat. Karena kebokbrokan mental aparatur negara hasil perikanan laut kita terkuras oleh 'ilegal fishing' -nyaris sama seperti hutan kita yang gundul oleh 'ilegal logging', semuanya hanya dinikmati sekelompok rakus yang tidak memikirkan kemajuan bangsa bersama. Bundel kliping info perikanan ini semoga dapat menghimpun segala informasi untuk menggugah masyarakat luas akan urgensi penyelamatan potensi perikanan nasional khususnya perikanan laut agar tetap lestari bagi kemakmuran anak cucu kita.

a





Recent Readers

View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile



pranatamangsa

Mei 2013
S S R K J S M
« Agu    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
apakah anda memerlukan bea siswa ke PTN ? anda lulusan SLTA 2007,2008 dan rangking 9 besar di kelas ?
beasiswa klik disini

Tulisan Terkini

Flickr Photos

yellow

Vanessa bikini girl -small

tits31rr

Tiff n Dana

suzfishing

suekat_cobia

sr-015

shelly

shelly 039_1

sharkchick

More Photos

www.bukansarjanabi.asia

Halaman

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 104 pengikut lainnya.