SENAPAN angin akan dengan mudah menjatuhkan burung-burung yang sedang hinggap di dahan atau beterbangan di udara. Setelah mati makhluk bersayap ini akan dengan jatuh, ke bumi karena tidak kuasa menahan gravitasi. Penembak burung pun tinggal menunggu sasarannya jatuh ke bumi.

Namun apa jadinya jika hal itu diberlakukan pada pemburu ikan? Ikan memang bisa dipancing, tapi tidak semua ikan yang sering menampakkan diri ke permukaan air justru gampang dipancing.

Alih-alih memakan, mereka justru akan lari ketika umpan dilempar ke depan hidungnya. Padahal pandangan sang pemburu sudah telanjur tergiur dengan mangsanya yang seakan mengejek itu.

Bagi sebagian pemburu ikan, menembak merupakan cara yang paling efektif untuk mendapatkan ikan. Tentunya bukan senapan angin untuk burung yang digunakan, karena senapan burung mempunyai kemampuan terbatas di dalam air.
Seandainya saja sasaran tembak terkena, ia bisa-bisa terseret arus air, dan hilang tanpa jejak. Dari situlah muncul ide memodifikasi senapan burung.

Seperti yang dilakukan Agus (31) dan Karwandi (40). Mereka membuat senapan yang cara kerjanya mirip dengan senapan angin untuk burung. Bahan yang digunakan cukup sederhana namun cukup rapi pengerjaannya.
Senapan penembak ikan ini terdiri atas dua buah pipa besi ukuran 1,25 inchi dan 10 milimeter, dengan panjang sekitar 50 cm.

Dilengkapi dengan popor kayu layaknya senapan burung. Besi yang lebih besar adalah sebagai tempat kuas kokang dan penyimpan udara, sedang yang lebih kecil adalah tempat peluru khusus ikan.

Peluru khusus ini bentuknya mirip dengan paku, sepanjang 12 cm, dan di ekor peluru terdapat tali yang terkait dengan senapan. Tujuannya, ketika peluru sudah mengenai ikan, si pemburu dengan mudah bisa menarik ikan melalui tali tersebut.

“Jadi lebih mudah, tidak usah turun ke kali, cukup dari atas jembatan, dan pasti ikannya tidak akan terseret arus,” kata Agus, warga Desa Hadipolo saat asyik berburu ikan di salah satu Sungai di Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo.

Permukaan Air

Menurut Karwandi, rekan Agus yang menggunakan persenjataan sama, senapan modifikasi mereka biasanya digunakan menembak ikan-ikan yang sering muncul ke permukaan air, seperti kutuk dan mujahir.

Jenis lele, betik, dan sepat sulit ditembak karena kemunculannya hanya sekilas. “Ikan kutuk dan mujahir yang bisa ditembak yang ukurannya agak besar, kalau terlalu kecil sulit, karena peluru kami besar,” kata pria asal Desa Tenggeles, Kecamatan Mejobo itu.

Agus dan Karwandi mengaku, kegemaran menembak ikan sudah dijalankan sejak lima tahun. Selama ini, mereka menyusuri sungai-sungai di kawasan dari Desa Tondomulyo, Kecamatan Jakenan, Pati sampai Desa Karangrowo Kecamatan Undaan, Kudus.

Kegiatan ini mereka lakukan setidaknya tiga kali seminggu di sela aktivitas rutin Agus yang menjadi sopir pengantar bahan bangunan, dan Karwandi yang perajin pisau.

Rata-rata mereka bisa mendapatkan 5 kg ikan kutuk dan mujahir, yang masing-masing bisa laku dijual Rp15.000. Namun jika mendapat ikan kurang dari itu, mereka biasanya membawa pulang dan dijadikan lauk.

suaramerdeka.com, 23 Juni 2008

About these ads