Pertengahan Oktober 2009. Keheningan di gedung raiser ikan hias di Cibinong, Jawa Barat. Gedung yang terletak di Jalan Raya Bogor Kilometer 47 itu memiliki tiga gedung raiser ikan. Di beberapa kolam berukuran besar dan akuarium terlihat sekawanan ikan bergerak lincah. Sebagian kolam lainnya dibiarkan kosong dan kering.

Lima tahun telah berlalu sejak kawasan pusat pengembangan dan pemasaran (raiser) ikan hias itu diresmikan Presiden Megawati Soekarnoputri pada 14 Maret 2004. Kini gedung di antaranya sedang ditutup.

”Pekan ini, tidak banyak ikan yang masuk. Sebagian ikan dipasok dari Jabodetabek dan Jawa,” ujar Ari, petugas raiser.

Saat itu, ada 35 jenis ikan hias yang ditampung dalam kolam. Harga ikan koi (Cyrpinus carpio) berusia enam bulan, misalnya dijual Rp 20.000 per ekor. Ikan koi berumur 1,5 tahun dijual Rp 150.000 per ekor.

Raiser Ikan Hias Cibinong merupakan proyek percontohan yang didirikan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Raiser seluas 17,6 hektar itu menghabiskan Rp 30 miliar.

Kawasan itu dilengkapi karantina dan laboratorium untuk ekspor serta gedung pameran. Namun, bagai tak berpenghuni, kawasan itu nyaris sepi aktivitas. Setiap tahun pameran ikan hias rata-rata hanya digelar dua kali, selebihnya kosong.

Penanggung Jawab Raiser Saut Hutagalung menuturkan, cita-cita pendirian raiser ikan hias adalah mengintegrasikan pelayanan administrasi ekspor ikan hias, seperti di Singapura, sekaligus sarana promosi, pameran, dan kontes.

Sayangnya, harapan itu hingga kini belum terwujud. Fasilitas laboratorium untuk pembiakan dan riset belum optimal. Jumlah petugas yang mengelola kawasan raiser juga hanya tiga orang.

”Sekarang ini, raiser belum sampai ke situ (tujuan). Kami masih dalam tahap mempertemukan dan menyamakan persepsi dari kalangan pengusaha,” ujar Saut.

Hambatan pemasaran ikan hias juga dipicu oleh ketiadaan regulasi ekspor ikan hias untuk mengatur standar komoditas layak ekspor, yakni mencakup ukuran, kualitas, dan warna ikan hias. Di samping itu, regulasi perlu untuk mendorong pemasaran ikan hias hasil budidaya serta menekan penjualan ikan hias hasil tangkapan di alam.

Tahun ini, pemerintah menjajaki pembentukan komisi ikan hias, terdiri dari peneliti, pembudidaya, dan eksportir. Komisi itu untuk menopang kebijakan ikan hias, termasuk pengelolaan raiser. Menjelang akhir tahun 2009, komisi belum terbentuk kendati dana untuk komisi telah dianggarkan Rp 175 juta.

Pelaksana Harian Raiser Cibinong Azmir Nida mengungkapkan sulitnya koordinasi antara pemerintah, asosiasi, dan pelaku usaha. Padahal, diperlukan kelembagaan yang tegas untuk mengelola raiser dan menyusun regulasi mengontrol ekspor ikan hias. ”Tanpa kelembagaan, raiser nyaris tidak bisa bergerak,” tutur Azmir.

Sebelah mata

Tersendatnya pengelolaan ikan hias patut disayangkan di negeri yang punya kekayaan ragam ikan hias. Dengan panjang pantai 95.181 kilometer, Indonesia layak disebut sebagai ”surga” keragaman ikan hias.

Perairan Indonesia menyimpan 4.500 jenis ikan hias air tawar dan laut. Yang efektif diperdagangkan sekitar 100 jenis.

Beberapa komoditas ikan hias air tawar asli Indonesia menjadi primadona internasional, seperti arwana (Scleropages formosus sp), khususnya super red arwana; ikan botia (Chromobotia macracanthus Bleeker); serta ikan cupang jenis serip (crown tail). Belum lagi, ikan hias air laut, seperti ikan badut atau clown fish (amphiprion ocellaris).

Meski demikian, kontribusi perdagangan ikan hias Indonesia di kancah global hanya 7,5 persen. Adapun Singapura 22,8 persen dari total perdagangan ikan hias global. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) tahun 2006 merilis, sekitar 90 persen dari kebutuhan ikan hias di Singapura itu dipasok oleh Indonesia.

Herman Oei, eksportir ikan hias PT Asher Primatama Lestari, mengungkapkan, ikan hias asal Indonesia yang ditampung Singapura umumnya direkondisi. ”Singapura bisa berkembang pesat dalam bisnis ikan hias karena memiliki standardisasi warna, ukuran, dan kualitas. Ikan yang diekspor memiliki mutu yang baik,” ujar Herman beberapa waktu lalu.

Kondisi itu berbanding terbalik dengan Indonesia yang sampai saat ini belum memiliki barometer kualitas ikan hias. Terlebih, peralatan dan tenaga pakar minim. Ikan hias yang dihasilkan umumnya langsung dijual tanpa seleksi tertentu.

Demikian pula, hampir tidak ada ajang pameran ikan hias berskala internasional. Padahal, kontes dan pameran merupakan sarana ampuh, baik untuk memperkenalkan dan memasarkan produk maupun bertukar pikiran dan informasi di kalangan penghobi ikan hias.

HM Zen, pembudidaya ikan hias discuss (Symphysodon discus), mengungkapkan, ketertinggalan sarana promosi di Tanah Air membuat para eksportir terpaksa mengandalkan pameran ikan hias di negeri tetangga untuk menjual produk.

Dengan segenap potensi yang ada, rasanya tak berlebihan jika bermimpi negeri bahari ini mencapai kedigdayaan di sektor ikan hias. Guna menjemput impian itu, dibutuhkan kemauan dan kerja keras. Siapkah kita?

kompas.com, 11/12/2009

About these ads