You are currently browsing the daily archive for Desember 17, 2010.
Bahaya yang mengancam nyawa jika sedang berwisata di Situgede sebenarnya bisa dihindari jika pengunjung tidak lengah, terutama saat berada di atas rakit. Bentuk rakit yang agak sempit memanjang dan tanpa pelindung tepi rentan terhadap ancaman jatuh ke air.
Kuncen Situgede, Herman (42), memberi tips menikmati indahnya Situgede tanpa terancam maut. Syaratnya hanya satu, yakni berlaku tertib dan menaati peraturan yang ada.
“Saat menaiki rakit jangan melakukan gerakan yang bisa membuat pengunjung terjatuh. Apalagi, sampai bersendagurau berlebihan dengan saling dorong,” ujarnya.
Saat air telaga dalam debit yang normal, wisatawan sebenarnya bisa berenang karena jarak permukaan air dengan lumpur lebih dari 2 meter.
“Yang berenang tentu harus yang sudah bisa berenang. Itu pun masih ada syaratnya, jangan memakai pakaian. Cukup mengenakan selempak agar tidak lekas lelah,” kata Herman.
Heman pun mengeluarkan larangan-larangan di luar nalar, antara lain pengunjung dilarang bicara sembarangan.
Apalagi, pembicaraan yang bersifat menantang. Jangan pula sekali-kali mengutarakan ingin melihat ikan dan deleg (sejenis moa) besar saat berada di atas rakit.
“Di kalangan masyarakat sini ada kepercayaan terdapatnya ikan besar penghuni telaga. Konon ikan itu sesekali muncul ke permukaan. Oleh warga ikan itu dianggap keramat dan sangat tabu jika diucapkan di atas air,” tutur Herman.
Herman meminta larangan bersifat mistis itu dihargai pengunjung. “Pernah ada kejadian seorang pemuda berasal dari Pantai Cipatujah berkunjung ke sini. Oleh kami sudah dinasihati agar tidak bicara sembarangan. Merasa sudah mahir berenang di laut, ia kemudian berenang, tapi tak lama tenggelam dan akhirnya meninggal,” ungkapnya, seraya menyebutkan, peristiwa itu terjadi pada 2007. (firman suryaman)
kompas.com,8/11/2009
Peneliti Indonesia dan peneliti dari Fukushima Aquamarine, Jepang, Senin siang tadi menemukan keberadaan ikan purba coelacanth di perairan Talise, Minahasa Utara, pada kedalaman 155 meter. Ikan ditemukan pada hari pertama tim yang bekerjasama beberapa kali itu memulai penelitiannya menggunakan wahana bawah laut tanpa awak (remotely operated vehicle/ROV).
Pada siarannya melalui surat elektronik Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FPIK) Universitas Sam Ratulangi Prof Alex Masengi mengatakan, perjumpaan itu terjadi pada jam pertama penelitian di hari pertama. “Ikan dalam keadaan hidup dan tetap bebas di habitatnya,” tulisnya.
Kelompok peneliti yang sama, 27 Juni 2007 lalu, juga menemukan ikan coelacanth di perairan Malalayang, Teluk Manado, Sulawesi Utara. Pada kedalaman 190 meter. Secara teori, habitat ikan coelacanth berada pada kedalamanan lebih dari 180 meter dengan suhu maksimal 18 derajat Celsius.
Ikan coelacanth hanya hidup di kawasan perairan barat Afrika Selatan dan kawasan timur Indonesia. Ikan coelacanth juga disebut sebagai ikan purba, karena diduga sudah ada sejak era Devonian sekitar 380 juta tahun silam. Dan, hingga kini bentuknya tidak berubah.
Para ahli sepakat, berbagai keunikan yang ada pada coelacanth yang belum terungkap merupakan kunci tabir evolusi makhluk bawah air. Karenanya, banyak ahli ikan dunia berlomba-lomba meneliti dan mengoleksi ikan tersebut, termasuk Jepang.
kompas.com,14/09/2010
Apa yang terbayang di benak Anda saat mendengar kata monster fish? Menyeramkan kah? Ya, monster fish memang menyeramkan bagi ikan-ikan kecil yang menjadi makanan ikan-ikan monster ini. Sebagian besar ikan yang tergolong monster fish adalah ikan air tawar predator atau pemburu ikan lainnya. Selain itu, ukuran tubuh monster fish tergolong besar seperti ikan Arapaima gigas yang bisa mencapai 11 meter. Istimewanya, ikan golongan monster fish ini termasuk langka di pasaran.
Begitulah yang disampaikan Hanung, seorang penggemar ikan golongan monster fish di pameran ikan hias, reptil, dan tanaman Indonesian Pets Plants Aquatic Expo 2009 yang digelar di WTC Mangga Dua Jakarta, Sabtu (12/12/2009). “Ya itu pasti jadi pertanyaan orang. Karena sebagian besar predator. Bentuknya bisa besar, terbesar 11 meter, Arapaima, langka banget. Bisa juga karena di pasaran masih belum umum. Di Amerika, Arowana kan belum umum, jadi digolongkan monster fish juga, kalau di Indonesia kan sudah terpisah,” ujar Hanung.
Selain Arapairma ada beberapa ikan yang juga tergolong monster fish seperti Tiger Fish dari Kalimantan, Piranha, Pari Motoro, Lung Fish, Tetraodon Fahaka, Tetraodon mbu, Pacman Catfish, dan Hoplias malabaricus yang memakan Piranha. Sebagian besar ikan monster fish yang dipamerkan Hanung didatangkan dari Amazon dan Afrika. “Ada sih yang ternak, tapi sedikit sekali, seperti piranha,” ujar Hanung.
Di Indonesia, jenis ikan ini belum popular, padahal monster fish tergolong mudah di pelihara dan bentuknya unik. “Perawatannya gak ribet. Karena ikan predator kan kayak preman, masak ikan preman cengeng,” ujar Kamil yang juga hobiis monster fish dalam kesempatan yang sama.
Hal yang perlu diperhatikan saat memelihara monster fish adalah menjaga suhu dan kadar keasaman air karena sebagian besar monster fish berasal dari luar Indonesia. Untuk suhu air, idealnya 28 derajat Celcius dengan kadar keasaman 6-7. Untuk makanannya, monster fish cukup diberi makan ikan kecil, udang, kepiting, atau sejenis daging lainnya. “Selama itu masih danging, gak masalah,” kata Hanung.
Monster fish adalah salah satu jenis ikan yang dipamerkan dalam Indonesian Pets Plants Aquatic Expo 2009 yang digelar 5-13 Desember di WTC Mangga Dua Jakarta. Selain memamerkan beberapa jenis ikan, pameran ini juga memungkinkan pengunjung melihat-lihat reptil dan tanaman hias.
kompas,com,12/12/2010
Peluang investasi di industri ikan tuna terbuka lebar, khususnya di Provinsi Sumatera Utara, Papua, dan Sulawesi Utara yang kaya akan sumber daya ikan tuna.
Demikian yang mengemuka dari seminar “Business and Investment Opportunities on Tuna in Papua, North Sulawesi, and West Sumatera Province” di Hotel Peninsula, Jakarta, Selasa (11/8).
Ikan tuna merupakan salah satu komoditas yang berkembang di Indonesia ataupun di dunia. Pada tahun 2008, jika dilihat dari nilai ekspornya, tuna menempati urutan kedua setelah udang. Secara nasional, total produksi tuna untuk ekspor sampai Oktober 2008 mencapai 130.056 ton dengan nilai sebesar 347,189 juta dollar AS.
“Tuna merupakan salah satu dari komoditas perikanan yang paling banyak diperjualbelikan di dunia,” ujar Ketua Komisi Tuna Indonesia Purwito Martosubroto.
Peluang investasi di bidang ini masih cukup besar. Seperti yang terjadi di Sumatera Barat dan Papua. Di Sumatera Barat, dari seluruh potensi yang ada, baru 42,6 persen yang telah dieksplorasi.
Untuk mendorong masuknya investasi, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melakukan beberapa langkah seperti membangun infrastruktur transportasi dengan baik, pembuatan surat izin yang cepat asal sudah memenuhi persyaratan, hingga tidak ada pungutan biaya apa pun. “Di Sumatera Barat, untuk industri perikanan tidak ada pungutan-pungutan. Nol,” ujar Kepala Dinas Dinas Kelautan dan Perikanan Sumatera Barat Yosmeri.
“Kami juga memiliki bandara internasional yang hanya berjarak 30 km dari pelabuhan. Siap untuk mengantarkan ikan ke negara tujuan,” ujarnya lagi.
Untuk modalnya, satu kapal tipe longline, penangkap tuna yang paling efektif, harganya sekitar Rp 1,5 miliar hingga Rp 2 miliar. Sedangkan untuk processing plan dengan Rp 30 miliar sudah mendapatkan yang lengkap dengan mutu baik. Baca entri selengkapnya »
Dari sekian jenis ikan yang ditemukan di perairan Halmahera, Maluku Utara baru-baru ini, tiga di antaranya mungkin spesies baru. Dua spesies merupakan jenis ikan punggung totol dan satu spesies masih dipelajari.
“Berita besar, kami menemukan dua jenis ikan dottyback baru dan satu spesies lagi yang diduga baru, masih diamati dengan cermat,” tulis Dr Rod Salm, ahli ketahanan karang Conservation Internasional, dalam blog Ekspedisi Halmahera. Disebut dottyback karena punggung ikan tersebut bertotol-totol. Ikan ini juga uni karena memiliki taring.
Spesies tersebut ditemukan oleh tim Ekspedisi Halmahera di perairan Morotai Timur, sebelah utara Pulau Halmahera pada 20 April 2008 atau di hari ke delapan ekspedisi yang berlangsung hingga 11 Mei 2008. Dipimpin oleh Dr Mark Erdmann dari Conservation International (CI), tim ini juga beranggotakan ilmuwan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Edrmann sebelumnya dikenal setelha menemukan spesies-spesies baru di Raja Ampat, Papua Barat.
Di perairan Morotai Timur, tim penyelam yang dipimpin Andreas Muljadi mencatat 30 bumphead parrotfishes (ikan kaka tua) yang besar-besar, kelompok Napoleon wrasse, dan kelompok kecil kerapu karang diantara hiu-hiu, barakuda, dan ikan-ikan besar lainnya selain tiga spesies yang diperkirakan baru. Andreas bertahun-tahun melakukan pemantauan lokasi pemijahan (SPAG) dan menganggap lokasi penyelaman sore ini sebagai lokasi SPAG. Baca entri selengkapnya »
Seekor ikan yang ditemukan di perairan Ambon sangat aneh karena memiliki mata seperti manusia. Tidak seperti ikan lainnya, kedua matanya menghadap ke depan di permukan mukanya yang rata.
Sirip punggung, sirip ekor, dan sirip bawah dilapisi kulit yang lembut dan tipis yang bergaris-garis coklat muda dan putih. Hewan seukuran genggaman tangan manusia ini sangat luwes menyelinap di antara celah karang sehingga jarang ditemui.
Secara umum ikan tersebut dikelompokkan sebagai ikan penjerat (anglerfish) atau ikan katak (frogfish) yang suka berdiam di satu tempat dan memancing mangsanya datang. Namun, sosoknya yang aneh tak dijumpai dalam literatur ikan manapun. Ikan tersebut ditemukan pertama kali oleh pemandu selam Toby Fadilsyair lima belas tahun lalu. Namun, sampai sekarang proses identifikasi terhadap ikan tersebut belum pernah dilakukan karena sulitnya merekamnya dari dekat.
Beruntung, pada Januari 2008 lalu, penyelam Mark Snyder dari Maluku Divers berhasil memotret seekor di antaranya dari dekat dan dari berbagai sudut. Foto-foto tersebut kemudian dikirim kepada Profesor Theodore Pietsch, pakar ikan dari Sekolah Kelautan dan Ilmu Perikanan Universitas Washington untuk diidentifikasi.
“Begitu saya melihat foto tersebut, saya tahu bahwa ia jenis anglerfish karena sirip-sirip di sisi badannya yang mirip kaki,” ujar Pietsch. Sirip yang khas ini berfungsi untuk membantu ikan tersebut merayap di dasar laut daripada berenang untuk berpindah ke tempat lain. Namun, tidak seperti ikan penjebak umumnya, ia tak memiliki semacam pancing di atas kepalanya untuk menarik perhatian mangsa.Mukanya yang rata dan dua mata yang menghadap ke depan membuatnya kaget karena tidak pernah ditemuinya selama 40 tahun mempelajari karakteristik ikan. Kebanyakan ikan memiliki mata yang menghadap ke kanan dan kiri badannya. Sepasang mata yang menghadap ke depan membuat ikan tersebut memiliki kemampuan melihat secara binokuler layaknya manusia. Sepasang mata yang melihat objek sama seperti ini sangat berguna karena dapat menentukan jarak objek di depannya dengan lebih tepat.
Meski bukti-bukti cukup kuat, perlu identifikasi langsung baik secara moefologi maupun tes DNA untuk memastikan apakah ikan ini dapat dimasukkan sebagai kelompok tersendiri. Sejauh ini para ilmuwan telah mengelompokkan ikan-ikan penjerat ke dalam 18 familia dan Pietsch yakin ikan ini masuk ke dalam familia ke-19. Untuk mengungkapnya, Pietsch telah mendapat sokongan dari lembaga riset AS National Sience Foundation.
kompas.com, 04 April 2008
Untuk meningkatkan hasil tangkapan ikan para nelayan di pesisir Laut Selatan, rumpon ikan di daerah tersebut akan ditambah. Rumpon menjadi metode penangkapan ikan paling efektif karena nelayan tidak perlu berputar-putar di sekitar laut untuk mendapatkan ikan.
“Dalam waktu dekat satu rumpon akan dipasang oleh pihak provinsi. Lokasi koordinatnya masih belum jelas. Kami berharap lokasinya masih wilayah yuridiksi Bantul yakni sebelum 4 mil dari garis pantai. Tujuannya supaya nelayan setempat bisa maksimal memanfaatkannya,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Bantul, Edy Machmud Hidayat, Kamis (18/11/2010).
Menurutnya, selama ini sudah ada empat rumpon yang dipasang di pesisir Selatan Bantul. Pertama kali rumpon dipasang di Bantul pada tahun 2006. Sejak dipasang produksi ikan tangkap di Bantul terus melonjak. Rumpon memudahkan nelayan menangkap ikan sekaligus menghemat biaya operasional. Tahun 2007 tercatat 245 ton atau naik sekitar 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
kompas.com,18 November 2010
Langkah yang paling tepat untuk mencegah keracunan histamin adalah dengan cara memilih dan mengonsumsi ikan yang masih segar.
Sepanjang ikan yang kita konsumsi masih dalam keadaan segar dan bermutu baik, dijamin keracunan histamin tidak akan terjadi. Karena itu, para penggemar masakan ikan jangan khawatir untuk meneruskan kebiasaan makan ikan.
Secara sederhana, pengamatan terhadap ciri-ciri ikan segar dapat dilakukan dengan menggunakan indera penglihatan, penciuman, dan peraba.
- Ikan yang segar memiliki daging yang kenyal, tidak empuk, badan kaku, serta sisik rapi dan rapat.
- Insangnya berwarna merah, dengan mata bersih bersinar dan melotot (tidak tenggelam).
- Bila daging ditekan dengan jari tidak meninggalkan bekas. Pada ikan yang telah dibekukan dan kemudian dibiarkan meleleh (thawing), bekas tekanan akan tampak jelas.
- Bagian luar ikan yang segar hanya memiliki sedikit lendir atau bahkan tidak berlendir sama sekali, baunya segar dan khas.
- Ikan yang segar akan tenggelam bila dimasukkan ke dalam air, sedangkan yang telah mulai membusuk akan mengapung.
- Ikan segar bermutu tinggi memiliki bau yang khas dan tidak tajam, kulitnya mengkilap, jika dagingnya dipotong, tampak segar dan tidak kering.
- Secara ringkas cara membedakan ikan segar dengan ikan tidak segar dapat dilihat pada tabel.
Ciri-ciri ikan segar dan ikan busuk
| Parameter | Segar | Busuk |
| Kulit dan warna | Cerah | Buram |
| Sisik | Melekat kuat | Mudah lepas |
| Mata | Jernih, tidak berkerut | Buram & berkerut |
| Daging | Keras & lentur | Kendur & lunak |
| Bau | Segar & khas | Busuk & asam |
| Lendir di kulit | Tipis homogen | Banyak & bau |
| Insang | Merah terang dan mudah dipisahkan | Coklat, lengket, dan berlendir |
kompas.com,12/11/2009
Taman yang terletak di depan rumah adalah bagian dari rumah yang pertama kali menyambut tamu. Tampilannya perlu ditata apik sesuai dengan karakter si penghuni.
Menatanya tidak hanya melulu soal tanaman. Ada bisa berekspresi dengan elemen lain. Seperti air misalnya. Anda bisa menambahkan kolam di taman depan rumah anda.
Kolam tidak saja hanya menambah keindahan dari sebuah taman tapi kolam juga berpengaruh terhadap kenyamanan udara. Keberadaan kolam menaikkan kelembapan udara di sekitarnya sehingga udara cenderung menjadi lebih sejuk.
Sesuaikan bentuk kolam dengan gaya bangunan anda. Jika bangunan cenderung minimalis, buatlah taman dengan gaya minimalis juga. Cukup kotak dengan finishing batu alam. Agar lebih hidup Anda bisa menambahkan pancuran air di sana.
Bunyi gemericik air yang dihasilkannya membawa suasana nyaman dan homey di rumah anda. Pilih beberapa ikan koi dengan warna-warna yang menarik untuk diketakkan di dalam kolam. Selain memanjakan kita dengan warna-warninya, ikan koi juga memberikan unsur kehidupan di kolam.
Suasana taman di depan rumah yang nyaman ini tentu tidak hanya menarik bagi tamu yang datang, tapi juga membuat Anda betah berlama-lama di teras depan rumah Anda sendiri. Letakkan sepasang kursi rotan bergaya minimalis.
Tambahkan bantalan pada dudukannya. Dan teras depan rumah anda pun bisa menjadi tempat favorit di kala santai membaca koran sambil menikmati secangkir kopi di pagi hari.
kompas.com,03/11/2010
Ikan unik dari perairan Ambon dengan bentuk tubuh yang bulat seperti kodok dan motif lurik seperti batik di sekujur tubuhnya ditahbiskan sebagai spesies baru. Hasil pemeriksaan DNA menunjukkan bahwa ikan tersebut berbeda dengan semua jenis ikan yang ada.
Namun yang tak kalah menarik dari penampilan ikan tersebut adalah mukanya yang datar dan mata menonjol sehingga sekilas mirip manusia. Apalagi dengan mulut yang lebar, sesekali terlihat seperti seseorang yang tersenyum.
Keberadaannya pertama kali ditemukan seorang instruktur selam yang bekerja pada sebuah operator wisata setahun lalu di perairan dangkal sekitar Pulau Ambon. Penemuan tersebut langsung dilaporkan kepada Ted Petsch, pakar ikan dari Universitas Washington untuk dipelajari.
“Seperti ikan kodok lainnya, ia punya sirip pada kedua sisi tubuhnya dan tumbuh seperti kaki. Namun, perilakunya belum pernah terlihat pada ikan sejenis lainnya,” ujar Pietsch. Misalnya, ikan yang bertubuh bulat tersebut terlihat sesekali memantulkan diri di dasar laut seperti sebuah bola karet yang bergerak tak beraturan.
Pietsch kemudian memberinya nama spesies psychedelica sesuai gambaran penampilan dan perilakunya. Ikan tersebut masuk dalam genus Histiophryne sehingga nama ilmiahnya Histiophryne psychedelica.
“Saya pikir orang telah begitu mengenal ikan kodok dan menemukan satu ekor yang baru seperti ini sungguh terdengar spektakuler,” ujar Mark Erdman, penasihat senior program kelautan Conservation International. Ia mengatakan penemuan tersebut juga menunjukkan bahwa keanekaragaman spesies di kawasan habitat yang masuk dalam Segitiga Koral tersebut mungkin masih banyak yang belum terungkap.
Tubuhnya yang sebesar kepalan tangan orang dewasa dilindungi kulit berlipat yang keras sehingga tahan dari gesekan terumbu karang.
kompas.com, 26 Februari 2009
Ikan badut (clown fish) atau biasa disebut ikan “Nemo”, sesuai karakter di film kartunnya, adalah salah satu jenis ikan hias yang digemari saat ini. Sayangnya, sebagian besar ikan itu berasal dari penangkapan di laut sehingga berpotensi punah jika diambil berlebihan sesuai permintaan pasar.
Akan tetapi, Anda tak perlu khawatir dan merasa bersalah jika ingin memeliharanya. Ikan berwarna dasar oranye itu kini sudah berhasil ditangkarkan. Jadi, untuk mendapatkannya, Anda tidak harus selamanya memiliki ikan Nemo hasil penangkapan di alam. Budi daya merupakan salah satu jalan keluar mengantisipasi hal tersebut.
Belum banyak orang atau lembaga yang bisa menangkarkannya. Salah satu lembaga yang bisa adalah Balai Besar Riset Perikanan dan Budidaya Laut (BBRPBL) Kementerian Kelautan dan Perikanan di Gondol, Buleleng, Bali. “Ada dua jenis clown fish yang berhasil dikembangkan bibitnya di sini. Salah satunya dengan garis hitam yang di pasar lebih mahal harganya. Satunya lagi yang tanpa garis hitam,” kata Dr Nyoman Adiasmara Giri, Kepala Balai, di tempat pembenihan tersebut.
Nemo yang bergaris hitam punya nama ilmiah Amphyprion percula. Adapun yang tidak bergaris hitam punya nama ilmiah Amphyprion ocellaris.
Ia mengatakan, dalamupaya pembenihan tersebut, pihaknya juga menggandeng pihak swasta CV Dinar di Gilimanuk yang bergerak dalam usaha pembesaran dan pengeksporan ikan badut. Perusahaan tersebut awalnya sebagai penyedia indukan untuk penelitian. Namun, mereka kini juga dapat melakukan pembenihan sendiri.
“Dalam setahun, satu pasang indukan Nemo dapat menghasilkan bibit sekitar 50.000 ekor. Tingkat keberhasilan pembenihannya bisa dikatakan ekonomis,” kata Dr Gede Suwarthama Sumiarsa, peneliti perikanan di balai tersebut.
Ia mengatakan, saat ini pihaknya terus melakukan riset untuk meningkatkan kualitas benih dan efektivitas produksi pakannya. Hasil penelitian ini akan disebarkan kepada masyarakat. Balai penelitian tersebut juga mengembangkan model usaha perikanan yang cocok untuk usaha kecil atau untuk skala industri.
Ikan Nemo biasanya dieskpor sebagai ikan hias ke Singapura, AS, dan Hongkong. Nah, kalau sudah ada ikan Nemo hasil budi daya, maka untuk memilikinya kita tak perlu tergantung pada hasil tangkapan di laut, bukan?
kompas.com, 22 Juli 2010
Novie Indah Husniah tak pernah menyangka kesehariannya berdekatan dengan limbah sisik ikan, yang mengotori pinggiran laut dan kawasan perlelangan ikan di Sidoarjo, Jawa Timur, menjadi awal keberhasilannya meraih penghargaan entrepreneur terbaik.
Perempuan muda (26) ini adalah satu di antara 18 finalis Citi Micro-Entrepreneurship Award (CMA) 2010. Atas dukungan Thowilah, pembinanya dari koperasi Al Mubarokah, Tanggulangin, Sidoarjo, Novie berhasil mengembangkan usaha kerajinan bros sisik ikan sejak 2008. Tak hanya itu, motivasi dan pengetahuan yang didapatnya sejak bergabung di koperasi pada 2009 lalu juga menguatkan semangat wirausahanya, hingga akhirnya terpilih menjadi finalis CMA 2010 mewakili Sidoarjo.
“Dari enam jenis usaha yang saya ajukan, hanya produk bros sisik ikan ini yang disurvei pihak penyelenggara dan berhasil terpilih sebagai finalis,” kata Thowilah kepada Kompas Female, usai penganugerahaan CMA 2010 di Hotel Millenium Jakarta, beberapa waktu lalu.
Keunikan produk, inovasi bisnis menyegarkan dari limbah ikan segar, motivasi membangun usaha, dan membuka lapangan pekerjaan membawa Novie ke ajang penghargaan yang memasuki tahun keenam ini. Novie tak pernah menduga, ia pun berhasil meraih gelar juara pertama untuk kategori kerajinan CMA 2010. Atas prestasinya ini, Novie berhak membawa pulang hadiah senilai Rp 11 juta.
“Rasanya masih tak percaya berhasil menerima penghargaan dan hadiah ini. Tetapi menang bagi saya bukan untuk berdiam diri, namun justru mendapatkan tanggung jawab. Hadiah ini juga bukan untuk menyenangkan diri sendiri tetapi untuk mengembangkan usaha yang sudah ada,” tutur Novie yang merasa “diberi” hadiah istimewa menjelang ulang tahunnya yang ke-26, tepat pada 11 November, sehari setelah menerima penghargaan CMA 2010.
Bermodalkan kreativitas dan dukungan moral
Limbah sisik ikan berkelimpahan dan berserakan di kawasan perlelangan ikan, Desa Pepe, Sedati, Sidoarjo. Artinya, bahan baku kerajinan bros yang dibuat Novie tak akan habis dan sangat berpotensi diperbarui. Apalagi, kata Novie, sisik ikan yang berpotensi dijadikan bros berasal dari ikan kakap yang selalu dibawa pulang nelayan dari laut setiap hari.
“Ikan kakap laut tak bergantung pada musim, jadi setiap hari nelayan pasti menangkap ikan kakap,” papar Novie. Baca entri selengkapnya »
Spesies baru snailfish, jenis ikan laut dalam yang bergerak lambat seperti siput, berhasil terekam dengan kamera bawah air. Tubuhnya yang berwarna putih seluruhnya, ikan tersebut bak hantu saat ditemukan sedang berenang di kegelapan samudra pada kedalaman 7 km di palung laut perairan Peru-Cile, Samudra Pasifik bagian tenggara.
“Hal yang menggoda adalah kita punya foto yang sangat jelas dari spesies itu,” kata Monty Priede, Direktur Oceanlab di Universitas Aberdeen, Skotlandia. “Tidak seorang pun yang pernah melihat ini sebelumnya, dan itu tak pernah ditangkap kamera sebelumnya.”
Snailfish merupakan jenis vertebrata atau hewan bertulang belakang yang hidup di perairan paling dalam. Penemuan teranyar ini menguatkan bukti bahwa banyak hewan laut dalam yang tahan terhadap kondisi ekstrem seperti suhu rendah dan tekanan tinggi. Rekor snailfish yang paling dalam ditemukan adalah pada palung di perairan Jepang yang direkam pada tahun 2008 di kedalaman 7,7 km.
Hidup begitu jauh di bawah air, spesies yang berukuran panjang 15 cm itu mampu menahan tekanan tinggi yang setara dengan 1.600 gajah yang berdiri di atas minicooper. “Pada level molekuler dan detail biokimianya, spesies tersebut sangat adaptif dengan lingkungannya yang bertekanan tinggi,” ucap Priede, menerangkan kemampuan spesies tersebut untuk bertahan di kedalaman laut.
Ikan tersebut merupakan salah satu spesies baru yang ditemukan dalam ekspedisi hasil kerja sama antara Oceanlab Universitas Aberdeen Skotlandia, National Institute of Water and Atmospheric (NIWA) Selandia Baru, dan Universitas Tokyo Jepang baru-baru ini. Selama tiga minggu ekspedisi, tim peneliti berhasil menangkap 6.000 gambar di palung berkedalaman 4.500 hingga 8.000 meter. Selain menemukan spesies tersebut, para peneliti juga menemukan sejumlah besar amphipod, cusk eel (sejenis belut), dan crustacea (udang-udangan) pemakan bangkai.
kompas.com, 18 Oktober 2010
Ikan purba coelacanth (Latimeria manadoensis) yang hidup di sekitar perairan Sulawesi disinyalir diburu para nelayan untuk diperdagangkan. Ikan yang dilindungi tersebut, sebagian ada yang diserahkan ke Pemerintah Sulawesi Utara dengan meminta imbalan uang jutaan rupiah.
Kepala Dinas Perikanan Sulawesi Utara Xandramaya Lalu di Manado, Rabu (3/12), mengatakan, beberapa nelayan yang menyerahkan ikan purba hasil tangkapan mereka meminta imbalan sampai Rp 10 juta per ekor.
Pengamat ikan purba, Anthony Malinsang, mengatakan, ikan purba hidup pada kedalaman laut 150 meter hingga 1.000 meter. Berdasarkan data penelitian dengan menggunakan Remotely Operated Vehicle (ROV), dalam 3 tahun terakhir, terekam sebanyak tujuh ekor ikan coelacanth di perairan Sulawesi.
Ikan purba itu menjadi maskot pelaksanaan World Ocean Conference (WOC) 2009 di Manado. Coelacanth yang ditemukan rata-rata berbobot sekitar 10 kilogram, tebal 20 sentimeter, panjang 98 cm, dan lebar bagian belakang 21 cm.
Coelacanth diperkirakan muncul di bumi pertama kali sekitar 360 juta tahun pada zaman Paleozoikum, atau tepatnya 100 juta tahun sebelum lahirnya dinosaurus di masa Jurassic.
Coelacanth pertama kali ditemukan di perairan East London, Afrika Selatan, pada tahun 1938. Berdasarkan penemuan ini, coelacanth kemudian disebut sebagai fosil hidup dan diberi nama ilmiah Latimeria chalumnae serta dinyatakan sebagai penemuan zoologi terbesar di abad ke-20.
Coelacanth juga ternyata ditemukan di sekitar perairan Sulawesi. ”Namun, perlindungan terhadap ikan purba ini sangat lemah. Mestinya ada peraturan daerah yang melarang penangkapan dan perdagangan ikan langka ini,” kata Anthony Malinsang
kompas.com, 04 Desember 2o08
Hidup di bumi sejak era Devonia sekitar 380 juta tahun silam dan tidak berevolusi. Ini lebih tua dari dinosaurus (200 juta tahun silam).
Di dunia ada dua spesies (Latimeria chalumnae dan Latimeria menadoensis). Spesies L. chalumnae ditemukan pertama kali di Kepulauan Komoro, Afrika, tahun 1938. Spesies L. menadoensis ditemukan pertama di Manado, Sulut, tahun 1998.
Para ahli menduga coelacanth sudah punah sejak 10 juta tahun silam. Coelacanth ditemukan di Benua Atrika, yakni Kenya, Tanzania, Komoro, Mozambik, Madagaskar, dan Afrika Selatan, serta Indonesia (Tolitoli di Sulawesi Tengah, dan Manado serta Bunaken di Sulut).
Ikan ini hidup pada kedalaman 150-200 meter pada suhu 12-18 derajat celsius di relung-relung goa batuan lava. Merupakan predator yang karnivor dengan memangsa ikan-ikan kecil pada malam hari.
Coelacanth ditempatkan sejajar dengan jenis ikan yang bernapas dengan paru-paru (lungfish) dan amfibi primitif pada pohon keluarga ikan-ikan bertulang. Telur coelacanth menetas di dalam perut, tetapi bukan tergolong mamalia laut.
Masih banyak hal belum diketahui mengenai ikan ini karena teramat langka. Struktur tubuhnya memiliki sirip perut (pectoral), sirip dada (pelvic), anal dan punggung yang menjuntai seperti tangan manusia. Panjangnya bisa mencapai 1,5 meter dengan berat 40 kg.
Sumber: Aquamarine Fukushima
kompas.com, 30 April 2010


















Komentar Terakhir