You are currently browsing the daily archive for November 19th, 2008.
BOLEH percaya, tidak percaya pun silakan. Pengalaman aneh benar-benar dirasakan empat karyawan karyawan swasta sebuah perusahaan di Banjarmasin, H Suri, Zaenal, Badriansyah dan Jaya.
Seumur-umur yang namanya memancing, perolehannya paling banter hanya bisa dihitung dengan jari. Tapi, Kamis itu, mereka bak ketiban rezeki. Dengan empat pancing ternyata bisa membawa pulang ikan sekitar 40 kilogram.
“Saya juga bingung, tidak tahu penyebabnya apa. Ikannya besar-besar. Ada lele, gurameh dan lain-lain. Semua gampang banget kami angkat. Pada hal hanya di lokasi itu saja,” kata Zaenal yang mewakili teman-temannya kepada wartawan.
Mereka berempat tetap bingung dengan kejadian itu. Lantas, di tengah-tengah ketidakpercayaan tersebut, iseng-iseng membuka fotofoto hasil jepretan menggunakan handphone. Alangkah terkejutnya karena satu di antara gambar hasil jepretan Irwan,– se orang bar tender di diskotek tersebut, terlihat ada sesosok bayangan aneh.
Mereka meyakini telah ada ‘penampakan’ mahluk halus di sekitar lokasi mereka mancing. Sosok mahluk aneh itu dilukiskan sebagai seseorang lelaki tua memakai topi, duduk termenung menghadap mereka mancing. Di dalam gambar itu pula, ‘si bayangan samar’ hanya terlihat bagian perut ke atas. Read the rest of this entry »
Belut? Biasanya, saya hanya memakan belut goreng tepung yang dijadikan keripik belut atau belut yang dimasak dengan santan. Itu pun, ukuran belutnya tidak terlalu besar.
Nah, suatu hari, saya diajak seorang teman di Surabaya memakan belut goreng, di satu kawasan yang sebagian besar penduduknya, memang berjualan belut. Saya baru tahu kalau Surabaya memiliki belut yang lumayan besar dan dagingnya juga tebal. Hmm…sedap sekali memakan belut goreng dengan sambal, sambil menyantap nasi putih yang masih panas.
Di Jakarta, juga tidak gampang menemukan belut goreng seperti itu. Harus bertandang khusus ke restoran Jawa Timur-an. Salah satunya, adalah Pondok Suryo di kawasan Kebayoran Baru.
Hari itu, saya bersama seorang teman ke Pondok Suryo untuk menyantap masakan khas Surabaya. Tempat makan yang satu ini memang memiliki menu khas Surabaya yang cukup lengkap. Ada Pecel Madiun, Pindang Buntut, Belut Goreng hingga Begor (Bebek Goreng).
Begor Surabaya juga menjadi salah satu andalan Pondok Suryo. Teman saya memesan Nasi Cobek Komplit Bebek dan saya memesan Nasi Cobek Komplit Belut. Dinamakan nasi cobek, karena, dalam penyajiannya, nasi putih panas diletakkan di dalam cobek dengan alas sambal bawang mentah.
Sementara, bebek dan belut gorengnya, disajikan secara terpisah dalam tempat tersendiri, lengkap dengan teri goreng, tahu, tempe plus sayur asem.
Untuk menikmati menu cobek itu, paling enak pasti menikmatinya dengan tangan saja. Kurang mantap deh, kalau mesti pake sendok garpu. Nasi dicampur terlebih dahulu dengan sambal bawang, baru disantap disantap bersama lauknya.
Rasa bebeknya, tidak perlu dipertanyakan. So crispy, gurih dan dagingnya juga empuk. Untuk belut gorengnya, memang sih, rasanya tidak senikmat begor-nya atau belut goreng yang saya makan di Surabaya kala itu. Tetapi, lumayan kok. Daging belutnya cukup tebal. So, not bad lah. Paling nggak, rasa kangen saya jadi terobati.
Lalu, yang membikin nasi cobek ini lebih nikmat adalah sambal bawangnya. Tidak terlalu pedas, gurih dan pas banget untuk lidah saya. Apalagi dicampur dengan teri dan sayur asem. Sungguh nikmat.
Satu porsi Nasi Cobek Komplit Belut adalah Rp 33.500. Sedangkan Nasi Cobek Komplit Bebek adalah Rp.30.000. Kalau mau yang lebih murah, cukup pesan satuan. Misalnya, bebek goreng atau belut goreng saja dengan nasi putih dan lain-lainnya. Tidak terlalu mahal kok. Pecel Madiunnya hanya Rp 10.000. semantara Pindang Buntut senilai Rp 29.000.
Jadi buat penggemar masakan Jawa Timur, jangan lupa mampir ke tempat makan yang satu ini.
Pondok Suryo
Jl Suryo No16, Senopati
(021) 7393358
dari : kompas.com
SELAIN lezat, cumi-cumi kaya gizi. Ada protein, mineral, dan macam-macam vitamin. Tinta cair yang dimilikinya, berguna untuk memerangi tumor. Cumi-cumi merupakan salah satu hewan laut dari keluarga Loliginidae, kelas Cephalopoda. Dalam bahasa Latin, cumi-cumi dikenal dengan sebutan Loligo spp, sedangkan dalam bahasa Inggris squid.
Di Indonesia, cumi-cumi dikenal dengan beberapa istilah, seperti enus, nus, sotong, atau sontong bunga. Hewan laut ini umumnya ditangkap pada malam hari, dengan menggunakan lampu petromaks sebagai alat penarik. Mereka umumnya menyukai cahaya di malam hari. Kerumunan cumi-cumi dapat ditangkap dengan menggunakan alat bubu, jaring angkat, jaring insang, pukat cincin, pukat udang, rawai tuna, atau sero.
Cumi-cumi merupakan salah satu jenis hewan laut yang banyak diminati masyarakat, terutama penggemar seafood dan chinese food. Di pasaran, cumi-cumi umumnya dijual dalam dua bentuk utama, segar dan kering asin.
Tinggi Protein
Ditinjau dari nilai gizi, cumi-cumi memiliki kandungan gizi yang luar biasa karena kandungan proteinnya cukup tinggi, yaitu 17,9 g/100 g cumi segar. Daging cumi-cumi memiliki kelebihan dibanding dengan hasil laut lain, yaitu tidak ada tulang belakang, mudah dicerna, memiliki rasa dan aroma yang khas, serta mengandung semua jenis asam amino esensial yang diperlukan oleh tubuh. Asam amino esensial yang dominan adalah leusin, lisin, dan fenilalanin. Sementara kadar asam amino nonesensial yang dominan adalah asam glutamat dan asam aspartat.
Kedua asam amino tersebut berkontribusi besar terhadap timbulnya rasa sedap dan gurih. Itu sebabnya, secara alami cumi telah memiliki cita-rasa gurih, sehingga dalam pengolahannya tak perlu ditambahkan penyedap (seperti monosodium glutamat = MSG). Read the rest of this entry »

MESKI tampilannya tak menarik, bahkan sementara orang jijik melihatnya, belut merupakan makanan unggulan yang kaya berbagai zat gizi. Salah satu keunggulannya, kaya hormon kalsitonin, yang berfungsi untuk memelihara kekuatan tulang.
Licin bagaikan belut merupakan pepatah lama yang ditujukan kepada orang yang sangat licik, tetapi selalu terbebas dari segala tuntutan. Ungkapan itu merupakan sebuah pengakuan bahwa belut itu sangat licin dan sulit ditangkap. Belut (Monopterus albus) merupakan ikan darat dari keluarga Synbranchidae dan tergolong ordo Synbranchiodae, yaitu ikan yang tidak mempunyai sirip atau anggota lain untuk bergerak.
Belut mempunyai ciri-ciri badan bulat panjang seperti ular tetapi tidak bersisik, dan kulitnya licin mengeluarkan lendir. Matanya kecil hampir tertutup oleh kulit. Giginya juga kecil runcing berbentuk kerucut dan bibir berupa lipatan kulit yang lebar di sekeliling mulutnya. Belut mempunyai sirip punggung, sirip dubur, dan sirip ekor yang sangat kecil, sehingga hampir tidak terlihat oleh mata.
Jenis ikan darat ini merupakan komoditas perikanan darat yang bergerak dengan jalan melenggak-lenggokkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Habitatnya di tempat berlumpur, genangan air tawar, atau aliran air yang kurang deras.
Bentuknya yang seperti ular membuat sebagian orang enggan untuk melihatnya. Padahal, dagingnya sangat lezat dan dapat diolah menjadi berbagai makanan yang bergizi tinggi. Selain itu, belut juga memiliki berbagai khasiat untuk kesehatan.
Jenis Belut Read the rest of this entry »
JAKARTA,SELASA - Pangsa pasar perikanan Indonesia di Amerika Serikat (AS) pada kuartal pertama tahun ini mencapai 8,4 persen atau meningkat 1,9 persen jika dibandingkan dengan kuartal pertama 2007 yang sebesar 6,5 persen. “Ekspor produk perikanan Indonesia ke Amerika untuk Januari hingga Maret 2008 naik 27,8 persen dari 206,8 juta dollar AS di periode yang sama tahun 2007 menjadi 264,3 juta dollar AS dengan pangsa pasar naik dari 6,5 persen menjadi 8,4 persen,” kata Direktur Perdagangan Luar Negeri Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Saut P Hutagalung, seperti dikutip Antara, di Jakarta, Selasa (27/5).
Menurut dia, kenaikan ekspor tertinggi terjadi pada udang yang naik 57,7 persen, dari 94,2 juta dollar AS menjadi 148,7 juta dollar AS. Untuk tuna naik sebesar 20,4 persen dari 32,2 juta dollar AS menjadi 38,8 juta dollar AS. “Sedangkan ekspor produk lain seperti fillet ikan mencapai 39,5 juta dollar AS, ikan beku mencapai 7,3 juta dollar AS, dan ikan kering atau dried fish mencapai 4,4 juta dollar AS,” katanya.
Dia mengatakan, ekspor perikanan Indonesia ke AS sendiri pada 2007 mencapai 690,3 juta dolar AS. Sedangkan total realisasi ekspor nasional saat itu mencapai 2,3 miliar dollar AS. “Total target ekspor perikanan tahun 2008 sendiri sebesar 2,6 miliar dollar AS,” ujar Saut. Read the rest of this entry »
Dari pemikiran sederhana mengubah kubangan air menjadi kolam ikan, Suharsono berhasil menyakinkan warga Desa Jambidan, Kecamatan Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk menggeluti bisnis perikanan sejak beberapa tahun terakhir. Ide kolamisasi kubangannya itu juga mendapat perhatian pemerintah setempat. Bapak empat anak ini mendapat penghargaan Kalpataru kategori penyelamat lingkungan.
Dalam benak saya waktu itu, kubangan sudah sangat mirip kolam. Kami tidak perlu menggali lagi, tinggal dibenahi sedikit dengan menambah pagar. Maka, jadilah kolam ikan,” tutur Suharsono.
Desa Jambidan dikenal sebagai produsen batu bata. Sebagian besar warganya menggantungkan hidup dari usaha ini. Untuk bahan baku, warga memanfaatkan tanah liat di areal persawahan produktif. Akibatnya, banyak kubangan yang ditinggalkan. Apabila musim hujan tiba, kubangan itu hanya menjadi sarang nyamuk.
Sebagai warga asli Desa Jambidan, kondisi tersebut membuat Suharsono resah. Meski saat itu masih menjadi Duty Manager di Hotel Inna Garuda, Yogyakarta, Suharsono menyisihkan sebagian waktu untuk membudidayakan ikan. ”Awalnya saya melakukannya sendiri. Setelah cukup yakin dengan analisa ekonomi usaha perikanan, saya baru mengajak warga lain,” ceritanya. Read the rest of this entry »

KRUI, JUMAT – Keterlambatan tim Ekspedisi Garis Depan Nusantara ke Krui karena harus menolong kapal nelayan yang terombang-ambing di laut langsung terbayar malam ini. Kedatangannya ke Krui langsung disambut hidangan mewah.
Senang bukan main terdengar dari suara Didi Sugandi, salah satu anggota tim Ekspedisi garis Depan Nusantara saat dihubungi lewat ponsat (telepon satelit) Jumat (16/6) malam. Betapa tidak, menjelang sampai ke tempat singgah malam ini mereka berhasil mendapatkan seekor ikan tengiri “segede gaban.”
“Tengirinya satu tapi besar banget. Panjangnya sekaki saya. Ada lah kalau 60 kilogram. Nariknya aja kaya mau putus, tangan sampai sakit-sakit banget,” ujarnya. Tengiri besar berarti pesta mewah malam ini.
Tentu saja. Begitu merapat ke pantai Krui, semua anggota tim langsung sibuk mengolah ikan tersebut. Ada yang bikin bakso ikan, sementara lainnya menyiapkan peralatan dapur untuk masak sop ikan. Pegal-pegal saat menarik ikan tersebut begitu saja terlupakan.
Lagipula, sepanjang perjalanan, mereka tidak mungkin dapat menikmati masakan selezat ini. “Ombak dikit panci tumpah terus. Pas agak tenang, paling masak indomie telur. tetap sama nasi sih,” ujarnya.
Read the rest of this entry »
PERAIRAN ENGGANO, MINGGU – Gerombolan ikan tengiri dan tongkol yang berenang cepat di bawah kapal Deklarasi Djuanda dan tingkah ikan-ikan terbang di samping haluan, rupanya membuat Tohiri, sang nahkoda kapal, tergoda untuk memancing.
Maka di pagi yang cerah dengan laut yang relatif tenang walau ombak mencapai tinggi 1,5 hingga 2 meter, ia mempersiapkan pancingnya. Hari Minggu (18/5), seiring dengan perjalanan tim Ekspedisi Garis Depan Nusantara dari Krui menuju Pulau Enggano, kapal pun digayuti pancing yang dilempar jauh.
Menjelang siang, kail di ujung senar serasa ditarik ikan besar. Para awak kapal segera menggulung senarnya, menarik ikan yang meronta. Saat makin dekat, tampaklah bahwa yang memakan umpan adalah seekor ikan marlin sepanjang sekitar 80cm. Makin bergairahlah Tohiri dan awak kapal untuk menarik ikan berwarna kebiruan itu.
Dalam semangat menggebu untuk menarik ikan mendekat, tiba-tiba senar pancing putus. Dan wussss…. sang marlin mendapatkan kebebasannya kembali. Tinggal para awak kapal termangu.
“Padahal kalau dapet, kita mau sajikan nanti sesampai di Enggano,” ujar Haris Mulyadi, komandan Ekspedisi di kapal, saat dihubungi KOMPAS.com, Minggu (18/5). “Sayang senarnya kurang kuat, he…he…” paparnya. Read the rest of this entry »























Komentar Terakhir