You are currently browsing the daily archive for November 18th, 2008.

Sidat

Sabtu, 15 November 2008 | 16:25 WIB

BENGKULU, SABTU – Ikan sidat yang banyak terdapat di sungai, muara, dan laut Bengkulu memiliki kualitas ekspor yang hingga kini belum dimanfaatkan, kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bengkulu, Maman Hermawan.

“Kita memiliki potensi ikan sidat yang sangat besar, namun selama ini belum dimanfaatkan,” katanya di Bengkulu, Sabtu.

Informasi dari nelayan setempat, mereka bisa menangkap sidat sebanyak 60 ton per minggu, jika sedang musim bertelur, saat ikan itu berada di laut. Sidat merupakan ikan berbadan panjang, sejenis belut namun memiliki kuping, bisa hidup di laut dan air tawar.

Habitat asli ikan tesebut berada di sungai dan muara, namun ketika akan bertelur turun ke laut yang paling dalam. Setelah menetas, anak sidat akan kembali naik ke sungai dan muara sampai besar.

Selama ini, sidat hasil tangkapan nelayan hanya dioleh menjadi ikan asin dan dijual di sekitar Provinsi Bengkulu. Padahal itu, merupakan salah satu komiditas ekspor dan banyak diminati terutama pasar di Jepang.

“Saya sedang menginventarisasi berapa banyak sidat hasil tangkapan nelayan, rencananya kita akan mengupayakan agar bisa diekspor terutama ke Jepang,” katanya. Read the rest of this entry »

Ikan Napoleon

Rabu, 5 November 2008 | 20:57 WIB

PADANG, RABU – Maraknya perburuan ikan Napoleon di perairan Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, karena harganya yang mahal, telah mengakibatkan makin parahnya kerusakan terumbu karang tempat ikan itu tinggal.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Mentawai, Khairil, mengatakan, Rabu, ikan Napoleon dijual dengan harga mencapai 50 dollar US per kilogram, diekspor ke luar negeri. Sehingga, menarik minat para nelayan untuk berburu ikan tersebut, tak hanya nelayan Sumatera Barat, tapi juga nelayan provinsi-provinsi tetangga.

Khairil menjelaskan, ikan Napoleon hidup dan berkembang biak di lubang-lubang terumbu karang. Pada siang harinya bersembunyi di celah terumbu karang, dan malam hari keluar mencari mangsa.

“Karena merasa kesulitan menangkap, para nelayan menggunakan potasium untuk membuat ikan itu pingsan, padahal akibat yang ditimbulkan racun itu justru dapat membahyakan kelangsungan kelestarian ekosistem terumbu karang. Potasium dapat mengakibatkan punahnya terumbu karang,” ujar Khairil.

“Di pantai bagian Selatan Mentawai terdapat pulau-pulau, seperti Pulau Nigo, Pulau Sandang, Pulau Magalok, dan Pulau Tilakak, Lubuk Bajau dan Simatak yang memiliki banyak terumbu karang. Di situ banyak hidup ikan Napoleon dan Lobster yang diincar para nelayan dari luar Sumbar.  Ikan itu diekspor ke Hongkong dan Taiwan. Di lain pihak pengawasan aparat pemerintah dalam mencegah pengrusakan terumbu karang sulit dilakukan karena miskin sarana dan prasarana pengawasan,” ujarnya. Read the rest of this entry »

Selasa, 28 Oktober 2008 | 15:43 WIB

Memang sejauh ini belum ada penelitian atau ahli yang bisa inemastikan penyebab utama penyakit kepikunan atau alzheimer. Namun, beberapa peneliti berkesimpulan, risiko terkena alzheimer bisa dikurangi jika di dalam tubuh terdapat Omega 3 dalam jumlah cukup. Omega 3 ini dipercaya bisa meningkatkan fungsi mental, memori, dan konsentrasi.

Zat yang banyak terdapat pada lemak ikan ini juga terbukti sukses mengobati depresi, gejala penyakit kejiwaan atau schizophrenia. Ikan memang merupakan sumber asam lemak Omega 3 alami, yaitu EPA dan DHA. Zat ini berfungsi mencegah aterosklerosis dan secara nyata menurunkan kadar trigliserida dalam darah dan kolesterol dalam hati dan jantung.

Kadar asam lemak Omega 3 dalam beberapa jenis ikan taut di perairan Indonesia antara 0,1 gram sampai 0,5 gram dalam per 100 gram ikan. Ini lebih tinggi ketimbang ikan di perairan Thailand, yang kadar Omega 3-nya hanya 0,084 gram per 200 gram.

Adapun ikan laut Indonesia yang kandungan asam lemak Omega 3 tinggi, yakni sekitar 10,9 gram per 100 gram adalah ikan sidat, terubuk, tenggiri, kembung, layang, bawal, seren, slengseng, tuna. (Kontan/A.Syalaby Ichsan)

dari : kompas.com

Akuarium berisi bibit ikan nila menjadi salah satu suguhan yang bisa dinikmati pengunjung saat berada di laboratorium pembenihan Sekolah Tinggi Perikanan Karangantu, Serang, Banten.

Sabtu, 12 Juli 2008 | 11:05 WIB

APABILA Anda berkunjung ke Kota Serang, Banten, tidak lengkap rasanya bila tak menyempatkan diri singgah ke Kampus Sekolah Tinggi Perikanan di dekat Pelabuhan Karangantu. Selain pemandangan pantai pasir putih dan hutan bakau, pengunjung juga bisa menimba ilmu tentang perikanan.

Lokasi wisata pendidikan itu memang tak seperti tempat wisata pada umumnya karena yang menjadi obyeknya adalah sebuah areal Kampus Sekolah Tinggi Perikanan (STP), yang terletak tepat di tepi Pantai Karangantu.

Sepintas areal kampus itu memang terlihat tertutup karena ada pos penjagaan di pintu masuk kampus, padahal kampus itu terbuka untuk umum. Siapa pun bisa masuk asal meminta izin di pos penjagaan.

Tak heran jika setiap hari, ada saja warga yang berlalu lalang masuk areal kampus. Seperti yang terlihat di satu siang pekan lalu, segerombolan anak remaja berjalan menyusuri kampus menuju pantai pasir putih yang berada di sebelah utara.

Pantai ini memang sengaja ditata agar bisa menarik pengunjung sekaligus menghindari abrasi. Selain pemandangan pantai pasir putih yang bersih, pesona lain yang bisa dinikmati adalah hamparan terumbu karang.

Jika tertarik, pengunjung bisa meminta petugas pengarah untuk berkeliling Teluk Banten dengan menggunakan perahu. Tak perlu mengeluarkan ongkos mahal karena wisatawan hanya diminta mengganti biaya bahan bakar untuk berkeliling di lokasi bekas bandar besar pada zaman Kesultanan Banten. Read the rest of this entry »

Perikanan

Rabu, 5 Maret 2008 | 01:58 WIB

LUKITA GRAHADYARINI

Penangkapan ikan ilegal telah menjadi momok yang meresahkan bagi Indonesia selama bertahun-tahun. Kegiatan itu bukan hanya merugikan negara secara finansial, tetapi juga menurunkan produktivitas dan hasil tangkapan secara signifikan. Namun, upaya penanganan penangkapan ikan ilegal hingga kini masih diwarnai sejumlah hambatan.

Kendala itu tidak hanya dirasakan Indonesia, melainkan juga negara-negara kawasan ASEAN dan sekitarnya.

Direktur Jenderal Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (P2SDKP) Aji Sularso mengatakan, Indonesia sebagai negara perairan terbesar di Asia Tenggara paling banyak dirugikan akibat kegiatan penangkapan ikan ilegal.

”Indonesia dihadapkan pada dua persoalan mendasar. Wilayah perairan kita banyak dicuri sehingga produktivitas perikanan terus merosot. Namun, beberapa nelayan kita juga mencuri di perairan negara lain, seperti Australia,” papar Aji.

Beberapa kawasan perairan Indonesia yang rawan terhadap pencurian ikan antara lain Laut Arafura, perairan Natuna, dan perairan utara Sulawesi Utara. Kapal-kapal asing yang melanggar itu sebagian besar merupakan kapal asal China, Thailand, Vietnam, dan Filipina. Read the rest of this entry »

Selasa, 4 Maret 2008 | 19:33 WIB

JAKARTA, SENIN – Kerja sama riset yang dilakukan peneliti dari Universitas Tadulako Palu dan Wisconsin University Amerika Serikat serta Simon Fraser University Kanada menemukan beberapa ikan endemik dari kompleks Danau-danau Malili di Sulawesi Tengah.

Selama ini di bagian tengah Pulau Sulawesi terdapat beberapa danau yang unik pembentukannya, yaitu terbentuk dari proses pergeseran kerak bumi dan pengangkatan dasar laut selama beribu hingga berjuta tahun lalu.

Karena proses evolusi itu terbentuk Danau Lindu, Danau Poso, dan danau-danau yang berada dalam kompleks Danau Malili (Matano, Mahalona, Towuti, Masapi, dan Lantoa). Danau tersebut kaya akan biota endemik yang tidak ditemukan di danau-danau lain.

Dalam kompleks Danau Malili saja, jelas Fadly Y Tantu, dosen Program Studi Akuakultur Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, ditemukan biota-biota endemik, yaitu 32 jenis ikan, 9 jenis udang air tawar, 87 jenis diatom, 26 jenis gastropoda, dan 5 jenis kepiting air tawar.

Hilangnya biota danau Read the rest of this entry »

Lele raksasa ditemukan di sungai di India.

Jumat, 10 Oktober 2008 | 13:57 WIB

NEW DELHI, JUMAT — Seekor ikan sejenis lele diduga telah bermutasi secara genetik menjadi berukuran sangat besar dan mengerikan. Ikan ini kini menjadi obyek penelitian para ilmuwan di Nepal dan India.

Mereka khawatir ikan itu sudah membunuh beberapa orang setelah ‘merasakan’ mayat manusia. Lele raksasa ini, biasanya disebut goonch, diduga tumbuh besar setelah mendapat makanan mayat-mayat manusia yang dibuang di sungai Great Kali, sungai di perbatasan Nepal-India, tempat ikan itu ditangkap.

Ikan yang telah bermutasi itu kini sedang dalam penyelidikan ahli biologi Jeremy Wade. Wade meneliti ikan lele raksasa itu untuk acara televisi dan akan ditayangkan stasiun televisi Five dalam waktu dekat.

“Penduduk lokal mengatakan kepada saya suatu teori bahwa monster ini telah tumbuh luar biasa besar karena makan sisa pembakaran mayat. Mungkin mereka merasakan nikmatnya daging manusia setelah memakan sisa-sisa mayat itu,” ungkap Wade.

“Kemungkinan ada beberapa lele yang tumbuh lebih besar daripada yang lain dan jika Anda memberikan makanan lebih banyak lagi, maka mereka pasti juga akan tumbuh lebih besar lagi,” katanya.

Awalnya, Wade mengira bahwa  buayalah yang memakan sisa-sisa mayat tersebut. Namun, teori itu berubah setelah dia mengalihkan perhatian pada goonch, salah satu jenis ikan air tawar terbesar di dunia. Read the rest of this entry »

Senin, 16 Juni 2008 | 11:34 WIB

Bahan:
250 gr ikan tengiri, potong tebal 1 1/2 cm
1/2 sendok teh air jeruk nipis
4 belimbing sayur, potong-potong
2 lembar daun jeruk, buang tulangnya
1 batang serai, ambil bagian putihnya, memarkan
1 cm jahe, memarkan
1 lembar daun salam
2 buah tomat hijau, potong-potong
1 1/4 sendok teh garam
1/2 sendok teh gula pasir
750 ml air
1 batang daun bawang, potong 1 1/2 cm
1 sendok makan minyak untuk menumis

Bumbu halus:
5 butir bawang merah
2 siung bawang putih
1 cm kunyit, bakar
3 butir kemiri, sangrai

Cara membuat:
1. Lumuri ikan tengiri dengan air jeruk nipis. Diamkan 15 menit.

2. Tumis bumbu halus, daun jeruk, serai, daun salam, dan jahe sampai harum. Tambahkan tomat hijau. Aduk sampai layu.

3. Tuang air. Didihkan. Masukkan belimbing wuluh, ikan tengiri, garam, dan gula pasir. Masak sampai matang.

4. Menjelang diangkat, tambahkan daun bawang. Aduk rata.

Untuk 3 porsi

Saran pakar: Kalau khawatir hancur, potongan ikan boleh digoreng sebentar.

dari : kompas.com

Kamis, 19 Juni 2008 | 11:31 WIB

Bahan:
1 ekor ikan kerapu
2 sdm air jeruk nipis
1 sdm minyak
1 lbr daun pandan, potong-potong
1 ikat daun kemangi
5 sdm minyak
2 sdt air jeruk nipis
150 ml air

Haluskan:
1 sdm cabai giling
10 bh cabai rawit merah
8 siung bawang merah
3 siung bawang putih
2 cm jahe
2 bh tomat
1 sdt garam
1 sdt gula
2 sdt air jeruk nipis

Cara membuat:
1. Bersihkan ikan, lumuri dengan air jeruk nipis dan garam, biarkan selama 30 menit.
2. Panaskan minyak, tumis bumbu halus hingga harum, tambahkan daun pandan, kemangi, air jeruk nipis dan air, masak hingga bumbu matang dan kuah mengental.
3. Masukkan ikan, masak dengan api kecil, masak hingga ikan terlumuri bumbu dan kering.
4. Masukkan ikan dalam pinggan tahan panas, bakar hingga kering.

Untuk 4 orang

dari : kompas.com

Jumat, 5 September 2008 | 11:29 WIB

Bahan:
250 gr ikan tenggiri
1 sdt air jeruk nipis
1 sdt garam
3 sdm minyak untuk menumis
1 btg serai, memarkan
1 sdm kecap manis
minyak untuk menggoreng

Haluskan:
3 bh cabai merah
6 bh bawang merah
3 siung bawang putih
4 bh kemiri
1 cm jahe
1 sdt garam

Cara Membuat:
1. Lumuri ikan dengan garam dan air jeruk nipis. Diamkan 30 menit.
2. Goreng ikan dalam minyak panas sedang sampai matang, sisihkan.
3. Tumis bumbu halus dan serai sampai harum. Tambahkan kecap, aduk hingga matang.
4. Tata ikan goreng di piring, siram dengan tumisan bumbu, hidangkan.

Untuk 4 orang

Nuraini W

dari : kompas.com

Rabu, 30 April 2008 | 10:18 WIB

JAKARTA,RABU - Usulan dari Departemen Perdagangan (Depdag) untuk menurunkan bea masuk termasuk salah satunya produk perikanan membuat Indonesia harus waspada terhadap kemungkinan adanya serbuan produk perikanan asing. “Harus ada instrumen yang disiapkan untuk melindungi produk perikanan Indonesia, juga mengantisipasi adanya repackage yang mungkin dilakukan eksportir,” kata Dirjen Pemasaran Luar Negeri Ditjen Pengelolaan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) DKP, Saut P Hutagalung seperti dikutip Antara, di Jakarta, Rabu (30/4).

Untuk mengamankan pasar Indonesia dari serbuan produk perikanan tersebut, menurut dia, perlu ada Peraturan Menteri (Permen) lagi. Sejauh ini memang sudah ada Permen yang mengatur masalah pengamanan produk perikanan tetapi belum efektif, karena hanya pengawasan untuk mutu tidak sampai ketahap sanksi.

Dia mengatakan bea masuk produk perikanan ke Indonesia berbeda-beda sesuai dengan negara asal. Untuk produk perikanan asal negara ASEAN bea masuk memang sudah rendah bahkan kurang dari lima persen, sedangkan produk dari negara lain dapat mencapai 10 persen. “Memang menuju perdagangan bebas ASEAN tahun 2013 nanti bea masuk impor justru akan lebih rendah lagi. Bahkan jika mengikuti kesepakatan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) bea masuk bisa sampai dinolkan,” ujarnya.  Read the rest of this entry »

Sejumlah pembeli dan penjual terlibat dalam transaksi jual beli ikan di Pasar Ikan Muara Karang, Jakarta Utara. Pembeli ikan dapat langsung memilih sendiri ikan dan hasil laut lainnya untuk kemudian diolah sesuai selera di warung-warung sekitar pasar ikan.

Sabtu, 15 November 2008 | 06:23 WIB

Berwisata kuliner makanan hasil laut tak harus ke restoran. Ada banyak tempat makan hasil laut kelas warung bertebaran di Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Bekasi dan Tangerang yang memiliki cita rasa masakan tak kalah lezat dibanding makanan kelas restoran.

Pusat Jajanan Muara Karang, Jakarta Utara merupakan salah satu contoh penyedia warung tempat memasak hasil laut. Di sana terdapat lebih dari 20 warung siap melayani permintaan memasakkan aneka makanan, tetapi tamu harus membeli sendiri bahan berupa ikan dan lainnya ke pasar ikan yang berjarak sekitar 200 meter dari pusat jajanan itu. Pemilik warung hanya menyediakan tenaga membersihkan dan memasak ikan, serta bumbu masakan, nasi, tempat dan peralatan makan dengan ongkos cukup murah.

Agar sukses menikmati wisata makanan hasil laut di Muara Karang, ada baiknya ikutilah tips berikut ini.

- Siapkan sepatu karet atau sandal jepit untuk berbelanja ikan, cumi, kerang dan lainnya di pasar ikan, sebab kondisi pasar biasanya becek. Read the rest of this entry »

Selasa, 1 Juli 2008 | 00:26 WIB

Medan, Kompas – Impor ikan di Sumatera Utara didominasi ikan jenis kembung. Selain itu, ikan yang diimpor juga ikan jenis mujair, sarden, dan patin. Ikan masuk dalam keadaan mati dan siap dikonsumsi.

Di sisi lain, koordinasi antarinstansi dalam penanganan ikan impor sangat lemah. Setiap instansi melempar tanggung jawab kepada instansi yang lain karena tak ada cantolan hukum yang mewajibkan adanya koordinasi.

Data Balai Karantina Ikan Polonia Departemen Kelautan dan Perikanan menunjukkan, pada tahun 2007 total impor ikan mencapai sekitar 2.934 ton. Sebanyak 1.063 ton di antaranya merupakan ikan kembung. Sementara itu, hingga Maret 2008 jumlah ikan impor yang masuk ke Sumut sekitar 944 ton. Separuhnya merupakan jenis ikan kembung.

Kepala Balai Karantina Ikan Polonia Departemen Kelautan dan Perikanan Victor I Sinuraya mengatakan, pihaknya bertanggung jawab pada kesehatan ikan, apakah mengandung penyakit tertentu yang akan mengganggu kehidupan ikan di Sumut. Read the rest of this entry »

Laboratorium Uji Mutu Hasil Ikan Belum Lakukan Penelitian

Rabu, 25 Juni 2008 | 00:59 WIB

Medan, Kompas – Impor ikan segar yang masuk ke Sumatera Utara melalui Pelabuhan Belawan, Medan, semakin meningkat. Kantor Bea dan Cukai Belawan melaporkan, selama tahun 2006 impor ikan mencapai 2.482 ton, tahun 2007 meningkat menjadi 6.993 ton, dan hingga Mei 2008 impor ikan sudah mencapai 5.481 ton.

Kepala Seksi Pencegahan dan Penyidikan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Belawan Agustinus Joko, Selasa (24/6), mengatakan, kebanyakan ikan masuk dari Malaysia berwujud ikan segar. Sisanya, sekitar 5 persen, adalah ikan beku dari China. Impor ikan itu menghasilkan total pungutan hingga Mei 2008 sebanyak Rp 1,5 miliar. Sementara di tahun 2007 mencapai Rp 2,2 miliar dan tahun 2006 mencapai Rp 1,4 miliar.

Di sisi lain, ekspor ikan Sumatera ke Malaysia terus menurun dari tahun ke tahun. Data yang dikeluarkan Dinas Kelautan dan Perikanan Sumut menunjukkan, tahun 2004 ekspor ikan ke Malaysia mencapai 34,27 persen dari total ekspor ke negara itu. Tahun 2005 turun jadi 22,09 persen, tahun 2006 menjadi 11,68 persen, dan tahun 2007 hanya 5,46 persen.

Sebelumnya, sejumlah nelayan di Belawan menyatakan kenaikan harga BBM semakin membuat mereka tak bisa bersaing, apalagi semakin banyak ikan Malaysia yang masuk ke Belawan. Andak Ruslan (58), nelayan Warga Belawan I, Belawan, yang ditemui di Belawan mengatakan, ikan impor itu mengkhawatirkan nelayan. Read the rest of this entry »

Bakteri Berkembang Diduga akibat Penyimpanan Kurang Baik
Seorang pedagang menunjukkan ikan impor jenis aso-aso belu di Belawan, Senin (7/7). Belum ada keterangan resmi pemerintah tentang aspek kesehatan ikan impor yang masuk ke Belawan.

Selasa, 22 Juli 2008 | 03:00 WIB

Medan, Kompas – Ikan impor asal Malaysia yang masuk ke Pelabuhan Belawan, Kota Medan, perlu diwaspadai. Kondisi ikan itu terindikasi tidak aman. Meskipun impor ikan dibebaskan, hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari pemerintah perihal aspek kesehatan ikan impor.

Hasil pengujian mutu sampel ikan impor jenis aso-aso ukuran 16/17 Nomor 523.6/159/VII/2008 yang diajukan Kompas pada hari Selasa (8/7) ke Balai Laboratorium Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) Dinas Perikanan dan Kelautan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menunjukkan, parameter uji angka lempeng total (ALT atau TPC-total plate count) menunjukkan hasil yang tidak memenuhi standar sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang berlaku.

Artinya, sampel mengandung bakteri yang melebihi ambang batas. Satu sampel yang diambil dari ikan beku seberat 10 kilogram itu menunjukkan kandungan ALT/TPC tak terhingga, sangat tinggi dari nilai ambang batas ALT/TPC sebesar 5,0 x 10 pangkat 5.

Pada uji kandungan mikrobiologi yang lain, yaitu E coli, Coliform, Salmonella, dan Vibrio cholerae, hasil uji menunjukkan sampel dalam keadaan standar sesuai SNI yang berlaku. Read the rest of this entry »

RAIH SARJANA NEGERI 3 TAHUN - TANPA SKRIPSI - ABSENSI HADIR KULIAH BEBAS - COCOK BUAT ANDA KARYAWAN SIBUK
http://www.sarjana3tahunlul.us/

since dec27'07, thanks to

  • 1,059,573 visitors
Potensi perikanan di republik ini sungguh sangat berlimpah di perairan darat maupun di lautan, namun sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan rakyat. Karena kebokbrokan mental aparatur negara hasil perikanan laut kita terkuras oleh 'ilegal fishing' -nyaris sama seperti hutan kita yang gundul oleh 'ilegal logging', semuanya hanya dinikmati sekelompok rakus yang tidak memikirkan kemajuan bangsa bersama. Bundel kliping info perikanan ini semoga dapat menghimpun segala informasi untuk menggugah masyarakat luas akan urgensi penyelamatan potensi perikanan nasional khususnya perikanan laut agar tetap lestari bagi kemakmuran anak cucu kita.

a





Recent Readers

View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile



pranatamangsa

November 2008
S S R K J S M
« Agu   Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
apakah anda memerlukan bea siswa ke PTN ? anda lulusan SLTA 2007,2008 dan rangking 9 besar di kelas ?
beasiswa klik disini

Flickr Photos

yellow

Vanessa bikini girl -small

tits31rr

Tiff n Dana

suzfishing

suekat_cobia

sr-015

shelly

shelly 039_1

sharkchick

More Photos
Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.

www.bukansarjanabi.asia

Halaman