You are currently browsing the daily archive for November 1st, 2008.
Segar dan berorama rempah! Itulah yang terasa ketika saya mencoba pindang ikan patin di Sari Sanjaya, Jalan Dr Satrio No 18A, Jakata Selatan. Daging ikan patinnya lembut. Sensasi rasa asin, manis, asam, dan pedas bercampur dalam satu sendok kuah pindang.
Begitu tersaji di meja, wangi daun kemangi, aroma sereh serta jahe langsug menyeruak dari kuah pindang yang masih panas. Sangat menggoda selera. Saya sampai lupa bahwa saya harus mengambil gambar sebelum mulai menyantapnya.
Pindang patin ini isinya beraneka: ada daun bawang, mentimun, daun kemangi, cabe, nanas, lengkuas, dan tomat.
Setelah mencoba ikan patin dipindang, saya penasaran ingin merasakan ikan patin dipepes. Begitu bungkusannya dibuka, aroma duren menusuk hidung. Hah, patin rasa duren? Betul! Daging buah duren membungkus potongan ikan patin yang empuk dan lembut. Ikannya terasa asam dan tentu beraroma duren.
Yuda, seorang waiter di tempat itu menjelaskan, mereka menggunakan tempoyak (fermentasi duren) sebagai bumbu pepes, maka pepesnya pun terasa asam karena pengaruh duren yang difermentasi. Saya tidak begitu menyukai pepes ikan patin itu, mungkin karena rasanya yang ‘aneh’, tetapi saya menghargai kreativitas tercipta menu tersebut. Read the rest of this entry »
PALEMBANG — Seekor ikan patin (Pangasius hypothalmus) raksasa seberat 43 kg dengan panjang sekitar 1,3 meter berhasil ditangkap nelayan di Sungai Musi. Patin yang umurnya diperkirakan sekitar delapan tahun itu dijual pedagang ikan di Pasar Cinde seharga Rp 2,3 juta.
Ukuran ikan itu memang ekstrabesar, hampir sama tinggi dengan anak usia lima tahun. Lebar tubuh mencapai 40 cm. Perutnya mengelembung berisi telur sekitar 3 kg. Warnanya putih dan belang hitam di bagian punggung, terasa kenyal saat dipegang.
Dapat dibayangkan, untuk seokor patin ukuran 1 kg biasanya habis oleh tiga orang sekali makan. Berarti, ikan raksasa ini cukup untuk lauk makan 130 orang.
Ikan tersebut tergolek di atas lapak milik Heri (43) dan adiknya, Fendi (40), pedagang ikan di Pasar Cinde, Jumat (31/10). Namun, karena tidak ada yang sanggup membelinya, dimasukkan ke dalam kardus ukuran televisi 21 inch berisi bongkahan batu es. Keduanya kesulitan mengangkatnya.
Menurut Heri, selama lebih dari 20 tahun berdagang ikan di Pasar Cinde, baru kali ini ia mendapat ikan patin sungai seberat 43 kilogram. Ia mendapatkannya dari Yanto, seorang pengumpul ikan dari nelayan di kawasan Sungai Lais, sekitar pukul 08.00. Read the rest of this entry »



















Komentar Terakhir