You are currently browsing the monthly archive for November 2008.
BOLEH percaya, tidak percaya pun silakan. Pengalaman aneh benar-benar dirasakan empat karyawan karyawan swasta sebuah perusahaan di Banjarmasin, H Suri, Zaenal, Badriansyah dan Jaya.
Seumur-umur yang namanya memancing, perolehannya paling banter hanya bisa dihitung dengan jari. Tapi, Kamis itu, mereka bak ketiban rezeki. Dengan empat pancing ternyata bisa membawa pulang ikan sekitar 40 kilogram.
“Saya juga bingung, tidak tahu penyebabnya apa. Ikannya besar-besar. Ada lele, gurameh dan lain-lain. Semua gampang banget kami angkat. Pada hal hanya di lokasi itu saja,” kata Zaenal yang mewakili teman-temannya kepada wartawan.
Mereka berempat tetap bingung dengan kejadian itu. Lantas, di tengah-tengah ketidakpercayaan tersebut, iseng-iseng membuka fotofoto hasil jepretan menggunakan handphone. Alangkah terkejutnya karena satu di antara gambar hasil jepretan Irwan,– se orang bar tender di diskotek tersebut, terlihat ada sesosok bayangan aneh.
Mereka meyakini telah ada ‘penampakan’ mahluk halus di sekitar lokasi mereka mancing. Sosok mahluk aneh itu dilukiskan sebagai seseorang lelaki tua memakai topi, duduk termenung menghadap mereka mancing. Di dalam gambar itu pula, ‘si bayangan samar’ hanya terlihat bagian perut ke atas. Baca entri selengkapnya »
Belut? Biasanya, saya hanya memakan belut goreng tepung yang dijadikan keripik belut atau belut yang dimasak dengan santan. Itu pun, ukuran belutnya tidak terlalu besar.
Nah, suatu hari, saya diajak seorang teman di Surabaya memakan belut goreng, di satu kawasan yang sebagian besar penduduknya, memang berjualan belut. Saya baru tahu kalau Surabaya memiliki belut yang lumayan besar dan dagingnya juga tebal. Hmm…sedap sekali memakan belut goreng dengan sambal, sambil menyantap nasi putih yang masih panas.
Di Jakarta, juga tidak gampang menemukan belut goreng seperti itu. Harus bertandang khusus ke restoran Jawa Timur-an. Salah satunya, adalah Pondok Suryo di kawasan Kebayoran Baru.
Hari itu, saya bersama seorang teman ke Pondok Suryo untuk menyantap masakan khas Surabaya. Tempat makan yang satu ini memang memiliki menu khas Surabaya yang cukup lengkap. Ada Pecel Madiun, Pindang Buntut, Belut Goreng hingga Begor (Bebek Goreng).
Begor Surabaya juga menjadi salah satu andalan Pondok Suryo. Teman saya memesan Nasi Cobek Komplit Bebek dan saya memesan Nasi Cobek Komplit Belut. Dinamakan nasi cobek, karena, dalam penyajiannya, nasi putih panas diletakkan di dalam cobek dengan alas sambal bawang mentah.
Sementara, bebek dan belut gorengnya, disajikan secara terpisah dalam tempat tersendiri, lengkap dengan teri goreng, tahu, tempe plus sayur asem.
Untuk menikmati menu cobek itu, paling enak pasti menikmatinya dengan tangan saja. Kurang mantap deh, kalau mesti pake sendok garpu. Nasi dicampur terlebih dahulu dengan sambal bawang, baru disantap disantap bersama lauknya.
Rasa bebeknya, tidak perlu dipertanyakan. So crispy, gurih dan dagingnya juga empuk. Untuk belut gorengnya, memang sih, rasanya tidak senikmat begor-nya atau belut goreng yang saya makan di Surabaya kala itu. Tetapi, lumayan kok. Daging belutnya cukup tebal. So, not bad lah. Paling nggak, rasa kangen saya jadi terobati.
Lalu, yang membikin nasi cobek ini lebih nikmat adalah sambal bawangnya. Tidak terlalu pedas, gurih dan pas banget untuk lidah saya. Apalagi dicampur dengan teri dan sayur asem. Sungguh nikmat.
Satu porsi Nasi Cobek Komplit Belut adalah Rp 33.500. Sedangkan Nasi Cobek Komplit Bebek adalah Rp.30.000. Kalau mau yang lebih murah, cukup pesan satuan. Misalnya, bebek goreng atau belut goreng saja dengan nasi putih dan lain-lainnya. Tidak terlalu mahal kok. Pecel Madiunnya hanya Rp 10.000. semantara Pindang Buntut senilai Rp 29.000.
Jadi buat penggemar masakan Jawa Timur, jangan lupa mampir ke tempat makan yang satu ini.
Pondok Suryo
Jl Suryo No16, Senopati
(021) 7393358
dari : kompas.com
SELAIN lezat, cumi-cumi kaya gizi. Ada protein, mineral, dan macam-macam vitamin. Tinta cair yang dimilikinya, berguna untuk memerangi tumor. Cumi-cumi merupakan salah satu hewan laut dari keluarga Loliginidae, kelas Cephalopoda. Dalam bahasa Latin, cumi-cumi dikenal dengan sebutan Loligo spp, sedangkan dalam bahasa Inggris squid.
Di Indonesia, cumi-cumi dikenal dengan beberapa istilah, seperti enus, nus, sotong, atau sontong bunga. Hewan laut ini umumnya ditangkap pada malam hari, dengan menggunakan lampu petromaks sebagai alat penarik. Mereka umumnya menyukai cahaya di malam hari. Kerumunan cumi-cumi dapat ditangkap dengan menggunakan alat bubu, jaring angkat, jaring insang, pukat cincin, pukat udang, rawai tuna, atau sero.
Cumi-cumi merupakan salah satu jenis hewan laut yang banyak diminati masyarakat, terutama penggemar seafood dan chinese food. Di pasaran, cumi-cumi umumnya dijual dalam dua bentuk utama, segar dan kering asin.
Tinggi Protein
Ditinjau dari nilai gizi, cumi-cumi memiliki kandungan gizi yang luar biasa karena kandungan proteinnya cukup tinggi, yaitu 17,9 g/100 g cumi segar. Daging cumi-cumi memiliki kelebihan dibanding dengan hasil laut lain, yaitu tidak ada tulang belakang, mudah dicerna, memiliki rasa dan aroma yang khas, serta mengandung semua jenis asam amino esensial yang diperlukan oleh tubuh. Asam amino esensial yang dominan adalah leusin, lisin, dan fenilalanin. Sementara kadar asam amino nonesensial yang dominan adalah asam glutamat dan asam aspartat.
Kedua asam amino tersebut berkontribusi besar terhadap timbulnya rasa sedap dan gurih. Itu sebabnya, secara alami cumi telah memiliki cita-rasa gurih, sehingga dalam pengolahannya tak perlu ditambahkan penyedap (seperti monosodium glutamat = MSG). Baca entri selengkapnya »

MESKI tampilannya tak menarik, bahkan sementara orang jijik melihatnya, belut merupakan makanan unggulan yang kaya berbagai zat gizi. Salah satu keunggulannya, kaya hormon kalsitonin, yang berfungsi untuk memelihara kekuatan tulang.
Licin bagaikan belut merupakan pepatah lama yang ditujukan kepada orang yang sangat licik, tetapi selalu terbebas dari segala tuntutan. Ungkapan itu merupakan sebuah pengakuan bahwa belut itu sangat licin dan sulit ditangkap. Belut (Monopterus albus) merupakan ikan darat dari keluarga Synbranchidae dan tergolong ordo Synbranchiodae, yaitu ikan yang tidak mempunyai sirip atau anggota lain untuk bergerak.
Belut mempunyai ciri-ciri badan bulat panjang seperti ular tetapi tidak bersisik, dan kulitnya licin mengeluarkan lendir. Matanya kecil hampir tertutup oleh kulit. Giginya juga kecil runcing berbentuk kerucut dan bibir berupa lipatan kulit yang lebar di sekeliling mulutnya. Belut mempunyai sirip punggung, sirip dubur, dan sirip ekor yang sangat kecil, sehingga hampir tidak terlihat oleh mata.
Jenis ikan darat ini merupakan komoditas perikanan darat yang bergerak dengan jalan melenggak-lenggokkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Habitatnya di tempat berlumpur, genangan air tawar, atau aliran air yang kurang deras.
Bentuknya yang seperti ular membuat sebagian orang enggan untuk melihatnya. Padahal, dagingnya sangat lezat dan dapat diolah menjadi berbagai makanan yang bergizi tinggi. Selain itu, belut juga memiliki berbagai khasiat untuk kesehatan.
Jenis Belut Baca entri selengkapnya »
JAKARTA,SELASA - Pangsa pasar perikanan Indonesia di Amerika Serikat (AS) pada kuartal pertama tahun ini mencapai 8,4 persen atau meningkat 1,9 persen jika dibandingkan dengan kuartal pertama 2007 yang sebesar 6,5 persen. “Ekspor produk perikanan Indonesia ke Amerika untuk Januari hingga Maret 2008 naik 27,8 persen dari 206,8 juta dollar AS di periode yang sama tahun 2007 menjadi 264,3 juta dollar AS dengan pangsa pasar naik dari 6,5 persen menjadi 8,4 persen,” kata Direktur Perdagangan Luar Negeri Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Saut P Hutagalung, seperti dikutip Antara, di Jakarta, Selasa (27/5).
Menurut dia, kenaikan ekspor tertinggi terjadi pada udang yang naik 57,7 persen, dari 94,2 juta dollar AS menjadi 148,7 juta dollar AS. Untuk tuna naik sebesar 20,4 persen dari 32,2 juta dollar AS menjadi 38,8 juta dollar AS. “Sedangkan ekspor produk lain seperti fillet ikan mencapai 39,5 juta dollar AS, ikan beku mencapai 7,3 juta dollar AS, dan ikan kering atau dried fish mencapai 4,4 juta dollar AS,” katanya.
Dia mengatakan, ekspor perikanan Indonesia ke AS sendiri pada 2007 mencapai 690,3 juta dolar AS. Sedangkan total realisasi ekspor nasional saat itu mencapai 2,3 miliar dollar AS. “Total target ekspor perikanan tahun 2008 sendiri sebesar 2,6 miliar dollar AS,” ujar Saut. Baca entri selengkapnya »
Dari pemikiran sederhana mengubah kubangan air menjadi kolam ikan, Suharsono berhasil menyakinkan warga Desa Jambidan, Kecamatan Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk menggeluti bisnis perikanan sejak beberapa tahun terakhir. Ide kolamisasi kubangannya itu juga mendapat perhatian pemerintah setempat. Bapak empat anak ini mendapat penghargaan Kalpataru kategori penyelamat lingkungan.
Dalam benak saya waktu itu, kubangan sudah sangat mirip kolam. Kami tidak perlu menggali lagi, tinggal dibenahi sedikit dengan menambah pagar. Maka, jadilah kolam ikan,” tutur Suharsono.
Desa Jambidan dikenal sebagai produsen batu bata. Sebagian besar warganya menggantungkan hidup dari usaha ini. Untuk bahan baku, warga memanfaatkan tanah liat di areal persawahan produktif. Akibatnya, banyak kubangan yang ditinggalkan. Apabila musim hujan tiba, kubangan itu hanya menjadi sarang nyamuk.
Sebagai warga asli Desa Jambidan, kondisi tersebut membuat Suharsono resah. Meski saat itu masih menjadi Duty Manager di Hotel Inna Garuda, Yogyakarta, Suharsono menyisihkan sebagian waktu untuk membudidayakan ikan. ”Awalnya saya melakukannya sendiri. Setelah cukup yakin dengan analisa ekonomi usaha perikanan, saya baru mengajak warga lain,” ceritanya. Baca entri selengkapnya »

KRUI, JUMAT – Keterlambatan tim Ekspedisi Garis Depan Nusantara ke Krui karena harus menolong kapal nelayan yang terombang-ambing di laut langsung terbayar malam ini. Kedatangannya ke Krui langsung disambut hidangan mewah.
Senang bukan main terdengar dari suara Didi Sugandi, salah satu anggota tim Ekspedisi garis Depan Nusantara saat dihubungi lewat ponsat (telepon satelit) Jumat (16/6) malam. Betapa tidak, menjelang sampai ke tempat singgah malam ini mereka berhasil mendapatkan seekor ikan tengiri “segede gaban.”
“Tengirinya satu tapi besar banget. Panjangnya sekaki saya. Ada lah kalau 60 kilogram. Nariknya aja kaya mau putus, tangan sampai sakit-sakit banget,” ujarnya. Tengiri besar berarti pesta mewah malam ini.
Tentu saja. Begitu merapat ke pantai Krui, semua anggota tim langsung sibuk mengolah ikan tersebut. Ada yang bikin bakso ikan, sementara lainnya menyiapkan peralatan dapur untuk masak sop ikan. Pegal-pegal saat menarik ikan tersebut begitu saja terlupakan.
Lagipula, sepanjang perjalanan, mereka tidak mungkin dapat menikmati masakan selezat ini. “Ombak dikit panci tumpah terus. Pas agak tenang, paling masak indomie telur. tetap sama nasi sih,” ujarnya.
Baca entri selengkapnya »
PERAIRAN ENGGANO, MINGGU – Gerombolan ikan tengiri dan tongkol yang berenang cepat di bawah kapal Deklarasi Djuanda dan tingkah ikan-ikan terbang di samping haluan, rupanya membuat Tohiri, sang nahkoda kapal, tergoda untuk memancing.
Maka di pagi yang cerah dengan laut yang relatif tenang walau ombak mencapai tinggi 1,5 hingga 2 meter, ia mempersiapkan pancingnya. Hari Minggu (18/5), seiring dengan perjalanan tim Ekspedisi Garis Depan Nusantara dari Krui menuju Pulau Enggano, kapal pun digayuti pancing yang dilempar jauh.
Menjelang siang, kail di ujung senar serasa ditarik ikan besar. Para awak kapal segera menggulung senarnya, menarik ikan yang meronta. Saat makin dekat, tampaklah bahwa yang memakan umpan adalah seekor ikan marlin sepanjang sekitar 80cm. Makin bergairahlah Tohiri dan awak kapal untuk menarik ikan berwarna kebiruan itu.
Dalam semangat menggebu untuk menarik ikan mendekat, tiba-tiba senar pancing putus. Dan wussss…. sang marlin mendapatkan kebebasannya kembali. Tinggal para awak kapal termangu.
“Padahal kalau dapet, kita mau sajikan nanti sesampai di Enggano,” ujar Haris Mulyadi, komandan Ekspedisi di kapal, saat dihubungi KOMPAS.com, Minggu (18/5). “Sayang senarnya kurang kuat, he…he…” paparnya. Baca entri selengkapnya »
BENGKULU, SABTU – Ikan sidat yang banyak terdapat di sungai, muara, dan laut Bengkulu memiliki kualitas ekspor yang hingga kini belum dimanfaatkan, kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bengkulu, Maman Hermawan.
“Kita memiliki potensi ikan sidat yang sangat besar, namun selama ini belum dimanfaatkan,” katanya di Bengkulu, Sabtu.
Informasi dari nelayan setempat, mereka bisa menangkap sidat sebanyak 60 ton per minggu, jika sedang musim bertelur, saat ikan itu berada di laut. Sidat merupakan ikan berbadan panjang, sejenis belut namun memiliki kuping, bisa hidup di laut dan air tawar.
Habitat asli ikan tesebut berada di sungai dan muara, namun ketika akan bertelur turun ke laut yang paling dalam. Setelah menetas, anak sidat akan kembali naik ke sungai dan muara sampai besar.
Selama ini, sidat hasil tangkapan nelayan hanya dioleh menjadi ikan asin dan dijual di sekitar Provinsi Bengkulu. Padahal itu, merupakan salah satu komiditas ekspor dan banyak diminati terutama pasar di Jepang.
“Saya sedang menginventarisasi berapa banyak sidat hasil tangkapan nelayan, rencananya kita akan mengupayakan agar bisa diekspor terutama ke Jepang,” katanya. Baca entri selengkapnya »
PADANG, RABU – Maraknya perburuan ikan Napoleon di perairan Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, karena harganya yang mahal, telah mengakibatkan makin parahnya kerusakan terumbu karang tempat ikan itu tinggal.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Mentawai, Khairil, mengatakan, Rabu, ikan Napoleon dijual dengan harga mencapai 50 dollar US per kilogram, diekspor ke luar negeri. Sehingga, menarik minat para nelayan untuk berburu ikan tersebut, tak hanya nelayan Sumatera Barat, tapi juga nelayan provinsi-provinsi tetangga.
Khairil menjelaskan, ikan Napoleon hidup dan berkembang biak di lubang-lubang terumbu karang. Pada siang harinya bersembunyi di celah terumbu karang, dan malam hari keluar mencari mangsa.
“Karena merasa kesulitan menangkap, para nelayan menggunakan potasium untuk membuat ikan itu pingsan, padahal akibat yang ditimbulkan racun itu justru dapat membahyakan kelangsungan kelestarian ekosistem terumbu karang. Potasium dapat mengakibatkan punahnya terumbu karang,” ujar Khairil.
“Di pantai bagian Selatan Mentawai terdapat pulau-pulau, seperti Pulau Nigo, Pulau Sandang, Pulau Magalok, dan Pulau Tilakak, Lubuk Bajau dan Simatak yang memiliki banyak terumbu karang. Di situ banyak hidup ikan Napoleon dan Lobster yang diincar para nelayan dari luar Sumbar. Ikan itu diekspor ke Hongkong dan Taiwan. Di lain pihak pengawasan aparat pemerintah dalam mencegah pengrusakan terumbu karang sulit dilakukan karena miskin sarana dan prasarana pengawasan,” ujarnya. Baca entri selengkapnya »
Memang sejauh ini belum ada penelitian atau ahli yang bisa inemastikan penyebab utama penyakit kepikunan atau alzheimer. Namun, beberapa peneliti berkesimpulan, risiko terkena alzheimer bisa dikurangi jika di dalam tubuh terdapat Omega 3 dalam jumlah cukup. Omega 3 ini dipercaya bisa meningkatkan fungsi mental, memori, dan konsentrasi.
Zat yang banyak terdapat pada lemak ikan ini juga terbukti sukses mengobati depresi, gejala penyakit kejiwaan atau schizophrenia. Ikan memang merupakan sumber asam lemak Omega 3 alami, yaitu EPA dan DHA. Zat ini berfungsi mencegah aterosklerosis dan secara nyata menurunkan kadar trigliserida dalam darah dan kolesterol dalam hati dan jantung.
Kadar asam lemak Omega 3 dalam beberapa jenis ikan taut di perairan Indonesia antara 0,1 gram sampai 0,5 gram dalam per 100 gram ikan. Ini lebih tinggi ketimbang ikan di perairan Thailand, yang kadar Omega 3-nya hanya 0,084 gram per 200 gram.
Adapun ikan laut Indonesia yang kandungan asam lemak Omega 3 tinggi, yakni sekitar 10,9 gram per 100 gram adalah ikan sidat, terubuk, tenggiri, kembung, layang, bawal, seren, slengseng, tuna. (Kontan/A.Syalaby Ichsan)
dari : kompas.com

APABILA Anda berkunjung ke Kota Serang, Banten, tidak lengkap rasanya bila tak menyempatkan diri singgah ke Kampus Sekolah Tinggi Perikanan di dekat Pelabuhan Karangantu. Selain pemandangan pantai pasir putih dan hutan bakau, pengunjung juga bisa menimba ilmu tentang perikanan.
Lokasi wisata pendidikan itu memang tak seperti tempat wisata pada umumnya karena yang menjadi obyeknya adalah sebuah areal Kampus Sekolah Tinggi Perikanan (STP), yang terletak tepat di tepi Pantai Karangantu.
Sepintas areal kampus itu memang terlihat tertutup karena ada pos penjagaan di pintu masuk kampus, padahal kampus itu terbuka untuk umum. Siapa pun bisa masuk asal meminta izin di pos penjagaan.
Tak heran jika setiap hari, ada saja warga yang berlalu lalang masuk areal kampus. Seperti yang terlihat di satu siang pekan lalu, segerombolan anak remaja berjalan menyusuri kampus menuju pantai pasir putih yang berada di sebelah utara.
Pantai ini memang sengaja ditata agar bisa menarik pengunjung sekaligus menghindari abrasi. Selain pemandangan pantai pasir putih yang bersih, pesona lain yang bisa dinikmati adalah hamparan terumbu karang.
Jika tertarik, pengunjung bisa meminta petugas pengarah untuk berkeliling Teluk Banten dengan menggunakan perahu. Tak perlu mengeluarkan ongkos mahal karena wisatawan hanya diminta mengganti biaya bahan bakar untuk berkeliling di lokasi bekas bandar besar pada zaman Kesultanan Banten. Baca entri selengkapnya »
Rabu, 5 Maret 2008 | 01:58 WIB
LUKITA GRAHADYARINI
Penangkapan ikan ilegal telah menjadi momok yang meresahkan bagi Indonesia selama bertahun-tahun. Kegiatan itu bukan hanya merugikan negara secara finansial, tetapi juga menurunkan produktivitas dan hasil tangkapan secara signifikan. Namun, upaya penanganan penangkapan ikan ilegal hingga kini masih diwarnai sejumlah hambatan.
Kendala itu tidak hanya dirasakan Indonesia, melainkan juga negara-negara kawasan ASEAN dan sekitarnya.
Direktur Jenderal Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (P2SDKP) Aji Sularso mengatakan, Indonesia sebagai negara perairan terbesar di Asia Tenggara paling banyak dirugikan akibat kegiatan penangkapan ikan ilegal.
”Indonesia dihadapkan pada dua persoalan mendasar. Wilayah perairan kita banyak dicuri sehingga produktivitas perikanan terus merosot. Namun, beberapa nelayan kita juga mencuri di perairan negara lain, seperti Australia,” papar Aji.
Beberapa kawasan perairan Indonesia yang rawan terhadap pencurian ikan antara lain Laut Arafura, perairan Natuna, dan perairan utara Sulawesi Utara. Kapal-kapal asing yang melanggar itu sebagian besar merupakan kapal asal China, Thailand, Vietnam, dan Filipina. Baca entri selengkapnya »
JAKARTA, SENIN – Kerja sama riset yang dilakukan peneliti dari Universitas Tadulako Palu dan Wisconsin University Amerika Serikat serta Simon Fraser University Kanada menemukan beberapa ikan endemik dari kompleks Danau-danau Malili di Sulawesi Tengah.
Selama ini di bagian tengah Pulau Sulawesi terdapat beberapa danau yang unik pembentukannya, yaitu terbentuk dari proses pergeseran kerak bumi dan pengangkatan dasar laut selama beribu hingga berjuta tahun lalu.
Karena proses evolusi itu terbentuk Danau Lindu, Danau Poso, dan danau-danau yang berada dalam kompleks Danau Malili (Matano, Mahalona, Towuti, Masapi, dan Lantoa). Danau tersebut kaya akan biota endemik yang tidak ditemukan di danau-danau lain.
Dalam kompleks Danau Malili saja, jelas Fadly Y Tantu, dosen Program Studi Akuakultur Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, ditemukan biota-biota endemik, yaitu 32 jenis ikan, 9 jenis udang air tawar, 87 jenis diatom, 26 jenis gastropoda, dan 5 jenis kepiting air tawar.
Hilangnya biota danau Baca entri selengkapnya »
NEW DELHI, JUMAT — Seekor ikan sejenis lele diduga telah bermutasi secara genetik menjadi berukuran sangat besar dan mengerikan. Ikan ini kini menjadi obyek penelitian para ilmuwan di Nepal dan India.
Mereka khawatir ikan itu sudah membunuh beberapa orang setelah ‘merasakan’ mayat manusia. Lele raksasa ini, biasanya disebut goonch, diduga tumbuh besar setelah mendapat makanan mayat-mayat manusia yang dibuang di sungai Great Kali, sungai di perbatasan Nepal-India, tempat ikan itu ditangkap.
Ikan yang telah bermutasi itu kini sedang dalam penyelidikan ahli biologi Jeremy Wade. Wade meneliti ikan lele raksasa itu untuk acara televisi dan akan ditayangkan stasiun televisi Five dalam waktu dekat.
“Penduduk lokal mengatakan kepada saya suatu teori bahwa monster ini telah tumbuh luar biasa besar karena makan sisa pembakaran mayat. Mungkin mereka merasakan nikmatnya daging manusia setelah memakan sisa-sisa mayat itu,” ungkap Wade.
“Kemungkinan ada beberapa lele yang tumbuh lebih besar daripada yang lain dan jika Anda memberikan makanan lebih banyak lagi, maka mereka pasti juga akan tumbuh lebih besar lagi,” katanya.
Awalnya, Wade mengira bahwa buayalah yang memakan sisa-sisa mayat tersebut. Namun, teori itu berubah setelah dia mengalihkan perhatian pada goonch, salah satu jenis ikan air tawar terbesar di dunia. Baca entri selengkapnya »



























Komentar Terakhir