Inspirasi Usaha
Sabtu, 22 Maret 2008 | 12:03 WIB

Oleh Erwin Edhi Prasetya

Anak-anak ikan gurami itu terlihat saling berlompatan menyelamatkan diri saat sebuah jaring mulai diangkat oleh dua orang petani ikan. Awal pekan lalu, beberapa anggota Kelompok Tani Ikan Mino Raharjo, Desa Jambidan, Banguntapan, Bantul, bersama-sama memanen bibit ikan gurami di kolam milik Wiwid.

Desa ini dikenal sebagai sentra budidaya pembibitan ikan gurami. Usaha budidaya pembibitan ikan yang mulai diseriusi sekitar 10 tahun lalu kini telah berkembang pesat dan menasional.

Sekretaris Kelompok Tani Ikan Mino Raharjo yang juga seorang petani ikan, Wiwid, menuturkan warga Desa Jambidan sebenarnya sudah mulai membudidayakan ikan sejak belasan tahun lalu. Warga memanfaatkan lahan bekas galian tanah di sawah-sawah yang digunakan untuk membuat batu bata.

Sebenarnya memelihara ikan itu sudah turun-temurun sejak orang-orang tua dulu. Namun, waktu itu belum dikelola secara serius. Hanya memelihara sebagai sambilan untuk menambah penghasilan, ujarnya. Wiwid, yang merupakan salah satu perintis berdirinya Kelompok Tani Ikan Mino Raharjo, kelompok tani ikan pertama di Jambidan, menuturkan sejak 1998/1999 beberapa warga mulai mengelola budidaya ikan gurami lebih serius.

Dengan membentuk kelompok tani ikan, diharapkan antarpembudidaya tidak perang harga atau menjatuhkan harga jual. Selain itu, dengan adanya kelompok tani, juga berfungsi sebagai wadah untuk saling bekerja sama mengelola usaha tersebut.

Setelah semakin serius digeluti, usaha budidaya pembibitan ikan memang mulai menunjukkan hasil. Bahkan, kini para petani ikan kewalahan memenuhi permintaan. Sering kali seorang petani ikan rata- rata dalam satu bulan menerima permintaan bibit ikan bisa sampai 300.000 ekor anak gurami umur 1-3 bulan. Padahal, kemampuan produksi pembibitan masih di bawah permintaan itu.

Wiwid mengungkapkan, usaha budidaya ikan itu memang menjanjikan hasil cukup menggiurkan setelah pasar tercipta, apalagi jika orang yang menggelutinya sudah menyukai dunia ikan, maka pekerjaan yang dilakukan tidak terasa berat. Permintaan bibit ikan datang dari usaha-usaha pembesaran ikan gurami, baik di dalam maupun di luar DIY.

Menguntungkan

Bambang, seorang petani ikan, menuturkan budidaya pembibitan ikan memberikan hasil lebih menguntungkan daripada bertani padi. Dicontohkan, dari pengalamannya membudidayakan bibit ikan gurami mulai dari telur hingga umur sebulan di empat kolam tembok/beton ukuran masing-masing 2,5 meter x 3 meter berisi 40.000 ekor bisa memberi keuntungan bersih sampai Rp 2,3 juta.

Untuk memulai budidaya pembibitan ikan tidak terlalu sulit. Kolam bisa dibuat dengan ukuran sesuai kebutuhan, tidak perlu dari beton, cukup kolam tanah sederhana. Wiwid memberikan gambaran, sebuah kolam berukuran 2,5 meter x 3 meter bisa diisi hingga 10.000 ekor bibit ikan dari umur 0-1 bulan. Untuk kolam ukuran 10 meter x 10 meter bisa diisi hingga 10.000 ekor umur 1-3 bulan. Tingkat kepadatan ikan harus diperhatikan karena akan berpengaruh pada pertumbuhan ikan.

Harga telur ikan gurami tergolong murah, yaitu Rp 20 per telur. Adapun harga jual bibit ikan gurami saat ini Rp 100-Rp 125 per ekor untuk umur satu bulan, Rp 350 untuk umur dua bulan, dan Rp 500 untuk umur tiga bulan.

Harus diingat, pembibitan gurami sensitif dengan perubahan suhu air atau udara. Terlalu dingin kurang baik, kalau terlalu panas juga tidak baik, katanya. Jadi, dengan membudidayakan bibit, Anda tak perlu menunggu gurami menjadi besar hingga siap disantap. Akan tetapi, cukup memelihara 1- 3 bulan, ikan sudah waktunya dipanen…. Lebih cepat dan lebih menjanjikan, bukan?

dari : kompas.com

About these ads