Selasa, 8 Juli 2008 | 00:14 WIB

Medan, Kompas – Imbas ikan impor ke Pelabuhan Belawan paling dirasakan oleh nelayan tradisional. Sedikitnya 16.000 nelayan tradisional di Belawan semakin resah dengan maraknya ikan impor.

Ketua Serikat Masyarakat Pesisir Medan Ahmad Jafar yang ditemui di Belawan, Senin (7/7), mengatakan pihaknya dengan tegas menolak ikan impor. Meskipun tidak dilarang, ikan impor sangat merugikan nelayan tradisional karena ikan yang masuk sama dengan ikan yang diperoleh nelayan, khususnya ikan jenis aso-aso.

Ada tujuh jenis ikan impor yang masuk ke Belawan, yakni ikan dencis, aso, gembung kering, gembung belaling, mujair, patin, songho, dan seler belek, dalam bentuk ikan beku dan ikan segar. Jika dibutuhkan untuk dijual, ikan beku yang bisa disimpan lama itu akan direndam dalam air dan dijual dalam bentuk ikan segar.

Pantauan Kompas di Pelabuhan Perikanan Samudra Belawan menunjukkan, meskipun di kawasan itu telah dilarang untuk diturunkan ikan impor, masih juga ditemukan ikan impor di kawasan itu. Satu kotak ikan impor jenis aso-aso isi 10 kilogram dijual Rp 85.000. Karena masuknya ikan itu, harga ikan segar nelayan tradisional ikut turun.

Parlindungan Siregar, salah satu pedagang ikan di Pelabuhan Perikanan Samudra Belawan, mengatakan, meskipun juga turut menjual ikan impor, ia menolak keberadaan ikan itu. ”Kalau mematikan nelayan kecil untuk apa? Dari dulu kita tidak jual ikan impor juga tidak apa-apa,” tutur Parlindungan.

Separuh

Menurut Parlindungan, hampir separuh pedagang ikan di Belawan menjual ikan impor. Selain di Medan, ikan dibawa ke Langkat, Deli Serdang, Serdang Bedagai, hingga Kabanjahe. ”Kami belum tahu kualitas kesehatan ikan-ikan itu,” tuturnya.

Sejumlah nelayan mengatakan sudah siap menggelar demonstrasi untuk menolak ikan impor.

Menurut Ahmad Jafar, impor ikan hanyalah masalah yang muncul akibat tak berjalannya penegakan hukum laut terutama SK Mentan Nomor 293/1999. Nelayan menengah dan besar kini sudah masuk ke zona penangkapan jalur satu antara 0 hingga 6 mil yang diperuntukkan bagi nelayan tradisional.

”Dengan adanya itu, muncul persaingan dan hancurnya terumbu karang. Secara otomatis, hajat masyarakat terganggu dan terjadi konflik horizontal,” tutur Ahmad.

Menurut Ahmad, pengawasan perikanan nyaris tidak terjadi. ”Tanpa ikan impor, kita masih mampu untuk memenuhi permintaan kebutuhan konsumen lokal. Jadi tak perlu ikan impor,” ujar Ahmad. (WSI)

dari : kompas.com

About these ads