You are currently browsing the monthly archive for Mei 2008.

Laporan Wartawan Pos Kupang, Eugenius Moa
LEWOLEBA - Proses reproduksi paus berlangsung lambat sampai mamalia laut itu berusia dewasa 20 tahun berdampak terhadap menurunnya perolehan jumlah perburuan oleh nelayan Lamalare, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata-NTT.
Data yang tercatat secara tidak berurutan tahun perburuannya sejak tahun 1957 menyebutkan hasil buruan paus selama 22 tahun menghasilkan 475 ekor paus. Demikian diungkapkan Kepala Sub Dinas Produksi Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Lembata, Agustinus D. Kedang, S.Pi, dalam Lokakarya Pendahuluan Pengintaian Paus dan Lumba-lumba Berbasis Masyarakat, Rabu (14/5/2008). Kegiatan diprakarsai Yayasan Bina Sejahtera (YBS), pimpinan Kolonel (Purn) TNI Markus Sidhu Batafor dibuka Wakil Bupati Lembata, Drs. Andreas Nula Liliweri.
Perburuan ikan paus oleh masyarakat Lamalera diperkirakan dimulai pada 1600-an, ketika mereka berada di Doni Nusalela dalam perjalanan mengungsi dari Pulau Lapan dan Batan.Dahulu, paus yang berhasil diburu diumumkan di gereja, tetapi kebiasaan tersebut tak dilakukan lagi. Agus menjelaskan, data hasil perburuan paus yang tercatat tidak berurutan mulai tahun 1957-2007.
Baca entri selengkapnya »

JAKARTA, SABTU – Setiap tahun lebih 3.000 kapal ikan asal Thailand melakukan kegiatan illegal fishing di kawasan laut Indonesia. Akibat kegiatan tersebut, Indonesia kehilangan pendapatan sekitar 3 miliar sampai 6 miliar dollar AS per tahun. Akumulasi selama 30 tahun terakhir kerugian yang dialami Indonesia sekitar 209 miliar dollar AS.
Kenyataan itu dikemukakan Kepala Pusat Riset Perikanan Tangkap Departemen Kelautan dan Perikanan, Victor PH Nikijuluw, pada peluncuran bukunya berjudul Blue Water Crime: Dimensi Sosial Ekonomi Perikanan Ilegal (penerbit Cidesindo, Mei 2008) di Gedung KOI, Jakarta, Sabtu (17/5).
Hadir pemberi pengantar buku tersebut Adhyaksa Dault, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, yang juga ahli teknologi kelautan lulusan IPB. Victor menjelaskan, perikanan IUU (Illegal, Unreported, Unregulated) ibarat virus yang perlahan-lahan melumpuhkan dan mematikan industri perikanan Indonesia. Jika Indonesia sebagai bangsa tidak melakukan aksi nyata untuk mencegahnya, industri perikanan kita akan mati dibuatnya. Nelayan akan kehilangan kesempatan berusaha dan bekerja.
“Industri pengolahan perikanan yang sudah sekarat saat ini akan mati dan sulit bangkit kembali. Perdagangan dan jasa perikanan akan lenyap. Karena itu masalah perikanan IUU ini perlu dipikirkan, dibahas, dan menjadi perhatian orang banyak. Bangsa ini harus serius memperhatikan masalah ini,” jelasnya. Baca entri selengkapnya »
JAKARTA, SABTU - Demi harga diri, harkat, dan martabat bangsa Indonesia, perikanan IUU (illegal, unreported, inregulated) di perairan Indonesia harus dilawan. Penyusupan nelayan asing harus dicegah. Penjarahan sumber ekonomi rakyat harus dihentikan. Perusakan sumber daya ikan harus diakhiri karena setiap tahun Indonesia kehilangan pendapatan dari laut Rp 40 triliun akibat illegal fishing.
Penegasan itu disampaikan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault pada peluncuran buku Blue Water Crime: Dimensi Sosial Ekonomi Perikanan Ilegal (penerbit Cidesindo, Mei 2008) yang ditulis Dr Ir Victor PH Nikijuluw MSc, Sabtu (17/5) di Jakarta. Victor PH Nikijuluw (48) adalah staf pengajar di program pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Pattimura. Peneliti yang telah menulis l00 lebih artikel ilmiah di berbagai jurnal nasional dan internasional ini sekarang menjabat Kepala Pusat Riset Perikanan Tangkap Departemen Kelautan dan Perikanan.
Adhyaksa Dault yang juga ahli teknologi kelautan, lulusan program doktor IPB, mengatakan, betapa besar kerugian yang dialami Indonesia karena kita kurang peduli dan perhatian pada laut. Angka Rp 40 triliun ini penting diketahui generasi muda agar tumbuh kesadaran dan ke depan lebih peduli dengan masalah kelautan. Baca entri selengkapnya »
Direktur PT Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi, Sabtu (10/5) di Jakarta Pusat, mengatakan, saat ini bakal untuk aktivitas pasar ikan sudah ada. Beberapa nelayan sudah sering membawa hasil tangkapan mereka ke lokasi itu untuk dijual. Para pembeli ikan juga sering datang ke lokasi itu untuk membeli ikan.
”Jika sudah selesai dibangun, pasar ikan itu akan menampung semua ikan segar hasil tangkapan nelayan dari berbagai daerah. Pembeli pastinya sudah ada, yaitu para pengelola restoran makanan laut. Masyarakat juga boleh bertransaksi di pasar itu,” katanya. Baca entri selengkapnya »


















Komentar Terakhir