Salah satu kegiatan yang sedang berkembang makin meningkat di beberapa area perairan Indonesia adalah marikultur, terutama keramba Jaring Apung (KJA) yang dapat meningkatkan produksi perikanan dan pendapatan nelayan. Kegiatan marikultur KJA memiliki beberapa dampak negatif terhadap lingkungan jika pengelolaannya tidak dilakukan secara optimal, salah satunya adalah meningkatnya materi organik di perairan yang menyebabkan ketidak-seimbangan suplai oksigen.
Ketidakseimbangan oksigen mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut di lapisan dasar yang pada akhirnya akan mengganggu keseimbangan ekosistem di perairan tersebut. Dampak negatif lain adalah terjadinya fenomena alga blooms yang berbahaya bagi ekosistem dan manusia sebagai konsumen serta dapat mengakibatkan kerugian secara ekonomi bagi usaha marikultur. Menurut Ir. Agung Riyadi, MSc. koordinator kegiatan penelitian Teluk Hurun, bahwa di dalam menanggulangi dampak negatif dari kegiatan tersebut telah diadakan kerjasama penelitian tentang “Optimalisasi Pengelolaan Marikulture dan Konservasi Area Secara Berkelanjutan� antara Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan (P3 TL) BPPT; Balai Budidaya Laut (BBL) Lampung dan Centre for Environmental Studies (CMES) Ehime University Japan).
Kegiatan utama dalam penelitian ini adalah melakukan pemantauan secara terus menerus dengan menggunakan sensor temperatur, sensor kecepatan dan arah arus serta sensor pasang surut, synoptic survey menggunakan chlorotec probe, pengambilan sampel sediment dasar serta benthos dan mengukur parameter kelautan lainnya.Di perairan Teluk Lampung memiliki dua pola pergerakan massa air yang berbeda yang juga mencerminkan perbedaan pasokan oksigen dan siklus material untuk kegiatan KJA di perairan tersebut. Pada penelitian ini kedua perbedaan tersebut akan dibandingkan dan diharapkan batas tertinggi kapasitas asimilasi ekosistem di perairan Teluk Lampung dapat diketahui.Diharapkan hasil akhir dari kegiatan ini dapat menghasilkan suatu model satu dimensi untuk ekosistem pesisir yang dapat memperkirakan batas tertinggi muatan organik dari ekosistem tersebut. Model tersebut diharapkan dapat diaplikasikan untuk menentukan daya dukung lingkungan suatu kegiatan marikultur secara berkelanjutan.Kegunaan penelitian adalah (1) Mengidentifikasi faktor-faktor yang mengendalikan perubahan dinamis kondisi lingkungan suatu area marikultur; (2) Menemukan kriteria-kriteria bagi pemanfaatan yang berkelanjutan dalam kegiatan marikultur; (3) Mengembangkan metoda pemantauan untuk mengantisipasi dampak marikultur terhadap lingkungan; (4) Menyiapkan basis data-data ilmiah yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah untuk penyusunan peraturan (regulasi) dalam mengantisipasi berkembangnya usaha marikultur di perairan Indonesia. (BN/P3Teknologi Lingkungan)
dari : bppt.go.id


















No comments yet
Pengumpan komentar untuk artikel ini